Minggu, 15 Maret 2015

Selain Dangdut,You Tube buat Selera Musik lebih Bervariasi

>
Semenjak di US, konsistensi bermusik tampaknya berubah-ubah. Akhir-akhir ini, I often listen to Lionel Richie, sejumlah lagunya Stuck on You, Hello and Lady kini mengiringi siang dan malam. Beberapa bulan lalu, saya terus-terusan  mendengarkan AXL’s dengan dua lagu pamungkasnya itu, Andai Dapat Ku Undur Masa dan Aku lah Kekasihmu. AXL’s ini bukan vokalisnya Gun Roses itu loh, tapi ini band melayu asal Malaysia. Saya mendengarkannya siang malam, ketika di Perpustakaan kampus atau di malam-malam yang dingin di dorm ketika jelang tidur. Kehadiran You Tube benar-benar membuat pilihan lagu menjadi kaya dan bervariasi. Untung saja saya belum pudeng* dengarkan lagu-lagu Sunda.

Entahlah, ada banyak hal yang bisa jelaskan mengapa saya bisa suka lagu-lagu tertentu untuk waktu tertentu. Yang pertama tentu saja, You Tube membuatnya mungkin. Kecepatan internet di US tidak usah diragukan lagi, tak ada istilah ngadat dan lelet. So, hampir dipastikan, mencari hiburan murah meriah yah dengan ber You Tube ria itu. Tak perlu bayar duit itu ini. 



Namun yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa selera bermusik kok bisa berubah-ubah, ibaratnya tidak konsisten gitu loh. Apa karena saya kesepian disini, jadi mencari hiburan audio visual yah pilihannya cuma You Tube itu. Karena bosan lagu itu-itu saja, saya bisa dengan mudahnya mencari lagu lain dengan irama yang jelas berbeda itu. Saya ingat, semester lalu, saya bikin koleksi play list lagu khusus Bangka dan Dangdut. Dengan begitu saya dengan mudah pindah haluan ketika bosan pada Klaki Band dan pindah ke Muchsin Alatas dengan lagu “Dibasah-basah bibirnya itu.” Saya rasa, bukan hanya di semester lalu, bahkan play list itu masih ada sekarang di akun You Tube saya, aksansanjaya. Ketika menulis ini, saya baru saja pindah dari Lionel Richie ke play list lagu dangdut favorit saya.



Bahkan, lagu, “Dibasah-basah bibirnya” itu ada dua versi, saya lebih suka dengar yang versi Rita Sugiarto. Lengkingan suara khas Altonya itu khas banget dan terasa meraih-raih rasa terdalam. Saya merasa enjoy mendengar dangdut, ketika mengerjakan sejumlah tugas kuliah baik di Perpustakaan ataupun di Baz Tech, kafe kampus. Bagi saya, dangdut tetaplah nomor satu kalau bicara selera musik. 

Kembali ke alasan kenapa selera bermusik saya kok payah. Bisa jadi saya merasa rindu pada kampong halaman. Efek lama tinggal di rantau, bisa bikin hati melankolis ketika teringat segala hal dari kampong halaman. Mau pulang, tak bisa seenaknya, selain harga, jarak tempuhnya juga jauh. Meskipun, ini tak bisa jadi soal serius, sebab, orang kini mudah pulang pergi luar negeri. Lihat saja, bisnismen itu pulang pergi luar negeri, singgah dari kota satu ke kota lain begitu mudahnya. Jadi kembali tak soal juga. But, pointnya adalah pulang tetaplah tak semudah Pangkalpinang ke Kenanga.

Tapi masih jawabab diatas belum memuaskan, perihal mengapa konsistensi bermusik saya meragukan. Begini, setelah saya pikir-pikir, alasan terbesarnya adalah faktor You Tube sendiri yang buat hal diatas terjadi. Feature yang ditawarkan oleh website ini sangat mudah diakses. Bahkan, anda tidak harus jadi anggota untuk bisa akses ini website. Konten videonya pun tak terhingga, dari yang pop hingga klasik, begitu kata Rhoma Irama. Kecepatan akses pun sangat ringan, ini soal teknis. Namun, kombinasi antara feature yang mudah, konten yang melimpah ruah serta akses jalan tol itu lah bikin selera saya melebar dan cenderung bertambah. Saya tak bilang ini penurunan, ini semacam pengayaan dalam selera bermusik.

