Minggu, 18 Desember 2011

Foto Bagus yang Bikin Penasaran

>
sample model bangka belitung :-D
Semakin bagus..semakin bersemangat, ini kata kawan fotografer. Rasanya makin tak puas bila dapat yang bagus. Jadi ingat kalimat one shoot one kill. Satu jepretan bagus mengandaskan segalanya. Satu jepretan sebagai pamungkas, kurang lebihnya.

Bicara foto bagus memang tiada habisnya. Sebab ukuran bagus pun bisa relatif. Selain relative, ia pun berjenjang pula. Jadi tak heran, dalam kelas fotografi dibagi dalam kelas basic hingga advance itu. Untuk menegaskan bahwa sebuah foto adalah dunia tersendiri. Rimba fotografi tampaknya tiada habis ditelurusi.

  • i

Selasa, 13 Desember 2011

Balada Menjadi Pensiunan PT Timah Tbk

>

Ceritanya berawal ketika saya menikmati makan siang di depan rumah sakit di Sungailiat. Kata ibu penjaga warung makan, orang yang telah pensiun sering sakit-sakitan. Dulunya ketika bekerja, mereka sehat namun setelah lepas dari kerja, mereka jadi sering sakit-sakitan. 

Bisa jadi asumsi ini ada benarnya, pikir saya. 

Pembenaran bahwa pensiun menandakan tidak produktif lagi. Tiada pengakuan sosial. Tiada reward dan status bahwa anda bermanfaat. Anda menjadi tidak berguna dalam ungkapan kasarnya. 

Meski tentu saja tiada semua sepakat pada asumsi diatas. Namun kerja dan jabatan adalah sebuah predikat sendiri. Sebuah pengakuan tersendiri. Jauh kalau mau ditarik lebih dalamnya, bahwa ketika anda bekerja, anda adalah manusia sebenarnya.

  • i

Kamis, 17 November 2011

Hotel Aston Bangka Belitung

>
Hotel ini berdiri megah di kawasan sub urban Kabupaten Bangka Tengah. Kelasnya bintang tiga, lumayan dekat dengan kota Pangkalpinang terutama Bandar udara Depati Amir. Ke Bandara, cuma perlu tiga menit saja.

Melengkapi fasilitas yang ditawarkan oleh pulau laskar pelangi ini. Selain ada novotel, santika. Pengembang nasional dan internasional ini diharapkan menjadi stimulus untuk menjadikan Bangka Belitung menjadi daerah yang juga berkembang.
Aston Hotel from Back yard


  • i

Jumat, 04 November 2011

Andai Pemimpin Bangka Petani?

>
Jika pemimpin Bangka Belitung dulunya seorang petani, bisa jadi akan lain ceritanya kini. Pemimpin yang punya solusi selain tambang untuk memakmurkan rakyatnya. Yang tak pernah secara emosional berhubungan dengan  timah. 

Pemimpin yang masa kecilnya, tiada jauh-jauh dengan berkebun. Bermain di sela padi darat sambil mulot atau mentandi burung. Yang punya kenangan akan kulong dan sungai. Atau tumbik, dimana ikan tanah sebesar lengan berlenggang bebas di air jernihnya.

Pemimpin yang bisa bersahabat dengan lingkungannya. yang melihat tanah dan pohon bukan obyek, namun subyek. Pemberi kehidupan. Seperti laku suku Badui di Jawa sana. Menghormati alam. Dan menggunakannya secara bijak.




  • i

Rabu, 26 Oktober 2011

Berkawan baik lah dengan Pers !

>
Peristiwa pelecehan wartawan di kota Sungailiat memberikan kita sebuah penegasan, bahwa masih ada sejumlah elemen masyarakat yang belum menerima keberadaan pers. Masyarakat seperti ini bisa jadi dipenuhi dengan bayangan ketakutan terhadap profesi kewartawanan. Atau bisa jadi sebuah bentuk arogansi terhadap profesi wartawan.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat kasus kekerasan terhadap jurnalis selama tahun 2011 mencapai 61 kasus, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 66 kasus. Disebutkan, sejak 2003 hingga 2011 ini, LBH Pers mencatat kasus kekerasan terhadap jurnalis sebanyak 344 kasus kekerasan, baik fisik maupun nonfisik. Bahkan sejumlah kasus berujung pada pembunuhan terhadap wartawan.

Sebuah informasi yang bikin miris. Mengingat wartawan adalah sebuah profesi yang pada dasarnya terhormat. Bukankah ia elemen yang ke empat dalam pilar demokrasi. Jadi dalam Negara ini, sebagai penganut paham demokrasi, kekerasan terhadap wartawan tidak dapat ditolerir. Perlakuan ini dianggap mencederai demokrasi itu sendiri.

  • i

Kamis, 06 Oktober 2011

Blurring & Panning ala Aksansanjaya

>

Panning sebuah teknik dalam fotografi, dimana objek difoto sharp/tajam sedangkan latar belakang/ back ground menjadi blur. Bermain dengan teknik satu ini akan memberi semacam emosi tersendiri bagi sebuah foto. apalagi yang berkenaan dengan olahraga atau something yang bergerak.

   


 
  • i

Senin, 19 September 2011

Indonesia ku

>
Sebelumnya, saya ingin menghaturkan terimakasih telah menyempatkan diri berkunjunga ke Blog sederhana ini. Tanpa bermaksud membuatnya tak berarti, namun blog ini jelas belum member banyak bagi pembaca, begitulah saya menganggapnya. Namun, seraya berharap, kepingan informasi di dalamnya ini dapat memberi anda seupil pengetahuan dalam samudara informasi dunia maya ini.

