Senin, 22 Agustus 2011

Dermawan Tiba-tiba

>
Saat ini, masyarakat seolah berlomba menjadi dermawan. Ini gejala yang sangat baik. Apalagi momennya sangat pas sekali, saat bulan Ramadhan. Dalam ajaran Islam, bersedekah atau berderma di bulan Ramadhan, pahalanya berlipat ganda. Bersedekah itu bagian dari ibadah. Jadi klop sudah pernyataan atas.

Bagi anak terlantar atau yatim piatu, inilah momentum terbaik mereka. Kasih sayang dan perhatian tak perlu diminta. Ia akan datang menjamah dan membuai masa selama sebulan ini. Beberapa diantaranya sengaja dimobilisasi dalam even-even buka bersama atau safari Ramadhan.

Panti asuhan akan tiba-tiba ramai. Ada saja yang mengantar makanan, atau memberi santunan. Ada pula yang mengajak buka bersama. Pelakunya bisa perorangan atau institusi bahkan grup yang terbentuk dalam jejaring sosial semacam facebook.

Kita tiba-tiba menjadi malaikat. Dan ini semacam perulangan tiap tahun. Pejabat yang kemarin lewat, menjauh muka. Pada bulan ini, mereka bersemu merah, merona dan menjadi malaikat kecil. Membawa bahagia alang kepalang. Seolah tak ada lagi bulan kemudian untuk menjadi malaikat. 

Bahwa setiap umat berhak untuk mendapatkan reward berupa pahala yang super besar itu, adalah wajar dan seharusnya. Tetapi selepas Ramadhan kita kembali lagi memanusiakan diri dengan sifat egois, kikir dan acuh. Ibaratnya, berlari tapi tak menjumpai finish. Seperti cinta namun tak kunjung melamar. 

Penekanannya tidak seperti suam-suam kuku. Berderma ibarat proses berkelanjutan. Bukan karena sebuah momentum.

Tentang momentum, terkadang tanpa sadar kita seolah berlaku emosional. Apa ini semacam karakter kita sebagai nation. Berkaitan dengan momen, kita menjadi ikutan pesonanya. Kita semacam tersihir. Terpengaruh sebuah entitas yang sementara dan parsial. 

Bermain dengan momentum, ibarat Norman kemarin yang digilai masyarakat. Kata prinsip organisasi, He is the right man in the right place and the right time. Atau seperti Keong racun, liriknya hampir usang sebelum Sinta dan Jojo berlenggak lenggok di You Tube. Keong Racun menjadi pusaran telinga untuk sebuah masa. 

Keduanya sekarang usai tak segemerlap kemarin. Ia tak menjadi menarik lagi, tak punya momen spesial. Tak ada fokus media. Masyarakat kita tak punya interest membicarakan Norman. Mereka lalu meredup perlahan.

Pesannya adalah berderma tidak berkaitan dengan momentum. Atau paling tidak, jangan menjadi ritual tahunan. Sebab bila alur ini dipakai, selepas Ramadhan, Panti Asuhan kembali kembang kempis mengajukan dana operasional atau bantuan. Anak-anak itu kembali sepi dibalik tembok usang. 

Mereka seolah semacam instrumen, seolah pemberi tanda, bahwa ini adalah puasa. Bahwa ada lagi konsep selain tak makan dan tak minum, Derma nyaris berfungsi sebagai pelengkap tema Ramadhan.

Atau sekali lagi, apakah umat memerlukan momentum. Sebab aksi tanpa keterkaitan, serasa tak bernyawa dan tiada nilai. Apakah harus sering-sering Tsunami atau gempa, kita bahkan mau turun jalan menarik sedekah. Atau apa harus sering-sering Ramadhan, biar yang lemah merasa kuat. Yang sepi menjadi bahagia.

Ketika ini menjadi ritual tahunan, alih-alih memerdekakan jiwa yang sepi,  namun agaknya tanpa sadar kita telah berlaku zhalim.

Kedua, Derma pun tak mesti punya banyak uang. Bahkan yang tak berkarya pun bisa punya uang. Saya yakin mereka, adik-adik setingkat SMA itu tak punya kerja tetap selain ongkos orang tua. Namun mereka bisa kasih derma. Tak mesti punya banyak uang. Sebab kita juga tak bisa bersepakat dalam konsep apa ukuran banyak itu.

Derma, ibaratnya berbagi. Mengiklaskan hati untuk memberi. Kepada mereka yang sering kita sebut dengan kata Saudara. Ini mengajarkan kita untuk membinasakan rasa kikir. Sebab sebagai manusia, alpa dengan batasan kepemilikan. Serakah berkawan akrab dengan kikir. Kedua sifat yang bikin Negara kita tak pernah selesai dengan korupsi.

Derma atau sedekah lah di Bulan Ramadhan, dan bulan-bulan selanjutnya, jangan berhenti. Kata ustad Yusuf Mansyur, jangan takut miskin, yakin Allah akan melipatgandakan nilai yang telah kita ridha dan ikhlas itu. Amiin.***

  • i
Posting Komentar