Selasa, 30 Mei 2017

Inilah Alasan Berkunjung ke Benteng Penutuk Pulau Lepar, Pantai di Bangka Belitung

>
benteng-penutuk-desa-penutuk-pulau-lepar-pongok
benteng-penutuk-desa-penutuk-pulau-lepar-pongok
Ceritanya tak sengaja berkunjung ke Benteng Penutuk, sebab alasan utamanya adalah dalam rangka survey calon penerima beasiswa Bidik Misi. Survey untuk para calon mahasiswa yang akan kuliah ke Universitas Bangka Belitung. Kebagian survey di daerah Bangka Selatan, dan satu orang mahasiswi ini kebetulan tinggal di dusun Penutuk kecamatan Lepar Pongok di pulau Lepar. Salah satu Pantai di Bangka Belitung

Tiba di pelabuhan Sadai, sebagai spot penyebrangan awal, kami dibawa menyebrang dengan perahu kecil bermesin menuju ke pulau Lepar. Perahu kecil ini ibaratnya ojek laut, dihiasi dengan gambar warna warni sehingga menarik mata. Secara sekilas, ojek laut ini unik. Saya tak tau apakah harga menyeberang sebesar 30 ribu rupiah cukup murah atau tidak.


Perahu kayu ini berjalan cepat menyusuri selat, kecepatannya seolah terbang diatas laut. Lantai perahu memecah gelombang laut. Gemericik air kadang mengenai muka dan badan. Brak brak brak…lantai kayu berbunyi ketika bertemu gelombang. Sekitar 15 menit, tak terasa perahu membawa kami ke dermaga Dusun Penutuk.

desa-penutuk-pulau-lepar-pongok
desa-penutuk-pulau-lepar-pongok
Saya membayangkan bagaimana rasanya bagi mereka yang membawa motor. Bagi penumpang bermotor, motor harus ditaruh pas di tengah-tengah perahu. Membayangkan perahu kecil ini bawa motor dengan posisi berdiri sedikit mengkhawatirkan. Penumpang harus menaiki motor sambil kedua kaki berdiri di sisi perahu.

Bagi pemula, menyeimbangkan beban motor dengan goncangan perahu ketika mengarungi laut selat, adalah sebuah adventure tersendiri.

Sampai di dermaga, anda boleh sewa jasa ojek yang tersedia. Jika tak ingin menggunakan jasa pengojek dapat juga menyewa secara pribadi pada pemilik warung yang ada di sekitaran. Cukup bayar 50 ribu saja.

dermaga-desa-penutuk-pulau-lepar-bangka-selatan
dermaga-desa-penutuk-pulau-lepar-bangka-selatan
Nah ceritanya, dalam perjalanan menuju ke dusun sang mahasiswi berdiam inilah kami tanpa sengaja melihat plang nama usang tertulis “Obyek Wisata Benteng Penutuk”.

Tak berfikir panjang, tarik rem dan belok kanan. Menembus kebun sawit serta tanah merah berkerikil, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar 10 menit saja.

Jangan harap menemukan reruntuhan sebuah banteng, lengkap dengan batu bata atau potongan dinding semen tebal. Benteng Penutuk tak seperti Benteng Toboali, Benteng Kuto Panji Belinyu atau Benteng Kuto di Tempilang. Penutuk dikenali dengan tiga meriam yang digunakan dalam perang zaman penjajah.

Well, seperti saya kutip dari hasil googling (maaf nama penulis tidak disebutkan, karena sukar menemukan sumber penulis primer), salah satu meriam di benteng Penutuk adalah meriam Penyenget.

“Meriam ini menghadap pulau tinggi. Konon katanya, kalau diukur dengan tangan dengan hasil ukuran yang berbeda-beda maka umur yang mengukur tidak akan lama ( wallahu allam bisowab). “

benteng penutuk pulau lepar bangka selatan
benteng penutuk pulau lepar bangka selatan
Selain itu, disekitar lokasi ini juga ada makam keramat atau tokoh agama sekaligus seorang raja bernama Syech Abbas, sang Istri dan anaknya. Kami juga sempat “salah jalan” mengira akan ke benteng namun jalan setapak bersemen itu membawa kami ke kuburan Keramat. Didalam rimbunan pepohonan ara, kuburan itu terlindung dan dingin.

Dari lokasi kuburan itu katanya bisa tembus ke lokasi benteng dimaksud. Namun kami tak menyusuri lebih lanjut. Fokus kami lebih ke rasa penasaran akan benteng dimaksud.


Benteng itu pun berada di atas sebuah bukit yang rindang akan pepohonan. Dilindungi dan menghadap laut lepas. Dulunya meriam dimaksud dipakai dalam pertempuran laut, mudah dibawah karena ditempatkan diatas kereta kayu. Kadang ditempatkan di bukit dimaksud.