Saya juga hendak berucap, Minal A’idin wal Fa’idzin, Mohon dimaafkan salah kata dan salah ucap, semoga kita semua diberikan keluasan dari saling memberi manfaat. Ini masih berada di bulan Syawal, dan sekitar dua minggu lewat dari lebaran di awal bulan tadi. Jadi nuansa dan suasananya masih berlebaran. Di tempat saya, selama kue dan minuman masih ada di meja ruang tamu, masih berlebaran artinya.
kebebasan apa untuk mereka nanti??

  • i

Senin, 29 Agustus 2011

Sambut Ramadhan Himpa Pucuk Idat gelar Penghijauan

>

Himpunan Pencinta Alam (Himpa) Pucuk Idat Sungailiat Sabtu, (20/8) kemarin mengadakan Penghijauan di Panti Asuhan Al Ikhlas Pangkalpinang. Selain pengijauan, Himpa juga mengadakan acara buka bersama dengan diikuti sekitar puluhan anak yatim piatu. Sebelumnya diadakan acara bersih-bersih lingkungan panti, baru kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bibit tanaman oleh ketua Himpa Pucuk Idat, Alamsyah kepada Ny.Ropiah selalu pengelola Panti.

  • i

Senin, 22 Agustus 2011

Dermawan Tiba-tiba

>
Saat ini, masyarakat seolah berlomba menjadi dermawan. Ini gejala yang sangat baik. Apalagi momennya sangat pas sekali, saat bulan Ramadhan. Dalam ajaran Islam, bersedekah atau berderma di bulan Ramadhan, pahalanya berlipat ganda. Bersedekah itu bagian dari ibadah. Jadi klop sudah pernyataan atas.

Bagi anak terlantar atau yatim piatu, inilah momentum terbaik mereka. Kasih sayang dan perhatian tak perlu diminta. Ia akan datang menjamah dan membuai masa selama sebulan ini. Beberapa diantaranya sengaja dimobilisasi dalam even-even buka bersama atau safari Ramadhan.

Panti asuhan akan tiba-tiba ramai. Ada saja yang mengantar makanan, atau memberi santunan. Ada pula yang mengajak buka bersama. Pelakunya bisa perorangan atau institusi bahkan grup yang terbentuk dalam jejaring sosial semacam facebook.
  • i

Jumat, 29 Juli 2011

Deklarasi Komunitas Blogger Bangka Belitung

>
23 Juli bisa saya sebut hari yang bersejarah bagi Provinsi Bangka Belitung. Bukan karena ada kejadian monumental semacam pembentukan kabupaten baru. Ia tak besar sehingga memberi heboh masyarakat namun kecil. Kecilnya ia cuma karena diikuti tak lebih dari 20 orang. Dan diantara mereka bahkan tak mengetahui pasti apa pasal yang sedang kami gelar di hari tersebut. 
foto bersama komunitas blogger babel


  • i

Senin, 25 Juli 2011

Kids Of Nation

>
Saya tak tahu bahwa pada 23 Juli kemarin adalah hari Anak Nasional. Namun tanpa sengaja, hari minggu pada 24 Juli, saya hunting bareng. Temanya HI. Lokasi nya ditentukan dari Air Hanyut hingga Matras. Berdua dengan teman, kami bermotor mencari obyek bidikan yang pas.
fosil perahu nelayan di kp nelayan sungailiat

  • i

Jumat, 01 Juli 2011

Mengejar Belitong Part 3

>Ada banyak tempat yang bisa dieksplore di lokasi Tanjung Tinggi ini. Rasanya tak habis-habisnya. Apalagi bagi anda penggemar fotografi Landscape.

Hari itu, sejujurnya saya masih belum merasa puas. Sebab beberapa spot belum diambil secara maksimal. Teknik fotografi seperti slow speed belum diaplikasikan. Belum lagi awan yang tadinya biru, tiba-tiba menggumpal dan selang tak sampai sejam. Berubah mendung. Saya mengharapkan hujan turun. Agar ketika ia reda. Cuaca kembali berkawan. Namun apa daya, awan hitam seolah tak mau menangis. Otomatis, matahari yang tadinya bersinar terang, seolah redup.

Saya harus menaikkan ISO. Untuk beberapa tempat, saya kesulitan dalam menangkap obyek yang gelap. Tiada pertolongan matahari membuat sejumlah detail kekurangan pencahayaan. Yang terutama, mengharapkan perpaduan antara lautan bening dan bebatuan dengan awan biru buyar sudah.

Namun, perjumpaan saya dengan Belitong kali ini sebenarnya adalah permulaan. Sebagai survey awal. Itu sebabnya saya tak membawa lensa wide, tripod, filter yang akomodatif. Saya berandai-andai ketika waktu nanti, ketika ada kesempatan persiapan mestinya lebih matang dan terukur.



  • i

Mengejar Belitong Part 2

>

Hari ketiga, Selasa. Saya berinisiatif berangkat sendiri. Dengan rental motor, saya membela diri untuk berangkat ke Tanjung Tinggi. Penasaran nya luar biasa di Ubun-ubun. Sedari pagi, perjalanan ditempuh sekitar satu jam lebih dari tanjung Pandan. Sampai ke Tanjung Tinggi, benarlah pantai disini memang menakjubkan.


