Selasa, 08 April 2014

Kenapa susah cari kerja di Bangka ?

>
gara-gara susah cari kerja jadi ngiret kaleng. foto-koleksi pribadi
Pertanyaan mendasar bagi angkatan muda di Bangka Belitung adalah bekerja apa dan dimana. Angkatan muda yang saya maksudkan adalah mereka yang lulus Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi. Mereka adalah fresh graduate dari puluhan SMA/SMK dan PT se Bangka, yang mengidamkan secepatnya mengkaryakan diri.


Tiap tahun diperkirakan ada ribuan SDM yang tersedia di Bangka Belitung. Bagi lulusan SMA/SMK ada yang lanjut kuliah ke luar daerah, meskipun kita tidak menutup mata, ada sebagiannya lagi yang lanjut kuliah di PT atau PTN di Bangka Belitung. Mereka yang kuliah di Bangka Belitung akan menambah lagi jumlah SDM potensial empat atau lima tahun kemudian.

Kemudian bagaimana dengan alumni PT/PTN di Bangka belitung. Mereka ini kemudian akan terpencar mencari lowongan kerja, berebutan antar mereka masing-masing. 

Jangan heran apabila, penerimaan Pegawai Negeri Sipil menjadi lowongan kerja yang paling favorit. Jumlah kursinya bisa jadi satu sahaja, namun peminatnya ratusan. Ini dari lokal saja, belum yang dari luar daerah. 


Lowongan PNS cuma sekali setahun. Itu pun, jika beruntung ada lowongan kerja, kalau tidak, yah terpaksa gigit jari menanti keajaiban. Jika tak PNS, lowongan kerja yang tersedia ada pada perusahaan pembiayaan (leasing) yang kemunculannya seperti jamur di musim penghujan itu. 



Jika pun tak dapat kerja di bidang diatas, para alumnus yang segar ini akan masih punya kesempatan memperkayakan diri di jalur distribusi produk. Perusahaan distributor, dari alat rumah tangga hingga alat berat cukup tersedia di Bangka Belitung.

Bahkan jika pun, bidang diatas, tak mampu memberi kerja, ada pekerjaan lainnya seperti melimbang timah itu atau serabutan bekerja sebagai assisten penjual di toko-toko baju milik pengusaha Tionghoa.


Bisa saja, saat ini anda berada pada proses transisi, yakni alumnus yang masih mencari kerja, ia pada dasarnya tak bekerja, namun tetap giat berusaha. Tiap hari membuka lembaran koran, berharap menemukan iklan lowongan kerja yang aduhai itu. Maksudnya, iklan yang ditampilkan di kolom, bukan baris itu. Iklan di kolom biasanya iklan dari perusahaan bonafid, dan kemunculannya selalu ditunggu-tunggu.


Bahkan iklan lowongan kerja pun, di bangka Belitung anda menjadi orang yang berharap menang lotere. Untuk sekedar melihat dan mengetahui ada lowongan kerja, banyak para pemuda harapan bangsa kita menjadi terdramatisasi. Ada rasa deg-deg an di dalamnya.


Paling tragisnya adalah, jika saja anda tak bisa dapat kerja setelah lulus kuliah atau sekolah menengah itu, anda akan berakhir menjadi pengangguran kelas berat. Malam hari anda keluyuran, siang hari tidur tiduran. Kebanyakan begadang, dan kadangkala lupa tanggal.


Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah masih ada lagi lowongan kerja yang memberikan penghasilan yang lumayan dan mampu memberi jalur karir yang aduhai?. Saya rasa sedikit sekali, selain menjadi PNS itu.


Bidang-bidang kerja diatas selain PNS adalah potrait ekonomi provinsi kita yang memprihatinkan. Miris sekali keadaannya, jika dibandingkan dengan Jawa khususnya Jakarta itu. Setiap kali membuka koran, selalu ada saja daftar lowongan kerja yang menggiurkan. 


Sebut saja, menjadi staff di perusahaan konsultan asing, tenaga IT di perusahaan BUMN atau swasta besar nasional dan sebagainya. Yang jelas, lowongan kerja nya, banyak pilihan dan beragam untuk beragam latar belakang pendidikan.


Gajinya pun lumayan lengkap dengan tunjangan ala profesional, ditunjang jenjang karir yang gemilang. Anda tinggal berusaha dan giat. Serta rajin bekerja, uang bisa mengalir ke kantong anda di tempat ini.

Kondisi saat ini tragis di tengah melambungnya ekonomi kita, yang katanya penghasil timah terbesar di dunia. Yang konon katanya, mencari duit itu, tinggal cangkul saja tanah di belakang rumah. Saking mudahnya !. Yang katanya juga, orang bisa kaya mendadak gara-gara ketemu cadangan timah di kebun karet.

