Rabu, 29 September 2010

Jakarta Kota Berpunya

>Pada 2014 nanti, Jakarta diperkirakan lumpuh. Ini seperti anti klimaks dari ego manusia. Ketika materialism adalah ruh dari segalanya. Bahwa bahagia diukur dari seberapa punya. Bagaimana deretan kendaraan ini cuma seroda berjarak, mengular dari ujung ke ujung. Dan seperti pohon tua, ia tampak limbung dimakan asap polutan yang tak pernah henti.



Ketika hujan sehari dua, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus trans, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.

Inilah Jakarta, selama lima hari. Saya membayangkan hidup bagi orang disini, seperti tak ubahnya roda-roda itu. Merangsek dan macet ketika banjir melanda, dan memenuhi badan jalan. Susah bergerak, dihimpit dan dikerdilkan oleh sebenarnya, ego sendiri. Lalu kembali kerumah, tidur lelap mencari udara di langit-langit kamar, Hidup adalah mesin itu sendiri.



Jakarta, kota tua yang dibanggakan. Namun ini seolah serasa menutup mata pada kenyataan, bahwa kota ini tua. Usia, yang bagi orang di kampong-kampung, tak pantas lagi meminggul kayu dan mendayung sampan. Bukan karena malas, namun begitulah hukum alam. Ketika usia, bukan bermakna tak produktif, namun bijaksana dan lebih arif. Ketika produktif, lebih diartikan sebagai pengayom bukan pelaku. Pendidik bukan murid.

Namun, ini masalah pengaturan saja, kata orang disini. Ketika SBY mewacanakan ibu kota pindah ke daerah lain, karenanya SBY lalu dianggap terlalu terburu-buru dan seolah berpaling dari masalah. Kata orang sini, semuanya tinggal menanti waktu, tunggu tanggal mainnya. Ketika masalah utama itu, banjir dan macet mampu diselesaikan. Semuanya akan lancar dan nyaman.

Namun, disinilah letak salahnya. Ketika bicara Indonesia, kita bukan berbicara tentang Jakarta saja, atau Jawa saja. Bukan tentang menyelesaikan banjir dan macet, selepas itu aman. Bukan mengenai itu, ini tentang menghapus ego, identitas sentralis. Bukan tentang orang sini, namun orang sana dan lainnya. Bukan berhitung berpunya dan berapa. Tapi kehendak memberi dan berbagi.

Keberpunyaan kadang melahirkan keakuan mutlak. Muaranya bisa menjadi fanatis yang tak berkesudahan. Saking berpunya itu, kadang juga bikin serakah dan tamak. Tak suka bila dipunya orang lain. Rugi bila orang lain berpunya.

Jadi pantas, bila berbondong-bondong wajah letih itu kembali di pagi hari yang basah, sedari pagi selepas Subuh. Mereka merangsek masuk, merekalah bus dan kereta api itu. Terwakilkan dengan asap dan roda-roda yang berdecit, dengan suara menderu-deru di pinggiran kota. Masuk dengan bayangan sunyi sendiri. Jakarta mengeluh, kembali memperdengarkan rintihan saban hari.

Semakin berpunya ia, maka semakin besar pula wajah-wajah semu itu mendekatkan diri. Demi Jakarta. Kota segala berpunya. Dan kami, manusia di pulau sana, beratap rumbia, masih membakar ubi jalar sambil bernyanyi riang di samar malam. Masih menatap bintang-bintang. Masih mencium wangi bunga kayu gabus belakang rumah. Kami juga tak perlu 3.500 untuk bahagia.*** (aksansanjaya)
  • i

Jumat, 10 September 2010

Selamat Berlebaran 1 Syawal 1431 H

>Saya menjadi teringat ketika lebaran bermakna ceria, yaitu bertamu atau namu dan pistol mainan berpeluru. Lebaran juga mengingatkan pada baju baru dan hari libur. Itu dua puluh tahun lalu. Ketika lebaran, Idul Fitri dimaknai secara berbeda dan berubah-ubah. Menginjak ABG, lebaran berarti safari ke rumah perempuan-perempuan cantik (versi sendiri). Masa-masa kuliah berarti tiket kapal dan tanggal keberangkatan untuk pulang kampong. Maklum, ketika itu kuliah jauh di Jawa.Sekarang lebaran bisa berarti dua hari libur saja, tanpa embel-embel baju baru dan tiket kapal muat itu. Tidak untuk merendahkan nilai dari hari kemenangan ini, namun sekali dua ia pernah bermakna seperti diatas. Jika tidak dikatakan tragis, bisa disebut ini dari hasil berpuasa yang hampa sahaja. Tak bermakna ketika Syawal menjelang.

