Rabu, 23 Februari 2011

Beda Orang Bangka dengan Belitung

>Perbincangan saya dengan ikam ni bersenandung dari Republik Kelekak sampai Dolphin island. Saya tak bertanya asalnya. Namun dari tutur katanya, ia urang Belitung. Cerdas dan berpendidikan. Wajar bagi orang yang berpangkat di sebuah dinas di negeri laskar pelangi ini.

Bermula dari Ngenjungak, Republik Kelekak, sebuah buku karya Fithrorozi. Penulis lokal yang bisaa menulis untuk rubric Ngenjungak di Pos Belitung. Berbentuk cerpen. Sebanyak 84 cerpen itu lalu dibukukan. Memuat pelbagai tema, antara lain Mergige, Ngenangkan Suke Idup de Kampong, Beguru kan Alam, Teraling, dan sebagainya.

“Republik Kelekak ini local Genuine, yang ingin disampaikan kepada kita, urang Belitung,” Kata Ikam ini.

Sabtu, 12 Februari di Belitong lalu launching. Hingga saat ini hampir setengah nya terjual dari 5000 edisi perdana. Ikam ini menunjukkan antuasisme yang mendalam pada adat budaya urang belitong. Analisanya tajam dan mengena.

Saya berfikir, kapan urang Bangka bikin buku tentang local genuine ini. Selain tentang legenda, dan puisi atau pantun. Selain tentang Pak Udak, saya merindukan sosok lain, seperti Kek Bira dan teman-temannya seperti di Belitong. Adakah tokoh lainnya?. Melalui ocehan-ocehan, lelucon, cerita pameo, atau hiperbolistik itu memukau pendengar. Meski tak masuk akal, namun dari itu dari makna tersirat. Dari itu, kita belajar dan memahami arti kearifan local. Terma seperti diatas. Local genuine!.

Mengenai bahasa, Bangka sejak kini boleh dikata belum menemukan bahasa daerah pakem. Dalam artian resmi sejak dulu dipergunakan bercakap. Orang Sungailiat dan Pangkalpinang pun, kadang berbeda dalam pengucapan kata. Perbedaan ini meski pada huruf vocal semacam. Untuk kata kamu dipergunakan kata Ente, Pok, Ka, Ke di masing daerah. Belum lagi ungkapan daerah. ini baru tatar lingusitik nya.

Argument saya ketika itu, mengapa bahasa Bangka bervariasi adalah kita sejarahnya memang tidak mengenal bahasa persatuan. Sejarah ini terkait pada sebuah sistem. Mengapa Jawa punya bahasa Jawa, yang bisa dimengerti dari timur ke tengah itu. Mereka punya sistem. Berikut adat dan istiadat yang serupa di pelbagai tempat. Secara sosio culture Jawa punya raja. Kerajaan berikut sistem nya memprenetrasi aspek kehidupan masyarakat yang berdiam. Itu yang bikin sama dengan Belitong. Bahasa mereka sama dari timur dan barat. Nah yang ini dari tinjau sosio budaya.

Akibatnya, Bangka adalah orang merdeka. “ Bangka adalah orang yang tidak beradat,” kata Bang Hendra, Ikam ini berseloroh.

Bukan diartikan kurang ajar atau bernada negative. Tapi untuk mengartikan bahwa sejak dahulu kala, Bangka tak punya Kerajaan. Tak ada sistem nilai yang diwariskan turun temurun. Pribadi Bangka adalah pribadi yang merdeka, tidak partisipan, mandiri, keras.

“Nyo Nek kate Nyo lah,” kata urang Belinyu. atau “ Dak sape negah,”. Yang terkenal itu, “dak kawah nyusah,”. Untuk menjelaskan mengapa kita adalah person yang bebas.
Namun dari ini, Bangka tak mengenal kultus individu. tak ada strata atas dan bawah. tak ada duduk dilantai dan di kursi. Tak ada kata, Sungkem. Kita tak terbisaa dengan peran kyai sebagai penarik massa.

Belitong sepakat menolak kapal isap. Suaranya bulat katakan tidak untuk dolphin island. Sedangkan nelayan kita tak bulat menentang kapal isap. Suara kampong tak satu menolak bulldozer yang menggilas kelekak dan kebun. Sawit makin hari makin menerabas masuk. Menyisakan hutan homogen. Yang untuk 20 atau 30 tahun kemudian akan meranggas dan mati.

