Selasa, 31 Desember 2013

Fotografer yang Baik Jauhi 6 Asumsi Salah Fotografi berikut ini !

>

Tulisan ini tidak untuk menciptakan labilisasi hati gara-gara salah satu asumsi atau persepsi ini ada di anda. Jangan merasa saya kemudian terkesan sok-sok_an terkesan paling jago foto. Jujur saja saya orang biasa saja yang hobi foto, dan bersusaha untuk belajar dan selalu belajar. Agar foto yang saya hasilkan tepat pada sasaran dalam artian diterima dalam konteksnya. Misalnya, foto di perayaan pernikahan mampu memuaskan pelanggan saya, atau foto tersebut dapat dimuat di harian lokal, karena memenuhi syarat jurnalistik. Tulisan ini semata lahir, dari pengalaman pribadi sekaligus pergaulan dengan sesama rekan fotografer.


Persepsi pertama yang salah adalah “Semakin canggih gear maka semakin baik hasil foto”. Adalah benar jika saat ini, sejumlah brand terkenal mengeluarkan puluhan tipe dan jenis DSLR dengan keunggulan masing-masing. Ada ratusan lensa yang muncul dengan harga yang alang kepalang. Ada kemudian, pemilahan kelas-kelas user, seperti pemula, amatir dan professional. 



Alhasil, yang kemudian terjadi adalah, banyak pemula terjebak pada persepsi ini. Gear yang baru dibeli dengan uang pas-pasan itu seolah tidak lagi memenuhi keinginannya. Noise yang muncul di foto, dianggapnya kesalahan kamera karena low entry level. Warna yang kusam gara-gara lensa yang tidak support. Maka, tak lama kemudian, ia berani berutang untuk upgrade gear. 


Tapi yang terjadi adalah ia menghasilkan foto yang sama dengan sebelumnya. Tidak ada perubahan berarti. Hasil foto dengan kamera D800 nikon sama saja dengan Nikon D40. Kualitas fotonya tidak membuat kemudian paket harganya tambah naik. Sama saja dengan sebelumnya. 


Saya ingat ada yang bilang, berkenaan dengan benda, ada teori tingkat kepuasan, kurang lebihnya, semakin menggebu ketika di awal-awal kepemilikan, namun perlahan menurun kepuasannya. Alias kembali ke titik netral.


Adalah tidak bijak, memberikan kesalahan pada alat, daripada kemampuan diri. Yang menjadi soal pada dasarnya, kurangnya kemampuan meningkatkan ketrampilan foto. Foto noise, bukan gara-gara gear, namun kita saja yang terlalu memaksakan ISO terlalu tinggi. Atau kurangnya exposure, sehingga warna menjadi kusam. Yang menjadi problem terbesar adalah, kurangnya ketrampilan fotografi dibandingkan paket gear.

Usahakanlah menambah jam terbang, dan ketrampilan agar hasil foto semakin bagus. Tidak cepat berpuas diri dan akhirnya narsis sendiri. Belajar lah, dan praktekanlah. Jangan egois dan open minded.


Asumsi yang keliru lainnya adalah, “Foto yang bagus adalah tanpa edit”. Ini juga salah besar. Asumsi ini terkadang menyesaki kita ketika di awal belajar foto. Sehingga, kita kemudian mempercayakan pada kemampuan gear sahaja dalam menangkap momen-momen indah. 


Pertanyaan besarnya adalah, jika tanpa edit bagaimana bila itu terjadi ketika kita merekam momen indah pernikahan. Ada pasangan yang melakukan akad nikahnya, pose mempelai pria dan wanita serta penghulu dan orang tua mempelai terekam sempurna dengan komposisi yang menarik, namun sayangnya foto tersebut ter_noda oleh foto light stand yang ikut terekam pas di depan atau di belakang. 


Apakah kita tetap membiarkan foto itu tercetak, sedangkan foto lainnya tidak sesempurna tadi. Alangkah “kejamnya” sang fotografer demi sebuah egoisme dangkal, tetap mempertahankan konsep itu. Tak menyentuh software photoshop atau lightroom demi sebuah karya, yang sesungguhnya hanya demi kepuasan dirinya sendiri. Sedangkan klien yang jelas-jelas adalah konsumen jasa kita, tak menjadi pertimbangan utama.

Jika anda adalah fotografer professional, yang terbiasa dengan prilaku, “One shoot one Kill”, saya angkat jempol dan lewati saja bagian tulisan ini. Namun untuk yang baru memasuki ranah fotografi, pikirkan lagi baik buruknya asumsi ini di kepala anda.


Asumsi yang berikutnya salah adalah, “ Foto tidak perlu bagus, sebab nanti bisa diedit”. Ini kebalikan dengan asumsi tadi. Mungkin anda berfikir, jadi serba salah donk, mana yang benar foto salah, diedit juga salah. Saya tidak bermaksud membingungkan anda dengan kalimat itu. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa foto yang bagus alangkah baiknya jika dari kamera langsung.


