Jumat, 01 Juli 2011

Mengejar Belitong Part 3

>Ada banyak tempat yang bisa dieksplore di lokasi Tanjung Tinggi ini. Rasanya tak habis-habisnya. Apalagi bagi anda penggemar fotografi Landscape.

Hari itu, sejujurnya saya masih belum merasa puas. Sebab beberapa spot belum diambil secara maksimal. Teknik fotografi seperti slow speed belum diaplikasikan. Belum lagi awan yang tadinya biru, tiba-tiba menggumpal dan selang tak sampai sejam. Berubah mendung. Saya mengharapkan hujan turun. Agar ketika ia reda. Cuaca kembali berkawan. Namun apa daya, awan hitam seolah tak mau menangis. Otomatis, matahari yang tadinya bersinar terang, seolah redup.

Saya harus menaikkan ISO. Untuk beberapa tempat, saya kesulitan dalam menangkap obyek yang gelap. Tiada pertolongan matahari membuat sejumlah detail kekurangan pencahayaan. Yang terutama, mengharapkan perpaduan antara lautan bening dan bebatuan dengan awan biru buyar sudah.

Namun, perjumpaan saya dengan Belitong kali ini sebenarnya adalah permulaan. Sebagai survey awal. Itu sebabnya saya tak membawa lensa wide, tripod, filter yang akomodatif. Saya berandai-andai ketika waktu nanti, ketika ada kesempatan persiapan mestinya lebih matang dan terukur.





Hari terakhir, sore hari selepas pulang dari Tanjung Tinggi. Teman ajak ke Tanjung Pendam. Sebuah pantai pinggir kota Tanjung Pandan. Inilah kota yang menarik, sebab kita akan dapat menikmati sunset di pantai ini. Pantai ini dipercantik dengan jalan-jalan yang beraspal. Di pinggir pantai dibangun talud. Jadi tiap pengunjung dapat menikmati sunset dengan duduk-duduk santai. Warung-warung atau resto berjejer di sejumlah tempat. Taman-taman di bangun dengan cemara yang masih muda.

Saya membayangkan tempat ini ketika sepuluh atau duapuluh tahun lagi akan semakin eksotis. Ini bila pemerintah tahan kuping untuk tidak mendatangkan kapal isap. Wacana pengembangan Dolphin Island, sebuah kota di sepanjang pantai, dianggap taktik terselubung menarik timah dari dasar laut tanjung Pendam. Konon katanya, timah di daerah ini dalam deposit yang amat besar dan berkualitas baik.

Belitong kini sedang berbenah, jalan menuju Tanjung Tinggi, Bukit Berahu dan Tanjung kelayang diperlebar hingga enam meter. Wisata berkembang pesat berkat bantuan novel legendaries karya Andrea Hirata itu, Laskar Pelangi. Sail Belitong direncanakan dalam waktu dekat. Ini masuk kalender wisata Nasional. Sekarang ketika akhir pekan, orang-orang dari luar seolah berlomba menuju Belitong. Saya pikir ini masuk akal, sebab kadang ke daerah Jakarta sendiri, ke Anyer, harus perlu empat atau lima Jam ketika macet. Sedangkan ke Belitong Cuma perlu 50 menit saja untuk sekedar menikmati sunset di tanjung Pendam.

Beberapa tur wisata menyediakan paket-paket yang menarik dengan harga yang relative terjangkau. Ini perkembangan yang bagus, sekaligus membuat iri saya yang tinggal di Bangka. Pertanyaan saya mengapa Bangka tidak bisa seperti Belitong. Berlomba-lomba menarik wisatawan. Mempercantik diri dengan pelestarian alam yang sebenarnya indah. Bukankah Bangka dengan Belitong adalah dua pulau yang secara geografis tak beda jauh. Batu-batu di pinggir pantai bisa ditemukan di Bangka juga.

Ini yang seharusnya dilaksanakan oleh pemda-pemda di pulau Bangka. Bukan Cuma berlomba mendatangkan kapal isap yang sejujurnya tak memberi banyak faedah bagi masyarakat sendiri. Bukan mengeruk alam, yang sebenarnya telah letih dan perlu disegarkan secepatnya. Harap saya, Bangka maju bersama Belitong, sebagai destinasi wisata alternative. Pasar itu masih tersedia luas. Pintar-pintar kita yang ada disini mengelolanya. (aksansanjaya)






  • i
Posting Komentar