Bagi saya, pantai dengan bebatuan adalah hal biasa. Dan kebetulan saya sering mengabadikannya di pulau Bangka. Namun untuk Belitong, bebatuannya tampak asik sendiri, ukurannya jumbo. Batu granit itu memang tiada banding.
Salah satu spot Tanjung Tinggi dengan low angle


  • i

Kamis, 30 Juni 2011

Mengejar Belitong

>

Meskipun dekat dengan Bangka, pulau Belitung ternyata perlu waktu lama untuk saya singgahi. Keinginan mengunjungi pulau ini begitu besar. Bukan karena saya berasal dari Belitong, namun ini karena faktor hasrat yang luas biasa terendap akan alam pulaunya. Sebelumnya, saya cuma bisa lihat saja di internet dan nonton tivi perihal betapa amazing nya saudara Bangka ini. 


sunset di bukit Berahu

Awal Juni kemarin, kesempatan itu datang. Bertepatan dengan cuti. Langsung saja dimanfaatkan ke Belitong. Pulau yang dalam banyak forum disebut Pulau Laskar Pelangi ini. Penduduknya lebih suka menyebutnya Belitong. Dalam referensi maya, Wikipedia.com, Belitung atau Belitong (bahasa setempat, diambil dari nama sejenis siput laut), dulunya dikenal sebagai Billiton adalah sebuah pulau di lepas pantai timur Sumatra, Indonesia, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata. Pulau ini terkenal dengan lada putih (Piper sp.) yang dalam bahasa setempat disebut sahang, dan bahan tambang tipe galian-C seperti timah putih (Stannuum), pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Serta akhir-akhir ini menjadi tujuan wisata alam alternatif. Pulau ini dahulu dimiliki Britania Raya (1812), sebelum akhirnya ditukar kepada Belanda, bersama-sama Bengkulu, dengan Singapura dan New Amsterdam (sekarang bagian kota New York). Kota utamanya adalah Tanjung Pandan.

  • i

Senin, 30 Mei 2011

Sabut Kelapa, Riwayat mu

>
Menyebut sabut kelapa (Cocos nucifera) , tergambarkan kulit buah yang sehari-hari ditumpuk di belakang rumah. Nyaris dianggap sampah, yang kemudian dibakar. Namun sesuatu yang kecil dan sederhana sejatinya penentu untuk hal yang lebih besar.


  • i

Senin, 09 Mei 2011

Uda, sebuah Nama untuk Pengelana

>
HUT Kota Sungailiat, adalah momen yang tak luput dari Uda-uda. Sebuah nama untuk penjual di pasar malam. Mereka adalah fighter. Direct Selling penuh strategi harga. Namun mereka adalah pribadi yang bersahabat dan renyah.


  • i

Jumat, 06 Mei 2011

Ha haiii...dapat Award!!!

>

Hadiah substansinya tak jauh beda dengan award. Seorang pejabat bisa memberikan kita segepok lima ribuan sebagai hadiah. Hal yang sama kita atribusikan sebagai award. Namun, ia lebih dari itu. award ternyata ada ungkapan penghargaan. Ia bisa saja inspiring bagi pemberi award. Atau menegaskan persepsi, anda layak karna anda bekerja keras atas pekerjaan anda.

Jadi saya sangat senang ketika  Aan, blogger kenamaan Yogya. Memberikan saya award. Meski saya tak tahu dasarnya pilihan itu jatuh ke saya dan bung Tama. Namun membaca symbol gambar itu. saya yakin ini  simbol persahabatan, saling menginspirasi. Sebuah kebutuhan untuk saling berbagi. 

Saya lupa kapan saya terakhir dapat award. Bisa saja, ini award yang pertama bagi saya. Heee…God Luck Kang AAN, tetap berkarya.
  • i

Selasa, 26 April 2011

Terkenal ala Norman

>
Awalnya Norman pikir, jogednya pelepas penat. Ia mungkin tak menyangka, Indonesia suka itu. Lalu untuk beberapa waktu kemudian, ia pun tak sekedar berjaga, namun selalu terjaga. Untuk tidur pun, ia susah. Kata Halimah Martinus, ibu Norman Kamaru.

Bukan Sharukh Khan yang bikin Norman terkenal. Chiyya-Chayyia, lagu hindi itu bahkan tak pernah kita dengar sebelumnya. Namun You Tube membuatnya melambung. Orang Indonesia kadung suka lagaknya. 

Sualudin meski tak mendunia, namun kocaknya bikin lagu Udin Sedunia jadi ramai dinyanyikan. Lirik sederhana itu, gampang diingat dan terasa dekat. Ia menyadarkan kita, Udin ternyata nama yang sering disematkan, selain Budi.

Keong Racun, semula dianggap kampungan. Lagu itu terdengar marak di kuping penyuka dangdut jauh-jauh hari.  Tak berhenti disitu, Duo dari Bandung, Sinta dan Jojo lenggak lenggok di You Tube, Keong Racun seolah melintas batas musik. Musik dan Jogged itu menghipnotis masyarakat kita. 

  • i

Rabu, 20 April 2011

Bagaimana Ibu Manfaatkan Teknologi

>
Jika di rumah tidak disediakan komputer, mungkin Ibu saya tidak akan pernah tahu seperti apa bentuknya. Bukan mendramatisir, namun pengandaian ini kiranya benar. Sebab bagi Ibu, yang kesehariannya mengurus rumah tangga, untuk menononton televisi saja kadang tak sempat. Berplesir pun jarang. 

Ceritanya lima tahun lalu. Komputer itu datang tak lama ketika kakak tertua dapat proyek. Jadi komputer ini inventaris kantor. Namun karena tak punya kantor, masing-masing dititipkan ke rumah panitia. Kakak dapat satu. Berkah juga bagi kami. Seumur-umur memang tak punya komputer. Saya dan Kakak semasa kuliah tak punya komputer. Adik saya, ketiganya wanita. Yang pertama memanfaatkannnya bikin skripsi. Sedang yang nomor tiga dan empat, sebatas main game dan ketik-ketik asal.

Namun saya tak membayangkan pengaruhnya pada ibu saya. Lucu juga awalnya. Ibu menganggap biasa ketika komputer datang. Seperti halnya bapak. Lewat beberapa bulan, beliau tampak mulai tertarik pada benda satu ini. Kebiasaannya ngumpul bersama adik-adik di malam hari. Lalu melihat mereka bermain game di komputer rupanya menarik hati Ibu. 

