Rabu, 24 Juli 2013

Stop Bueng Antu

>


Dalam ragam fenomena dunia ghaib, konsep Bueng Antu memang kurang dikenal luas. Ini pendapat personal saja, sebab referensi mengenai konsep “Bueng Antu” ini tidak begitu familiar bagi masyarakat awam. Mungkin praktisi dunia ghaib saja yang intim dengan makna, Bueng Antu atau Buang Hantu ini.


Hantu kok dibuang, yah ini memang benar dan jadi fenomena mistik yang lumrah dalam masyarakat Bangka Belitung. Jangan heran dan galau sebab ini hal yang biasa. 


Membuang hantu atau jin piaraan bisa dimulai ketika dukun-dukun di kampung hendak pensiun pada suatu masa. Tentunya ketika pensiun inginnya aman dan bersih dari kewajiban ritual magis itu. Semisal bakar kemenyan malam jumat atau membawa ketan hitam di tengah kebun. Alasan lainnya karena para dukun sudah tua, ketika usia dirasa-rasa tinggal hitungan jari, atau ketika ada niat hendak berangkat Haji. 



Konon ketika ajal menjemput, malaikat Izrail itu gampang tarik roh dari raga. Tidak sekarat lima hari lima malam gara-gara hantunya berdiam di raga majikan. Kalau meninggalnya mendadak, paling tidak “hantu” itu sudah diamankan ditempat yang selayaknya. Tidak mondar mandir di rumah tuannya.  Bisa dibayangkan bagaimana jadinya makhluk kasat mata itu lalu lalang di rumah. 


Lokasi pembuangan biasanya tempat sepi semisal hutan rimba, padang pasir atau laut. Lokasi harus jauh dari peradaban. Jadi piaraan itu bisa beradaptasi kembali dengan latar alamiahnya. Sehingga nantinya mereka bisa tinggal dan menetap dengan aman tanpa ganggu manusia.


Begitu kepercayaan masyarakat lokal kita tentang perihal Bueng Antu ini, yang makin samar seiring perkembangan zaman. 


Anehnya dalam era yang serba digital dan kapitalistik ini, modus Bueng Antu pun ternyata tetap eksis. Malahan makin destruktif saja. Pelakunya bukan dukun, namun orang yang memang “pintar”, yang kita tak tahu tempat tinggalnya. Hantunya bahkan super magis, kita tak bisa identifikasi jenis dan varian piaraan itu. Yang bisa kita rasa cuma pengaruh hantunya (ghost effect) yang makin hari makin menjadi. 


Alam kita makin tak beraturan lagi.  Degradasi areal hijau makin meluas. Tiap hari kita tak pernah tahu dengan pasti berapa meter kehijauan hutan itu berkurang, berganti dengan pasir. Yah cuma pasir yang tak punya humus lagi. Kadang berganti dengan genangan air. 


Ternyata tidak cuma di darat saja. Efek hantu ini bergerilya bahkan menghancurkan terumbu karang di sekeliling pantai kita. Anak-anak ikan itu tak bisa bermain dan tumbuh berkembang. Induknya tak bisa bertelur di habitat alaminya. Nelayan pun terpaksa pindah jangkar, tidak ke tengah namun ke pinggir buat gali pasir. Menyelam dengan alat seadanya untuk hasil timah yang tak seberapa.


Jelas tak seberapa dibanding 40-an kapal isap yang hilir mudik di perairan kita. Entah berapa metrik ton timah diangkat lalu dibawa pergi berikut fulus penjualan itu. Timahnya dibawa pergi, duit hasil jualannya juga ikut raib entah kemana. Harapan bahwa ratusan milyar itu mengalir sebagai roda ekonomi Babel jauh dari angan.


Dukunnya mungkin terlalu canggih. Saking canggihnya kita tak pernah tahu nomor rumahnya itu. Mereka seolah turun dari langit dan kembali terbang membawa rupiah. Masyarakat kita cuma dapat remah-remahnya saja. 


Daerah ini semacam tempat Bueng Antu itu. Untuk menggambarkan bahwa kita dan mereka menjadikan pulau ini over exploitated, nafsu kita sendiri adalah hantunya. 


Berdayakan Warga

Banyak yang bilang kebijakan pertambangan kita salah besar. Ada pula yang bilang, pemerintah tak bisa bikin program alternatif, ada yang bilang masyarakat kita memang dak kawah nyusah itu, maunya serba instan. Bahkan ada yang bilang, ekonomi kita baik-baik saja loh, orang tetap makan dan minum, kita bisa beli emas dan kredit motor dengan mudah. Terus masalah buat loh !.


Puluhan seminar diadakan, ratusan rekomendasi digaungkan agar kita memperhatikan pembangunan yang berkelanjutan. Sejumlah program pemerintah daerah pun digulirkan apakah jangka pendek atau jangka panjang. Program yang diyakini mampu jamin kehidupan masyarakat Bangka Belitung lebih baik di masa mendatang. 


Namun entah mengapa, program-program itu seolah jalan di tempat. Kita bisa jadi masih terkena efek hantu itu. Rekomendasi tinggal rekomendasi, Ngerit makin menjadi-jadi. Kita hidup dalam euphoria kejayaan yang temporar pada dasarnya. 