Terlebih lagi, You Tube semacam situs sosial media, dimana setiap orang bisa mengakses, mengupload, berinteraksi dengan sesama. Sehingga ada rasa pemenuhan kepuasan disini. Lebih lanjut, sosial media pada hakikatnya mengagungkan kemerdekaan individualistis. Anda tak perlu dengar pendapat orang jika suka lagu klasik atau sinden. Selain tak ada yang complain, anda tak perlu izin bersama ketika suka musik. Lain halnya, ketika anda nonton TV, anda perlu izin penonton terhormat untuk berbagi.

Tanpa sadar, You Tube memungkinkan setiap orang untuk mengeksplor pengalaman bermusiknya. Meski, terkadang kata Wahabi, mendengarkan apalagi memainkan alat-alat musik itu berdosa. Disitu kadang saya merasa sedih. Saya tak hendak mendebatkan paham yang saya awam di dalamnya. Tapi sebagai sebuah situs unggah video terbesar sama halnya Facebook dan Twitter, akses pada You Tube adalah keniscayaan. Tak bisa ditolak dan tak bisa pura-pura abai padanya.

Masih ingat pada cerita, kesultanan Turki Usmani, betapa kemunculan mesin cetak dianggap sebuah dosa jika dipergunakan untuk mencetak Al Qur’an. Ada fatwa nya tentang hal ini, yang kemudian dianulir pada tahun-tahun sesudahnya. Anda bayangkan, betapa susahnya jika Al Qur’an harus ditulis tangan itu. 

Tapi bro, ini kan tentang musik bukan tentang teknologi. Iya sih, anda benar jika bilang ini semata-mata soal musik dan akibatnya yang bisa membuyarkan perasaan anda. Sehingga anda merasa lupa pada siapa anda sembah. Anda tiba-tiba menjadikan The Beatles sebagai dewa anda, atau Lionel Richie sebagai pembangkit nafsu liar anda. Gini deh, saya pribadi untuk saat ini, menikmati musik sebatas menikmati saja. Tak ada efek lanjutannya. Saya tak lantas melupakan Tuhan atau ritual lima kali sehari itu. Ia menjadi pelepas ketegangan di kala stress akibat tugas menumpuk itu. Ketika Rindu melanda. Musik bisa menyegarkan dan merefresh pikiran saya. Tapi jika itu bikin saya berdosa, saya tak bisa berkata apa-apa lagi.

You Tube menjadikan dunia semakin sempit. Saya rasa orang bisa pintar mendadak berkat You Tube, ibaratnya anda tinggal akses anda bisa tau segalanya. Jadi ingat film Jackie Chan, itu yang menjadi mata-mata hebat berbekal baju berteknologi canggih. Tinggal pencet, Jackie Chan bisa jago berkelahi dan tinju. Begitulah, anda bisa menjadi montir yang kece jika sering-sering akses You Tube. Bahkan anda bisa jadi jutawan, ketika jutaan orang akses video yang anda update itu. Ingat sama Briptu Norman, Justin Bieber dan sebagainya dan semacamnya itu.


Simpulannya, selera musik saya semakin bertambah dan bisa berubah-ubah ternyata. Tapi saya yakin ini sifatnya temporar. Sebab, dalam hati yang terdalam, Dangdut tetap tak tergantikan. Irama gendang dan seruling itu lekat dan membekas sampai kini. Musik bisa bertambah, selera kadang juga bisa berubah namun jati diri tetaplah Dangdut itu. Saya bersyukur, koleksi lagu Dangdut melimpah di You Tube. Thanks bro for your video, for anyone who has the same taste, salam dangdut deh.***

eh Lupa selain itu, You Tub juga permudah saya dalam menyelesaikan tugas-tugas documentary saya. Ini hasilnya jika sempat kunjungi.



*Pudeng = Suka setengah mati, gelisah jika jauh namun sifatnya temporar (Bahasa Bangka)


  • i
Posting Komentar