Jumat, 09 Januari 2015

Bukan tentang Jokowi atau KMP, ini tentang Saya dan Harapan

>
Well, sekarang sudah Januari 2014. Berdasarkan kalender Masehi ini, saya sudah sukses lewati tahun 2014 dengan sejumlah capaian-capaian tertentu. Saya tidak mau bilang berhasil atau gagal, sebab penyematan itu berarti final. Saya rasa tidak ada final, sebab sekali lagi, ini adalah sebuah proses. Capaian-capaian itu adalah langkah-langkah tertinggi yang bisa saya lakukan tentu saja. Yah, tertinggi yang bisa saya deskripsikan bagi segala hal selama tahun lalu.

Lantas pertanyaannya, apa capaian tertinggi dari kehidupan saya tahun lalu. Saya ingin berkata jujur kepada anda, tanpa ada maksud narsis atau menjuah-juah kepada anda. Saya cuma ingin menuliskannya untuk saya pribadi, sebagai catatan harian saya dalam online version nya. Jika nanti, anda beroleh manfaat, tentu saja saya merasa bersyukur dan berharap anda lebih dari saya.


Pertama, saya resmi menjadi seorang ayah bagi dua orang anak kembar. Putri-putri saya itu lucu dan menggemaskan sekarang. Usianya sudah sebelas bulan. Mereka sudah bisa rodaan, nakal, berbicara meski dalam kosakata terbatas, rasa penasarannya tinggi, sehat-dan semoga selalu diberikan kesehatan, dsb. Saya bisa merasakan menggenggam dan mengurus mereka dari bayi, merasakan tangan mungil dan halus itu. Bergantian bergadang. Bergantian mengganti popok dan menarik ayunan. Membawa ke dokter anak. Semoga mereka selalu dalam lindungan_Nya dan dikaruniahi kecerdasan ke kebaikan. Lima bulan saya harus meninggalkan mereka. Sekarang saya bisa merasakan betapa rindu itu semakin kuat dan kuat tiap harinya.

Iya, saya meninggalkan mereka pada usia lima bulan karena kini saya melanjutkan studi Master di Arkansas US. Ini menjadi capaian kedua saya dalam tahun 2014. Keberhasilan melanjutkan studi bagi saya pribadi tidak la gampang. Sebab, selain kendala ekonomi, waktu, tenaga saya juga harus melanjutkan studi pada program yang cuma tersedia di pulau Jawa saja. Saya memang berniat menyelaraskan strata satu dan dua, lulusan jurnalistik yang master nya haruslah jurnalistik. Agar, pengetahuan saya makin berkembang dan dalam.

Saya bersyukur tentu saja kepada Allah SWT yang memberikan saya kesempatan. Doa ibu yang tiada putusnya bagi kehidupan saya. Serta ikhtiar dan keyakinan yang saya sertakan dalam usaha itu. Menjadi penerima beasiswa Fulbright adalah kesempatan emas bagi saya setelah berulang kali menyebar aplikasi ke sejumlah pendonor semacam ADS dan USAID. Ada dua orang penerima beasiswa ini dari Bangka, yakni saya dan Hafniliana, seorang guru yang berdedikasi tinggi dalam pengajaran Bahasa Inggris. Kapan-kapan saya akan sharing pengalaman mendapatkan beasiswa ini.

Capaian tertinggi lainnya, saya cukup berhasil mendirikan studio usaha atas nama saya pribadi, aksanfoto. Saya belajar mengembangkan keahlian dibidang fotografi dan desain agar profitable. Alhamdulillah sudah balik modal. Meskipun pada akhirnya bisnis itu tidaklah berkelanjutan. Saya pikir sebagai sebuah awal bisnis, jatuh untuk kesekian kali adalah keniscayaan. Saya ambil sisi positifnya saja. Untuk awal dari belajar bisnis, menceburkan diri ke dalam wirausaha. Belajar berenang meskipun harus tenggelam. :-D

Capaian lainnya makin merasa dewasa. Ini susah untuk ditentukan indikatornya. Saya secara pribadi merasa seperti itu. Makin teratur, berfikir logis dan panjang, dan lebih umum. Ini tentunya tak bisa anda jadikan rujukan. Karena ini tentang perasaan saja. Saya pikir wajar saja di usia yang kepala tiga ini, harus lebih banyak dewasa dan memikirkan juga hal-hal yang berhubungan dengan orang banyak.

Karena itulah, saya kemudian merasa bahwa niatan untuk semakin banyak memberi bagi orang lain harus saya ikrarkan lebih dalam di tahun ini dan mendatang. Saya selalu berfikir untuk selalu memberi. Saya mencoba “memberi ilmu” baik ketika di komunitas pecinta alam ataupun fotografi di lingkungan saya. Saya mencoba untuk memberi meski kecil tentang jurnalistik kepada mahasiswa ataupun para pemuda. Saya selalu menyatakan dalam hati dan menguatkannya bahwa, keberhasilan bagi saya adalah mampu memberi manfaat bagi sesama. Melalui itu ada perubahan positif. Saya tak mau tentang pencapaian personal, sebab itu pada dasarnya adalah jembatan bagi pencapaian sosial.

So, di tahun-tahun mendatang, saya mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih memberi manfaat. Sebagai catatan, bBentuknya bisa macam-macam, bagi saya tidak harus menunggu pencapaian personal, sebab bukankah sedekah pun bisa dengan senyuman. (aksansanjaya)



  • i
Posting Komentar