Rabu, 25 Desember 2013

Mendadak ber-Sajak

>
 
Menjadi Penyair ?

Saya suka menulis, dan telah mencoba pelbagai bentuk tulisan, apakah berita atau feature yang punya dimensi jurnalistik. Terkadang menulis nirfakta, seperti cerita pendek (sekali-hee), atau sajak dan puisi. Saya pada dasarnya belum memahami benar sajak dan puisi, kedua bentuk tulisan dari rana sastra ini.  

Yang pasti, ketika mood lagi hangat, muncul tulisan yang membuai atau ketika hati sedang tertekan, penyalurannya bisa lewat sajak yang garang. Tidak bermaksud untuk berlebai ria, saya hanya mencoba jujur pada diri sendiri, bahwa sebagai manusia, kita pada dasarnya mencintai keindahan termasuk pada bahasa.




Berbicara sajak atau puisi, apa beda antara keduanya, sehingga bagi saya tidak asal sebut, berani menyimpulkan bahwa tulisan jenis ini sajak, lalu tulisan berikutnya bisa puisi. Itulah saya mencoba, untuk mencari definisi secara online. Saya temukan bahwa ada beda antar keduanya. Seperti kutipan berikut ini,


Dalam kesusastraan Indonesia dikenal dua istilah yang sering dicampuradukkan, yaitu sajak dan puisi. Istilah puisi berasal dari kata poezie (Belanda). Dalam bahasa Belanda dikenal pula istilah gedicht yang berarti sajak. Dalam bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah sajak yang berarti poezie maupun gedicht. Istilah puisi cenderung digunakan untuk berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah poetry dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra. Jadi, istilah puisi lebih bersifat general, jenisnya, sedangkan sajak bersifat khusus, individunya.

Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak. Puisi mungkin saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai sehingga sering orang mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi). Puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang konotatif, demikian menurut Putu Arya Tirtawirya . Sementara sajak, lebih luas lagi, tak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai ke efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Maka itu, sajak terkadang juga dimaknai sebagai bunyi. (kutipan dari Perbedaan Sajak dan Puisi, sumber http://www.sigodangpos.com/2010/02/perbedaan-sajak-dan-puisi.html)

Membaca kutipan tersebut, saya berkesimpulan, tulisan-tulisan saya sebelumnya bisa jadi puisi dan sajak. Tak ada standar pasti, juga penilaian jujur dari para ahli untuk menggolongkan tulisan-tulisan dari hati itu adalah puisi dan sajak. Saya rasa tak ada yang benar-benar mau dengan sengaja meneliti tulisan saya sebelumnya itu, dan memang tak ada manfaatnya. Haaaa… maklum bukan penulis terkenal.


Namun bagi saya, Sajak adalah gaya komunikasi yang merdu. Sajak membuai pembacanya melalui tata letak dan pemilihan kata yang tepat. Pengemasannya menjadi hal yang menarik, hingga buat orang suka membacanya sampai ke kalimat terakhir.


Saya membaca sajak dari Sapardi Djoko Damono di kumpulan sajak, Hujan Bulan Juni. Ada persamaan rima, bunyi akhir kalimat. Kalimatnya singkat dan jelas. Mudah dipahami karena disampaikan dengan kata yang sederhana. Namun ia menjadi penuh makna ketika kata-kata itu dijalin dan dirangkai dalam ramuan hati sang penulis, sehingga membacanya terasa nikmat. Inilah kekuatan dari penulis sajak. Saya kutip, salah satu sajak Sapardi DD yang dikarang pada tahun 1966 itu.

Sementara Kita Saling Berbisik

Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla

Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.

(1966)”
Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Ada adegan yang terekam dalam sajak ini. Adegan yang singkat namun hangat. Sebuah momen intim entah perpisahan atau pertengkaran. Kita bisa menangkap emosi dan dimensi kesunyian dalam sajak ini. Saya melihatnya sebagai sebuah ungkapan pada sebuah kejadian singkat. Dan penulis jeli melukiskannya.


Sajak, juga adalah ekspresi kreatifitas kesenian. Saya pikir setiap orang punya bakat seni. Kata-kata pada dasarnya sesuatu yang awam bagi semua orang. Perbedaannya adalah pada intuisi dan kreasi menyusun kata, sekaligus menjaganya dalam sudut emosi yang sama. Pada tiap orang, bisa berbeda. 


Saya mencoba menulis salah satu sajak, dengan judul "Gerak dan Kabut Pagi", meskipun ini tidaklah begitu indah dibaca. Saya masih belajar menyempurnakan intuisi dan kreasi menyusun kata, lantas menggunakannya sebagai komunikasi hati. Singkatnya ini sajak amatiran. Namun, saya suka baca berulang-ulang.

Gerak dan Kabut Pagi



Dalam semak, aku menakar jarak

Pelan melangkah antara ilalang juga embun pagi

Jemariku raih bulir nya, dingin membisu

Sejenak melambat gerak membeku

Lalu terhenyak kala sinar pagi beranjak gemulai

Dibelai kabut setelah hujan tadi malam



Biarkan aku berhitung

Berapa petak ladang yang ku semai

Berpeluh keringat pada musim kemarau panjang

Jiwa  adalah musafir bertelanjang dada  

Rakus mata air sabana



Aku dan ada kamu bersisi di pematang

Pada pagi buta, kita menghela kereta kuda semu

Mengecoh nasib dibalik senyum serta lamun

Tetaplah ternoda rinai hujan akhir tahun

Dan telapak kaki kita masih penuh lumpur



Hujan tak kenal kita

Ia congkak pada dahaga kita

Meski hujan akan bawa pelangi

Meski langkah kaki terseok arus kali



Esok, kita masih burung nasar

Melayang di angkasa kembali nanar

Dari peraduan sunyi di tepi kali

Ditumbuhi teratai warna warni



Aku dan ada kamu di baris cahaya pagi

Adalah  jiwa perengkuh kabut sunyi

Dalam hasrat yang meletup-letup bernyanyi



[aksansanjaya / 21 December 2013 at 00:57]




  • i
Posting Komentar