Rabu, 19 April 2017

Pilkada DKI Putaran 2 Jakarta yang Bikin Semua Orang se-Indonesia Deg-degan

>
Pilkada DKI Putaran 2 jakarta
Pilkada DKI Putaran 2 Jakarta yang Bikin Semua Orang se-Indonesia Deg-degan
Magnet Pilkada DKI Jakarta tahun ini paling besar dibanding pilgub tahun-tahun sebelumnya. Harus diakui dibanding pilgub dari provinsi lainnya, pilkada DKI Jakarta 2017 menempatkan kompetisi Ahok Djarot dengan Anis Sandi pada momen penuh kontroversi, demo massa, twitwar, perang medsos hingga mengerucut menjadi nyaris_bentrok massa. Hal ini kemudian diperparah dengan keterlibatan massa luar Jakarta, maka lengkap sudah drama perang Bratayudha di tahun Ayam Api ini. Dahsyatnya peperangan ini tak melulu di alam nyata, ia menyeruak dan membanjiri jaringan lini massa lainnya, terutama arus jejaring sosial.  

Apa sebab Pilkada DKI Jakarta 2017 begitu menguras energi bangsa hampir setahun lamanya?


Pertama, Pilkada DKI Jakarta adalah barometer perpolitikan nasional. Banyak yang mengasosiasikan pilgub DKI Jakarta sebagai refleksi kekuatan politis nasional. Pembacaan sekutu dan lawan politik serta intrik dan drama bisa dibaca dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta bahkan sejak penetapan calon pada Agustus 2016 lalu hingga pencoblosan tahap dua pada 19 April 2017 ini.  

Pembacaan ini bisa jadi benar dan bisa jadi salah, kekuatan bisa terpecah dan berbalik arah. Sejumlah kasus membuktikan kekuatan politik dapat dimaknai luwes dengan sifatnya dinamis dan ini menarik untuk dicermati.


Kedua, Lokasi Pilkada yang berada di ibukota Negara Indonesia punya magnitude yang besar. Ini bisa jadi menjadi benar tatkala ibukota Negara Republik Indonesia bagi 250 juta jiwa lebih ini di penuhi “peperangan” yang sukar untuk memalingkan muka. Sebab, sebagai ibukota Negara, masyarakat Indonesia akan mencintainya sepenuh hati dan tidak rela jika something wrong happens to this “crowded” capital city.
Yang pura-pura cuek bisa jadi ia tak merasa Jakarta sebagai ibukota negara yang perlu dijaga. Atau bisa jadi ia tak tahu bahwa Presiden dan Wakil Presiden tinggal disana. Soal ini dia wajib ikut penataran P-4 (kalau ada).

Alasan ketiga adalah tak bisa dipungkiri bahwa Pilgub Jakarta 2017 semacam adu kekuatan dari dua partai besar. Dua partai besar ini juga mewakili pihak pro pemerintah dan oposisi. PDIP sebagai partai besar untuk tahun ini menjadi pendukung pemerintah sebagai nahkoda dari sejumlah partai besar lainnya semacam Golkar, PKB, Hanura, PAN, dll. PDIP cs untuk selanjutnya head to head dengan Gerindra plus PKS. Peta ini mencerminkan adanya rivalitas pengaruh antara kedua kutub.

Meski telah berlalu, persaingan pada Pilpres 2014 lalu masih menyisakan dendam lama. Ada aroma balas dendam, pihak yang kalah ingin menuntut balas.

Namun, konsensus partai-partai ini pun tak bisa dibaca “saklek” sebab ia bisa berubah tergantung kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam tataran real, kekuatan partai bisa berdinamika sesuai dengan preferensi partai ditingkat daerah, misalnya PAN yang mendukung pasangan Anis-Sandi dibanding mendukung Ahok-Djarot.

Keempat, kalau boleh dikatakan, Pilgub DKI Jakarta 2017 semacam pertarungan macam ragam nilai. Saya tidak mau mengaitkannya dengan agama sebab, agak disayangkan agama dilibatkan dalam persoalan pilkada. Meskipun tak bisa dilepaskan pengaruhnya pada pribadi pemilih.

Jika pun boleh menganalisa, nilai yang bermain disini bisa diartikan sebagai pertarungan konsep-konsep semacam  bagaimana relasi pemerintah dan rakyat, konsep humanisme melawan ideologi pasar, totalitarian melawan demokratis, kebhinekaan versus eksklusif, minoritas versus mayoritas, dan dominasi minoritas terhadap mayoritas, atau bahkan PKI versus Pancasila.

Kelima, Pilgub DKI Jakarta 2017 sekali lagi menegaskan kekuatan besar media online terutama media sosial. Ada banyak opinion leader yang kemudian bermain dan terlibat aktif atau pasif ihwal mempengaruhi massa. Mereka bisa jadi artis sinetron ataupun penyanyi yang secara sukarela mendukung salah satu paslon, atau sengaja dibayar. Mereka pun bisa jadi juga selebritis medsos yang punya ribuan pengikut. Sah-sah saja kemudian preferensi politik menentukan bagaimana pilihan akan dijatuhkan, dan ini lalu berpengaruh pada followers ybs.

Itulah kemudian ketika kekuatan media sosial dijalankan, jutaan informasi memenuhi akun pengguna Facebook meskipun ia tinggal di Papua sana. Keterlibatan massa tak bisa dibendung lagi, akibatnya kita tak pernah tahu lagi siapa pengguna FB ber_KPT Jakarta atau tidak. Jejaring sosial membuat kita lupa daratan tanpa pernah berfikir kritis agar tetap menginjak daratan.

Mungkin kita (yang tinggal di luar Jakarta) perlu menghela nafas panjang dan duduk diam sembari menikmati saja lakon di Ibukota. Para paslon, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. dan Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.S yang berkompetisi hari ini dengan Anies Rasyid Baswedan, Phd. dan Sandiaga Salahudin Uno B.A, MBA adalah orang terpilih yang dimiliki bangsa ini.
Siapapun Gubernurnya, itulah sunnatullah, mari kita berdoa dalam hati menurut agama dan kepercayaan masing-masing, semoga yang terpilih tetap amanah dan mampu mensejahterahkan masyarakat di Ibukota tercinta. ***


  • i
Posting Komentar