Senin, 22 Oktober 2012

A Morning at Parit 3

>




antara Kabut


Parittiga semacam melting pot area. Tempat dimana segala suku dan agama berbaur. Ada Melayu, Tiong Hoa , Jawa, Madura, Bugis. Mereka menciptakan kecamatan yang unik. Pembangunan dan proses sosial masyarakatnya pada akhirnya tersambung pada tambang Timah. Sebuah cerita yang tersambung ratusan tahun lalu. 
 
Timah membuat mereka datang dan menyatu. Rekam jejaknya masih bisa kita temui bahkan di sudut-sudut jalan kota Mini ini. Ada bangunan pasar khas Tiong Hoa. Sebuah bangunan berdinding kayu, di paku tegak lurus (ciri khas rumah China). 



Profesi dan Kehidupan

Ada perumahan karyawan PT. Timah. Yang sebagian masih menyimpan cerita lama. Sebuah cerita puluhan tahun lalu tentang kejayaan. Rumah beton tebal dan berlumut. 

Sebuah proses yang seakan tak berakhir seiring derap perkembangan zaman.

Parittiga  adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Parittiga dimekarkan dari Kecamatan Jebus pada tahun 2011. Ada sepuluh desa tercakup di dalamnya antara lain Air Gantang, Bakit, Cupat, Kapit, Kelabat, Puput, Sekar Biru, Semulut, Telak dan Teluk Limau.

Masyarakat disini kebanyakan adalah nelayan, pedagang, petani sebagian kecil PNS dan terbesar bisa diduga adalah pekerja Tambang Inkonvensional. Ada berbagai macam suku dan bahasa. Parit 3 berkembang menjadi mini metropolitan. Untuk kelas kecamatan, Parit 3 termasuk ranking dua terbesar dan paling ramai setelah Mentok. Pasarnya lebih ramai dibanding Jebus.

Pantai Siangau di dusun Pala cantik dan menjadi lokasi kunjungan yang ramai. Ikan lautnya segar dan nyaman dibakar. Keasriannya masih terjaga. Meski di beberapa laut seperti Penganak, laut nya tak bisa dinikmati sebab kapal isap seolah menyemut. (aksansanjaya)

Rumah TImah dan Pasar Jadul

  • i
Posting Komentar