Jumat, 04 November 2011

Andai Pemimpin Bangka Petani?

>
Jika pemimpin Bangka Belitung dulunya seorang petani, bisa jadi akan lain ceritanya kini. Pemimpin yang punya solusi selain tambang untuk memakmurkan rakyatnya. Yang tak pernah secara emosional berhubungan dengan  timah. 

Pemimpin yang masa kecilnya, tiada jauh-jauh dengan berkebun. Bermain di sela padi darat sambil mulot atau mentandi burung. Yang punya kenangan akan kulong dan sungai. Atau tumbik, dimana ikan tanah sebesar lengan berlenggang bebas di air jernihnya.

Pemimpin yang bisa bersahabat dengan lingkungannya. yang melihat tanah dan pohon bukan obyek, namun subyek. Pemberi kehidupan. Seperti laku suku Badui di Jawa sana. Menghormati alam. Dan menggunakannya secara bijak.





Bangka Belitung baru  menjadi provinsi, sekitar 11 tahun lalu. Tapi saya merasa tiada jauh berbeda keadaannya ketika status masih bagian dari Sumatera Selatan. Atau ketika ditarik masa lebih jauh, ketika pertama Belanda menjajah pulau ini. Sama saja masih berkutat dengan timah, timah dan timah.

Ketika dahulu lepas dari Belanda, dan Bangka Tin Mining  Bedrijft itu beralih menjadi UPTB, Bangka cuma dapat Rumah sakit Timah, dan fasilitas mewah untuk kalangan tertentu. Sedang royalty jauh di Palembang dan Jakarta sana.

Lepas dari Sumsel, jadi provinsi, Timah masih menjadi milik mereka, saudagar, yang kata Iwan Piliang, saudagar tak jelas asal bangsanya. Jenis saudagar ini tak kenal arti wawasan nusantara dan cinta lingkungan. Bisa jadi mereka jenis saudagar yang tinggal di langit saking tak jelasnya. Sama halnya dengan trilyunan rupiah hasil timah yang raib tak berbekas di pulau ini.

Untuk sekedar tidak lupa mengingat, ada juga persentase dari trilyunan rupiah itu untuk masyarakat Bangka Belitung. Namun cuma remah-remahnya saja. Ibaratnya di musim penghujan, anda cuma dapat rintiknya saja.

Pemimpin kita berkilah bahwa membiarkan tambang rakyat adalah kebijakan yang bijaksana dan arif. Bukankah kita telah memberi kehidupan yang layak bagi manusia-manusia Melayu, China, Jawa dan lainnya yang berdiam di Pulau ini. Meningkatkan taraf hidup mereka. 

Lihatlah toko emas, ramai pembeli. Motor dan mobil laris manis bak kacang goreng. Leasing bak jamur di musim penghujan. Tak cuma kendaraan, alat berat harga milyaran itu bahkan terbeli.  Dan wanita-wanita penghibur itu, sengaja didatangkan dari jauh. Kamp remang-remang seperti gipsi, bernyanyi dan berpindah.

Pemimpin yang kerap latah, dengan baligho besar dan seremoni pencitraan. Entah sadar atau tidak, mereka seolah menipu diri sendiri. Memberi gula, namun racun di kemudian hari. Berkacak pinggang dengan lesung seringai, senyum. Namun kata De Massiv, cinta itu membunuh ku.

Kata orang, atau pikir anda, kata-kata saya ini provokatif. Saya akui jelas provokatif. Apalagi dekat-dekat dengan Pemilukada yang sebentar lagi ini. Entah ini untuk posisi provinsi atau kabupaten/kota. Sama saja. Saya lebih suka menyebutnya, tulisan ini sebagai penyadaran. Jika pun tidak bisa berarti utopis.

Bahwa sejauh ini, tak ada pemimpin kita yang sadar bahwa provinsi ini sedang going down bukan going up. Kita selalu dan selalu beralih ke timah. Untuk bahan tambang yang tak seberapa itu, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya untuk 10 atau 20 tahun kemudian. Saya bukan berbicara saat ini, namun untuk hari-hari ketika cucu atau anak kita sedang gundah gulana, seolah sendiri di pulau terpencil. Tiada hubungan. Tiada tetangga bisa diminta tolong. 

