Senin, 07 Juli 2014

How to Live at Lawrence in Kansas

>
Ketika saya menulis cerita ini, saya sedang berada di Lawrence Kansas City, US. Sebuah tempat yang sangat jauh, sekitar 15000 km jauhnya dari Indonesia. Sebuah kota kecil yang indah, dimana Kansas University berada. Sejak 1 Juli lalu saya menginjakkan kaki ke negeri Paman SAM ini, terhitung sudah enam hari saya disini.
 
Yah, Lawrence tak pernah saya dengar sebelumnya, adalah sebuah kota pendidikan, dimana sepertiga penduduknya adalah mahasiswa dari 80 ribuan total penduduknya. Kota kecil namun daerah midwest ini menawarkan rasa Amerika yang asli. Rumah-rumah dan tamannya memberikan flashback tentang film-film Koboi yang saya tonton dahulu. Belum lagi, hektar_an kebun jagung dan kentang terhampar luas disisi kiri kanan jalan, menegaskan lagi suasana ala barat yang liar yang kental kuda dan pistol serta topinya.


Kansas Union tempat orientasi mahasiswa di KU



Sekilas, saya membayangkan akan ada pertempuran jarak pendek, antara buronan kelas berat dan si Sherrif lengkap dengan rekaman irama langkahan itu, lantas mereka berbalik saling menghadap dan revolvers itu menyalak keras, salah seorang akan terjatuh di tanah berlumpur. Kilasan itu juga membawa saya, pada pertempuran lainnya, rombongan koboi akan saling berkejaran dengan rombongan pemanah Indian,  sementara yang lainnya akan saling menjatuhkan dalam gulat seru dibumbui tebasan kapak dan tikaman pisau.

Untungnya imajinasi itu cuma kilasan saja, dalam tempo tak berapa lama saya sadar, saya hidup di tahun 2014, ketika orang sini tak lagi bicara kolonisasi namun globalisasi. Lamunan saya buyar ketika bus sekolah kuning, yang biasanya saya lihat di tivi ini membawa rombongan Fulbrighter peserta Applied English Center berbelok arah menuju sebuah danau, Clinton lake namanya.

Kalau kita, orang Indonesia merayakan kemerdekaan tiap 17 Agustus itu dengan pawai indah dan karnaval dua hingga tiga hari, orang Amerika, khususnya di Lawrence merayakannya dengan berplesir ke tempat wisata dengan berkumpul bersama keluarga dengan acara utama barbeque, atau singkatnya bakar-bakar daging, selepas itu mereka akan bermain dengan anjing atau mandi di danau. Pada malam hari, mereka akan menikmati permainan kembang api di pusat kota (downtown), juga bersama keluarga dengan duduk santai di taman kota.

4 Juli datang di kala Summer, yakni musim panas. sebuah musim yang ditunggu dan dinanti. Ini musim saatnya liburan dan senang-senang. Kansas University tempat kami pelatihan saat ini sepi dan lenggang. Ini kata student assistant kami, Mary. Dia bilang, sepertiga penduduk Lawrence adalah mahasiswa dan saat ini banyak yang berlibur, mudik atau liburan ke tempat wisata.

Saya bersyukur bisa sejauh ini melangkah, setelah dibawa terbang kurang lebih 22 jam melintasi Atlantik. Ini waktu terbangnya, belum ditambah waktu tunggu di bandara Changi Singapura, Narita Jepang, Minneapolis loh. Saya bersyukur bisa diberikan kesempatan belajar di negeri orang. Merantau bagi saya, sejauh ini cuma ke pulau Jawa saja. Tak ada pikir sampai lain negara. apalagi ke Amerika Serikat. sebuah negara yang cuma saya lihat dari dekat lewat tivi dan media online.

Ditengah kerindangan pepohonan dan hamparan hijau rerumputan, kami menikmati suasana empat juli khas Amerika. Berolahraga, maen bola voli, sepakbola, lempar tapal kuda dan aneka game lainnya. Tapi saya tak bisa menikmati rasa barbeque, olahan Mac, pemuda yang juga student assistanship kami. Mac keturunan jepang dan kuliah undergraduate disini. Summer kali ini bertepatan dengan bulan Puasa.

Saya senang tak sendiri, sebab ada teman lainnya yang beragama Islam yang juga berpuasa. Dari 25 Fulbrighter yang berkesempatan memantapkan bahasa inggrisnya selama enam minggu di KU, ada muslim yang berasal dari Afganistan, Niger, Mauritania, termasuk saya Indonesia. Selain saya yang dari Indonesia, ada Pak Fahmi, dari Makasar, Putri Lenggo dari Padang, dan Iin Parlina dari Cianjur.

Cuaca di Lawrence, termasuk panas namun berangin. Durasi siangnya lebih lama, dalam artian dari matahari terbit hingga terbenam bisa sampai 18 jam. ini juga otomatis berpengaruh pada lamanya puasa. Imsaq di pukul 4.30, hingga Magrib di 20.50. Malam disini, pagi di Indonesia.

Bagi saya yang terbiasa dengan suasana berbuka ala rumah, kolak dan cincau dingin, kali ini mesti gigit jari. Apalagi untuk dapat makanan yang tinggi rasa, dapat nasi pun terasa sangat bersyukur. Jadi saya harus merelakan untuk tidak berharap mencicipi renyahnya ikan lempah kuning, atau Pari lempah pedas, Ikan kembung betelok dan teman-temannya itu. Cukup la sudah.

Puasa kali ini lebih menantang dan jadi bukti ketahanan diri untuk minggu-minggu awal penyesuaian.

Untuk enam minggu ke depan dan dua tahun selanjutnya, saya akan berjibaku dengan perkuliahan dan tugas-tugas yang padat. Setelah enam minggu di Kansas University, saya akan terbang lagi ke Russelville, Arkansas, kuliah master ambil program Multimedia Journalism di Arkansas Tech University.

Saya membayangkan, Russelvile akan seperti Lawrence. Kecil namun indah. Pohon-pohon menciptakan lanskape indah berpadu dengan padang rumput hijau, diselingi rumah-rumah kayu,  tak berderet seperti di Bangka, namun berpencar, dibalik bukit dan dirimbunan pepohonan itu. Seiring bus kuning membawa kami pulang ke Templin Hall, tempat kami tinggal untuk summer program tahun ini, saya berdoa semoga Ramadhan kali ini bawa berkah untuk masa depan. (Aksansanjaya) 

Sudut Kampus

sudut lain kampus KU

Old Yellow School Bus

Here we are, 2014 Fulbrighte PAC Kansas




  • i
Posting Komentar