Selasa, 09 November 2010

Terlalu banyak Bicara dan Seremoni

>Saya teringat pada lagu Harry Mukti, yang kira-kira syairnya berbunyi, “jangan banyak kata ketika karam di hati..hanya satu kata…bla- bla…”. Ini untuk menggambarkan tabiat kita di bumi Serumpun Sebalai yang suka berseminar, berkumpul berkeluh kesah. Yang dikeluh kesahkan tak lain tak bukan, kondisi alam kita yang makin hari makin trengginas.

Trengginas karena ekses dari penambangan timah. Bentuk muka pulau ini jelas berkubang-kubang, jika dari atas melihat. Persis seperti kawah-kawah kecil di permukaan bulan. Diandai-andaikan,seperti itu meski saya belum pernah pergi ke bulan.

Saya juga tak harus berilustrasi seperti apa muka pulau ini, sebab deskripsi mengenai hal ini centang perenang diantara kita.

Persis seperti Harry Mukti tadi, gara-gara kondisi ini kita seperti orang panik, yang berteriak-teriak. Namun tak mengejar jambret yang kadung menghilang di balik gang sana. Kita lebih suka bernostalgia mengenai kelekak. Namun tak berniat mencangkul tanah.
Orang-orang pintar, tentu tahu bagaimana menata kondisi ini, teori-teori ekonomi, sosiologi atau pertanian mengalir deras dari mulut-mulut mereka. Derasnya ini ada di dalam sebuah ruang ber AC. Yang sekitar dua jam kemudian, akan senyap seiring bubarnya seminar.

Atau paling banter, seuntung-untungnya, ditinggalkan sebait rekomendasi. Atau notulen. Dari acara bernada seremonial seperti ini. Yang dibawa oleh bapak-bapak dari Jakarta sana. Sudah dan selesai.

Kita kerap, ini karena saya sendiri bagian dari seremoni ini, berhiruk pikuk dengan bencana, masalah pasca timah, ketergantungan, dan perihal negative lainnya.
Ada lagi yang kerap petenteng-tenteng di media, berselebrasi sebagai penyelamat lingkungan. Yang baru sehari dua hari saja. Yang baru membuka sekedar miniature. Yang Cuma menggebrak meja pertama saja, tidak selanjutnya. Yang ini karena kekuatan media.
Menggangungkannya sebagai tokoh lingkungan. Saya tidak akan menyebut nama. Namun ini seperti kontes Indonesian Idol, atau yang terakhir Indonesia Mencari Bakat. Populer mendadak karena tenar, dibikin heboh dan massif.

Komitmen yang seupil, kalau diteriak-teriakin juga bakal heboh. Lantas karena ini orang besar, dalam arti punya akses ke segala arah, maka bisa ditebak, teriakan ini bakal menggema dan membesar.

Yang terjadi, orang yang tulus di pulau Bangka ini seakan sama dengan mereka yang saban hari menggaruk tanah dan laut. Mereka yang iklas lahir batin seakan tak ada lagi dan hilang ditelan alam. Tapi sudahlah, saya tidak akan menuntut atau bercoleteh mengenai keberuntungan orang lain.

Kita dan saya sendiri perlu untuk menginjak tanah dan bermain lumpur. Mencintai setiap tetes embun di pagi hari. Belajar menina bobokan alam dengan syahdu. Kita perlu berkotor-kotor ria. Sebab makin sedikit tipe orang seperti ini. Kita semakin menjauh dari keringat. Kita seolah takut dan paranoid mendengar kata lapangan.
Ia yang berlawanan dengan kantor serta AC tampak menyeramkan. Seolah menyeringai setiap menyebut kata itu.

Harus ada sebuah gerakan nyata, real program. Bukan sebatas meja dan mike atau tertulis saja. Bumi ini butuh lebih dari itu. Bukan sekedar foya-foya. Bukan komoditas politik atau nama baik. Namun sebuah gerakan murni tanpa motif tersebut.

Mulai dengan membuang sampah pada tempatnya. Menanam satu pohon di depan rumah untuk tahun ini. Menciptakan kelekak baru. Tak perlu banyak kata untuk program ini, dan tidak identik juga dengan modal besar. Ia Cuma perlu kerja dan kerja. Apakah anda siap?. (Aksansanjaya).
  • i
Posting Komentar