Senin, 10 Desember 2012

Wow Gak Nyangka, masih ada Lutung di Kampus Universitas Bangka Belitung !

>
lutung balun ijuk

Pohon-pohon tinggi di depan mata saya tiba-tiba bergerak, dedaunan rimbunnya seolah melambai-lambai. Mata saya langsung tertuju ke atas. Makhluk hitam tampak berkejaran, bergelantungan dari dahan ke dahan. Ada lima ekor lebih yang terlihat. Dan kesemuanya lincah, seolah melayang di udara. Baru kali ini saya bisa melihat langsung mereka, Lutung Bali.


Yah hari ini saya baru melihat Lutung atau Langur. Bagi karyawan atau mahasiswa UBB yang ngantor atau kuliah di Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung (UBB) di Balun Ijuk terutama di Kampus Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi(FPPB) biasa melihat kawanan lutung yang masih liar ini. Hutan di depan Kampus yang masih alami memang habitat mereka. 


Warnanya didominasi hitam. Langsing berekor panjang. Karena cuaca agak mendung dan terhalang dedaunan, saya belum mampu menggambarkan bentuk wajah. Namun diantara bulu hitam itu, ada juga warna putih sedikit abu-abu di ujung bulu badan dan pada wajahnya. Gesit dan cekatan. Kakinya tampak lebih panjang dibanding tangannya. Keduanya kokoh memegang dahan.



Tampaknya mereka tidak terganggu kehadiran manusia di areal ini. Saya mencoba berjalan beberapa langka mendekat biar lebih jelas melihat. Berusaha mengamati. Namun tak berani lebih dekat lagi, selain karena banyaknya semak dan areal rawa-rawa, saya takut mereka kabur. Untuk pertemuan awal, saya mencoba membidik dengan kamera. Beberapa berhasil saya abadikan. Meski tak sampai pada foto close up. 


Rasanya ingin lebih dekat lagi, paling tidak sampai di bawah pohon dimana mereka bergelantungan. Tapi hasrat itu saya tahan. Maklum prilaku binatang liar belum bisa diprediksi dan saya pun tak punya referensi bagaimana berhubungan dengan lutung. Cukup menyaksikan dari jarak sekitar 50 meter. Saya ibarat tamu bagi mereka. Dan tamu ini berusaha untuk menahan diri.


Lutung itu tampaknya bermain. Saya tidak melihat aktifitas menyantap makanan. Mereka bergelantungan, seolah ini sore waktunya bermalas-malasan. Kadang pindah dari dahan ke dahan lain. Pohon yang lebat memberikan dahan dan cabang yang rapat. Ada yang duduk santai. Ada yang memanjat. Sebuah sore di halaman rumah bagi kawanan itu.


Sore sehabis hujan itu saya berkunjung ke Kampus Terpadu yang terletak di desa Balun Ijuk Sungailiat Bangka. Kampus Bali singkatan dari Balun Ijuk biasa disebut adalah sebuah kampus yang terletak di perbukitan desa. Hutannya masih alami dan tidak terkena penambangan timah. Penduduknya sebagian besar adalah petani sayur. Pohon-pohon masih tinggi memberikan buah-buah dan daun segar bagi Lutung Bali.


Saya pikir adalah keberuntungan bagi UBB. Kampusnya masih nyaman ditinggali hewan asli. Atau bisa jadi mereka tak punya lagi habitat lain untuk ditinggali. Apalagi sekarang hutan yang menjadi habitat mereka makin mengecil dan terperangkap oleh pembangunan kampus baru. Jalan baru dibuat dan mengelilingi areal hutan ini. Pepohonan ditebang dan tanah diurug, dipapas atau ditimbun. Tinggal lah hutan kecil, dimana Lutung Bali tinggal. 


Keberuntungan ini jangan sampai hilang. Konsep green campus yang saya dengar tahun-tahun lalu itu, wajib diaplikasikan. Tapi saya yakin, UBB pun sadar dan berusaha akrab dengan lingkungan ini. Kebijakan untuk melarang penebangan liar, berburu dan aktivitas merusak alam lainnya jauh-jauh hari ditetapkan.


Dengan areal hutan seluar 146 Ha, UBB menjadi Perguruan Tinggi terluas di Bangka Belitung. Areal yang masih didominasi hutan dengan pepohonan tinggi, rawa, perbukitan dan sungai. Sebuah daerah yang harus pintar-pintar dimanfaatkan. Termasuk bagaimana seimbang dengan kehidupan faunanya. 


Saya pikir pasti ada lagi fauna lain selain lutung Bali (Balun Ijuk). Bisa jadi masih ada pelanduk atau kancil. Selain beragam spesies burung, kupu-kupu, serangga, ngengat dan hewan kecil lainnya. Bagi peminat fotografi makro, saya sarankan anda untuk sering-sering berkunjung ke kampus Bali. Saya jamin anda tidak akan kekurangan obyek.
 


Lutung (atau dalam bahasa lain disebut langur) merupakan kelompok monyet Dunia Lama yang membentuk genus Trachypithecus. Secara garis besar, lutung tersebar di dua wilayah: Asia Tenggara (India barat daya, Tiongkok selatan, Kalimantan, dan Bali) dan India selatan berikut Sri Lanka.

Lutung berbadan langsing dan berekor panjang. Warna bulu (rambut) tubuhnya berlainan tergantung spesiesnya, dari hitam dan kelabu, hingga kuning emas. Jika dibandingkan dengan kakinya, tangan lutung terbilang pendek, dengan telapak yang tidak berbulu. Ukuran lutung berkisar antara 40-80 cm, dengan berat 5-15 kg; pejantan berbadan lebih besar daripada betinanya. Tonjolan di atas matanya membedakan lutung dari saudara dekatnya, surili.


Lutung hidup di hutan, terutama hutan hujan. Sehari-hari bergelayutan dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, lutung termasuk hewan siang (hewan diurnal), dan sangat aktif pada pagi dan sore hari. Hewan ini hidup bergerombol antara 5-20-an yang dipimpin oleh seekor jantan. Suara pejantan ini sangat nyaring, ditujukan terutaman untuk mengingatkan agar kelompok lain tidak memasuki wilayahnya.


Lutung termasuk herbivora yang terutama makan dedaunan, buah-buahan, dan kuncup bunga. bahan makanan yang cenderung keras ini bisa dicerna, karena lutung memiliki empat kamar pada lambungnya.

Biasanya, lutung beranak satu, dengan masa hamil tujuh bulan. Salah satu hal yang menarik dari monyet ini adalah anaknya yang berbulu keemasan, dan dipelihara oleh seluruh betina dalam kelompok. Seiring dengan bertambahnya umur, warna keemasan pada rambutnya ini akan semakin pudar berganti gelap hingga akhirnya mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. Hewan ini bisa hidup hingga 20 tahun. (aksansanjaya)
suasana kampus ubb nan hijau

bermalas-malasan di dahan



santai

fisik lutung



lutung balun ijuk






  • i
Posting Komentar