Rabu, 17 Juni 2015

Orang Bangka Jalan-jalan ke Nevada dan California Amerika Serikat

>
suasana di pier 39 san fransisco
Ada sejumlah hal yang menarik dari trip lima hari ke Nevada dan California minggu lalu. Saya akan ceritakan pengalaman jalan-jalan itu sebagai bahan inspirasi bagi pembuat kebijakan perwisataan terutama di Bangka Belitung, provinsi yang katanya negeri Laskar Pelangi ini. Cerita ini tidak bermaksud “ngambok” (sombongkan diri) namun sebagai maksud berbagi pandangan tentang mengelola spot wisata.


Pertama, Suku Indian Hualapai yang bertugas sebagai pelaksana lapangan bagi kunjungan wisatawan ke Grand Canyon. Kita tidak bisa seenaknya datang dan menepi di pinggir jurang itu tanpa berhenti dulu di pos utama. Mobil pribadi dan bus wisatawan akan parkir di gedung pusat ini, lantas membeli tiket tur. Tiketnya bervariasi tergantung pada jumlah spot yang dikunjungi. Ada spot “western culture”, “skywalk” dan “mountain view”. Jika ambil paket yang skywalk itu kita kena charge $80. Jika kita tak ambil paket jalan-jalan di jembatan melingkar terbuat dari kaca itu, cukup bayar sekitar $60.


Padahal, investor dari spot wisata Grand Canyon West Rim & Skywalk itu bukanlah orang Indian yang secara historisnya adalah tanah leluhur mereka. Idenya si investor ini bisa jadi briliant ketika menginvestasikan duitnya namun menyerahkan pengelolaannya pada suku asli penghuni salah satu bagian terbaik dari Grand Canyon ini. Disini anda akan lihat rumah suku Indian, penjual aksesoris segala rupa tentang budaya Indian, rumah kerajinan tangan asli buatan tangan, lagu-lagu dan tarian suku Hualapai ini.


Ditengah terik matahari pada sebuah Gurun di Nevada, hiduplah suku-suku Indian yang mendiami tanah gersang nan tandus ini. Entah bagaimana mereka hidup dulunya, namun tanah ini punya landskap alam yang indah. Bukit-bukit pasir dan bebatuan timbul disana sini, ada lembah dan pasir. Kaktus dan tanaman perdu kecil hidup diantaranya. Pada lembah terdalam di antara alur ngarai Grand Canyon ini ada sungai besar, Colorado River yang mengalir membelah areal ini.


Ceritanya, meskipun tanah gersang dan tandus, tak mengindahkan setiap orang dari penjuru dunia untuk datang. Hanya sebuah lembah dan ngarai dalam itu. Tapi sekali lagi ia dikelola dengan konsisten dan ramah pada penduduk asli. Mengembangkan spot wisata, faktor keramahan lokal ini harus dicamkan sedari awal.


Kedua, kota Las Vegas sangat indah. Membayangkan di sebuah gurun tandus diawal-awal era, sangatlah berat untuk tinggal dan diam disini. Namun di 1935, cerita itu berubah ketika Las Vegas bikin kasino dan tahun-tahun selanjutnya ia berkembang besar. Kini ia menjadi kota ketiga untuk kunjungan wisata terbesar di US.


Hikmahnya adalah bukan kita lantas melegalkan judi untuk maju sebuah kota. Adalah kreativitas dan kemauan besar untuk menjadi sebuah daerah maju. Carilah angel tertentu, branding apa yang ingin ditampilkan. Lalu kreatif lah untuk mencapai itu. Las Vegas jika tak menegaskan dirinya sebagai kota penjudi, ia tak akan segemerlap dan semenarik sekarang. Bisa jadi ia sebuah kota biasa dengan downtown tua nya itu.

Ah...apakah saya terlalu bermimpi untuk sebuah kota kecil seperti Sungailiat di provinsi baru, Bangka Belitung. Sebuah kota yang besar dan berkembang karena tambang Timah itu. Saya merasa terlalu banyak menyalahkan pemerintah saja yang seolah tak peduli dan fokus pada pembangunan wisata itu. Saya adalah orang biasa yang tukang komplain saja barangkali.


