Senin, 26 Mei 2014

96 orang Indonesia terima beasiswa "Fulbright"

>

Bersekolah keluar negeri tentu saja perlu persiapan. Persiapan biaya, mental, fisik serta seabrek proses administrasi dari apply universitas hingga bikin visa. Melelahkan memang, namun tiaptahun ada ratusan pelamar yang ingin kuliah di luar negeri, baik dengan biaya sendiri atau dengan beasiswa.


Kuliah di luar negeri, terutama ke Negara-negara maju semacam Jepang, Eropa dan Amerika menjadi semacam impian tersendiri bagi sebahagian pencari ilmu di Indonesia. Adalah fakta tersendiri bahwa Indonesia masih berada di posisi negara berkembang, dimana institusi pendidikannya tentu saja masih berkembang. 

Kuliah ke negara maju, ibaratnya melangkahi proses “berkembang” itu kependidikan “maju”. Atau dengan kalimat lain, ia seolah naik tingkat status kuliahnya. Saya tak harus jelaskan argumentasi, panjang lebar. Tidak untuk underestimate pendidikan di dalam negeri, tapi ini fakta adanya. 

Saya ingat kata, Anis Bawesdan, rektor Universitas Paramadina dan calon presiden, peserta konvensi partai Demokrat itu. bahwa, Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang berpendidikan, untuk perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. 

Mereka penerima beasiswa ini adalah ujung tombak perubahan tersebut, bagian dari transisi bagi Indonesia menuju Indonesia yang lebih demokratis, sejahtera dan makmur.

Sebanyak 96 orang Indonesia menerima beasiswa "Fulbright" dari American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) untuk belajar, melakukan penelitian dan menjadi asisten guru pengajar Bahasa Indonesia di Amerika.

"Beasiswa yang sama juga diberikan kepada 20 warga negara Amerika untuk melakukan hal yang sama di Indonesia," kata Asisten Informasi Konsulat Jenderal AS di Surabaya, Yessika Indarini, di Surabaya, Minggu.

Oleh karena itu, AMINEF menggelar "Fulbright Scholar NetworkingEvent dan Pre-Departure Orientation (PDO)" di Hotel Ayodhya, Nusa Dua, Bali pada 12--15 Mei 2014 untuk ajang pertemuan 116 penerima beasiswa AMINEF dari Indonesia dan Amerika itu.

"Rektor Universitas Paramadina Dr. Anies Baswedan, mantan penerima beasiswa Fulbright, dan Konsuler Penerangan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Amerika Serikat Mary Ellen Countryman akan membuka acara PDO itu di Hotel Ayodhya pada 13 Mei 2014 jam 09.00 WIT," katanya.

Setiap tahunnya, AMINEF membuka kompetisi bagi warga negara Indonesia dan Amerika Serikat untuk mendapatkan kurang lebih 250 beasiswa Fulbright untuk belajar, mengajar atau melakukan penelitian di berbagai bidang ilmu.

Dalam PDO, para penerima beasiswa Fulbright asal Indonesia akan mendapat pembekalan dari AMINEF mulai dari kehidupan akademis hingga gaya hidup di Amerika Serikat.

"Tahun ini, 96 warga negara Indonesia yang menerima beasiswa itu, yakni 80 menerima beasiswa Fulbright untuk belajar di tingkat S2 dan S3 di universitas-universitas terbaik di Amerika Serikat. Mereka akan mempelajari berbagai jenis bidang ilmu di negeri Paman Sam seperti Polymer Science, Linguistics, Media and Journalism dan TESOL," katanya.

Selain itu, enam warga negara Indonesia menerima beasiswa untuk mengadakan penelitian di Amerika Serikat dalam bidang Agriculture, Biological Science, Mathematics, Governance and Policies.

Selanjutnya, 10 orang Indonesia mendapatkan beasiswa itu untuk menjadi asisten pengajar bahasa Indonesia di kampus-kampus favorit di Amerika Serikat termasuk Yale, Harvard dan Columbia University.

"Kegiatan ini juga diikuti oleh 20 warga negara Amerika Serikat yang mendapatkan beasiswa Fulbright di Indonesia yakni tiga orang Amerika Serikat mendapat beasiswa itu untuk mengajar di kampus-kampus di Indonesia dalam bidang bisnis dan administrasi, hubungan internasional dan biologi," katanya.

Selain itu, 17 warga Amerika mendapatkan beasiswa untuk melakukan penelitian di Indonesia di berbagai bidang termasuk budaya, perikanan, lingkungan alam, kesehatan masyarakat, sosiologi, antropologi dan kajian agama Islam.

"Para peneliti Amerika Serikat ini diwajibkan untuk memberi presentasi akan apa yang mereka dapatkan selama meneliti di Indonesia," katanya.

Hingga saat ini, AMINEF mencatat sudah ada 2.000 lebih penerima beasiswa Fulbright dari Indonesia. Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia mendirikan sebuah yayasan dwi-negara, AMINEF pada tahun 1992 untuk mengurusi program beasiswa Fulbright di Indonesia.

"Beasiswa AMINEF yang diberikan mencakup biaya kuliah, biaya buku, biaya hidup bulanan, tiket perjalanan internasional dan asuransi kesehatan. Untuk informasi lebih lengkap mengenai program-program beasiswa, pengumuman pembukaan beasiswa, kriteria pemilihan dan tenggat waktu untuk pengumpulan dokumen dapat dibuka melalui website AMINEF di http://www.aminef.or.id," katanya.

Dana utama untuk beasiswa Fulbright di Indonesia berasal dari anggaran tahunan Kongres Amerika ke Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (http://eca.state.gov/fulbright). Selain itu, ada pula dana yang berasal dari perusahaan swasta.

Pemerintah Indonesia juga berkontribusi dalam program Fulbright melalui bantuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan juga Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Sebagai timbal balik, AMINEF memberikan beasiswa bagi para dosen dan diplomat muda untuk mengambil S2, S3 atau mengadakan penelitian di universitas-universitas di Amerika Serikat.

Editor: Ella Syafputri


Suasana diskusi grup dengan US Fullbrighter

Penjelasan beasiswa Fulbright
Anis Bawesdan

Suasana Seminar

Hotel Ayodya bali

Joged bersama




  • i
Posting Komentar