Rabu, 14 Maret 2012

Berkelana ke Pulau Tige

>
Dulunya daerah cukup terkenal sebagai tempat pelatihan karyawan PT.Timah. BIO Islands Outdoors sesuai dengan namanya memang sangat cocok menggambarkan daerah yang berpasir putih terlebih adanya tiga pulau kecil berjejer di depan pantainya. Pemandangan itu dipercantik dengan khazanah bebatuan ragam bentuk. Terurai dan berserakan begitu saja di pinggir pantai. Bebatuan itu memanjang hingga ketiga pulau. Menciptakan semacam imaji tersendiri.

Pertengahan tahun 90-an hingga 2000, kawasan yang terletak di desa Deniang ini semacam ekslusive run away. Menyimpan pesona dan daya pikat yang tak diketahui ramai orang.  Kecuali penduduk lokal dan nelayan yang melabuhkan perahu mereka di teluk kecil di areal tersebut.  Bagi yang pernah ikut dalam pelatihan di tempat tersebut, pasti bersepakat akan keindahan tempat itu. Fasilitas nomor wahid dikarenakan pengelolaan berbasis manajemen perusahaan terkemuka.


Kondisi itu nyatanya tak lama, lepas akhir tahun 2000 an, kawasan itu ditutup dan dilepas oleh PT. Timah selaku pengelola tempat. Tak jelas apa sebabnya. Namun yang pasti, setelah itu BIO seolah kehilangan magnetnya sebagai kawasan ekslusif. 

Ia terbengkalai dan mulai dimakan belukar dan ilalang. Hingga kini. Sejumlah bekas bangunan seolah menunggu waktu roboh. Genteng pecah. Dinding kayu lapuk kadang roboh. Bahkan ada bangunan ambruk. Semuanya dalam kondisi yang sama. Sama-sama dimakan belukar yang mulai lebat.

Namun, BIO pada dasarnya adalah alam yang indah itu. Jadi meskipun fasilitas itu tampak sekarat dimakan waktu, namun pantainya tetap menyimpan keindahan tiada tara. Ia seolah kembali ke asal. Kembali pada bentukan alamiah. Tak dibentuk dan di-setting sedemikian rupa. Pantai dan batu itu masih tetap seperti sedia kala. Tetap indah dan menawan.

Pemandangan itu terasa lengkap dengan adanya tiga pulau kecil yang berada di mulut tanjung ini. Penyebutan tanjung ini dikarenakan kontur pantai ini seolah menjorok ke laut. Tepat di depan itulah tiga pulau berjejer. Yang ditengah lebih besar dibanding lainnya. Kalau laut surut, pengunjung dapat berjalan menyeberangi ke pulau dimaksud. Tidak dalam, sebatas lutut orang dewasa. Tiga batu ini lah yang bikin unik pantai ini. Masyarakat kadang sebut kawasan ini pantai Tanjung Ular.

Pada bagian lain pantai ada kawasan jangkar nelayan. Anda akan menemukan sejumlah perahu nelayan “terparkir” di sebuah teluk kecil menunggu pasang tiba. Ada sejumlah pantai kecil lain di kawasan ini. Namun yang paling indah tentu saja Tanjung dengan Pulau Tige itu lah.

Belum ada sentuhan dinas terkait bagaimana memanfaatkan kawasan ini menjadi lebih diminati. Pedagang minuman dan makanan belum ada. Jadi untuk wisatawan dianjurkan membawa nya sendiri. Diharapkan pada tahun mendatang kawasan ini menjadi salah satu primadona wisata pantai di bumi Sepintu Sedulang, Kabupaten Bangka. ***(aksansanjaya).


 





  • i
Posting Komentar