Rabu, 04 Januari 2017

Foto Model di Bangka dengan Teknik Strobist

>
Kemalasan saya tampaknya sudah makin akut. Tak sadar sudah hampir tiga bulan, blog ini nihil update sejak Oktober hingga Desember, luarr biasaaaa. Tapi itulah bisa saja saya telah mencapai tahap jenuh dan kurang fokus  disibukkan oleh kegiatan diluar nge-blog. Sehingga saya terkesan abai dan pecah konsentrasi.

That’s how the world works on us. We can be at the bottom of life or above the joy. Human are thing depended on the world reality, and no one can assure to be free from the words works. But, there is one thing I think the world could not interfere, Strobist is the thing that I can create as free as I want beyond the world law.

Yah, Strobist sebuah teknik pemotretan dalam dunia fotografi bagi saya adalah sesuatu yang membebaskan. Singkatnya, strobist memungkinkan saya menciptakan imaji saya tersendiri mengenai sebuah objek yang divisualisasikan. Disitulah saya merasa ada kebebasan tersendiri lepas dari hukum dunia (LOL).

Sebenarnya, saya tak terlalu dalam menggeluti teknik pemotretan dengan penggunaan flash selain pemanfaatan ambiance light. Saya lebih suka menambahkan eksen (rasa/warna/kontur) pada sebuah objek foto sehingga tercipta foto yang lebih berkarakter dibanding dengan penggunaan cahaya alami (matahari).

Pada konten blog kali ini saya bercerita mengenai pemotretan model yang saya lakukan dengan teknik strobist pada satu lampu flash saja pada akhir Desember 2016 lampau. Lokasi pemotretan dilakukan di Novilla, hotel berbintang di kota Sungailiat kabupaten Bangka. Keseluruhan foto dilakukan di luar gedung (outdoor) dengan cahaya alami yang tak terlalu keras. Waktu pemotretan pada sore hari dengan kondisi langit mendung selepas hujan. Namun tidak terlalu gelap, dalam artian aksen matahari masih bisa terlihat.

Gear yang digunakan adalah Nikon D7100 digandeng dengan lensa Rokinon 85mm f 1,4 manual. Penggandengan ini pada dasarnya ideal untuk pemotretan model yang dominan menggunakan bukaan besar sehingga efek bokeh benar-benar maksimal. Selain tentu saja didukung dengan pemanfaatan focal length yang memadai yakni 85mm (termasuk ukuran zoom).

Namun lensa yang manual menyebabkan kesulitan pada mencari fokus object. Sehingga diperlukan ketelitian dan waktu menekan shutter yang sedikit lama. Namun, hal ini tak benar-benar menyulitkan sebab pada pemotretan model, penggunaan automatic focus tidak menjadi keharusan, dibanding pada pemotretan sport atau objek bergerak lainnya. Pemotretan model kebanyakan dilakukan pada objek yang statis. Untuk membantu proses mencari ketajaman (fokus), maka saya menggunakan tripod. Adapun flash yang dipergunakan dalam pemotretan model kali ini adalah flash murah meriah, Flash Triopo, saya lupa tipe detailnya ☺.

Alhasil inilah foto-foto hasil jepretan pada tahun lalu (dua minggu lalu), heee. Eh, saya perlu tambahkan bahwa semua foto dijepret dengan teknik High Speed, dengan pemanfaatan sistem CLS pada kamera Nikon. Hal ini bertujuan untuk mengkombinasikan efek bokeh yang netral, tanpa membuat background over exposure. ***







  • i