Kemelayuan Belitong lebih dekat dengan melayu Kalimantan dan riau. Bangka belum jelas runut silsilah kemelayuannya. Untuk saat ini belum pasti jejak penelitian itu. Terkecuali Mentok, yang ter sub dalam bahagian kesultanan Palembang.

“Kita beruntung karena jarak yang dekat,” kata saya. Untuk menjelaskan mengapa kita bersepakat untuk jadi provinsi. Tentu saja ini komentar paling sederhana. Meski arah bicara kami tak sampai pada alas an mengapa kita bersepakat jadi provinsi.

Ngenjungak adalah respon ketika budaya melayu menuju titik nadir urang Belitong. Ketika dunia semakin mengecil. Rentang jarak seolah tak ada. Dan kita-kita seolah hidup dalam kampong global. Kita perlu lebih banyak cerita-cerita itu. Di bangkitkan lagi, dikembalikan pada kita.

Saya tersadar, kita belum punya sesuatu seperti buku itu. Sesuatu yang menjadi penjelas identitas. Berikut kearifan-kearifan di dalamnya.

Berbeda memang tak mengenakan. Seperti teman facebook penyuka rocker yang bilang dangdut itu najis. Bila diungkit-ungkit, malah akan menjadi-jadi. Jelas tak konstruktif.

Sekarang marilah Kita coba berfikir dari sudut yang lain. Maksudnya, pada mindset kita ini. Sering-sering berucap, bahwa Perbedaan adalah Rahmat ada benarnya. We are different, but it makes us stronger!. (Aksansanjaya).
  • i

Rabu, 09 Februari 2011

Komunitas Blogger BABEL, Sebuah Jalan

>Saya menyusuri Sri Pemandang malam tadi, tiba di pertigaan masjid Muhajjirin, Mio berbelok ke arah Sri Menanti. Short Message Service yang saya kirimkan tadi belum dibalas. Malam menunjukkan pukul 21.00. ini malam rabu, sepertinya saya terlambat pergi rapat. Emang disengaja, karna dua jam tadi, saya barusan cuap-cuap gelombang di 98.8 fm. Selang beberapa menit menyusuri jalan gelap samping kuburan. Saya sampai. Ini daerah sri Bulan. Hajat saya ikut rapat HIMPA Pucuk Idat di rumah sang ketua.

Organisasi kecil ini berumur tak lebih dari setahun. Baru dua kegiatan yang diekspose. Itu tahun kemarin, penanaman kelapa dan cemara di pantai Rambak. Kedua adalah bersih-bersih kuburan sri Menanti. Lumayan sukses. Selepas itu tak ada lagi aksi. Malam ini, kembali lagi tak sampai sepersepuluhan wajah-wajah muda ini bersenda gurau, bernazar, berdebat, membicarakan arah masa depan. Berikut dengan saya, kami seolah gamang tanpa arah. Hendak dikemanakan organisasi kecil ini.

Saya bilang Iman kita masih ada di HIMPA. Bukti nya teman-teman masih masih mau hadir di rapat ini. Lantas, ocehan saya lebih kepada terlalu banyak kata dibanding aksi. Kita lebih memikirkan bentuk. Seakan bentuk adalah tujuan akhir. Bahwa kita jangan terjebak pada form. Bahwa tentang izin, npwp, struktur hendaklah tidak menguasai 80 persen pikiran kita.

Bukannkah, REPALAKA dahulu pernah Berjaya hingga beberapa angkatan. Sempat membuat kegaduhan di masanya. Itu sekitar tahun 1998-2000. Selepas itu terendam diakhir perjuangan pembentukan provinsi Bangka Belitung. Namun ia tak mati. Dan beberapa diantara kami, mencoba bangkit. Beberapa yang duduk di teras rumah ini. Digayungi Philips dan prasmanan dari pasar Mambo.

REPALAKA ialah organisasi Remaja Pencinta ALam Bangka. Dan HIMPA adalah bentuknya yang baru. Saya pikir, kita perlu real dibanding ucap saja. Iman kita masih ada. Yang perlu kita lapis dengan satu kata, KOMITMEN.