Harus diakui, ada kesalahan mendasar pada pembangunan di bumi Serumpun Sebalai ini. Saya tak mengerti apa jalan pikiran pejabat kita itu. hingga membiarkan masalah ekonomi kita ini berjalan semu. Saya pikir, ada kekeliruan cara pandang kita terhadap potrait ekonomi saat ini.

Pembangunan Instan


Sama seperti kontes menyanyi yang populer beberapa tahun ini. Seseorang bisa terkenal mendadak menjadi penyanyi lewat ajang kontes yang digelar singkat. Hal yang sama, saya pikir apa yang dilakukan Pemerintah kita saat ini. 

Pemerintah kita dari tahun ketahun, selalu bergantung pada sektor tambang dan pertanian homogen skala besar itu. Katanya ini investor yang bikin perut rakyat kita terjamin dan hidup bisa sejahtera. Sektor tambang memang kasih fresh money yang cepat dan instan.

Saya tak bisa mengambil simpulan yang positif, apa dasar pemerintah kita tiap tahun bergantung pada sektor timah. Sektor tambang yang akan habis untuk beberapa tahun mendatang itu. Cadangan timah semakin menipis dan masyarakat pemodal tambang kecil itu parno karena lahan tak tersedia.


Yang terjadi, semakin banyak kebun yang akan tergadaikan karena di”kira” punya cadangan timah. Semakin dalam pula, tanah pulau seupil ini ditambang. Karena sekali lagi, “dikira” cadangan timahnya semakin dalam dan dalam.

Laut kita dikelilingi kapal keruk dan isap, yang tiap hari tak hentinya merusak alam. Ikan-ikan kita kabur gara-gara terumbu karang rusak parah. Yang paling menyedihkannya lagi, duit yang milyaran rupiah itu raib tak berbekas. Ia tak nyangkut di rantai ekonomi kepulauan Bangka Belitung tercinta. Yang nyangkut cuma remah-remahnya saja.

Jadi kalau di katakan, ada ratusan milyar uang di Bank-bank Bangka Belitung itu, yakinlah mereka tak akan lama hinggap. Ia cuma numpang lewat saja. Sebab, ia bisa jadi ditransfer ke daerah seberang, atau disimpan dalam deposito tahunan. Ia tak dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pinjaman-pinjaman usaha kreatif itu. paling banter, ia dikeluarkan dalam bentuk pemodalan untuk ekonomi leasing itu. Dan kita yang hasilkan duitnya, berpeluh keringkat, kita juga berpeluh keringat dan darah untuk lunasi motor baru itu. 

Apakah saya harus menyalahkan pengusaha itu, dan beramai-ramai menyumpahi kegiatan ekonomi yang mereka lakukan. Tidak, saya tidak akan menyalahkan mereka. Para pengusaha tetaplah pengusaha dengan pola pikir untung rugi itu. mereka adalah golongan yang “pintar” mengolah ketidakberdayaan dan lemahnya kebijakan atau program pembangunan provinsi ini.


Hingga kini tak jelas apa arah pembangunan di provinsi ini, terutama Bangka. Seolah tak punya fokus apa yang hendak dibangun, demi rakyat kita ini. Pejabat kita itu gagah sekali  dengan atribut mahkota politik itu, namun lemah dalam aksi nyata.


Pertama, pemerintah kita gagal membuat program pembangunan andalan. Beberapa masa yang “silam”, saya bahagia ketika mendengar pemprov gelar program pariwisata “Visit Babel Archi”. Heboh dirayakan di Tanjung Pendam dan massif disemarakkan dimana-mana. Namun selang waktu berlalu, ia tinggal kenangan, ia seperti judul lagi “peristiwa silam” yang dinyanyikan pedanggdut Kristina.


Saya berbinar kembali ketika pemprov, bikin baligho besar di jalan, dengan kalimat “Mari Berkebun Sahang” itu.  Namun sekali lagi, itu juga masa yang silam. Ia tenggelam di dasar ingatan kita. Mari berkebun sahang, ibarat Auman Singa yang tak bertaring.

Pemerintah kita, apakah itu provinsi atau daerah tingkat II segerakan bikin satu program andalan. Tidak usah banyak-banyak programnya. Cukup satu saja yang diprogramkan. Didesain sekreatif mungkin lalu dilaksanakan dengan penuh perhatian. Sertakan akademisi dan para profesional untuk ikut serta. Evaluasi selama lima tahun, perbanyak anggarannya, prioritaskan program itu bagi dinas 
atau SKPD terkait. 