  • i

Jumat, 15 April 2011

Pesona Batu Teluk Uber

>
Bebatun di Pantai Teluk Uber memberikan imaji tersendiri. Pantai yang terletak di Kawasan Rambak Sungailiat Kabupaten Bangka ini selain di hiasi pantai yang landai dan bersih juga dihiasi ragam bebatuan granit berbagai ukuran.

Berikut adalah hasil jepretan saya ketika mengunjungi teluk Uber di Kamis, 8 April kemarin. Kebetulan cuaca bersahabat. saya termasuk beruntung sebab beberapa bulan bahkan hampir setahun cuaca di Bangka Belitung kerap mendung. kalaupun cerah, itu pun tak lama. Sebab, awan segera berkumpul dan membentuk gumpalan hitam dalam waktu yang singkat. 

  • i

Rabu, 06 April 2011

Jadilah Mahasiswa Bahagia !

>
Saya teringat pada salah seorang mahasiswa, Cege namanya. Bermukim di sebuah pelosok di daerah Kundi. Ia bercerita singkat, bahwa selepas minggu hingga sebelum sabtu, ia akan berdiam di hutan.

“Mengapa, kok bisa begitu?,” kata saya heran. “Maklum lah pa, kami ne Ne I (kerja TI), “ jawabnya.
  • i

Jumat, 01 April 2011

Novotel Bangka, Interior Maknyuss

>Kamis, 30 Maret 2011, diajakin teman berkunjung ke novotel. Mereka punya program marketting. Namun yang menarik bagi saya adalah seperti apa interior di hotel bintang lima ini.


setelah acara promosi selesai, kami diajak mengunjungi kamar-kamar di Novotel. Kesempatan pada malam hari ini sayang dilewatkan tanpa jeprat-jepret. :-D, berikut hasil nya




  • i

Senin, 28 Maret 2011

Strobis; Sebuah Style Foto

>
Sering melihat foto-foto hasil dari strobis, bikin saya tertarik juga. Foto-foto yang dihasilkan dari permainan tata lampu ini memunculkan efek dimensional yang unik. Ada unsur gelap dan terang, sebuah konsep kontras coba di tunjukkan dari style jenis ini. 

Sebenarnya tak ada beda dengan pemotretan lainnya. Sebab penggunaan flash pada prinsipnya bisa kapan saja. Karena kondisi pemotretan kadang kurang cahaya. Selain itu, ia bisa juga dimanfaatkan dalam pemotretan studio. Garis besarnya penggunaan lampu tambahan, flash atau lampu studio bisa dalam jenis pemotretan apa pun. 

Namun boleh dikata, strobis ibarat pemotretan studio yang bukan di studio itu sendiri. Dalam artian, ia style yang diluar studio, out of studio. Pelepasan flash dari gear serta penempatannya pada tripod atau tiang lampu merupakan ciri khas dari style fotografi ini. Penggunaan lebih dari satu lampu guna penciptaan efek dimensional jelas penuh tantangan.

  • i

Selasa, 15 Maret 2011

Apakah Nuklir perlu di BABEL?

>Beberapa bulan ke belakang, orang Bangka ramai bicara tentang PLTN. Bagaimana memanfaatkan nuklir sebagai sumber energi listrik baru.

Pemerintah daerah mendukung niatan ini. Maka datanglah pakar nuklir ke serumpun sebalai. Seminar dan even di gelar. Sosialisasi mengenai aman kah PLTN bagi masyarakat. Para pakar yang tentu saja terlatih ini memang sangat kredibel di bidangnya. Berasal dari Badan Atom Nasional, lulusan luar negeri khusus utak atik nuklir itu. berbicara panjang lebar, baik langsung atau via media lokal.

Tak kurang, tokoh pemuda dan masyarakat ikut dukung rencana strategis ini. PLTN harus menjadi contoh bagi provinsi lain. Rencana pula, pembangkit itu akan ditempatkan di sebuah pulau yang berjarak dengan pulau utama Bangka Belitung ini. Jadi aman nantinya kalau ada apa-apa.nah loh?

Untuk masyarakat sendiri, belum jelas apa setuju tidaknya?, karena belum ada yang bertanya langsung. Katakanlah ada pihak yang survey langsung. Sayangnya hingga sekarang belum ada. Yang ada cuma suara pejabat teras kita ini. Bercuap-cuap setuju.

Saya secara pribadi tidak mendukung langkah ini!. Alasannya tentu saja, tingkat resiko yang ada bila energi atom itu bergemuruh di sebelah rumah (dekat). Katakan saya termasuk katro dalam hal ini.

Namun, pernah kah kita bertanya apakah Nuklir perlu di Babel?,sebab ini pertanyaan mendasar. Mari kita berhitung,

Saat ini penduduk Babel berjumlah sekitar 1,5 Juta Jiwa. Sebentar lagi PLTU Batubara Air Anyer akan beroperasi dengan kapasitas 2x30 MW dan 2X6MW. Tahun 2013 dan 2016, bakal ada PLTU IPP S.Liat 2x30 MW dan PLTU Bangka New Bangka 2x30 MW. Untuk pulau Belitung, ada PLTU Suge, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau Kabupaten Belitung serta PLTU Mempaya di Beltim.

Seperti dikutip dari Bangka Pos.com. Koordinator Project PLTU Suge, David Simarmata, menjelaskan, PLTU Suge terdiri dari dua unit pembangkit. Sesuai target, pembangkit Unit 1 selesai bulan Juni 2011, sedangkan unit 2 ditargetkan selesai sekitar dua bulan kemudian.

Menurutnya, daya maksimal PLTU Suge yakni 33 MW sudah terbilang besar untuk ukuran Pulau Belitung. Saat normal, daya yang dihasilkan berkisar 80 persen dari daya maksimal. Daya sebesar ini hampir dua kali lipat dari daya pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Pilang yang saat ini melayani kebutuhan listrik bagi sebagian besar pelanggan PLN di Pulau Belitung.

