Rabu, 05 Juli 2017

Inilah Artikel Keren, Program Ekowisata Meningkatkan Pembangunan Pariwisata di Sepintu Sedulang

>
ekowisata-bangka-pantai-penyusuk
Pembangunan wisata wajib menjadi program andalan pemerintah kabupaten Bangka menjelang era pasca timah. Apalagi di tahun 2015,ketika harga timah turun, kita semakin tersadar bahwa ia tak lagi semanis madu. Mau tak mau,pariwisata seolah menemui momentumnya di tengah opsi exit point yang tersedia.Ia kerap didengungkan akhir-akhir ini. Meski harus diakui pariwisata untuk waktu yang lama semacam figuran dibanding pemain utama, timah, dalam isu-isu sentral pembangunan di Bangka Belitung khususnya kabupaten Bangka.

Meski angka yang dihasilkan oleh sektor pertambangan lumayan besar namun timah dalam kenyataannya tak seindah yang dibayangkan. Pajak yang dihasilkannya tak terlalu besar. Angka yang sebenarnya kecil dibandingkan ratusan Trilyun uang timah yang menguap dari carut marut pertambangan timah di pulau Bangka. Bahkan ICW di tahun 2013 2014 menemukan 301 ribu metrik ton timah ilegal atau 50 triliun tidak tercatat sebagai penerimaan negara.


"Lantas, masihkah asa itu terus dibebankan pada investasi semu tambang timah yang nyatanya tak membawa manfaat jangka panjang bagi kemaslahatan orang banyak."

Sudah saatnya pemerintah Kabupaten Bangka secara serius beralih ke pembangunan pariwisata yang berorientasi jangka panjang dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas. Sebab pariwisata pada tataran idealnya dapat menjadi sumber pemasukan utama bagi suatu daerah. Lihat saja Bali yang 70 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) nya berasal dari Pariwisata. Jika Bali terlalu jauh untuk dibandingkan, lihat saja Kabupaten Belitung, yang mulai berbenah dan siap berlari jauh membawa obor pariwisata.

timah bangka belitung
Sahani Saleh bahkan targetkan sektor pariwisata dapat menyumbang 60 persen ke PAD Belitung di tahun 2016 lalu. Hal yang sedikit berani namun rasional. Apalagi peresmian Kawasan Ekonomi Khusus di Tanjung Kelayang seakan memberi harapan baru. Proyeksi investasi pariwisata disana diproyeksi bakal tembus Rp.20Trilyun di tahun 2025. Sebuah angka yang cukup menggiurkan.




Pertanyaan besarnya kemudian adalah maukah kabupaten Bangka mengelaborasi semua kekuatan yang ada untuk sama-sama berlari dengan Belitung meraih asa di bisnis pariwisata. Sebab jika ditinjau dari modal dasar, potensi kekayaan alam pulau Bangka mirip dan bahkan lebih bervariasi.

Selain dianugerahi sejumlah tempat wisata yang mumpuni seperti Pantai Matras, Parai Tenggiri, Pantai Pesona, pantai Penyusuk dan Pulau Putri, Pesona Pulau Tige di pantai Bedukang, Bangka juga punya wisata alam yakni air terjun Lakedeng dan kolam alami, air terjun Rimbe Mambang Dalil, wisata air Panas Pemali, dan beragam wisata adat istiadat seperti wisata adat Rebo Kasan, Nujuh Jerami, serta wisata Kuliner khas olahan makanan laut seperti pempek dan otak otak serta kerupuk ikan itu.
 
pantai-penyusuk-ekowisata-bangka
Namun dalam perjalanannya eksposur obyek wisata ini kurang maksimal jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Sektor pariwiata tak begitu besar menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bangka. Ibaratnya banyak potensi namun minim aksi.

Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa ada konsep pembangunan kepariwisataan yang keliru. Sebab ketidaksinkronan bisa diartikan sebagai kurang matangnya konsep pembangunan yang dibuat serta dijalankan oleh semua stake holder di bumi Sepintu Sedulang ini.