Begini analoginya, anda ingin menciptakan sebuah kursi yang bagus kualitasnya. Tentu saja diperlukan kayu yang berkualitas bukan?, semisal Jati atau Ulin. Bayangkan bila, kayunya berasal dari kayu yang abal-abal, semisal bekas sisa toko furniture. Anda tentu saja bisa membedakan perbedaan hasil olahan dari kedua bahan mentah tersebut. Singkatnya, untuk menciptakan foto yang bagus, dibutuhkan bahan mentah yang bagus pula.

Anggaplah foto yang pertama anda jepret dan masih tersimpan di memori kamera itu bahan mentahnya. Anda tinggal mengolahnya di software tertentu agar kualitasnya makin bersinar. 


Persepsi berikutnya yang salah adalah, bisa jadi diantara kita masih menganggap “edit dan olah digital itu sama saja”. Secara logis, adalah benar olah digital masuk ke dalam editing. Namun, menurut hemat saya, olah digital berbeda dengan editing yang saya maksud. Olah digital, menambahkan elemen-elemen tertentu, menggabungkan sejumlah foto, atau merubah dari foto dasar itu sendiri. Sedangkan editing, tidak lebih dari menambah atau mengurangi exposure dari sebuah foto, menambah saturasi, dodging dan burning, atau tanpa mengintervensi foto secara berlebihan. Ingat, simpulan diatas, bahan mentahnya upayakan sudah bagus.


Asumsi berikutnya adalah, “Menyamaratakan foto”. Maksudnya, kita bisa jadi terjebak pada tone tertentu atau pada eksperimen-eksperimen tone tertentu tanpa menyesuaikannya dengan kegunaan foto itu sendiri. Saya pernah melihat, foto landscape diubah tonenya dengan warna-warna retro…hee. Agak aneh loh. Atau foto jurnalistik, namun diubah-ubah tonenya sehingga jadi hilang keaslian warna dasarnya, padahal bukankah foto jurnalistik tak boleh di utak-atik. Jadi pikirkan kembali, untuk apa foto itu dan kegunaanya. Ada beberapa jenis foto yang tak boleh diutak-atik. Untuk foto model atau fashion, sah-sah saja jika diutak-atik maksudnya diintervensi lebih lanjut.


Persepsi berikutnya, adalah “Mudahnya memberi sebutan Fotografer”. Mudahnya kita memberi status pada seseorang yang telah menyandangkan gear di bahu, sebagai fotografer. Benar saja dewasa ini, mudah membeli kamera dan mempelajarinya. Fotografi bukanlah hal yang asing.  Namun, bagi masyarakat awam tidak lah mengetahui benar mana fotografer mana tetangga fotografer. 


Saya tidak bermaksud membuatnya sulit untuk jadi fotografer. Namun, pada masyarakat awam terlanjur percaya pada seseorang yang menyandang gear, padahal baru sebulan belajar sebagai orang yang “bisa” moto. Masyarakat atau user dari fotografer harus bijak dan pintar-pintar agar tidak salah pilih mana fotografer mana tetangganya fotografer_maksudnya orang lain bukan fotografer.


Saya pikir, ada baiknya jika di dalam Kartu Tanda Penduduk Indonesia dicantumkan jenis pekerjaan sebagai Fotografer. Ini impian saya juga, bahwa fotografer seyogyanya adalah profesi sama halnya dokter, pengacara atau akuntan. 


Atau, anda bisa jadi mempercayakan pada penilaian masyarakat saja, mirip dalam cerita Silat. Nanti pesilat yang tangguh lah yang akan muncul punya nama. Ibaratnya serahkan saja pada mekanisme penilaian sosial masyarakat, atau ektrimnys seperti hukum rimba itu. Tidak usah repot-repot mempersalahkan status fotografer. Kasusnya mirip dengan wartawan tanpa surat kabar (WTS) atau wartawan resmi.


Tapi sekali lagi, ada banyak manfaat sebenarnya ketika fotografer itu adalah profesi “diakui”. Kredibilitas dan profesionalisme bisa diandalkan. Masyarakat punya pilihan yang matang. Ujung-ujungnya, profesi ini jadi menguntungkan bagi sang fotografer sendiri.  Salah satu caranya adalah, bergabung dengan organisasi fotografi yang resmi juga. Diakui secara hukum adalah salah satu cara, agar fotografer mendapatkan tempat yang layak.


Saya pikir saat ini, Indonesia punya FederasiPerkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI). Sebagai wadah bernaungnya fotografer seluruh Indonesia. Meskipun, selain itu ada banyak komunitas atau organisasi fotografer lainnya yang tersebar di seluruh nusantara. Kita tidak juga menutup mata dengan peran mereka dalam memajukan fotografi di Indonesia. 


Demikianlah sejumlah renungan mengenai kesalahan mempersepsikan dunia rekam gambar ini. Saya mohon maaf apabila ada kesalahpahaman dalam cara penyampaian. Tulisan ini adalah renungan untuk perkembangan fotografi yang lebih baik, terutama di Bangka Belitung. Sekali lagi tidak untuk mengajarkan, namun lebih kepada evaluasi diri saja dalam usaha pembelajaran. Sekali lagi, pilihannya ada di diri masing-masing. Salam jepret. ! (aksansanjaya).

  • i
Posting Komentar