Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Jakarta Kota Berpunya

Pada 2014 nanti, Jakarta diperkirakan lumpuh. Ini seperti anti klimaks dari ego manusia. Ketika materialism adalah ruh dari segalanya. Bahwa bahagia diukur dari seberapa punya. Bagaimana deretan kendaraan ini cuma seroda berjarak, mengular dari ujung ke ujung. Dan seperti pohon tua, ia tampak limbung dimakan asap polutan yang tak pernah henti.



Ketika hujan sehari dua, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus trans, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.

Inilah Jakarta, selama lima hari. Saya membayangkan hidup bagi orang disini, seperti tak ubahnya roda-roda itu. Merangsek dan macet ketika banjir melanda, dan memenuhi badan jalan. Susah bergerak, dihimpit dan dikerdilkan ole…

Selamat Berlebaran 1 Syawal 1431 H

Saya menjadi teringat ketika lebaran bermakna ceria, yaitu bertamu atau namu dan pistol mainan berpeluru. Lebaran juga mengingatkan pada baju baru dan hari libur. Itu dua puluh tahun lalu. Ketika lebaran, Idul Fitri dimaknai secara berbeda dan berubah-ubah. Menginjak ABG, lebaran berarti safari ke rumah perempuan-perempuan cantik (versi sendiri). Masa-masa kuliah berarti tiket kapal dan tanggal keberangkatan untuk pulang kampong. Maklum, ketika itu kuliah jauh di Jawa.Sekarang lebaran bisa berarti dua hari libur saja, tanpa embel-embel baju baru dan tiket kapal muat itu. Tidak untuk merendahkan nilai dari hari kemenangan ini, namun sekali dua ia pernah bermakna seperti diatas. Jika tidak dikatakan tragis, bisa disebut ini dari hasil berpuasa yang hampa sahaja. Tak bermakna ketika Syawal menjelang.

Padahal bagi sejumlah umat Islam, Ramadhan seperti dinanti. Bulan yang dirindui untuk dicumbui. Ketika amal dihitung lebih tinggi dan doa seolah dekat kepada_Nya. Pantas bila, ada yang menang…

Kundi, Potret Dusun Pesisir yang Makmur

Sebagai desa pesisir di Utara Bangka, Kundi hanyalah sebuah daerah pesisir antara yang berada di selat Bangka. Lebih tepat disebut kelurahan, sebab ada beberapa dusun didalamnya, diantaranya air menduyung, Lambu, Mandung. Untuk menuju ke desa ini, cuma satu jalur. Letaknya jauh menembus hutan lebat. Pantas bila disebut, desa terisolasi.

Bagi orang luar, mendengar kata isolasi, maka dipikiran, mereka berada digaris kemiskinan. Makan sehari sekali kadang tidak. Bersekolah pun tidak. Apalagi mempunyai rumah yang layak, yang ada dibenak kita mereka pastilah berumah dinding kulit kayu dan beratap ijuk. Namun, imaji ini sangat kontras ketika anda berbicara tentang dusun dalam konsep masyarakat Bangka Belitung.

Dusun bagi Bangka Belitung, merupakan penyebutan tempat saja. Dan sebagian dusun ini bagian besarnya, jauh dari kesan bawah diatas. Mereka punya rumah yang layak huni, tempat tinggal yang asri. Makan nasi, berlauk enak. Akses pendidikan yang mumpuni. Yang tak mereka punya adalah akses u…