Senin, 28 Maret 2011

Strobis; Sebuah Style Foto

>
Sering melihat foto-foto hasil dari strobis, bikin saya tertarik juga. Foto-foto yang dihasilkan dari permainan tata lampu ini memunculkan efek dimensional yang unik. Ada unsur gelap dan terang, sebuah konsep kontras coba di tunjukkan dari style jenis ini. 

Sebenarnya tak ada beda dengan pemotretan lainnya. Sebab penggunaan flash pada prinsipnya bisa kapan saja. Karena kondisi pemotretan kadang kurang cahaya. Selain itu, ia bisa juga dimanfaatkan dalam pemotretan studio. Garis besarnya penggunaan lampu tambahan, flash atau lampu studio bisa dalam jenis pemotretan apa pun. 

Namun boleh dikata, strobis ibarat pemotretan studio yang bukan di studio itu sendiri. Dalam artian, ia style yang diluar studio, out of studio. Pelepasan flash dari gear serta penempatannya pada tripod atau tiang lampu merupakan ciri khas dari style fotografi ini. Penggunaan lebih dari satu lampu guna penciptaan efek dimensional jelas penuh tantangan.

  • i

Selasa, 15 Maret 2011

Apakah Nuklir perlu di BABEL?

>Beberapa bulan ke belakang, orang Bangka ramai bicara tentang PLTN. Bagaimana memanfaatkan nuklir sebagai sumber energi listrik baru.

Pemerintah daerah mendukung niatan ini. Maka datanglah pakar nuklir ke serumpun sebalai. Seminar dan even di gelar. Sosialisasi mengenai aman kah PLTN bagi masyarakat. Para pakar yang tentu saja terlatih ini memang sangat kredibel di bidangnya. Berasal dari Badan Atom Nasional, lulusan luar negeri khusus utak atik nuklir itu. berbicara panjang lebar, baik langsung atau via media lokal.

Tak kurang, tokoh pemuda dan masyarakat ikut dukung rencana strategis ini. PLTN harus menjadi contoh bagi provinsi lain. Rencana pula, pembangkit itu akan ditempatkan di sebuah pulau yang berjarak dengan pulau utama Bangka Belitung ini. Jadi aman nantinya kalau ada apa-apa.nah loh?

Untuk masyarakat sendiri, belum jelas apa setuju tidaknya?, karena belum ada yang bertanya langsung. Katakanlah ada pihak yang survey langsung. Sayangnya hingga sekarang belum ada. Yang ada cuma suara pejabat teras kita ini. Bercuap-cuap setuju.

Saya secara pribadi tidak mendukung langkah ini!. Alasannya tentu saja, tingkat resiko yang ada bila energi atom itu bergemuruh di sebelah rumah (dekat). Katakan saya termasuk katro dalam hal ini.

Namun, pernah kah kita bertanya apakah Nuklir perlu di Babel?,sebab ini pertanyaan mendasar. Mari kita berhitung,

Saat ini penduduk Babel berjumlah sekitar 1,5 Juta Jiwa. Sebentar lagi PLTU Batubara Air Anyer akan beroperasi dengan kapasitas 2x30 MW dan 2X6MW. Tahun 2013 dan 2016, bakal ada PLTU IPP S.Liat 2x30 MW dan PLTU Bangka New Bangka 2x30 MW. Untuk pulau Belitung, ada PLTU Suge, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau Kabupaten Belitung serta PLTU Mempaya di Beltim.

Seperti dikutip dari Bangka Pos.com. Koordinator Project PLTU Suge, David Simarmata, menjelaskan, PLTU Suge terdiri dari dua unit pembangkit. Sesuai target, pembangkit Unit 1 selesai bulan Juni 2011, sedangkan unit 2 ditargetkan selesai sekitar dua bulan kemudian.

Menurutnya, daya maksimal PLTU Suge yakni 33 MW sudah terbilang besar untuk ukuran Pulau Belitung. Saat normal, daya yang dihasilkan berkisar 80 persen dari daya maksimal. Daya sebesar ini hampir dua kali lipat dari daya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Pilang yang saat ini melayani kebutuhan listrik bagi sebagian besar pelanggan PLN di Pulau Belitung.