Benarlah bahwa ketika berurusan dengan uang, tak ada kata seperadek. Apalagi dengan konsep uang cepat. Tiada bandang tak bisa diterjang.

AdamSmith, bisa jadi benar bahwa pasar bekerja di tangan –tangan misterious. Dan kita, Bangka Belitung berada pada tangan-tangan misterius itu. Para saudagar-saudagar itu. Yang datang dari negeri entah berantah. Menguras dan menguras. Bukan Cuma saudagar, tapi mereka-mereka yang punya kuasa dan hukum.

Jadilah mereka, kaum yang tak lebih 350 tahun lampau. Zaman ketika suku Han berjejer di kerangkeng dengan rantai besi. Menggali timah.

Lucu juga mendengar ada konsep ekonomi kerakyatan. Yang saya pikir tak lebih dari konsep kelas pekerja, bahwa modal adalah punya masyarakat, di tangan buruh dan petani. Yang pada dasarnya adalah, mendorong bidak namun menteri mencari langkah mematikan. 

Tak usah bawa-bawa nama rakyat, kalau mindset masih berkisar fulus. Kalau sedekah mesti diliput dan diapresiasi. Rakyat dijual, atas nama mereka, dapat untung tiada terkira.

Pemimpin kita juga, harusnya seorang nelayan. Masa kecilnya, akrab dengan laut. Dengan ikan dan badai tengah malam. Dengan pantangan laut itu.
Bahwa merusak karang, akan membuat hijarah ikan kecil dan plankton. Bahwa itu berarti mereka harus lebih jauh mengayuh sampan. Atau itu berarti mematikan nafkah itu sendiri.

Lalu kemudian, akibat kebijakan tambang rakyat itu, datang kemudian pekerja-pekerja dari tetangga. Pekerja lokal yang awalnya cinta lingkungan dan mau berkebun, akhirnya ikut-ikutan. Nelayan yang awalnya setia pada laut, akhirnya menjarah laut juga. Faktor ikut ikutan ini orang bilang multiplier efek. 

Bagaimana tidak, untuk dapat duit, panen lada perlu kurang lebih tiga setengah tahun. Bandingkan dengan pelimbang, satu hari bisa dapat hasil sama tiga setengah tahun itu.

Saudagar pun bergembira ria. Lah wong inilah kebijakan yang pro rakyat. Lihatlah mereka bisa sekolah tinggi. Laptop bisa dibeli untuk anak-anak ku. Motor bisa dibawa ke sekolah. Tak usah lagi dengan sepeda.

Begini lah kalau, fulus pegang kendali. Saya pikir, tak cuma timah. Kalau bisa masyarakatnya dijual saja perorang. Berikut pulau nya.

Tapi saya ha’qul yakin, diantara mereka, diantara kita ini, ada calon pemimpin yang tak goyah akan fulus. Yang punya niat tulus untuk membangun peradaban di Bangka Belitung. Yang pemimpin tak bangga karna hanya menjaga warisan. 

Yang terakhir ini, ada pemimpin ini tak “melakukan apapun”, dia Cuma mewariskan, menjaga saja kotanya. Hal yang wajar lalu, seperti museum, kota bersih dan berkilau. Tak heran kalau langganan adipura. Seremoni yang kata orang Bangka, ulok-ulok. Herannya bangga dengan itu.

Saya pikir, pemimpin kita patut mencontoh orang tua dahulu di Kampung-kampung.  Prinsip Kelekak itu perlu di tiru. Menaman bukan bermaksud untuk diri sendiri, namun untuk orang lain. Generasi yang akan datang. Kebijakan kita bukan untuk saat ini, namun demi masa depan. Untuk anak cucu kita. Kalimat yang sering didengar, namun minim aplikasi. (aksansanjaya)
  • i
Posting Komentar