Bicara komitmen, seakan menyinggung kata berkorban. Dan banyak yang tidak suka kata ini. Malahan ini nantinya jadi batu sandungan terbesar.

Curhat diatas, relasinya pada niatan satu lagi. Membentuk komunitas blogger Bangka Belitung. Komunitas ini belum terbentuk. Namun wacana-wacana itu mulai digaungkan. Saya pikir inilah saatnya bentuk komunitas blogger BABEL. Tak perlu tunggu lama-lama. Jadi ingat apa yang pernah saya tulis di media tentang peran blogger untuk wisata BABEL.

Untuk pemain baru seperti saya ini, kadangkala timbul perasaan malu dan tidak pede kalau bicara blogging. Namun saya berfikir positif saja, saya perlu teman untuk sharing. Saya suka tulis dan suka baca. Berteman pun prioritas utama. Beberapa blogger asal Bangka saya baru tahu. Ada Aan, Dukon Besak,Bang Tama, Bujang Bangka, Bangka Fotografi.

Baiklah kita jadikan saja komunitas. Tak perlu susah-susah. Kita tentukan kapan ketemu. Cari tempat yang asik. Di hutan kantor walikota yang rindang itu bias jadi. Udaranya sejuk. Lagian tak jauh-jauh dari warung. Website komunitas blogger Bangka sudah dibikin oleh Aan. Perantau Bangka di yogya ini. Hayooo tunggu ape agik?.

Tentang apa, bagaimana, siapa, mengapa, dan kapan kita bicarakan nanti. Kita bikin enjoy aja. Paling tidak kita bias bertemu dan bertegur sapa. Asal kita komitmen. Dan siap mental. Jalan kita masih semak belukar, tak semulus jalan tol. [aksansanjaya]

  • i

Senin, 07 Februari 2011

Simple Area for Fotografi

>Terkadang sesuatu yang dekat di sekitar bisa menjadi space yang menarik untuk ajang foto-foto. Rerumputan yang tumbuh di sekitar teras rumah. Dengan bunga yang tumbuh liar dapat menjadi latar dari sebuah foto yang aduhai. Ilalang yang tumbuh bebas di pekarangan rumah, juga dapat menjadi background utama dari sebuah subyek.

Ornamen-ornamen hidup ini menjadi pelengkap dari sebuah foto. Kekontrasan dapat diraih secara maksimal dengan memanfaatkan ornamen ini. Apalagi jika berbicara tentang portrait atau model photography. Bermain-main dengan ujung dedaunan, bunga dari rumput liar akan menghasilkan frame yang menarik.


Ditambah dengan komposisi yang apik. Penempatan subyek utama diantara space atau bidang bidik. Elemen-elemen hidup ini dapat menjadi background sekaligus foreground yang apik. Dari beberapa foto berikut saya mencoba memanfaatkan pekarangan radio Dunia Dangdut Sungailiat yang bertempat di Taman Hiburan Rakyat Sungailiat.


Saya mencoba mengeksplore ornament-ornamen hidup ini. Diantaranya ilalang yang tumbuh subur. Rumput-rumput liar dengan bunga liar yang tumbuh disela-sela paving block yang lapuk. Dalam foto berikut saya mencoba bereksperimen dengan ornament tersebut. Hijau menjadi dominan.

Pemanfaatan lensa fix juga saya maksimal untuk mempertegas obyek foto. Diharapkan dengan ruang sempit yang tipis, isolasi obyek akan dapat dicapai. Focus dari sebuah foto pun akan jelas.







Berhubung, foto-foto karena dadakan makanya, unsur kostum tidak menjadi perhatian. Kalau untuk foto yang lebih wow, pemanfaatan kostum yang cerah semacam merah atau kuning bias menjadi pertimbangan. Selamat menikmati.(Aksansanjaya)
  • i

Rabu, 02 Februari 2011

Objek wisata Tanjung Tadah

>Feature wisata berikut ditulis oleh sahabat saya, Hadi Mahmudah, Mahasiswa UBB

Objek wisata alam pantai dan hutan ini terletak di desa Air Menduyung Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Untuk mencapai objek wisata alam Tanjung Tadah bisa melalui jalur darat dan jalur laut. Bepergian dari Pangkal Pinang ke desa Air Menduyung lewat jalur darat hanya membutuhkan waktu tempuh sekira 2,5 jam. Pengunjung bisa membawa kendaraan pribadi berupa mobil atau sepeda motor, karena dari simpang Pelanggas ke desa air menduyung belum tersedia angkutan umum.