Hitung-hitungannya pada tahun 2019 nanti, diperkirakan Babel akan punya 299,5 MW!. Setelah ditambah dengan pembangkit sewa dan swasta. Apakah masih kurang untuk penduduk yang sepersepuluh Jakarta itu???

Bangka Belitung adalah dua pulau, tidak terhubung dengan provinsi lain. Secara geografis, kita ibarat anak kecil yang asupan makanannya tentu berbeda dengan orang dewasa. Penambahan pembangkit listrik dimaksud sudah mencukupi. Lalu mengapa kita seolah tak percaya kepada PLN. Seandainya ditambah lagi, akan kemana listrik ini?.

Memang Korea dan Jepang tetangga terdekat kita menggunakan nuklir. Namun ini karena keterbatasan sumber daya. Lihatlah bumi kita, Indonesia, Batubara dan minyak bumi seakan tak habis-habisnya. Kita tidak bermasalah dengan supply bahan bakar.

Jadi perlu langkah bijaksana dalam perkara ini. Saya tak anti modern. Namun jangan sampai kita terlalu naïf. Jangan menjadi dapur untuk tuan rumah lain. Maksudnya, Babel jadi dapur energi saja. Sedangkan nanti, listriknya dinikmati oleh Jawa dan sekitarnya. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.

Kan kita jadi berfikir, Para ahli dan resources banyak di Jawa, mengapa harus ke Babel. Meski alasannya Jawa rawan gempa. Makanya Babel cocok. Nah jelas kan, bumi laskar pelangi memang hendak jadi dapur energy.

Nuklir masuk dalam kebijakan Nasional, sobat. Sama seperti jalan raya. Yang bagus dan licin Cuma ada di Jawa saja. Kebijakan pusat jarang berpihak pada timur. Ini bukan kata saya, tapi kata Teras Narang, Gubernur Kalimantan.

Ketika SBY mempendingkan Babel Go Nuclear beberapa hari kemarin, saya rasa ini sikap yang bijaksana. Juga menjadi tanda untuk pause menggiring wacana Babel Go Nuclear tadi. Sekali lagi, bukan Babel go Nuclear saat ini, tapi Babel go Green,yang paling tepat. (aksansanjaya)


  • i

Rabu, 09 Maret 2011

Hunting Landscape Pantai Sungailiat

>Sabtu siang cuaca begitu cerah. Saking cerahnya, tak ada awan. Jadi yang tampak di langit, birunya langit itu. meskipun panas, namun kaki dan tangan saya mulai bergerak-gerak. Tanda gelisah. Ingin seolah beranjak dari teduhnya rumah ke sebuah tempat di luar sana. Hal yang wajar, keinginan untuk hunting begitu di ubun-ubun. Sebab beberapa hari bahkan bulan ke belakang, langit di serumpun Sebalai ini sering merajuk dan menangis. Jadi hari ini, Sabtu 12 Februari langit sedang ceria.


Keinginan ini tak berjalan sendiri ternyata. Lepas tengah hari, sms masuk berisi ajakan hunting. Segera saya mengiyakan. Ada saya, Bintang Olym dan Bang Taufik yang bergegas hari itu menuju spot wisata terkenal di Sungailiat. Kawasan Pantai Matras.

Kata Bintang, dia baru saja menemukan spot menarik. Dan ini ditemukan tanpa sengaja katanya. Dalam hati saya berfikir, memang begitu adanya. Sebab Bangka ini, pantainya sangat beragam. Baik dari segi luas maupun letak. Seperti tulisan saya sebelumnya.

Berlatas langit biru, kontras dengan objek bebatuan yang berserakan di tepi pantai. Kondisi laut surut, membuat sebagian bebatuan granit tampak besar. Kontras warna bermain di sekitar biru tua dan muda, serta abu-abu khas warna batu.

Rute yang kami lalui sepanjang pantai berpasir. Udara memang begitu panas. Untung membawa jaket kupluk. Kulit seolah terlindung dari Teriknya matahari . beberapa jepretan tak terasa telah dilepas.

Pemandangan hari ini benar-benar aduhai. Langit yang adem. Bebatuan yang gahar. Laut yang bening dan tenang seolah menyejukkan hati. Tempat ini semacam oase untuk mencari damai.

Bangka Belitung memang indah!.
Berikut hasil foto-foto yang saya abadikan.







  • i