Kedua, Pemerintah kita tak becus bangun sarana dan prasarana utama industri. Sarana dan prasarana ini menjadi kelayakan penting dalam membangun industri di Bangka Belitung.  Contoh nyata, adalah terbengkalainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Air Anyir itu. pemerintah kita tak punya taring mem_push Perusahaan Listrik Negara untuk segera menyelesaikan pembangunannya. Alhasil, penantian kita atas pasokan listrik yang berlimpah tak terpuaskan untuk jangka waktu yang tak jelas.

Sarana lainnya adalah, tiada pelabuhan utama provinsi yang potensial untuk dikembangkan. Pelabuhan yang gampang untuk bersandar kapal-kapal besar. Tak perlu tongkang penarik. Pelabuhan yang berskala internasional itu.


Atau, kalau mau fenomenal, bangunlah jembatan penghubung antara Bangka dan Sumatera. Pemerintah kita mesti berani ambil action. Wacana jembatan penghubung ini perlu dikemukakan sekarang juga.


Ketiga, Pemerintah kita lemah yakinkan investor industri massal untuk bangun pabrik di Bangka.Investor yang datang ke Bangka adalah investor pengumpul bahan mentah saja. Mereka datang hanya mengeksplorasi kekayaan alam, mengumpulkan lalu mengirimkan bahan mentah ini ke luar daerah. Bahan mentah ini kemudian diolah di pabrik-pabrik di kawasan industri besar di Jawa.


Ketika berbicara investor pengumpul bahan mentah, tak banyak tenaga kerja yang terserap, sebab ia minim proses produksi. Ia hanya memerlukan mesin-mesin besar dan tongkang kapal itu saja. Kita menjadi penonton saja, ketika minyak mentah itu dibawa keluar, atau batang timah ribuan ton itu diangkut ke Jakarta.

Alhasil, tiada industri yang berdiri di Bangka. Tiada tenaga kerja yang terserap. Minimnya industri timah atau pengolahan minyak goreng di Bangka jadikan kita seolah bulan-bulanan saja. Ribuan hektar tanah alih fungsi menjadi hutan sawithomogen, yang untuk 25 tahun kemudian akan tandus. 

Keempat, lemahnya peraturan daerah berikut unsur pengawasan itu. jadikan rakyat kecil korban exploitasi sumber daya alam. Tiada peraturan yang lindungi kekayaan alam dan kearifan lokal daerah. Peraturan daerah akan dapat melindungi hutan yang kaya ekosistem. Itu juga dapat menjadi ajang jualan daerah. 


Lihat saja, Hutan wisata Namang Bangka Tengah. Pemerintahnya peduli pada hutan pelawan itu. bukan Cuma madunya saja dapat dihasilkan, namun orang-orang sudah mulai mengunjunginya. Ada kawan saya, fotografer luar negeri sengaja datang ke Namang untuk foto burung di hutan itu.


Kelima, pemerintah kita mandul kreatifitas dan inovasi. Maaf saja jika teman-teman PNS yang berhati mulia dan profesional merasa tersinggung. Kekesalan saya lebih ditujukan pada pemilik jabatan yang punya hak buat kebijakan atau program.

Keprihatinan saya lebih kepada Gubernur dan para Bupati kita ini. Yang tak jelas apa program andalannya itu. Saya pikir mereka tak kreatif dan inovatif dalam menghadapi perkembangan zaman.


Jadi melihat lima point diatas, wajarlah jika kemudian, pemuda harapan bangsa kita saat ini galau karena tiada kerjaan. Bingung pada fakta dunia nyata yang berbeda dengan masa kuliah.

Jadi jangan heran, ketika kuliah, dia bisa menjadi mahasiswa yang rajin dan pintar. Namun di dunia kerja saat ini, yang miskin pilihan mereka terseok-seok seperti habis berlari dua hari dua malam. Mereka menjadi sedih hatinya karena susah sekali dapat kerja. Derita mereka adalah derita pulau ini yang meringis-ringis dan kering air matanya.

Saya tak hendak mendiskusikan lebih lanjut, peranan kewirausahaan dalam perkara mencari duit selain bekerja jadi karyawan. Soalan itu bisa saya fokuskan panjang lebar dalam chapter berikutnya. Saat ini, saya arahkan langsung kritikan saya pada pemangku jabatan publik di negeri Laskar Pelangi ini. Kemajuan ekonomi semu saat ini jujur saja membuai mata. Banyak yang tak sadar, akan jadi apa portrait ekonomi adik perempuan kita atau sanak saudara bahkan teman ataupun mahasiswa kita nantinya untuk sepuluh atau duapuluh tahun kemudian. 

Kemandulan kreatifitas dan miskin inovasi dari otak pejabat publik ini bisa membuat Serumpun Sebalai meniti papan rapuh kemudian patah.  (aksansanjaya)


  • i
Posting Komentar