Tapi sudahlah, saling menyalahkan. Kebun sudah keburu berganti Tailing.  Bakau mati tak tumbuh lagi. Sudah saatnya melihat ke depan dan berkreasi untuk Bangka yang lebih baik. Kita perlu terobosan pembangunan yang baru. Timah tak bisa terus menerus jadi tulang punggung ekonomi kita. 


Harus disadari model pembangunan kini berubah. Bukan model pembangunan atas ke bawah itu. Bukan semacam top-down planning yang didesain dari atas. Pemerintah tak bisa selalu benar untuk tahu seberapa besar ingin rakyat. Hal yang bikin Jokowi harus blusukan itu. Karena dia sadar, masyarakat kini makin pintar. 


Kita perlu menyegarkan kembali paradigma pembangunan. Bahwa seyogyanya paradigma pembangunan kini lebih berpusat pada rakyat (people centered development). Indikator pembangunan tak mesti diukur lewat persentase pertumbuhan ekonomi atau seberapa jauh kebutuhan dasar dipenuhi oleh pemerintah. Namun ia lebih berorientasi pada pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku sekaligus sasaran pembangunan itu. 


Apapun bentuk pembangunannya harus melibatkan peran aktif masyarakat. Pada konteks ini, masyarakat dipandang sebagai entitas penting dalam dimensi pembangunan. Ada upaya pengakuan, penguatan dan pemberdayaan potensi rakyat, baik identitas sosial budaya maupun harkat dan martabatnya. 


Inilah yang dimaksud dengan pemberdayaan. Bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai yang diinginkan.


Pada akhirnya nanti, proses pembangunan tidak saja menumbuhkan dan mengembangkan nilai tambah ekonomis tetapi juga nilai tambah sosial. Pembangunan yang tetap bertumpu pada aspek sosial budaya yang hidup dan berkembang.


Lantas bagaimana konsep ini diaplikasikan kepada masyarakat kita, yang masih terjebak pada pemikiran dak kawah nyusah itu. Saya pikir kita sendiri masih terlalu naïf pada labeling ini. Sebab identitas seperti Nganggung atau Sedekah Kampong itu kerap dilakukan. Nilai-nilai sosial yang pada dasarnya jauh dari asumsi negatif diatas.


Salah satu solusi untuk hal ini adalah menyerahkannya pada penguatan komunikasi pembangunan. Sebab kedudukan komunikasi dalam pembangunan adalah sebagai bagian integral dari pembangunan dan komunikasi adalah seperangkat instrument pembawa konsep baru pembangunan. 


Idealnya, komunikasi dalam hal ini diwakili salah satunya oleh media massa diharapkan dapat menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Selain itu media dapat memberikan kesempatan pada masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembuatan keputusan lewat serangkaian dialog. Media juga diharapkan dapat melakoni peran pendidik bagi masyarakat.


Selanjutnya, pendekatan komunikasi yang digunakan seyogyanya bersifat partisipatoris. Bahwa unsur-unsur yang terlibat (komunikator dan komunikan) setara dalam posisi dan peran. Sehingga pada nantinya ada kesempatan pertukaran dan merundingkan makna pesan untuk keselarasan dan keserasian makna bersama dalam setiap agenda pembangunan.  


Jika konsep ini diterapkan maka akan menumbuhkan kreatifitas dan kompetensi masyarakat dalam mengkomunikasikan gagasannya. Orang kerap menyebutnya sebagai civil of journalism, jurnalisme hati nurani. 


Konsep pembangunan yang berorientasi warga, kemudian didukung dengan pendekatan komunikasi partisipatoris akan mengarahkan model pembangunan yang damai tanpa menghilangkan identitas sosial dan budaya. Jika ini dikembangkan, ghost effect itu bakal terusir jauh.  


Sebab dalam proses Bueng Antu itu ada kearifan lokal yang sebenarnya bisa diterapkan dalam era sekarang. Bagaimana menjaga keseimbangan manusia dengan alam. Ada penghormatan pada alam dan manusia. Ada batas geografis meski tak tertulis namun jelas mana areal untuk berdiam dan yang tidak. Konsep yang dulunya orang tua kita lakukan dengan Berkelekak itu, menanam pohon buah-buahan di kebun atau belakang rumah itu. Itulah mengapa jarang bahkan tidak pernah dukun buang hantu ke Kelekak atau pemandian umum.


Sebab mereka tahu, sehitam-hitamnya ilmu mereka punya, ada rasa tanggung jawab terhadap keseimbangan dan kemaslahatan umat. Mereka pun tahu kapan harus berhenti dan meninggalkan praktik animisme ini. Bahkan motif memiliki ilmu hitam ataupun putih itu pun dilatar belakangi semata-mata pada tujuan pertahanan diri. Bertahan hidup baik dari penjajah atau Lanun


Begitu pun kini, kita berharap bahwa cukup lah kita merusaki alam. Mulailah merangkul masyarakat, jangan hanya investor tak jelas asal usulnya itu. Pemerintah sebenarnya tak sendiri, ada masyarakat yang bisa diajak agar sama-sama dapat  berkreasi di tanah sendiri. *** (dimuat di harian Bangka Pos, Sabtu 20 Juli 2013).

  • i
Posting Komentar