Rabu, 21 November 2012

Komunitas Lokal; Perusuh atau Pemain

>
suasana kemah diksar Himpunan Pencinta Alam Pucuk Idat
Postingan kali ini mengenai keberadaan komunitas lokal daerah. Terutama mengenai Bangka Belitung. Berbicara komunitas berbicara tentang sekelompok orang yang bermufakat bersama. Mufakat karena sama hobi, kesenangan atau pekerjaan. Begitulah karena ada banyak hobi, kesenangan atau pun pekerjaan ( profesi) di dunia ini, maka banyak pula komunitas yang muncul. 

Karena semakin majunya peradaban terutama teknologi komunikasi, maka kesempatan orang per orang untuk bermufakat semakin besar dan efisien. Cukup dengan buat grup di Facebook, lalu add sejumlah teman. Jadilah komunitas anak Bangka, komunitas foto, komunitas pecinta kucing, remeh temeh sampai serius. Semuanya bisa terwujud di era ini. Gampang dan cepat.


Selain karena faktor kesamaan terutama hobi, komunitas biasanya juga dicirikan dengan aura kekeluargaan yang kental. Antar anggota dekat dan intim. Sifat keanggotaanya pun cair tidak mengikat. Paiman bisa jadi hari ini masuk komunitas motor Mio, besoknya ia cabut (keluar) gara-gara Mio ditarik agen. Ia tak lantas dikenai sangsi administratif atau tuntutan denda. Sebab ia pun tak mengeluarkan uang atau sumbangan ketika masuk komunitas. 

Pertemuan tidak selalu rutin, dan bisa dimana saja. Di Pantai, kebun atau taman bermain. Sah-sah saja. Bisa juga tidak ada sekretariat resmi. Namun struktur organisasi berlaku untuk komunitas. Posisi ketua dan wakil, sekretaris dan bendahara masih diperlukan. Ibaratnya, sesantai-santainya aura komunitas, tetap diperlukan person in charge apabila hendak melakukan aksi atau acara komunitas pada suatu ketika. 

Pun begitu adanya di Bangka Belitung, terutama pulau Bangka ini. Ada bermacam dan beragam komunitas, sebut misalnya Komunitas Hijab (anggotanya perempun yang ber hijab), komunitas Thunder (Pria macho pengguna motor Thunder), tak kalah ada perempuannya dengan komunitas Mio (pengguna motor Mio), Komunitas Blogger Babel (kumpulan para blogger asal Bangka), Komunitas Pencinta Alam, Komunitas Off Roader,  komunitas fotografer Bangka Belitung islands (FBI),bahkan karena berbeda jarak dan tipikal daerahnya, muncul komunitas fotografer Sungailiat (komfos), untuk Pangkalpinang ada PPC (Pangkalpinang Photografer Community), ada pula Komunitas Fotografer Mentok (Kite) dan semacamnya.

Saya tak bisa menyebutkan satu persatu seberapa ragam komunitas di Bangka Belitung, sebab sebagai sebuah komunitas, Tak ada data resmi yang bisa diambil sebagai penegasan. ia tak mesti didaftarkan di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) atau di Dinas terkait. Terkecuali organisasi massa semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau sejenisnya. 

Komunitas semacam jamur di musim penghujan, atau bisa tahan lama seperti granit di Tanjung Tinggi. 

Perusuh atau Pemain ?

Pertanyaan paling utama adalah, seberapa besar pengaruh komunitas ini pada alam sekitar?. Mampu kah keberadaanya memberi manfaat bagi masyarakat umum. Atau sebaliknya, tak berarti bagi orang banyak. Bahkan jadi perusuh ketertiban. Pengganggu kenyamanan umum. Ini pertanyaan yang menggelitik

Latar pertanyaan ini adalah pada asumsi bahwa kemajuan sebuah kelompok mesti lah ditunjang oleh lingkungan yang supportif. Kebesaran sebuah komunitas tak bisa dipisahkan dari seberapa besar komunitas memberi bagi orang banyak. 

