Selasa, 13 Desember 2011

Balada Menjadi Pensiunan PT Timah Tbk

>

Ceritanya berawal ketika saya menikmati makan siang di depan rumah sakit di Sungailiat. Kata ibu penjaga warung makan, orang yang telah pensiun sering sakit-sakitan. Dulunya ketika bekerja, mereka sehat namun setelah lepas dari kerja, mereka jadi sering sakit-sakitan. 

Bisa jadi asumsi ini ada benarnya, pikir saya. 

Pembenaran bahwa pensiun menandakan tidak produktif lagi. Tiada pengakuan sosial. Tiada reward dan status bahwa anda bermanfaat. Anda menjadi tidak berguna dalam ungkapan kasarnya. 

Meski tentu saja tiada semua sepakat pada asumsi diatas. Namun kerja dan jabatan adalah sebuah predikat sendiri. Sebuah pengakuan tersendiri. Jauh kalau mau ditarik lebih dalamnya, bahwa ketika anda bekerja, anda adalah manusia sebenarnya.


Ini lalu yang bikin kita atau mereka yang telah pensiun jadi merana dan duka mendalam. Bagaimana anak buah anda seketika tak lagi meng_ekor anda lagi. Bagaimana perkataan anda ibarat angin seketika. Atau anda kok merasa asing sendiri di tempat yang dulu anda geluti bilangan tahun itu.

Yah rasa seperti itu dijamin bikin kita seolah terperosok dalam jurang dan sulit untuk didaki. Seolah –olah hidup kini adalah kesiaan belaka.

Yang terjadi lalu adalah pensiunan ini merasa shock dan merana. Shock karena tiba-tiba tak lagi mengenakan seragam dinas di jam kerja. Shock bagaimana gaji tiba-tiba tak sebesar biasanya dan tunjangan serta bonus itu menghilang entah kemana. Shock, office boys yang sedari dulu senyum bahagia tiba-tiba datar dan beku ketika berpapasan.

Merana lah diri. Hati yang tegar seperti batu karang dijamin lemah lunglai. Meski kadar untuk lunglainya berbeda-beda bagi tiap orang. Namun hari kemeranaan itu kaya Saykoji ,”akan segera tiba”.

Saya merasa merana saat ini, bukan karena saya akan pensiun. Bukan itu. Namun karena ayah saya yang pensiun kini terbaring kena MalariaTertiana. Ayah saya itu, “Bak” biasa saya panggil sudah seminggu ini demam. Tadi menggigil ketika jam berada di pukul 9 malam. Dan detik ini saya seolah mematung sendiri.

Dalam hati ini saya berfikir, itu lah lalu mengapa ada program acara, “Bosan Jadi Pegawai itu”, bukan karena jadi pegawai dilarang, namun jadi pegawai akan menghasilkan pensiun-pensiunan. Mereka ini calon penghuni rumah sakit nantinya.

Masa sebegitu besarnya pengaruh kerja terhadap kesehatan itu. Entahlah, namun saya fikir, tetap ada relevansi. Ungkapan “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” atau sebaliknya itu ada benarnya. Ketika jiwa anda merana, penyakit akan mudah menerpa. Saya tidak hendak mengungkapkan logika ilmiahnya. Namun asumsi saya begitulah adanya.
Percaya atau tidak, bagi saya anda cukup percaya saja. Sebab, begitulah orang tua kita dahulu. Penjaga warung itu berkata, bahwa pensiunan PNS dan Timah di kelurahnnya rata-rata gampang penyakitan ketika pensiun.

Dalam kasus ayah saya, saya percaya saja. Namun dengan sedikit alasan lain. Dia pensiun ketika dua adik saya masih kuliah. Sedangkan kami masih tiada berkembang layar untuk menarik sauh yang lain. Kemampuan kami belum lah berbilang untuk membantu sanak saudara  bahkan dalam perkara rutin.

Lagi-lagi saya menyalahkan ini lah akibatnya karena menjadi seorang karyawan. Anda digaji dalam persentase minimum. Tidak ada Undang-undang yang bilang dalam persentase maksimum. Jadi takaran anda telah ditetapkan oleh mereka, kaum yang lebih tinggi dibanding karyawan. Kelas pengusaha.

