Kamis, 14 Juni 2012

Antara Danau dan Otnial

>
Jauh ia merantau. Asalnya dari Nusa Tenggara Barat. Hidup sendiri di lokasi bekas tambang besar ini. Tiap hari, bos nya mengantarkan makan dan minum serta rokok untuk sekali hadap. Malamnya ia memasak di pondok ini. Pondok berdinding rumbia dan kadang pakaian bekas.

Otnial Perantau dari NTB





Sudah setahun setengah, hampir dua tahun ia ke Bangka. Bersama satu rekannya. Ia menikmati tinggal di lokasi ini. Meski jauh dari keramaian.
“Di Kampung saya, pekerjaan tak lebih dari tukang pikul di pelabuhan, susah,” ujarnya.
Pria berambut keriting ini bernama Otnial. Kerja pada bos peranakan. Tiada yang ditakutinya kecuali hujan yang disertai angin dan petir. Kalau itu terjadi, ia sangat khawatir. Pondok yang ia tinggali memang terletak di sisi danau galian tambang dan hamparan tailing yang meluas hingga se lapangan bola lebih.
 Saban hari ia bersama rekannya merajuk timah bekas galian yang kini menjadi danau itu. Dengan sebuah ponton dan hanya satu-satunya ditempat itu. Herannya ia tak merasa ingin pulang. Lagu Ebit G Ade itu tak berlaku padanya. Uang hasil jerih payahnya sebagian ditabung ke bos nya. Jika suatu ketika pulang barulah diambil.
Kata saya, mengapa tak ditransfer lewat Bank. “ Susah bang, nanti uang nya habis sama keluarga di Kampung,”.jawabnya diplomatis.
Otnial satu diantara ribuan perantau yang menikmati timah di Bangka Belitung. Ratusan tahun bumi dikeruk, dan herannya masyarakat luas Bangka tak kaya-kaya. Seolah tak ada puasnya. Dan Bumi kita makin merekah. Mungkin tanah  ini ditakdirkan untuk selalu memberi. Tanpa mengharap belai kasih. (aksansanjaya)


Smoking Man

Gubuk Pinggir Danau
Ponton dalam Waduk




Ponton

Danau bekas galian TN

  • i
Posting Komentar