Minggu, 25 Oktober 2015

Cara Sedekah di Media Sosial

>
Smartphone Addiction_photo Illustration 

Kedua kalinya saya bisa menyaksikan fall di Amriki, yang artinya sudah setahun lebih saya ada di sini. Itu artinya juga, ini adalah semester akhir saya kuliah di Arkansas Tech University, Arkansas (rencananya looh). Seperti tahun kemarin, dedaunan sudah menguning dan mulai berjatuhan. Panas tidak sepanas Summer yang aje gilee meskipun, panas nya Bangka tetaplah numero uno, sebab cuman di Bangka, you bakal ngerasa panas sampai ke otak (seett dah).  

Baiklah saudara, saya ingin mengungkapkan bahwa dalam hidup, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, tak bisa diputar sehingga begitu ia berharga. Seperti Fall kedua kali ini, sebuah waktu yang melaju tanpa menoleh lagi (aisssh). Fall mengingatkan saya usia bertambah, dan sebuah pertanyaan : seberapa banyak saya bermanfaat sejauh ini.



Kemanfaatannya si saya tampaknya sebatas share-share link di Facebook, komentar-komentar positif untuk status teman yang positif, sedekah like pada foto yang unik dan atraktif. Loh kok bisa pada sisi  dimaksud saya bermanfaat. Begini lo, saya temukan konsep baru dalam hal memberi manfaat pada sesama. Memberi manfaat tak bisa diukur lagi secara fisik atawa materi. Misalnya, jika kita dukung ide pembangunan mesjid, disebut bermanfaat jika kita bisa sumbang sejumlah uang. Tambahan, jika kita mendukung ide pendidikan setara bagi orang lain, kita akan ikut relawan pengajar gratis. Manfaat bisa dilihat dan terukur. Namun, bermanfaat kali ini bisa dilakukan lewat medium digital tanpa kehadiran fisik.

Teori dasarnya, medium bisa berubah namun esensi pesan tetaplah tak berubah. Medium bisa berkembang biak, namun pesan tetaplah sebuah penambahan informasi baru pada orang lain. Ia tetaplah bertujuan mempengaruhi persepsi orang lain. 


So, ketika internet melahirkan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau Google+, tujuan memberi manfaat tidak hilang begitu saja. Bentuknya bertransformasi layaknya kelahiran media sosial itu dimaksud. Konsep bermanfaat beradaptasi seiring perkembangan internet dan anakannya.  Jadi, sekali lagi bermanfaat pun bisa dipandang sebagai aktifitas yang tak melulu fisik dan materi.

Saya mulai dengan memberi komentar yang positif dan suportif. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa, komentar dalam interaksi media sosial berpengaruh dalam persepsi pengguna. Sebagai contoh penelitian pada foto profil di media sosial yang dilakukan oleh wanita, mengungkapkan bahwa komentar yang positif cenderung meningkatkan persepsi pribadi yang positif bagi si user dalam hal ini wanita.

Tombol “Like” sepatutnya bekerja dalam fungsi yang sama toh. Meskipun efeknya tak begitu powerful dibanding kata-kata berbentuk tulisan itu. Like bekerja dalam wilayah yang lebih luas. Bisa jadi maksudnya sebagai tanda mendukung postingan anda. Pengguna tak bisa menduga dengan pasti apa bentuk dukungan itu secara detail. But, what everlah, Like tetaplah bekerja dalam fungsi minimal prihal kebermanfaat ini.

Sharing link juga bekerja dalam energi yang sama. Share link positif akan memberi tambahan informasi yang baik pula. Namun ada syarat jika link bisa bermanfaat, ia haruslah berupa link yang tepercaya dan akurat. Link yang tersambung dengan website berita abal-abal ditandai : identitas publisher tak jelas dan anonim,  gaya penulisan yang opinionatif, tendensius, dan provokatif, seringkali sumber tulisan tidak kredibel. Link websiter semacam ini bukannya menambah informasi namun memperkeruh suasana atau menyesatkan. 

Begini singkatnya, kritislah pada website yang akan anda share lewat Facebook. Jangan asal copy paste link, semakin asal anda semakin jelas kualitas pemikiran anda. Namun, ada juga yang share link atas dasar emosi atau keberpihakan pada ideologi tertentu, sehingga tak peduli salah tetap dishare. Orang semacam ini tidak memberi manfaat sama sekali. Berita salah tetaplah salah.

Yang terakhir saya pikir, postingan yang berkualitas juga cerminan kualitas diri sendiri. Tentu saja tak harus formal dan terkesan kaku. Ingat, media ini milik anak muda, semakin gaul anda semakin bagus. Lain lagi jika anda pejabat atau pemuka agama, soal derajat keformalan postingan anda itu up to you lah. Bagi saya pribadi, pendapat tentang isu terkini jadi pilihan tepat. Sebagai imbangan atas postingan yang humoris dan ingel-ingel (canda). Humoris namun berkualitas begitu kurang lebihnya.

Dengan begitu, saya berpendapat sedekah bisa jadi dilakukan lewat praktik cerdas ber-media sosial. Triknya jangan individualis namun bersosialisasi lah. Jangan pelit komentar dan like, perbanyaklah. Bangun jaringan dan silaturahmi digital. Yang utama, perdalam hubungan, sebab teman boleh banyak, namun kualitas hubungan kadang dangkal sehingga percuma punya lima ribuan teman. Manfaatkan itu, kuantitas dibarengi kualitas.

Loh, saya kayak ceramah saja. Ini pesan buat saya pribadi pada dasarnya. Syukur-syukur jika bermanfaat bagi anda.


  • i
Posting Komentar