Atas alasan itulah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala merekomendasikan kawasan benteng Penutuk ini sebagai museum. Tindak lanjut dari keputusan itu adalah kini kawasan ini menjadi obyek wisata bagi pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.

Masih menurut sumber hasil googling, keturunan raja dari Syech Abbas itu masih ada sampai sekarang, yang tersebar di kota Sungailiat, Kabupaten Bangka atau di pulau Lepar sendiri. Untuk daerah Sungailiat, keturunannnya bernama Cik Aden. Adapun di pulau Lepar, keturunnya bernama Cik Uti, Cik Agon,Cik Abu, Cik Kanang, Cik Ali.

Legenda Tanah Merah

Selain hal tersebut, disamping Benteng ada pula tanah merah. Konon, warna merah itu karena kena tumpahan darah para lanun yang tewas tertebas oleh petani sakti yang hidup di pulau ini.

Petani itu bernama Jamilah yang mempunyai kesaktian sekaligus jago beladiri. Suatu ketika, para lanun (perampok di laut) menerobos pulau dan hendak merampas hasil tani Jamilah. Jamilah dengan kesaktiannya tentu saja tak mundur malah melawan dengan perkasanya. Alhasil para Lanun kalah dan mati di tempat.

Konon, kesaktian Jamilah ini didapat dari pedang yang dimilikinya. Pedang dimaksud sangat sakti. Ketajaman pedang itu mampu memutuskan leher manusia dengan sekali tebasan. Mungkin karena itulah, banyaknya Lanun yang tertebas lehernya, sehingga mampu membasahi tanah disekitar kejadian dengan darah mereka. Begitulah tanah itu disebut tanah merah.

Perlu Pengembangan Fasilitas dan Promosi

Sekilas kawasan wisata sejarah sekaligus Pantai di Bangka Belitung ini telah diimprove dengan baik oleh pemerintah. Terbukti dengan adanya plang nama, gazebo di kawasan tepi pantai lengkap dengan jalan setapak bersemen permanen.
wisata-benteng-penutuk-bangka-selatan
wisata-benteng-penutuk-bangka-selatan

Pada bukit dimana meriam itu berada juga telah ada sejumlah gazebo, area permainan anak, serta area selasar untuk foto selfie menghadap laut langsung.

Namun, tampaknya perawatan kawasan ini kurang menyentuh kawasan perkuburan, sebab sejumlah gazebo telah ditumbuhi rerumputan atau ilalang. Sehingga kesan semak sangat kental terasa. Begitu pula dengan jalan setapak yang menuju ke makam bernasib hampir sama.

benteng-penutuk-desa-penutuk-pulau-lepar
benteng-penutuk-desa-penutuk-pulau-lepar
Begitu pula dengan jalur setapak dari bukit menuju ke makam yang tak jelas karena ditinggalkan.

Satu hal lagi, promosi atas obyek wisata ini patutlah digalakkan kembali. Mungkin dengan memanfaatkan kegiatan “Toboali on Fire” sebagai momentum untuk mengangkat wisata desa Penutuk. Konsep yang bisa ditawarkan bisa semacam ekowisata.

Pengunjung dapat menikmati satu malam di Penutuk, menikmati perbukitan benteng Penutuk, lalu menghabiskan malam dengan menjaring ikan, memasak lempah kuning ala Habang yang terkenal itu.

“Keesokan harinya, belajar membuat kemplang (kerupuk) dari telur kepiting khas desa Penutuk. Untuk sekedar dibawa pulang sebagai buah tangan.”

Menuju Lokasi

Untuk ke lokasi ini, para pengunjung harus bepergian ke desa Penutuk. Untuk ke Toboali diperlukan sekitar tiga jam perjalanan roda empat dari kota Pangkalpinang. Kemudian ke pelabuhan Sadai, diperlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Toboali.

Adapun, benteng Penutuk ini berjarak sekitar 2 km dari Desa Penutuk dan untuk mencapai lokasi benteng ini dapat ditempuh selama 5 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua. Guna menciptakan suasana yang cozy, pemerintah kabupaten saat ini telah didirikan beberapa gazebo yang bisa digunakan wisatawan sebagai tempat bersantai

Penutuk adalah desa yang berada di kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Selain Penutuk, ada empat desa lainnya di pulau Lepar Pongok ini yakni Kumbung, Pongok, Tanjung Labu, Tanjung Sangkar. ***
desa-penutuk-pulau-lepar-pongok-bangka-selatan
desa-penutuk-pulau-lepar-pongok-bangka-selatan


  • i
Posting Komentar