Senin, 30 Mei 2011

Sabut Kelapa, Riwayat mu

>
Menyebut sabut kelapa (Cocos nucifera) , tergambarkan kulit buah yang sehari-hari ditumpuk di belakang rumah. Nyaris dianggap sampah, yang kemudian dibakar. Namun sesuatu yang kecil dan sederhana sejatinya penentu untuk hal yang lebih besar.





Perajin  menjualnya seratus ribu per karung, sekitar seratus ikat sabut kelapa di dalamnya. Sabut-sabut kelapa ini hasil dari pembuatan kopra. Kulit buah ini tak dibiarkan begitu saja, sebab perajin lain akan memungutnya. Yang terkadang dibeli seharga 50 ribu untuk 14 arko. Lalu mereka rendam selama tiga bulan. kulit itu lalu akan berubah warna menjadi hitam dan bau. Masa setelah tiga bulan itu lah, ia akan diangkut dari air. Lalu siap untuk di pukul-pukul. Menjadi sabut kelapa.

Haja Nurhasanah, wanita 42 tahun ini kelahiran Madura. Pernah jadi TKW di Arab Saudi, Janda setelah menikah dua kali. Baru empat bulan ia menekuni pekerjaan ini. Ia tidak membeli kulit kelapa, namun ia ambil saja dari perajin kopra yang kebetulan saudara dengan nya. Rendamannya berjarak sekitar satu kilo dari rumahnya.

Hajah, merasa bahagia-tampak dari keramahannya dan kesederhanaannya. “saya bisa bahasa arab, jawa, banjar, semua saya ladeni, kecuali bahasa Bangka,’ ujarnya. Maklum ia baru di Bangka. 

Sabut-sabut hasil pukulannya, dijemur hingga kering. kemudian dipilin dalam ikatan seharga seribu rupiah. Dikumpulkan sebanyak mungkin hingga satu karung. Begitu seterusnya. Kalau ia kuat, pendapatannya bisa capai setengah juta per minggu.

Mereka tak bikin sapu atau sikat, nanti ada tauke yang yang datang, lalu membeli bekarung-karung sabut kelapa asal Gg Bintang kawasan Rambak Sungailiat ini. Proses selanjutnya ada di tangan perajin lain. Mereka adalah salah satu rantai produksi dari produk yang bernama sapu dan sikat, juga produk anakan yang lain. (aksansanjaya)
  • i
Posting Komentar