Logika sederhananya, orang yang terlalu individualistis jarang punya banyak teman. Ia jadi kesepian dan autis sendiri pada akhirnya. Sedangkan orang yang sosial tinggi, punya banyak teman dan diterima dimanapun berada. Itulah hukum alam bekerja.

Dan berdasarkan logika itu, timbul semacam “kewajiban” bagi sebuah komunitas untuk bisa berbagi kepada sesama. Suka atau tidak suka prinsip berbagi ini menjadi tolak ukur raihan kesuksesan sebuah komunitas. 

Tentu saja, tak semua bisa mengamini bahwa prinsip berbagi itu perlu. Sebab sebagai sebuah kumpulan orang dengan kesamaan hobi. Sudah dianggap sukses apabila dapat menggelar kegiatan di lingkungan sendiri. Ibaratnya, kalau hari ini saya dapat berkumpul bersama teman-teman sesama pembaca novel (komunitas pembaca novel laris), lalu mampu melakukan pembacaan kritis pada sebuah novel diselingi dengan diskusi antar sesama. Kumpul-kumpul pada sore hari di bawah rindang pepohonan ini bisa dianggap berhasil. Cukup sampai disitu. Untuk kelanjutannya, disetting bulan depan dengan judul novel yang berbeda. Cukup begitu saja dari bulan ke bulan.

Kalau bisa disebut, alur kegiatan komunitas semacam itu tipikal individualistik. Saya tidak menyebut itu sebagai kesalahan. Tentu saja tidak. Namun perulangan kegiatan semacam itu akan bikin sibuk sendiri. Orang-orangnya itu dan itu lagi. Ia sulit berkembang. Tiada kaderisasi. Jadi kalau tokoh utama komunitas pergi entah kemana, maka bisa jadi bubar dengan sendirinya. Tinggal lah novel yang tersusun rapi di lemari berikut memoir syahdu di musim penghujan. Ia kenangan yang a history.

Ada pula ekstrim, bikin komunitas pencinta graffiti (misalnya). Bikin acara di sebuah pantai. Ada kegiatan di hari nan cerah. Macam-macam acaranya. Saking banyaknya, batu granite yang lebar dan lapang itu kena eksesnya. Dicorat coret biar ada kenangan katanya. Seperti pasangan muda-mudi mabuk kepayang itu. Beringin di belakang kena imbas, terukir indah tanda love dan inisial. 

Jadi ingat di sebuah kota, ada supporter sepakbola yang sangat mencintai tim kesayangannya. Saking fanatiknya, lampu jalan, mobil umum, jalan umum kena imbas. Jika  menang,mereka konvoi gaya koboy sambil arogan dan destruktif. Kendaraan umum kena pentung, kaca dan lampu jalan pecah. Jalanan macet. Sebab konvoi nya mengular. Ini jika menang, bayangkan apa yang terjadi kalau timnya kalah bertanding?.

Saya tidak ingin menilai dan berprasangka buruk terhadap komunitas yang ada di Bangka Belitung khususnya Bangka.Katakanlah ini sebagai sebuah harapan warga masyarakat terhadap keberadaan komunitas itu sendiri. Adalah wajar jika masyarakat berharap positif pada keberadan komunitas. Sebab ia bagian dari sebuah sistem sosial juga. Ada proses pengaruh dan dipengaruhi. Ada harapan dan doa. Hubungan yang timbal balik.

Jawaban atas pertanyaan diatas kembali kepada diri masing-masing. Sejauh mana komunitas hendak dibawa, dan seberapa lama ia mesti ada?.  Harus ada evaluasi dan evaluasi terus menerus.  Semakin besar komunitas pasti didukung oleh masyarakatnya sendiri.  Usahakanlah tidak selalu diluar ring,  Jadilah “pemain” dalam alur sosial masyarakat !. Sebagai komunitas yang bisa menularkan nuansa positif keberadaannya tentu saja.  (aksansanjaya)
 

  • i
Posting Komentar