Selasa, 28 Juni 2016

Inilah 3 Rahasia Kampanye Facebook dari "Teman Ahok"

>

Waarbiasaaah…saya melewati update konten bulan kemarin, Mei lalu. Kini pun kalender sudah menginjak tanggal 28, yang artinya penghujung Juni. Tak ada alas an yang rasional untuk keterlambatan ini selain satu kata “MALAS”. Yah, kemalasan menghampiri dengan varian rasionalisasi yang tak jelas itu.

Misalnya, akses internet yang ada di kantor, kerjaan di kantor yang Na’uzubillah itu, bisa juga gara-gara ikut program pelatihan April hingga pertengahan Mei yang memakan waktu dan fikiran, atau tak ada ilham yang datang untuk menjadi bahan perbincangan. Bahkan rasionalisasi tak masuk akalnya adalah, gara-gara kehausan dan kecapean akibat berpuasa. Saya bisa dibenci Tuhan gara-gara ini. Mohon ampun sebanyak-banyaknya.


Prihal kemalasan ini yang menjadi momok bagi para pecinta blogging atau penggiat dunia Adsense itu. Kemalasan update content bisa menjadi tanda bahwa blog dikelola secara tidak professional, atau “caca marica” kata teman saya. Pengunjung loyal bisa enggan berkunjung dan tak menutup kemungkinan pamit selamanya dari laman blog kita.

Ketika ini terjadi, traffic kemudian diharapkan dari pengunjung yang hasil googling. Ini pun tak bagus untuk perkembangan blog sebab mesti bersaing dengan ribuan blog lainnya. Belum lagi efektifitas kata kunci agar familiar dengan search engine mainstream macam Google itu.

Anyway, lets gone be by gone. Bagi saya, yang sedari awal dimotivasi sebagai media personal nirlaba ini tak jadi beban psikologis dengan issue updating konten yang jarang. Ia (blog) tetaplah menjadi medium saya mengurai soal pribadi atau analisa singkat isu local. Tak muluk-muluk mengenai seberapa besar penghasilan adsense didapat.

Namun, saya tak menjustifikasi bahwa blog tak butuh pengunjung, ini salah besar. Saya perlu pengunjung banyak. Sebab traffic tinggi indikasi konten dibaca banyak. Ia syukur-syukur bisa dishare dan menambah wawasan orang lain. Apalagi jika menyangkut isu yang sensitif dan penting bagi publik.

Nah jika berbicara isu penting, saya jadi teringat pada kegairahan para calon peserta pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur provinsi Bangka Belitung untuk ramai-ramai bikin akun di Facebook. Kini makin ramai para tokoh publik mendekatkan diri dengan netizen lewat medium media social dimaksud. Macam-macam namanya, dengan kata kunci “Sahabat si A,” “Kawan si B,” atau “Relawan si C.”

Harus diakui media sosial menjadi salah satu elemen kemenangan seorang calon politik masa kini. Ada banyak contoh dan referensi untuk itu. Tengok saja kampanye Obama, kemudian Jokowi pada Pilpres lalu. Kemudian yang lagi ngehits sekarang adalah Ahok lewat “Teman Ahok ” itu. Relawan Teman Ahok itu pun menjelma menjadi kekuatan politik gaya baru diantara dominasi partai politik.
Meskipun belum jelas diketahui hasil akhir, namun bargaining politik relawan media sosial sangat tinggi. Teman Ahok membuktikan hal itu. Dikala, publik merasa muak dan bosan dengan ulah oknum Partai Politik yang korupsi.

Satu hal yang harus dipahami adalah, kampanye lewat media sosial tak cukup menulis konten dan sharing. Upload foto sang calon berikut kata-kata mutiara itu. Tak cukup begitu, ia (konten) mesti dipahami sebagai peluru yang terbang sekali dan cepat. Konten mesti dibuat dengan model semacam itu. Tepat, Cepat dan Berhasil guna. Konsep ini lalu dijabarkan lewat strategi copy writing, editing foto, pemilihan timing, jeda informasi, dan sebagainya.

Belum lagi, bicara soal audiens, ada ratusan dan ribuan audiens dengan sekat demografis, budaya dan pekerjaan, serta agama. Konten yang baik dibuat sesuai dengan keragaman ini. Untuk itulah, diperlukan sebuah teknik penelitian tersendiri. Hasil akhirnya, akun sang calon apakah akan dibuat sebagai profile anggota biasa, akun group atau fan page. Pertimbangan yang teruji dan terukur sangat disarankan. Dengan begini, akun media sosial digarap secara professional bukan asal buat.

Paling tidak, media sosial telah menjelma menjadi medium untuk ambil suara. Hal ini mula disadari oleh mereka yang akan bersaing nantinya. Yang perlu diingat lagi adalah, para calon kepala daerah yang akan bertempur nanti rata-rata adalah generasi Baby Boomers yang familiar dengan televise dan Koran. Diperlukan keterbukaan dan ketrampilan tersendiri untuk mengemas pesan yang “benar”.

Medium boleh benar, namun jangan sampai salah kemasan. Begitu ! (Mario Teguh-mode on)



  • i