Hitung-hitungannya pada tahun 2019 nanti, diperkirakan Babel akan punya 299,5 MW!. Setelah ditambah dengan pembangkit sewa dan swasta. Apakah masih kurang untuk penduduk yang sepersepuluh Jakarta itu???

Bangka Belitung adalah dua pulau, tidak terhubung dengan provinsi lain. Secara geografis, kita ibarat anak kecil yang asupan makanannya tentu berbeda dengan orang dewasa. Penambahan pembangkit listrik dimaksud sudah mencukupi. Lalu mengapa kita seolah tak percaya kepada PLN. Seandainya ditambah lagi, akan kemana listrik ini?.

Memang Korea dan Jepang tetangga terdekat kita menggunakan nuklir. Namun ini karena keterbatasan sumber daya. Lihatlah bumi kita, Indonesia, Batubara dan minyak bumi seakan tak habis-habisnya. Kita tidak bermasalah dengan supply bahan bakar.

Jadi perlu langkah bijaksana dalam perkara ini. Saya tak anti modern. Namun jangan sampai kita terlalu naïf. Jangan menjadi dapur untuk tuan rumah lain. Maksudnya, Babel jadi dapur energi saja. Sedangkan nanti, listriknya dinikmati oleh Jawa dan sekitarnya. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.

Kan kita jadi berfikir, Para ahli dan resources banyak di Jawa, mengapa harus ke Babel. Meski alasannya Jawa rawan gempa. Makanya Babel cocok. Nah jelas kan, bumi laskar pelangi memang hendak jadi dapur energy.

Nuklir masuk dalam kebijakan Nasional, sobat. Sama seperti jalan raya. Yang bagus dan licin Cuma ada di Jawa saja. Kebijakan pusat jarang berpihak pada timur. Ini bukan kata saya, tapi kata Teras Narang, Gubernur Kalimantan.

Ketika SBY mempendingkan Babel Go Nuclear beberapa hari kemarin, saya rasa ini sikap yang bijaksana. Juga menjadi tanda untuk pause menggiring wacana Babel Go Nuclear tadi. Sekali lagi, bukan Babel go Nuclear saat ini, tapi Babel go Green,yang paling tepat. (aksansanjaya)


  • i

Rabu, 09 Maret 2011

Hunting Landscape Pantai Sungailiat

>Sabtu siang cuaca begitu cerah. Saking cerahnya, tak ada awan. Jadi yang tampak di langit, birunya langit itu. meskipun panas, namun kaki dan tangan saya mulai bergerak-gerak. Tanda gelisah. Ingin seolah beranjak dari teduhnya rumah ke sebuah tempat di luar sana. Hal yang wajar, keinginan untuk hunting begitu di ubun-ubun. Sebab beberapa hari bahkan bulan ke belakang, langit di serumpun Sebalai ini sering merajuk dan menangis. Jadi hari ini, Sabtu 12 Februari langit sedang ceria.


Keinginan ini tak berjalan sendiri ternyata. Lepas tengah hari, sms masuk berisi ajakan hunting. Segera saya mengiyakan. Ada saya, Bintang Olym dan Bang Taufik yang bergegas hari itu menuju spot wisata terkenal di Sungailiat. Kawasan Pantai Matras.

Kata Bintang, dia baru saja menemukan spot menarik. Dan ini ditemukan tanpa sengaja katanya. Dalam hati saya berfikir, memang begitu adanya. Sebab Bangka ini, pantainya sangat beragam. Baik dari segi luas maupun letak. Seperti tulisan saya sebelumnya.

Berlatas langit biru, kontras dengan objek bebatuan yang berserakan di tepi pantai. Kondisi laut surut, membuat sebagian bebatuan granit tampak besar. Kontras warna bermain di sekitar biru tua dan muda, serta abu-abu khas warna batu.

Rute yang kami lalui sepanjang pantai berpasir. Udara memang begitu panas. Untung membawa jaket kupluk. Kulit seolah terlindung dari Teriknya matahari . beberapa jepretan tak terasa telah dilepas.

Pemandangan hari ini benar-benar aduhai. Langit yang adem. Bebatuan yang gahar. Laut yang bening dan tenang seolah menyejukkan hati. Tempat ini semacam oase untuk mencari damai.

Bangka Belitung memang indah!.
Berikut hasil foto-foto yang saya abadikan.







  • i

Rabu, 23 Februari 2011

Beda Orang Bangka dengan Belitung

>Perbincangan saya dengan ikam ni bersenandung dari Republik Kelekak sampai Dolphin island. Saya tak bertanya asalnya. Namun dari tutur katanya, ia urang Belitung. Cerdas dan berpendidikan. Wajar bagi orang yang berpangkat di sebuah dinas di negeri laskar pelangi ini.

Bermula dari Ngenjungak, Republik Kelekak, sebuah buku karya Fithrorozi. Penulis lokal yang bisaa menulis untuk rubric Ngenjungak di Pos Belitung. Berbentuk cerpen. Sebanyak 84 cerpen itu lalu dibukukan. Memuat pelbagai tema, antara lain Mergige, Ngenangkan Suke Idup de Kampong, Beguru kan Alam, Teraling, dan sebagainya.

“Republik Kelekak ini local Genuine, yang ingin disampaikan kepada kita, urang Belitung,” Kata Ikam ini.

Sabtu, 12 Februari di Belitong lalu launching. Hingga saat ini hampir setengah nya terjual dari 5000 edisi perdana. Ikam ini menunjukkan antuasisme yang mendalam pada adat budaya urang belitong. Analisanya tajam dan mengena.