Ayah saya, mantan karyawan PT.Timah Tbk jauh sebelum saya lahir, jadi sekitar 40 tahunan. Awal kerja dari serabutan kuli bor, ngelangkung hingga diangkat jadi karyawan TTB, Tambang Timah Bangka, hingga UPTB, Unit Penambangan Timah Bangka, hingga menjelma menjadi PT.Timah TBK. 

Ia beruntung lepas dari gelombang restrukturisasi. Nyaris ia berpindah job dengan petani lada. Nyaris saja waktu itu. Kalau surat pemanggilan itu tak ia terima. Kalau tidak, saya tidak akan menulis cerita ini untuk anda.

Masa pasca karyawan Timah memang kejam. Tidak pintar-pintar berhitung. Uang pensiun itu bisa ludes seketika. Uang pensiun yang ditarik sekaligus. Bukan per bulan. Sebab perbulan, sangatlah kecil. Berbeda dibanding pensiun PNS. Uang pensiunnya cukup. Ini yang lalu bikin lulusan segar itu berlomba jadi PNS.

Jadi ingat cerita kawan saya, punya bapak kerja di kantor pusat Timah di Pangkalpinang. Ia nyaris jadi orang gila. Sebab saban suing (sirene masuk kerja dan pulang) itu dibunyikan Ia mendadak mengambil seragam kerja. Ia tak bisa melupakan masa dulu jadi karyawan yang siap-siap berangkat kerja.

Atau tetangga saya, yang gara-gara salah kalkulasi disebut Pa Udak. Ia pegawai (TK) Tambang Karya, ketika restrukturisasi TK  dialihkan ke swasta. Pa udak bersama rekannya dipending (diputus hubungan kerja). Uang yang didapat sebagai pesangon itu dijadikan modal. Beriringan dengan hal itu,  istrinya saban hari pergi ke pasar. Saya ingat, saat itu mereka seolah Orang Kaya Baru (OKB) di kampong.

Pa Udak bikin toko kelontong. Namun tak berhasil. Sebab toko itu berhutang. Dan seringkali modal nya terpakai. Salah urus, toko itu tak lama kemudian bangkrut. Sekarang ia penambal ban dan nyambi mencuci motor.

Cerita ini masih beragam, untuk menggambarkan betapa kejamnya konsep pensiun. Pensiun yang dalam artian pas-pasan itu.

Meski ada pula cerita mengenai pensiunan yang berhasil. Pensiun jenis ini jeli melihat masa depan. Ketika usia tak produktif lagi di perusahaan. Ia jauh-jauh hari bikin usaha lain. Jadi ketika pensiun tiba. Ia tak lagi merasa gamang tentang apa yang hendak dilakukan buat masa depan.

Ayah saya seperti itu. Ia memang karyawan. Namun jiwa petaninya tak luntur meski sebenarnya ia tak punya waktu untuk berkebun. Tapi anehnya, kebunnya ada beberapa. Yang pertama di belakang rumah, kebun warisan nenek. Lalu di daerah kawasan Rebo. Yang baru-baru kemarin dilego ke makelar. Selanjutnya di merawang. Nah yang terakhir ini tanahnya subur dan menjadi primadona kebun Bak.

Sayang seribukali sayang. Ia mungkin tak menyadari usia memang berkata sebenarnya. Masa mengabdi selama 30 tahun itu cuma untuk PT,Timah saja. Ketika lepas, ia tak punya tenaga lebih seperti muda dahulu.

Kebun karet yang dibeli kini tak mampu lagi ia sadap. Pingganggnya bermasalah. Saya tak heran sebab begitulah adanya orang yang sudah tua. Waktunya meraka memang untuk banyak istirahat. Tidak perlu maksimal memaksa tenaga.

Namun bagi saya, tiada kata pensiun. Pensiun hanya utnuk pegawai. Dan saya tak mau jadi pegawai. Saya tak mau jadi merana dan shock ketika tiba-tiba usia tak produktif. Saya ingin produktif meski itu di selang nafas terakhir.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk jadi kaya. Kaya lah dengan berusaha. Dengan begitu, Islam mengajarkan kita untuk sedekah dan menyantuni fakir miskin.

Semoga Bak cepat sembuh dan ia menemukan kembali kesukaannya pada kebun. Meski saya tidak mengharapkan ia memeras keringat lebih seperti dahulu lagi. Amiin. (aksansanjaya)

  • i
Posting Komentar