Memang bila diperhatikan konsep kepariwisataan diatas masih berpedoman pada konsep wisata yang tradisional. Ia hanya melibatkan pengunjung untuk datang melihat-lihat (sight seeing) tanpa ada pelibatan emosi di dalamnya. Wisatawan yang datang ke pantai Matras hanya duduk dan mandi selepas itu pulang ke hotel lalu beristirahat. Pola wisata seperti ini tak bisa mengikat wisatawan untuk loyal. Sebab, mereka akan sekali datang lalu pergi tanpa berfikir untuk balik kembali.


Selain itu, perkembangan wisata masa kini lebih mendambakan interaksi wisata yang lebih natural dan alami. Masyarakat sudah mulai jenuh dengan obyek wisata yang sifatnya artifisial. Terlampau banyak fasilitas buatan tak begitu menarik hati wisatawan gaya baru ini.


Oleh sebab itu penulis berpendapat disinilah konsep Ekowisata perlu ditambahkan ke dalam pola pengembangan pembangunan pariwisata di kabupaten Bangka. Sejatinya, Happy Marpaung mengatakan bahwa pengembangan kepariwisataan hendaknya dapat memberi maslahat bukan saja pada wisatawan tapi pada masyarakat sekitarnya juga.

"Hal ini selaras dengan konsep ekowisata itu sendiri. Namun ekowisata mensyaratkan hal lainnya yakni kesadaran pada pemberdayaan lingkungan."

Ekowisata bukan barang baru, sebab pada 1987, Hector Ceballos mula-mula mengatakannya sebagai perjalanan ke tempat yang alami dan belum terjamah. Baru kemudian di tahun 1990, International Ecotourism Society (TIES) menyempurnakannya sebagai kegiatan wisata alam yang berfokus pada orijinalitas dan keberlanjutan lingkungan sekaligus upaya pemberdayaan pada penduduk setempat. Konsep wisata ini pun dikenal pula sebagai wisata berkelanjutan (suistanable tourism).

Konsep Ekowisata diatas mensyaratkan sebuah pembangunan wisata yang berorientasi pada pemberdayaan lingkungan dan masyarakat sekitar alih alih pembangunan fisik. Disinilah kemudian, Ekowisata kemudian lebih potensial dikembangkan pada spot-spot wisata baru atau yang mempunyai potensi alam lengkap.

Seperti contoh, kawasan pantai Pulau Tige eks pusat Pelatihan Bio milik PT. Timah. Kawasan ini dilengkapi dengan kawasan hutan bakau, pantai-pantai kecil diperkaya dengan bebatuan dan pasir putih, keberadaan tiga pulau kecil yang menawan di salah satu sudut pantai dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata berkonsep ekowisata.
 
pantai-pulau-tige-bedukang-bangka
Selain menikmati keindahan pantai dan pulau sekitar, para wisatawan dapat juga merasakan bagaimana rasanya menjadi nelayan sehari dengan menjaring bersama. Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan nelayan dari dusun terdekat. Tentu saja proses menjaring ikan ini dilakukan berdasarkan aspek pelestarian lingkungan. Misalnya, hanya mengambil ikan dengan besaran tertentu. Selepas itu, para wisatawan dapat memasak ikan dimaksud di rumah-rumah penduduk sekitar dengan olahan rasa lokal.

Pilihan lain spot yang dapat dijadikan ekowisata baru adalah kawasan wisata air terjun Lakedeng di kaki Gunung Maras. Potensi alamnya masih alami sehingga akan melibatkan pengalaman fisik wisatawan secara aktif. Sejumlah spot alami juga tersedia untuk ditemukan lewat petualangan hiking bersama pemandu lokal. Selain dua hal itu, penulis yakin masih banyak spot baru yang menunggu untuk ditemukan dan diolah.

Fokus utamanya adalah pada pola pembangunan ekowisata itu sendiri. Pemerintah Daerah dalam hal ini dapat berperan vital dalam proses awal pendekatan ekowisata dimaksud. Mungkin yang paling mula-mula dilakukan oleh Pemkab Bangka dengan Dinas Terkait adalah inventarisasi potensi dan pengembangan objek wisata baru seperti tercantum dalam Program Pengembangan Objek dan Daya Tarik  Wisata (ODTW).