Saya berfikir, kapan urang Bangka bikin buku tentang local genuine ini. Selain tentang legenda, dan puisi atau pantun. Selain tentang Pak Udak, saya merindukan sosok lain, seperti Kek Bira dan teman-temannya seperti di Belitong. Adakah tokoh lainnya?. Melalui ocehan-ocehan, lelucon, cerita pameo, atau hiperbolistik itu memukau pendengar. Meski tak masuk akal, namun dari itu dari makna tersirat. Dari itu, kita belajar dan memahami arti kearifan local. Terma seperti diatas. Local genuine!.

Mengenai bahasa, Bangka sejak kini boleh dikata belum menemukan bahasa daerah pakem. Dalam artian resmi sejak dulu dipergunakan bercakap. Orang Sungailiat dan Pangkalpinang pun, kadang berbeda dalam pengucapan kata. Perbedaan ini meski pada huruf vocal semacam. Untuk kata kamu dipergunakan kata Ente, Pok, Ka, Ke di masing daerah. Belum lagi ungkapan daerah. ini baru tatar lingusitik nya.

Argument saya ketika itu, mengapa bahasa Bangka bervariasi adalah kita sejarahnya memang tidak mengenal bahasa persatuan. Sejarah ini terkait pada sebuah sistem. Mengapa Jawa punya bahasa Jawa, yang bisa dimengerti dari timur ke tengah itu. Mereka punya sistem. Berikut adat dan istiadat yang serupa di pelbagai tempat. Secara sosio culture Jawa punya raja. Kerajaan berikut sistem nya memprenetrasi aspek kehidupan masyarakat yang berdiam. Itu yang bikin sama dengan Belitong. Bahasa mereka sama dari timur dan barat. Nah yang ini dari tinjau sosio budaya.

Akibatnya, Bangka adalah orang merdeka. “ Bangka adalah orang yang tidak beradat,” kata Bang Hendra, Ikam ini berseloroh.

Bukan diartikan kurang ajar atau bernada negative. Tapi untuk mengartikan bahwa sejak dahulu kala, Bangka tak punya Kerajaan. Tak ada sistem nilai yang diwariskan turun temurun. Pribadi Bangka adalah pribadi yang merdeka, tidak partisipan, mandiri, keras.

“Nyo Nek kate Nyo lah,” kata urang Belinyu. atau “ Dak sape negah,”. Yang terkenal itu, “dak kawah nyusah,”. Untuk menjelaskan mengapa kita adalah person yang bebas.
Namun dari ini, Bangka tak mengenal kultus individu. tak ada strata atas dan bawah. tak ada duduk dilantai dan di kursi. Tak ada kata, Sungkem. Kita tak terbisaa dengan peran kyai sebagai penarik massa.

Belitong sepakat menolak kapal isap. Suaranya bulat katakan tidak untuk dolphin island. Sedangkan nelayan kita tak bulat menentang kapal isap. Suara kampong tak satu menolak bulldozer yang menggilas kelekak dan kebun. Sawit makin hari makin menerabas masuk. Menyisakan hutan homogen. Yang untuk 20 atau 30 tahun kemudian akan meranggas dan mati.

Kemelayuan Belitong lebih dekat dengan melayu Kalimantan dan riau. Bangka belum jelas runut silsilah kemelayuannya. Untuk saat ini belum pasti jejak penelitian itu. Terkecuali Mentok, yang ter sub dalam bahagian kesultanan Palembang.

“Kita beruntung karena jarak yang dekat,” kata saya. Untuk menjelaskan mengapa kita bersepakat untuk jadi provinsi. Tentu saja ini komentar paling sederhana. Meski arah bicara kami tak sampai pada alas an mengapa kita bersepakat jadi provinsi.

Ngenjungak adalah respon ketika budaya melayu menuju titik nadir urang Belitong. Ketika dunia semakin mengecil. Rentang jarak seolah tak ada. Dan kita-kita seolah hidup dalam kampong global. Kita perlu lebih banyak cerita-cerita itu. Di bangkitkan lagi, dikembalikan pada kita.

Saya tersadar, kita belum punya sesuatu seperti buku itu. Sesuatu yang menjadi penjelas identitas. Berikut kearifan-kearifan di dalamnya.

Berbeda memang tak mengenakan. Seperti teman facebook penyuka rocker yang bilang dangdut itu najis. Bila diungkit-ungkit, malah akan menjadi-jadi. Jelas tak konstruktif.

Sekarang marilah Kita coba berfikir dari sudut yang lain. Maksudnya, pada mindset kita ini. Sering-sering berucap, bahwa Perbedaan adalah Rahmat ada benarnya. We are different, but it makes us stronger!. (Aksansanjaya).
  • i

Rabu, 09 Februari 2011

Komunitas Blogger BABEL, Sebuah Jalan

>Saya menyusuri Sri Pemandang malam tadi, tiba di pertigaan masjid Muhajjirin, Mio berbelok ke arah Sri Menanti. Short Message Service yang saya kirimkan tadi belum dibalas. Malam menunjukkan pukul 21.00. ini malam rabu, sepertinya saya terlambat pergi rapat. Emang disengaja, karna dua jam tadi, saya barusan cuap-cuap gelombang di 98.8 fm. Selang beberapa menit menyusuri jalan gelap samping kuburan. Saya sampai. Ini daerah sri Bulan. Hajat saya ikut rapat HIMPA Pucuk Idat di rumah sang ketua.

Organisasi kecil ini berumur tak lebih dari setahun. Baru dua kegiatan yang diekspose. Itu tahun kemarin, penanaman kelapa dan cemara di pantai Rambak. Kedua adalah bersih-bersih kuburan sri Menanti. Lumayan sukses. Selepas itu tak ada lagi aksi. Malam ini, kembali lagi tak sampai sepersepuluhan wajah-wajah muda ini bersenda gurau, bernazar, berdebat, membicarakan arah masa depan. Berikut dengan saya, kami seolah gamang tanpa arah. Hendak dikemanakan organisasi kecil ini.

