Minggu, 27 Juli 2014

Berlebaran Tak Cukup Broadcast Pesan

>


Idul Fitri akan segera tiba dalam hitungan jam. Besok pagi keluarga dan handai taulan akan bergegas ke masjid, bersama ratusan orang lainnya. Wajah-wajah mereka ceria dan hati dipenuhi suka cita, bukan karena baju koko baru dan mukena baru itu, namun karena ada bahagia di satu Syawal. Yah, hari pertama selepas Ramadhan adalah tentang bergembira dan pemaafan pada segalanya.


Kita kemudian akan melupakan sejenak pertempuran Juli kemarin. Para orang tua akan duduk tegak, dan anak, menantu serta cucu akan membungkuk. Menengadahkan kedua telapak tangan, memohon maaf atas salah dan khilaf setahun lalu. Sanak keluarga akan datang berkunjung dan berjumpa seraya bertangisan. Sepupu jauh meski letih sehabis jet lag, akan tersenyum bahagia menjumpai orang tua dan keluarga. 


Sesudahnya, riuh rendah ruang keluarga dan dapur dipenuhi seperadik saudara datang bertamu, sembari membelah ketupat dan menakar rendang, menuang sup, mencicipi sambal bawang, memotong kecil lepat, menyendoki gulai ayam panas kemudian menyajikan dan melahapnya diatas meja bertaplak kain baru bermotif bunga kenanga. 



Tak lama setelahnya, para lelaki akan berduyun-duyun ke masjid untuk Nganggung. Membawa ketupat dan lauk pauknya dalam piring-piring_berinisial agar tak tertukar_dalam Dulang warna merah hijau dan kuning. Di masjid, kita kembali lagi bersalam-salaman dengan tetangga, kawan lama, kawan kerja, sepupu dua dan tiga. Berbincang santai namun penuh energi dalam even Sepintu Sedulang itu.


Meskipun sudah dua hari dua malam, anak perempuan kita akan sibuk ber es em es ria, broadcast pesan dipenuhi kata-kata mutiara terdalam bertema pemaafan. Para lelakinya akan merancang rute bertamu. Maklum, sejak sebulan lalu, baju model baru dan jeans KW 1 harga diskon sudah dipersiapkan pada hari yang sangat spesial ini. Facebook dan Twitter akan dipenuhi foto selfie yang islami. Toples dipenuhi ragam kue kering akan di tag dan diupload via Instagram lewat smartphone baru itu. Tak lupa pesan simpatik, mohon maaf dan ajakan bertamu ke rumah.


Kita benar-benar melupakan pertikaian. Untuk libur dua hari itu, kita akan berbicara tentang cerita hidup masa lalu. Tentang berapa jumlah anak yang kita punya berikut cerita a sampai z sikap dan prilakunya. Kita akan berbicara, pohon rambutan yang mulai memerah itu. Tentu juga tak lupa tentang banjir bandang durian akhir-akhir ini. Kita akan amnesia sejenak pada pertikaian yang telah lalu.


Itu lah Idul Fitri, pada hari pertama dan keduanya kita akan menjadi pribadi penggembira dan penyuka sesama. Malahan tak cukup dua hari, jika dipandang perlu dan memungkinkan, lebaran bisa dipanjangkan hingga satu minggu. Itu lah realitas hari nan fitri. Kita kembali bersih setelah berpuasa satu bulan lamanya itu.


Tak perlu banyak pemikiran ilmiah atau analisis psikososial untuk menyikapi mengapa kita begitu bahagia di hari lebaran. Sebab itu akan membuat lebaran anda menjadi tanda tanya. Anda akan menjadi pribadi yang kompleks dan misterius. Anda akan jadi lain sendiri, ditengah senda guara sanak saudara berbincang di atas meja makan. 


Ia tak perlu dipertanyakan, sebab lebaran harus dirayakan. Janganlah mempertanyakan jumlah daging dan lemak jenuh tinggi yang ada di masakan rendang dan gulai. Atau menguliti ekses ekonomi biaya tinggi gara-gara ramai orang belanja baju lebaran. Atau menyumpahi operator seluler gara-gara pesan terlambat masuk.


Saya juga tak menyarankan anda untuk berlebay ria menjadi pribadi yang melankolis sembari menulis di status facebook, “Lebaran tak berarti baju baru”, atau , “ Lebaran di rumah saja, nikmati kue, lalu mati lampu dan tidur cepat,” atau lebih jauh “ Tak apa-apa lebaran kali ini, biar tak punya pacar”. 

Manfaatkanlah momen lebaran untuk bertamu. Budaya bertamu harus dijaga dan dikembangkan. Itulah media paling aduhai untuk pererat silaturahmi. Tak pake BBM, Chatting atau Email sekalipun. Tak cukup juga posting pesan berantai, atau broadcast pesan via BBM dan Line. Pakailah baju baru dan celana baru itu untuk menghormati tuan rumah sekaligus tamu. Terimalah ajakan teman untuk berkunjung ke sanak saudara. Nikmatilah suguhan ketupat tuan rumah. Percayalah momen itu sangat membahagiakan anda.


Maksud saya, berlebaran lah. Benar-benar berlebaran!. Jangan pusing juga tak ada baju baru atau handphone baru. Nikmati saja momen indah itu paling tidak bersama orang yang anda cintai. 


Sebab saya yakin anda dan saya telah menjadi pribadi yang dewasa dan matang karena puasa telah menempa kita begitu. Kita pada dasarnya telah melewati pit stop kehidupan dimana daya juang telah dibina fisik dan rukhiyah. Kita telah mampu menahan gempuran hawa nafsu dan godaan duniawi. Sehingga lebaran kali ini seyogyanya akan lebih mendamaikan diri.


Di tengah kondisi pertimahan yang naik turun ini, listrik yang anget-anget taik ayam itu, serta lelah dalam pertempuran Juli lalu, manfaatkanlah momen ini untuk berdamai. Saya malah berpikir seharusnya lebaran bisa tiap bulan, namun tentu saja disertai Ramadan.

Pesan saya dari jauh, Minal Aidin Wal Faidzin, Semoga keberkahan pada diri semua. Maafkan salah dan khilaf pada anda semua. (Aksansanjaya)
  • i
Posting Komentar