Padahal bagi sejumlah umat Islam, Ramadhan seperti dinanti. Bulan yang dirindui untuk dicumbui. Ketika amal dihitung lebih tinggi dan doa seolah dekat kepada_Nya. Pantas bila, ada yang menangis ketika Ramadhan lepas tahun ini, sebab belum tentu tahun depan bisa berjumpa.

Ketika lebaran, bermakna seperti hari libur sahaja, tentu tak bisa dipungkiri Ramadhan sebatas ritual saban tahun. Dan tiba hari kemenangan, ia menjadi bertamu tapi hampa. Seperti hari yang kosong di bulan yang senyap.

Mengukur Iman kadang memang tak bisa tepat dan terus naik. Ia kadang terombang ambing diterpa keadaan, biasa dimaknai godaan. Benar, sebab nafsu memang menjadi pemicu dari segala hal yang buruk. Ini nafsu dalam pengertian sempit.

Mengukur kualitas pribadi memang tak mudah. Ini mengapa, ketika shalat Ied, ramai yang datang, meluap hingga ke lapangan parkir. Sedang pada sholat Jum’at, ia mengerucut ke depan. Menyepi. Kita sering terpaku pada ritual, namun kosong di hati.

Lebaran tahun ini, seperti awal yang baru. Bukan sebatas hari libur dan ritual bertamu saban tahun. Namun lebih dari itu. Sebuah hari yang memang hari kemenangan. Sebuah hari ketika kita merasa, telah melakukan yang terbaik ramadhan lalu. Ada senyum di hati kecil. Tanpa merasa kosong.

1 Syawal 1431 H. Lebaran bagi kita semua. Mudah-mudahan bisa berjumpa lagi di tahun depan. Selamat lebaran. (Aksansanjaya)
  • i

Rabu, 08 September 2010

Kundi, Potret Dusun Pesisir yang Makmur

>Sebagai desa pesisir di Utara Bangka, Kundi hanyalah sebuah daerah pesisir antara yang berada di selat Bangka. Lebih tepat disebut kelurahan, sebab ada beberapa dusun didalamnya, diantaranya air menduyung, Lambu, Mandung. Untuk menuju ke desa ini, cuma satu jalur. Letaknya jauh menembus hutan lebat. Pantas bila disebut, desa terisolasi.

Bagi orang luar, mendengar kata isolasi, maka dipikiran, mereka berada digaris kemiskinan. Makan sehari sekali kadang tidak. Bersekolah pun tidak. Apalagi mempunyai rumah yang layak, yang ada dibenak kita mereka pastilah berumah dinding kulit kayu dan beratap ijuk. Namun, imaji ini sangat kontras ketika anda berbicara tentang dusun dalam konsep masyarakat Bangka Belitung.

Dusun bagi Bangka Belitung, merupakan penyebutan tempat saja. Dan sebagian dusun ini bagian besarnya, jauh dari kesan bawah diatas. Mereka punya rumah yang layak huni, tempat tinggal yang asri. Makan nasi, berlauk enak. Akses pendidikan yang mumpuni. Yang tak mereka punya adalah akses untuk hiburan. Kembali ke soal makan, lauk bisa jadi berlimpah apalagi untuk Kundi, yang berada di daerah pesisir.

Geografi Kundi yang berada di selat Bangka. Membuat laut sedikit dangkal, dan aliran sungai Musi menyebabkan laut keruh. Ini menjadi tempat tinggal yang cocok untuk udang dan kepiting. Hasil laut ini terkenal. Udang satang dalam ragam ukuran begitu menggoda mata.

Berdasarkan pengamatan, dusun atau desa di tempat ini tidak lah miskin-miskin amat hingga harus antri beras atau sembako dalam acara tertentu. Tidak seperti yang di tivi-tivi. Masyarakat Bangka Belitung tidak terbiasa dengan acara antri hingga pingsan itu. Bukan seperti itu memang sedari dulu.

Memang tak bisa dipungkiri, ada beberapa daerah yang boleh dikata sangat miskin. Namun semiskin-miskinnya penduduk Bangka Belitung, tak ada yang sampai menjadi pengemis atau gelandangan. Kalaupun ada, itu merupakan penduduk luar daerah yang sengaja datang ke Bangka.

Patutlah kita berbangga sebab, Bangka Belitung meski dihantam pertambangan sana sini, namun rakyatnya tetap tenang dan kondusif. Meskipun begitu, peran aktif elemen masyarakat tetap diperlukan bagaimana menjadikan daerah ini maju dan semakin berkembang.(aksansanjaya)





  • i