Saya bilang Iman kita masih ada di HIMPA. Bukti nya teman-teman masih masih mau hadir di rapat ini. Lantas, ocehan saya lebih kepada terlalu banyak kata dibanding aksi. Kita lebih memikirkan bentuk. Seakan bentuk adalah tujuan akhir. Bahwa kita jangan terjebak pada form. Bahwa tentang izin, npwp, struktur hendaklah tidak menguasai 80 persen pikiran kita.

Bukannkah, REPALAKA dahulu pernah Berjaya hingga beberapa angkatan. Sempat membuat kegaduhan di masanya. Itu sekitar tahun 1998-2000. Selepas itu terendam diakhir perjuangan pembentukan provinsi Bangka Belitung. Namun ia tak mati. Dan beberapa diantara kami, mencoba bangkit. Beberapa yang duduk di teras rumah ini. Digayungi Philips dan prasmanan dari pasar Mambo.

REPALAKA ialah organisasi Remaja Pencinta ALam Bangka. Dan HIMPA adalah bentuknya yang baru. Saya pikir, kita perlu real dibanding ucap saja. Iman kita masih ada. Yang perlu kita lapis dengan satu kata, KOMITMEN.

Bicara komitmen, seakan menyinggung kata berkorban. Dan banyak yang tidak suka kata ini. Malahan ini nantinya jadi batu sandungan terbesar.

Curhat diatas, relasinya pada niatan satu lagi. Membentuk komunitas blogger Bangka Belitung. Komunitas ini belum terbentuk. Namun wacana-wacana itu mulai digaungkan. Saya pikir inilah saatnya bentuk komunitas blogger BABEL. Tak perlu tunggu lama-lama. Jadi ingat apa yang pernah saya tulis di media tentang peran blogger untuk wisata BABEL.

Untuk pemain baru seperti saya ini, kadangkala timbul perasaan malu dan tidak pede kalau bicara blogging. Namun saya berfikir positif saja, saya perlu teman untuk sharing. Saya suka tulis dan suka baca. Berteman pun prioritas utama. Beberapa blogger asal Bangka saya baru tahu. Ada Aan, Dukon Besak,Bang Tama, Bujang Bangka, Bangka Fotografi.

Baiklah kita jadikan saja komunitas. Tak perlu susah-susah. Kita tentukan kapan ketemu. Cari tempat yang asik. Di hutan kantor walikota yang rindang itu bias jadi. Udaranya sejuk. Lagian tak jauh-jauh dari warung. Website komunitas blogger Bangka sudah dibikin oleh Aan. Perantau Bangka di yogya ini. Hayooo tunggu ape agik?.

Tentang apa, bagaimana, siapa, mengapa, dan kapan kita bicarakan nanti. Kita bikin enjoy aja. Paling tidak kita bias bertemu dan bertegur sapa. Asal kita komitmen. Dan siap mental. Jalan kita masih semak belukar, tak semulus jalan tol. [aksansanjaya]

  • i

Senin, 07 Februari 2011

Simple Area for Fotografi

>Terkadang sesuatu yang dekat di sekitar bisa menjadi space yang menarik untuk ajang foto-foto. Rerumputan yang tumbuh di sekitar teras rumah. Dengan bunga yang tumbuh liar dapat menjadi latar dari sebuah foto yang aduhai. Ilalang yang tumbuh bebas di pekarangan rumah, juga dapat menjadi background utama dari sebuah subyek.

Ornamen-ornamen hidup ini menjadi pelengkap dari sebuah foto. Kekontrasan dapat diraih secara maksimal dengan memanfaatkan ornamen ini. Apalagi jika berbicara tentang portrait atau model photography. Bermain-main dengan ujung dedaunan, bunga dari rumput liar akan menghasilkan frame yang menarik.


Ditambah dengan komposisi yang apik. Penempatan subyek utama diantara space atau bidang bidik. Elemen-elemen hidup ini dapat menjadi background sekaligus foreground yang apik. Dari beberapa foto berikut saya mencoba memanfaatkan pekarangan radio Dunia Dangdut Sungailiat yang bertempat di Taman Hiburan Rakyat Sungailiat.


Saya mencoba mengeksplore ornament-ornamen hidup ini. Diantaranya ilalang yang tumbuh subur. Rumput-rumput liar dengan bunga liar yang tumbuh disela-sela paving block yang lapuk. Dalam foto berikut saya mencoba bereksperimen dengan ornament tersebut. Hijau menjadi dominan.

Pemanfaatan lensa fix juga saya maksimal untuk mempertegas obyek foto. Diharapkan dengan ruang sempit yang tipis, isolasi obyek akan dapat dicapai. Focus dari sebuah foto pun akan jelas.







Berhubung, foto-foto karena dadakan makanya, unsur kostum tidak menjadi perhatian. Kalau untuk foto yang lebih wow, pemanfaatan kostum yang cerah semacam merah atau kuning bias menjadi pertimbangan. Selamat menikmati.(Aksansanjaya)
  • i

Rabu, 02 Februari 2011

Objek wisata Tanjung Tadah

>Feature wisata berikut ditulis oleh sahabat saya, Hadi Mahmudah, Mahasiswa UBB

Objek wisata alam pantai dan hutan ini terletak di desa Air Menduyung Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Untuk mencapai objek wisata alam Tanjung Tadah bisa melalui jalur darat dan jalur laut. Bepergian dari Pangkal Pinang ke desa Air Menduyung lewat jalur darat hanya membutuhkan waktu tempuh sekira 2,5 jam. Pengunjung bisa membawa kendaraan pribadi berupa mobil atau sepeda motor, karena dari simpang Pelanggas ke desa air menduyung belum tersedia angkutan umum.


