Sabtu, 07 Maret 2015

Orang Bangka ber-Winter Ria di Arkansas Amerika Serikat

>
 
Saya ketiak snow war
Apaaa...sebentar lagi Spring ?, itu artinya saya sebentar lagi melewati Winter di tahun 2014 ini. Tanpa sadar, saya akan melewati musim yang dingin dan beku. Sayang rasanya peristiwa Winter itu tidak saya ceritakan lewat diari publik ini. Ada sejumlah foto yang saya abadikan untuk melengkapi pengalaman ber-winter di negeri Paman Sam ini.

Ada empat musim yang berlaku di US yakni Summer, Fall, Winter dan Spring. Siklusnya akan memakan jangka waktu kurang lebih tiga bulan. Winter dimulai sekitar Desember 2014 lalu hingga Februari 2015, setelah sebelumnya di awali Fall sejak September-November lalu. Sebelumnya juga saya lewati Summer yang panas sejak saya tiba di US, Juli hingga Agustus. Kurang lebih ada tiga bulan untuk keempat musim itu. Jadi, saya ceritanya sebentar lagi akan memulai Spring di Maret hingga Mei nanti.

Pengalaman tinggal dalam kondisi winter cukup menyiksa sekaligus menyenangkan. Benar kata orang yang sudah pernah tinggal di US, awal melihat salju akan tampak indah dan mengasyikan. Terbayang akan perang bola salju, membuat boneka salju, berguling di salju, atau mencicipi rasanya. Terbayang juga bagaimana terasa luar negerinya memakai mantel, jaket tebal lengkap dengan sarung tangan, kupluk, sweater tebal, scarf berkotak-kotak itu. Maka lengkaplah status bahwa kita telah me-luarnegeri itu. Yah, beruntungnya saya menikmati rasa luar negeri itu.

Namun, tidak akan lengkap rasanya jika saya tidak menceritakan kondisi apa adanya tinggal di kondisi musim dingin ini. Agar berimbang ceritanya dan anda beroleh manfaat serta hikmah dari sekelumit ini. Kondisi apa adanya itu seringkali bertentangan dengan cerita manis dan terkadang pahit atau tidak menyenangkan.

Tentu saja, tinggal di tempat dan suasana baru akan membutuhkan proses adaptasi. Untuk saya yang tinggal di pulau dengan cuaca tropis sepanjang tahun itu. Apalagi cuaca dingin cuma saya dapatkan ketika pagi subuh itu atau pada saat musim hujan di malam hari. Temperaturnya sekitar 10 derajat paling rendah. Maka, bisa dibayangkan beban adaptasi akan bertambah berat. Berbeda misalnya bagi teman-teman mahasiswa dari daerah beriklim mirip dengan US, semisal Marokko atau Jepang.

Ketika cuaca berada pada minus nol derajat, tubuh rasanya kaku. Dinginnya seolah menusuk kulit. Kulit terasa kering dan berkeriput. Bibir akan tambah kering dan akhirnya pecah-pecah. So, mensiasati kondisi ini, saya kerap memakai baju double atau triple. Baju kaos pendek, lalu baju kaos lagi, kemudian sweater. Jika keluar rumah, menggunakan jaket dan kupluk. Untuk celana panjang saya padankan dengan sepatu boat. Biar, katanya ketika injak salju tidak terpeleset.

Hal-hal semacam itu, tidaklah menyenangkan teman. Sebab, saban anda keluar ruangan, anda harus siapkan kostum itu. Kemudian menggosokkan badan anda dengan pelembab. Membeli lip glose yang berfungsi melembabkan bibir agar tak pecah-pecah. Satu dua hari tidaklah masalah, namun lama-lama tidak kerasan. Bagi saya pribadi, selain faktor cuaca, faktor teknis semacam gonta-ganti kostum itu cukup mengesalkan.

Syukurlah, musim dingin di Russellville Arkansas tidaklah seheboh negara-negara di utara Amerika sana semacam Boston atau Newyork. Dimana, saljunya full dan tebal. Arkansas terletak di Selatan AS, dan musim dingin disini tak selalu diiringi salju setebal semeteran lebih itu. Disini, bahkan empat atau lima kali salju. Itupun, tak lama selang berapa hari ia akan mencair seiring temperatur sedikit naik. Ia lebih dikenal dengan butiran es bukan salju yang ringan itu. Nah, hujan es ini yang terkadang membahayakan pengendara atau pejalan kaki.

So, saya boleh bersyukur siksaan itu tidaklah seberat kawan-kawan yang tinggal di Utara US itu. Meskipun, mereka tampaknya senang dan bahagia. Namun, foto di Facebook kadang kala tak memberikan fakta sepenuhnya. Sungguh beruntung kita tinggal di negara Tropis. Selain itu, berita baiknya, ketika salju menyapa, kampus tempat saya kuliah, Arkansas Tech University dan umumnya di kampus US, akan meliburkan perkuliahan. Jadi, asyiknya, kita akan dapat hari libur dadakan yang tak terjadwal itu. Menyenangkan sekali.

Begini, winter itu tetaplah sebuah kondisi cuaca yang tetap dan berulang. Bagi yang lahir dan besar di iklim semacam ini, winter seperti sebuah hari kemarin. Berhubung, saya adalah perantau baru, jadi ada semacam shock cuaca. Bagaimanapun, saya senang dapat pengalaman itu, winter di luar negeri. Untuk orang kampus seperti saya ini, melihat es hanyalah di pabrik es depan rumah saya itu. Itu pun ketika masa kecil, ketika antri menanti pembagian es di sore hari menunggu berbuka di bulan Ramadhan. Jadilah, saya orang Kenanga Bangka yang sedikit udik ber winter di negeri Amerika ini.

Anyway, ini loh foto-fotonya, enjoy it.








chamber cafe atu

biji cemara es

stalaktit es
  • i
Posting Komentar