Setelah dilakukannya inventarisir, Pemda dapat melakukan penilaian objek wisata. Dalam kegiatan ini dinas terkait akan menilai suatu spot berdasarkan tiga komponen utama yakni motif wisata dan daya tarik wisata, jasa wisata dan terakhir adalah kemudahan berpindah tempat. Ketiga hal ini harus masuk dalam konsep pembangunan berbasis ekowisata.

Pada proses penilaian objek wisata baru ini, Pemda dapat menerapkan pendekatan blue ocean strategy dimana Bangka mampu menciptakan pasar yang khas dan unik yang belum digarap oleh daerah lain. Tentu saja strategi ini dimungkinkan untuk menarik lebih banyak wisatawan dengan segmentasi tertentu. Misalnya, keterkaitan dengan etnis Tiong Hoa dapat dijadikan strategi menarik wisatawan dari Singapura atau China Daratan.

Langkah selanjutnya kemudian adalah melibatkan masyarakat sebagai elemen dasar dalam konsep pembangunan ekowisata. Pada tahap ini masyarkat dapat dilibatkan sebagai operator wisatawan lokal. Namun perlu ditanamkan syarat-syarat semacam kemahiran bertindak sebagai tuan rumah dan fokus pada keramahtamahan (hospitality). Ide utama pelibatan masyarakat tentu saja karena kemampuan mereka sebagai orang lokal yang memahami dan tahu karakteristik daerah berikut filosofi yang terkandung dalam objek wisata yang tersedia.

Setelah fokus pada pelibatan masyarakat, tahapan berikutnya adalah mendukung terciptanya unit-unit usaha pendukung bagi ekosistem sekitar ekowisata dimaksud. Toko-toko suvenir, tempat parkir, Minimarket, tempat MCK, hingga jasa travel dapat disediakan di daerah pinggiran tanpa mengganggu area utama kawasan ekowisata dimaksud.

Kemudian, tahapan pembangunan ekowisata berikutnya yang termasuk paling penting adalah promosi dan publikasi. Promosi memungkinkan informasi dapat diterima secara lebih massif lewat kegiatan dengan magnitude besar dalam pola komunikasi offline dan online lewat beragam lini massa. Adapun publikasi lebih diartikan sebagai komunikasi yang terjadi lewat medium media massa cetak atau elektronik.

Aplikasi paling realnya adalah penguatan digitalisasi. Digitalisasi sebagai bagian dari promosi dapat diterapkan lewat penerapan website yang khusus memuat spot ekowisata yang tersedia di kabupaten Bangka. Namun, pembuatan website perlu dikanalisasi lebih jauh lewat jaringan media sosial dengan beragam aplikasinya tersebut.

Sehingga orang-orang luar akan lebih mudah mengeplorasi kekayaan alam yang tersedia, berikut dengan pilihan paket wisata yang beragam itu. Pemuatan website seyogyanya tersambung dengan tur-tur operator, jaringan taksi, agen tiket, komunitas lokal sebagai operator. Semuanya dapat diakses dalam satu medium website yang telah terintegrasi. Sehingga transaksi dapat langsung dilakukan tanpa harus berpindah kanal.

Selain itu, tak lupa pula kerjasama perlu dilakukan dengan komunitas seni lokal semacam komunitas fotografer lokal, blogger lokal, atau komunitas tari dan seni. Hal ini akan menciptakan sinergitas yang kuat antara stakeholder yang ada. Sehingga arah tujuan pembangunan kepariwisataan dapat tercapai dengan mudah.

Demikianlah konsep pembangunan ekowisata sebagai penyegaran dari pembangunan wisata yang telah dilakukan. Tentu saja, pembangunan yang telah dilakukan oleh Pemkab Bangka telah cukup baik. Wacana ekowisata diatas sebagai opsi untuk menyegarkan kembali konsep berwisata masyarakat kini di tengah era digitalisasi yang makin massif. Sehingga kita seyogyanya mampu membaca perubahan ini dan menciptakan peluang baru untuk kemajuan daerah di Kabupaten Bangka.***











  • i
Posting Komentar