Kamis, 28 September 2017

Wow Gak Nyangka, ada Batu Dinosaurus di Pantai Pejem Pulau Bangka

>
tim peneliti batu-metamorf-pantai-pejem
tim peneliti batuan metamorf pantai pejem
Pertengahan bulan Agustus lalu, penulis bersama tim dari teknik pertambangan UBB punya misi penting ke utara pulau Bangka. Ramai kabarnya tentang sebuah situs geologi yang punya sejuta potensi. Ia berada di daerah Pejem Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu.

Simpulan bahwa pulau Bangka adalah tersusun dari bebatuan kuno benar adanya. Hamparan bebatuan tersebar di sekitaran pantai Pejem ternyata menegaskan kembali bahwa pulau yang kita diami ini berusia tua.

Berikut liputan penulis bersama tim tambang UBB. Materi ini juga penulis kirimkan ke sejumlah media lokal.


Keunikan dan kekhasan bebatuan yang tersebar di pantai Pejem ternyata menyimpan informasi berharga mengenai sejarah pulau Bangka. Simpulan awal yang dilakukan oleh tim UBB, bahwa batuan tersebut merupakan batuan metasedimen yang berasal dari sedimen laut dalam kerak samudera hasil tubrukan (kolisi) dua blok geologi (terrane) yakni blok Sibumasu dan blok Malaya Timur.


“Kedua blok itu lalu mengalami kolisi dan membentuk diantaranya pulau Bangka, Belitung, Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan, “ ungkap Irvani, M.Eng, ketua tim survey sekaligus dosen tetap pada Teknik Pertambangan UBB ketika melakukan survey awal batuan di Pantai Pejem Kabupaten Bangka, Kamis (24/8) kemarin.

Salah satu dampaknya menurut Irvani, adalah terangkatnya bebatuan sedimen laut dalam ke atas. Seperti yang kini terhampar luas di pantai Pejem.



Lebih lanjut, Irvani menjelaskan bebatuan yang ada di Pantai Pejem ini adalah bagian dari sedimen laut dalam, karena benturan antar dua blok geologi sehingga terdapat bagian yang mengalami kompresi tinggi akhirnya menjadi batuan Metamorf.
bebatuan-metamorf-pulau-bangka-pejem
bebatuan-metamorf-pulau-bangka-pejem

Dalam konsep ilmu Geologi, batuan metamorf atau batuan malihan ini adalah sekelompok batuan yang merupakan hasil transformasi dari tipe batuan sebelumnya (protolith) oleh suatu proses yang disebut dengan metamorfosis (perubahan bentuk).

“Bebatuan yang terangkat itu mengalami tekanan hebat akibat dari benturan blok Sibumasu dengan blog Malaya Timur, sehingga muncul batuan jenis metamorf, seperti yang kita amati saat ini,” ungkap Irvani.

Pantauan di lapangan, formasi batuan ini berbeda dengan pada umumnya di sepanjang pantai di Bangka. Formasi batu metamorf bagian dari komplek Malihan Pemali yang tersingkap di pantai Pejem masih menunjukkan perlapisan batuan, struktur foliasi (kesan berlapis), dan bewarna abu-abu terang. Selain itu, dapat diamati diantara lapisan tersebut terdapat kehadiran mineral Kuarsa bewarna putih yang biasa disebut sebagai vein (urat).

Pada areal tertentu, dari singkapan batuan Metamorf, seperti diungkapkan Mardiah, M.T, anggota tim yang lain, juga ditemukan batuan sedimen berupa konglomerat dengan komponen didominasi mineral kuarsa dengan bentuk relatif membundar bewarna terang.

“Bebatuan yang terdapat di Pejem, ini yang sudah kita amati adalah batuan Metamorf derajat menengah, jadi setelah kami diskusikan bersama tim, namanya kami perkirakan adalah Sekis, “ ujar Mardiah.

tim-teknik-tambang-ubb-bangka
tim-teknik-tambang-ubb-bangka
“Usia Sekis ini diperkirakan berasal dari Carbon Perm (sekitar 350 – 250 juta tahun lalu), batuannya berasal dari Sedimen laut dalam, yang kemudian mengalami perubahan pada proses tubrukan dimaksud, “ lanjut Mardiah.  

“Kalau dibandingkan dengan pulau Jawa, pulau Bangka relatif lebih tua usia batuannya, “ tambah Irvani.

Untuk informasi detail mengenai bebatuan metamorf di pantai Pejem, tim melakukan pengukuran dan pengambilan sampel batuan. Sampel bebatuan dimaksud akan diteliti lebih lanjut di laboratorium Teknik Pertambangan Fakultas Teknik UBB.

Selain Irvani dan Mardiah, anggota tim juga diperkuat oleh Delita Ega Andini, M.T (dosen Tambang), Giri Basuki, M.T (ketua PSI). (aksansanjaya)



  • i
Posting Komentar