Objek wisata ini menawarkan panorama alam yang indah, dengan bebatuan yang besar, berwarna putih kehitaman dan tersusun rapi di sepanjang pantai. Diantara bebatuan itu ada sebuah gua kecil yang digunakan masyarakat setempat untuk ritual. Bebatuan ini sangat unik seperti dipahat dan disusun oleh alam dan juga hutan rimbanya yang masih alami.

Selain pantai, Hutan rimba di Air Menduyung juga menawarkan keindahan bagi pengunjung yang mempunyai jiwa petualang. Lokasi bisa dicapai melalui jalur darat. Sepeda motor adalah satu satunya alat transportasi yang bisa digunakan, karena rute merupakan jalan setapak atau lebih dikenal dengan jalan kebun. Perjalanan dengan sepeda motor ditempuh 20 menit melewati kebun rakyat dan hutan rimba. Setelah itu pengunjung harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter. Daerah yang akan dilewati berupa hutan bakau yang berlumpur.

Perjalanan menuju objek wisata tanjung tadah ini dapat dikatakan akan sangat berkesan. Karena untuk mencapai objek wisata tanjung tadah tersebut, pengunjung benar-benar disajikan panorama alam yang luar bisaa indahnya,disebelah kiri dari jalan setapak yang dilalui adalah daerah perkebunan rakyat yang sangat asri. Perkebunan rakyat itu didominasi oleh kebun lada dan kebun karet. Selain kebun karet dan kebun lada terdapat juga kebun sayur dan kebun ubi. Sebelah kanan dari kebun rakyat tersebut adalah hutan lindung yang sangat terjaga keasliannya.




Selama dalam perjalanan,pengunjung dapat menikmati teduhnya hutan rimba. Karena hutan ini masih alami dan masih banyak pohon yang besar-besar. Pohon tersebut berdiameter sekitar dua pelukan tangan orang dewasa dengan tinggi diatas 30 Meter. Pengunjung akan ditemani nyanyian burung-burung yang indah. Pengunjung juga akan menemukan berbagai tanaman yang sulit dijumpai seperti anggrek macan. selain itu di hutan ini masih terdapat berbagai macam hewan seperti rusa, monyet, pelanduk, berbagai burung dan lain-lain.

Selain jalur darat,pengunjung bisa melalui jalur laut melalui dermaga Air Menduyung.para nelayan akan mengantar pengunjung dengan perahu. Perahu tersebut bisaanya digunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Perjalanan ke objek wisata alam tanjung tadah akan memakan waktu sekira 30 menit. Perjalanan dari dermaga akan menyusuri sungai air menduyung. Panorama hutan bakau akan berkesan bagi pengunjung. Setelah itu perjalanan akan melalui pantai menuju tempat objek wisata alam Tanjung Tadah.

Sebaiknya pengunjung melaporkan diri terlebih dahulu ke perangkat desa atau warga. Hal ini bertujuan agar ada warga yang menjadi pemandu dalam perjalanan ke objek wisata alam tersebut. Pengunjung bisa berkomunikasi melalui HP setiap saat karena sinyal di desa Air Menduyung sangat bagus.

Setelah puas seharian menikmati objek wisata alam di tanjung tadah, pengunjung bisa membawa oleh-oleh hasil laut, baik dari hasil memancing sendiri atau membeli dari nelayan setempat. Pengunjung bisa membeli oleh-oleh khas dari desa Air Menduyung. Oleh-oleh khas desa Air Menduyung seperti udang,kepiting,kerang dan ikan bisa dibeli dengan harga yang murah.Selain itu pengunjung juga bisa membeli madu asli dari warga. Karena selain penghasil udang, desa Air Menduyung juga penghasil madu asli yang diperoleh dari hutan Rimba.***
Penulis adalah anggota Kelompok ST 7 Air Menduyung KKN Angkatan V Universitas Bangka Belitung
Anggota : M Bukhary, Hadi Mahmudah, Saipul, Khoirunisa, Taufan Irdani, Tuti Septriyani, Muslimin, Rohayani, Obi Sanjaya, Winda Eriyani


  • i

Rabu, 19 Januari 2011

Angin Barat Januari

>Yah…waktu adalah ketika ini
Jauh sekali bila berhitung lama
Purnama pun melintas untuk kali kesekian
Anak cucu telah beranjak untuk merangkak di lorong kursi

Memang..kemeja telah pudar warnanya
Untuk mengira-ngira berapa kali kita ke kali
Untuk mencuci di atas bebatuan
Meski airnya keruh dan ikan tanah pun berubah putih

Pasti..ia telah menyejarah hampir lapuk
Kusam yang berdebu
Angin barat menyapunya terbang entah kemana
Ia telah luluh lantak berserakan
Semacam bekas peperangan saudara yang tak kunjung usai
Memori kita tinggal puing…sayang ku
Seperti kota tua itu…ditinggalkan


Pernahkah ?
Dada kita menjadi remuk redam
Menghangat yang membenci bukan gairah
Kata-kata yang tercekat di ujung tenggorokan
Nyaris tersebut, namun pudar tertelan ludah pahit

Pernah.. kita mencoba berdamai
Dengar hati kecil yang memang tak bisa berbohong
Sebersit cinta itu bagai setitik noda
Tak bisa hilang

Yah..waktu melangkahi tawa kita
Sejenak jenaka musnah ditimpa kebencian
Dalamnya tak berperi

Sayang ku..waktu adalah masa ini
Kota kita tak benar-benar luluh
Ia memang sunyi…sendiri
Menyepi tapi tak menunggu mati

Antara kau dan aku..
Masih memegang kendali…
Meski tak tahu kapan akan kembali…
Bisa jadi kita kembali
Suatu saat nanti dengan kesahajaan dan senyum murni

Yah.. itu pasti..sayangku

[aksansanjaya]

  • i