Senin, 31 Oktober 2016

Indonesia tak seindah kacamata Dahlan Iskan

>


Saya termasuk Dahlanisme, jika untuk menyebutkan mereka yang “mengikuti” prinsip hidup beliau. Saya kerap membaca tulisannya yang lugas dan mengena tentang memberi yang terbaik untuk bangsa dan negara. Sehingga saya kemudian percaya bahwa setiap orang mampu untuk berkarya dengan caranya sendiri demi kemaslahatan bangsa, dengan kaki dan tangan sendiri tanpa berharap pada bangsa yang memang terlalu berat menampung ide-ide perubahan.

Namun, 27 Oktober 2016 lalu di sebuah Kamis sore, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menahannya atas dugaan “niat tak baik”, atas sebuah tindakan masa lalu yang dia pun tak beroleh keuntungan sepeser pun.  Yang kerugian nya pun masih dalam proses dihitung. Beliau katakan,

"Biarlah sekali-kali terjadi seorang yang mengabdi dengan setulus hati, dengan menjadi direktur utama perusahaan daerah yang dulu seperti itu jeleknya, yang tanpa digaji 10 tahun, tanpa menerima fasilitas apa pun, dan harus menjadi tersangka yang bukan karena makan uang. Bukan karena menerima sogokan, bukan karena menerima aliran dana, melainkan karena harus tanda tangan dokumen yang disiapkan anak buah."



Hati kecil saya berbunyi tak adil hal ini terjadi, sama seperti yang terjadi pada Munir, Warsito Taruno dan tokoh-tokoh baik lainnya. Miris dan menyayat hati.

Saya termasuk Dahlanisme yang percaya pada kata-kata memberi yang terbaik untuk bangsa dan negara. Namun, pegangan hidup itu kini dihantam keras oleh perlakuan negara kepada asset bangsa itu. Dahlan Iskan bukanlah sebuah pribadi sendiri, ia adalah simbolisasi tokoh publik yang langka ditengah tokoh-tokoh yang koruptor, makelar, dan kolutif. 

Dahlan Iskan adalah mereka yang percaya pada sebuah optimisme.

Lalu, optimisme itu dihantam dan diremukkan oleh sebuah tindakan tak beradat. Hati kecil terasa sakit dan terenyuh. Optimisme ditabrakan pada sebuah kesewenangan centang perenang.  Bukan oleh kelompok atau golongan nir partai politik, namun oleh negara ini sendiri. Sebuah bangsa yang di cintai dan dibela dengan sepenuh hati.

Mungkin saya terlalu utopis, Indonesia tak seindah kacamata Dahlan Iskan. Kolom-kolom beliau yang bercerita tentang Putra petir, Manufacturing Hope, atau mimpi tentang Indonesia yang bebas dari minyak bumi atau sapi impor itu mungkin dongeng pengantar tidur. Aah saya memang harus cuci muka segera, tak kuasa rasanya berharap pada kejujuran dan niat baik agar lenggang di bumi nusantara. Jangankan berharap, bermimpi pun terasa tak layak. 
  • i