Objek wisata ini menawarkan panorama alam yang indah, dengan bebatuan yang besar, berwarna putih kehitaman dan tersusun rapi di sepanjang pantai. Diantara bebatuan itu ada sebuah gua kecil yang digunakan masyarakat setempat untuk ritual. Bebatuan ini sangat unik seperti dipahat dan disusun oleh alam dan juga hutan rimbanya yang masih alami.

Selain pantai, Hutan rimba di Air Menduyung juga menawarkan keindahan bagi pengunjung yang mempunyai jiwa petualang. Lokasi bisa dicapai melalui jalur darat. Sepeda motor adalah satu satunya alat transportasi yang bisa digunakan, karena rute merupakan jalan setapak atau lebih dikenal dengan jalan kebun. Perjalanan dengan sepeda motor ditempuh 20 menit melewati kebun rakyat dan hutan rimba. Setelah itu pengunjung harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter. Daerah yang akan dilewati berupa hutan bakau yang berlumpur.

Perjalanan menuju objek wisata tanjung tadah ini dapat dikatakan akan sangat berkesan. Karena untuk mencapai objek wisata tanjung tadah tersebut, pengunjung benar-benar disajikan panorama alam yang luar bisaa indahnya,disebelah kiri dari jalan setapak yang dilalui adalah daerah perkebunan rakyat yang sangat asri. Perkebunan rakyat itu didominasi oleh kebun lada dan kebun karet. Selain kebun karet dan kebun lada terdapat juga kebun sayur dan kebun ubi. Sebelah kanan dari kebun rakyat tersebut adalah hutan lindung yang sangat terjaga keasliannya.




Selama dalam perjalanan,pengunjung dapat menikmati teduhnya hutan rimba. Karena hutan ini masih alami dan masih banyak pohon yang besar-besar. Pohon tersebut berdiameter sekitar dua pelukan tangan orang dewasa dengan tinggi diatas 30 Meter. Pengunjung akan ditemani nyanyian burung-burung yang indah. Pengunjung juga akan menemukan berbagai tanaman yang sulit dijumpai seperti anggrek macan. selain itu di hutan ini masih terdapat berbagai macam hewan seperti rusa, monyet, pelanduk, berbagai burung dan lain-lain.

Selain jalur darat,pengunjung bisa melalui jalur laut melalui dermaga Air Menduyung.para nelayan akan mengantar pengunjung dengan perahu. Perahu tersebut bisaanya digunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Perjalanan ke objek wisata alam tanjung tadah akan memakan waktu sekira 30 menit. Perjalanan dari dermaga akan menyusuri sungai air menduyung. Panorama hutan bakau akan berkesan bagi pengunjung. Setelah itu perjalanan akan melalui pantai menuju tempat objek wisata alam Tanjung Tadah.

Sebaiknya pengunjung melaporkan diri terlebih dahulu ke perangkat desa atau warga. Hal ini bertujuan agar ada warga yang menjadi pemandu dalam perjalanan ke objek wisata alam tersebut. Pengunjung bisa berkomunikasi melalui HP setiap saat karena sinyal di desa Air Menduyung sangat bagus.

Setelah puas seharian menikmati objek wisata alam di tanjung tadah, pengunjung bisa membawa oleh-oleh hasil laut, baik dari hasil memancing sendiri atau membeli dari nelayan setempat. Pengunjung bisa membeli oleh-oleh khas dari desa Air Menduyung. Oleh-oleh khas desa Air Menduyung seperti udang,kepiting,kerang dan ikan bisa dibeli dengan harga yang murah.Selain itu pengunjung juga bisa membeli madu asli dari warga. Karena selain penghasil udang, desa Air Menduyung juga penghasil madu asli yang diperoleh dari hutan Rimba.***
Penulis adalah anggota Kelompok ST 7 Air Menduyung KKN Angkatan V Universitas Bangka Belitung
Anggota : M Bukhary, Hadi Mahmudah, Saipul, Khoirunisa, Taufan Irdani, Tuti Septriyani, Muslimin, Rohayani, Obi Sanjaya, Winda Eriyani


  • i