Rabu, 09 Februari 2011

Komunitas Blogger BABEL, Sebuah Jalan

>Saya menyusuri Sri Pemandang malam tadi, tiba di pertigaan masjid Muhajjirin, Mio berbelok ke arah Sri Menanti. Short Message Service yang saya kirimkan tadi belum dibalas. Malam menunjukkan pukul 21.00. ini malam rabu, sepertinya saya terlambat pergi rapat. Emang disengaja, karna dua jam tadi, saya barusan cuap-cuap gelombang di 98.8 fm. Selang beberapa menit menyusuri jalan gelap samping kuburan. Saya sampai. Ini daerah sri Bulan. Hajat saya ikut rapat HIMPA Pucuk Idat di rumah sang ketua.

Organisasi kecil ini berumur tak lebih dari setahun. Baru dua kegiatan yang diekspose. Itu tahun kemarin, penanaman kelapa dan cemara di pantai Rambak. Kedua adalah bersih-bersih kuburan sri Menanti. Lumayan sukses. Selepas itu tak ada lagi aksi. Malam ini, kembali lagi tak sampai sepersepuluhan wajah-wajah muda ini bersenda gurau, bernazar, berdebat, membicarakan arah masa depan. Berikut dengan saya, kami seolah gamang tanpa arah. Hendak dikemanakan organisasi kecil ini.

Saya bilang Iman kita masih ada di HIMPA. Bukti nya teman-teman masih masih mau hadir di rapat ini. Lantas, ocehan saya lebih kepada terlalu banyak kata dibanding aksi. Kita lebih memikirkan bentuk. Seakan bentuk adalah tujuan akhir. Bahwa kita jangan terjebak pada form. Bahwa tentang izin, npwp, struktur hendaklah tidak menguasai 80 persen pikiran kita.

Bukannkah, REPALAKA dahulu pernah Berjaya hingga beberapa angkatan. Sempat membuat kegaduhan di masanya. Itu sekitar tahun 1998-2000. Selepas itu terendam diakhir perjuangan pembentukan provinsi Bangka Belitung. Namun ia tak mati. Dan beberapa diantara kami, mencoba bangkit. Beberapa yang duduk di teras rumah ini. Digayungi Philips dan prasmanan dari pasar Mambo.

REPALAKA ialah organisasi Remaja Pencinta ALam Bangka. Dan HIMPA adalah bentuknya yang baru. Saya pikir, kita perlu real dibanding ucap saja. Iman kita masih ada. Yang perlu kita lapis dengan satu kata, KOMITMEN.

Bicara komitmen, seakan menyinggung kata berkorban. Dan banyak yang tidak suka kata ini. Malahan ini nantinya jadi batu sandungan terbesar.

Curhat diatas, relasinya pada niatan satu lagi. Membentuk komunitas blogger Bangka Belitung. Komunitas ini belum terbentuk. Namun wacana-wacana itu mulai digaungkan. Saya pikir inilah saatnya bentuk komunitas blogger BABEL. Tak perlu tunggu lama-lama. Jadi ingat apa yang pernah saya tulis di media tentang peran blogger untuk wisata BABEL.

Untuk pemain baru seperti saya ini, kadangkala timbul perasaan malu dan tidak pede kalau bicara blogging. Namun saya berfikir positif saja, saya perlu teman untuk sharing. Saya suka tulis dan suka baca. Berteman pun prioritas utama. Beberapa blogger asal Bangka saya baru tahu. Ada Aan, Dukon Besak,Bang Tama, Bujang Bangka, Bangka Fotografi.

Baiklah kita jadikan saja komunitas. Tak perlu susah-susah. Kita tentukan kapan ketemu. Cari tempat yang asik. Di hutan kantor walikota yang rindang itu bias jadi. Udaranya sejuk. Lagian tak jauh-jauh dari warung. Website komunitas blogger Bangka sudah dibikin oleh Aan. Perantau Bangka di yogya ini. Hayooo tunggu ape agik?.

Tentang apa, bagaimana, siapa, mengapa, dan kapan kita bicarakan nanti. Kita bikin enjoy aja. Paling tidak kita bias bertemu dan bertegur sapa. Asal kita komitmen. Dan siap mental. Jalan kita masih semak belukar, tak semulus jalan tol. [aksansanjaya]

  • i
Posting Komentar