Rabu, 06 April 2011

Jadilah Mahasiswa Bahagia !

>
Saya teringat pada salah seorang mahasiswa, Cege namanya. Bermukim di sebuah pelosok di daerah Kundi. Ia bercerita singkat, bahwa selepas minggu hingga sebelum sabtu, ia akan berdiam di hutan.

“Mengapa, kok bisa begitu?,” kata saya heran. “Maklum lah pa, kami ne Ne I (kerja TI), “ jawabnya.


Cege pekerja TI, namun saya perkirakan ia yang punya TI. Ke kampus, ia menggunakan Avanza warna silver. Pembawaannya selalu tertawa. Cege, ejaan namanya tak dibaca, seperti kere, tapi seperti ucapan e pada elang. Pertama saya sebut seperti vocal kere, sekelas tertawa.

Saya juga mencoba mengingat, seorang mahasiswa di pelosok Belinyu, lupa saya namanya. Namun seringkali ia terlambat datang ke kelas pagi. Ia bilang jarak antara tempat kuliah ke kampus terbilang jauh. Jalannya tak aspal tapi tanah merah. Namun ia tak pernah absen.

Seperti mahasiswa satu lagi, yang dari Pangkal Niur. Tamat SMA, ia bantu-bantu sekolah dasar. Ada empat SD yang ia bantu. Apakah itu mengetik atau sekaligus mengajar. Job nya banyak. Orangnya banyak tanya, kritis. Kecil rada gelap kulitnya. Keriting rambutnya. Lama membujang. Dan pernah saya liat, kadang konsumsi bodrek.

Entah itu untuk kepala yang sering pusing. Atau sebagai doping, istilah teman sekampung. Yang saya tahu, ia tampak bersemangat ketika di kelas. Pertanyaan-pertanyaan nya berbobot.


Keinginan muncul karna ada harapan. Menyeruak dalam mimpi. Ingin jadi pengacara sukses punya mobil mewah. Seperti pejabat kemana-mana dikawal. Persis seperti aparat Negara, gagah dengan seragam nya itu. Mereka-mereka diatas, sejatinya petarung. Seseorang yang mencoba merubah arah nasib. Ingin seperti itu. Ingin menjadi bapak-bapak itu.


Ini hal yang lumrah. Meski untuk menyandang status itu, mengorbankan waktu. Perlu uang tak sedikit untuk SPP. Tugas kuliah yang tak pernah padam. Seringkali pula dikeroceh saban pagi, biar tak telat. Atau sedih harus meninggalkan anak di rumah berikut kegiatan rumah tangga lain.


Menjadi bahagia tak identik dengan sebuah status. Seorang penggangguran acap kali bahagia bila kekasihnya bernyayi india. Atau seorang buta, bepergian dengan tongkat. Bahagia karena istri di rumah senantiasa menunggu sabar. Pada akhirnya bahagia memang bisa menjadi milik siapa saja.


Namun ide tentang bahagia seyogyanya sebuah proses. Ada rentang kejadian menuju sebuah takdir. Bukankah drama percintaan itu asiknya pada proses pacaran itu, lepas itu ending. Dalam himpitan kejadian, kita bereaksi lewat respon-respon verbal atau nonverbal itu. Ini lah membuatnya tampak indah. Sesuatu yang dilakukan Guido Orefice, mentertawai kematian sembari berharap. Kita mesti sering nonton Life is Beautiful itu.


Respon yang dulu dilakukan oleh moyang kita, di kampong-kampung, tetua ketika mereka muda, bertanam durian dan duku. Respon survive setelah dipaksa pindah penjajah Belanda. Lokalisasi kolonialisme. Tapi tak berhenti harap. Kelekak itu bahkan kita nikmati, sedang sang penanam tak ada lagi.


Bahagia itu punya mimpi. Ada arah ke depan, meski dihimpit fakta kejam. Seringkali mesti berkorban. Pada akhirnya, Giosué Orefice memang mendapatkan tank mainannya. Bagi kita, memang seharusnya tiada akhir yang tak bahagia.(aksansanjaya)

  • i
Posting Komentar