Selasa, 30 September 2014

Benarkah Jurnalisme Indonesia telah mati?

>

Pilpres dan Pileg telah usai. Kini kita punya Jokowi JK dan ratusan anggota DPR yang akan segera bertugas untuk lima tahun kedepan. Seharusnya perang tak lagi ada. Yang ada adalah kedamaian dan meminjam istilah ABG sekarang-Move ON. Perang memang tak ada lagi, namun baranya masih dipelihara. Media arus utama kita begitu sibuknya memelihara bara itu dengan tujuan yang patut dipertanyakan.


Politik tetaplah politik dalam pengeritan sempitnya,perebutan kekuasaan. Seyogyanyalah agenda utama itu tetap disana bukan di meja redaksi. Redaksi berita seharusnya berkutat pada pemenuhan narasi fakta bagi publik bukan terlibat sebagai partisan atau supporter. Jurnalisme seharusnya dikembalikan pada akar sejarahnya, kritik pada dominasi mayoritas berpihak pada minoritas. Agenda utamanya adalah kebenaran. 


Namun, prilaku media beberapa tahun ini seperti kehilangan jati diri. Tak pelak ini mengundang tanya. Sejauh mana kemaslahatan publik menjadi prioritas ditengah keberpihakan media mainstream ini. Tengoklah sejumlah teguran KPI kepada sejumlah televisi swasta kita karena liputan tak imbang dan cenderung partisan ketika menyiarkan tokoh politik pada kampanye kemarin. Hal yang kita ketahui tentu saja televisi ini memang dikuasai konglomerat yang sekaligus tokoh politik. 


Lantas masih adakah media arus utama yang jadi pijakan dalam memberikan narasi objektif itu. Saya ingat ada Tempo. Semasa belajar jurnalistik, saya pikir Tempo adalah terbaik. Mereka melewati dominasi Orde Baru dengan gagah. Itu tercatat dalam sejarah. Sama ketika kasus aneh pencemaran nama baik, Tomy Winata VS Tempo. Saya terasa mendidih ketika praktik jurnalistik dianggap bagian dari pencemaran nama baik.

  • i