Tidak, saya tak ingin berpangku tangan saja. Melihat laut dan alam itu hancur tanpa ada percobaan untuk sebuah perubahan, paling tidak cara berfikir kita tentang pembangunan. Membandingkan US dengan Indonesia apalagi Bangka Belitung agaknya terlalu bahkan terlalu kata raja Dangdut. Eh, saya tak juga naif bahwa apa yang saya ceritakan mesti menjadi sebuah kenyataan. Paling tidak, ada penambahan pola pikir atau cara pandang.


Jadi, cerita yang ketiga adalah perlunya menyediakan pusat informasi pada tiap-tiap spot wisata itu. Sepanjang tur yang saya lakukan ke sejumlah tempat itu, semisar Grand Canyon, Hoover Dam, Golden Gate, Pier 35 San Fransisco, Santa Monica Beach itu pasti ada pusat informasi. Bahkan, di danau kecil, Lake Dardanelle di kota kecil, Russellville ini, berdiri gedung informasi.


Gedung ini menyajikan informasi umum, bisa sejarah tempat itu atau lokasi seru untuk sejumlah kegiatan. Gedung itu bisa jadi tempat memajangkan segala hal berkaitan dengan tempat itu. Misalnya, di Grand Canyon, pusat informasinya sediakan selain menjual tiket juga memajang beragam aksesoris, semacam gantungan kunci, baju kaos, aneka bebatuan, kerajinan suku Indian, yang bisa kita beli sepuasnya. Misalnya juga di Lake Dardanelle itu, di pusat informasinya, ada beragam aksesoris seperti batu-batu khas sungai, kerajinan dari kayu tua, atau gigi ikan. Selain itu, ada informasi umum tentang ikan apa saja yang hidup disitu.


Kita seharusnya punya gedung ini, sebuah lokasi yang terpadu menyajikan informasi umum dan juga tiket masuk. Harus bisa dan agak sedikit keras. Kalau tidak bisa, bisa diserahkan ke swasta dengan menggandeng komunitas lokal sebagai operatornya. Contoh kasus, di kawasan wisata Matras, bisa dibangun pusat Informasi di gerbang masuk, sekaligus lapangan parkir untuk motor dan mobil. Wisatawan harus membeli tiket masuk, bisa dengan paket makan siang. Ada beragam akseoris yang bisa dibeli di gedung itu. Tentu saja menggandeng pengusaha lokal. Gerbang Matras, seharusnya tak cuma jadi area penjaga tiket saja. Namun, ia bisa jadi gate sesungguhnya.


Atau dibikin seperti Pier 39 di San Fransisco, sebuah spot wisata kota pelabuhan dengan bermacam dermaga itu. Toko dan warung makan bisa berjejeran di sejumlah titik lokasi, namun selain pemandangan alam, juga harus ada tambahan lainnya, bisa jadi arena seluncuran air berbayar atau wisata hiking ke lokasi privat. Yang menjadi soal lainnya, parkir mestilah teratur. Tak boleh ada yang parkir sembarangan di pinggir jalan itu, atau naik ke trotoar pejalan kaki bahkan parkir di pondok kecil pinggir laut itu. Sehingga, ada space yang luang dan orang bisa berjalan bebas dari satu titik ke titik lainnya tanpa takut tertabrak.


Keempat, branding dan marketting. Negeri Laskar Pelangi tak cukup, sebab orang awam sudah tau itu ada di Belitong saja. Bangka mesti punya local branding, agar mudah untuk dikenal. Las Vegas, kota judi, Arkansas, Natural State. So, the next question is, Bangka itu apa?. Kota seribu batu, seribu pulau, kota seribu kolong kah?. Saya masih berfikir keras untuk mencari branding dan positioning itu. Atau bisa jadi “Negeri Seribu Pantai”,” The islands heaven”,”Bangka, Tropis”.


Akhir kata, seraya berharap mudah-mudahan ada perkembangan wisatawan di bumi serumpun sebalai ini. Eh, serumpun sebalai bukanlah branding wisatasisasi, ia positioning untuk level pemerintahan saja. Berikut kumpulan foto-fotonya, sebagian besar diambil di Pier39 San Fransisco, ada pula di Hollywood Sign, Grand Canyon Nevada, mudah2an nyambung yah. 

lihat nomor 35 !

patung hidup


bus wisata terbuka di san fransisco

ada yang tau bendera apa ini???

hollywood sign

pengamen jalanan




masih di pier 39

suasana di golden gate san fransisco

tenda restoran di grand canyon nevada

old west stuf

numpang duduk di batu

car view



  • i
Posting Komentar