Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Bau atau Wangi ???

Indera penciuman kita seringkali meningkahi kita pada memori-memori yang tersimpan di laci hati. Hidung dengan sejumlah syaraf di dalamnya, menegaskan sebuah perulangan dari beberapa keadaan terdahulu. Bulu halus yang bersarang di dalamnya itu, menangkap aroma tertentu yang ternyata ia adalah sebuah de javu.

Dari badan kita, yang murni itu pada dasarnya mengengeluarkan feromon yang bagi sebagian ini menarik lawan jenis. Sama halnya hewan. Barangkali, ini memang telah diskenariokan ketika minyak wangi belum ditemukan pada abad-abad ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua-gua.

Ketika manusia mengenal minyak wangi, cara konvensional dengan memajukan hidung tak lagi dilakukan. Cukup dengan berjarak saja. Maka bau kesturi atau kemenyan itu akan dengan sendirinya terbaui. Cukup lama kemudian manusia menciptakan kemasan untuk pewangi.

Kebudayaan kadang tak statis. Sebagai olah manusia, ia seiring dengan kemajuan. Meski untuk beberapa tempat, ini Cuma sebatas teori saja. Buktinya di Iri…

Bukan Elegi

Kita berpendar suatu masa
Lepas setahun sejak pertama merona di dinding lusuh,
serta kursi lapuk hampir patah
Dunia dilingkupi awan biru bergumpal itu,
Pernah mencari pasti di debur Batu Dinding
Yah, lepas setahun ketika kita bersemu merah
Saling Berbalas…

Kita berjibaku dalam asa yang tersenggal
Seterusnya merintih dalam jarak,
Menjadi petualang di udara lembab tengah malam

Syahdan dalam drama monolog, Kita adalah aku dan bayangan
Bersemi diantara karang…jauh dari hiruk rumput laut dan tiram
Dalam diam…kita yang bersuka

Pernah kita berjarak diam, memilih rentang takdir masing
Kemudian berpura untuk acuh,
Meski kelabat bayang tetap kita nanti diwaktu yang jarang

Waktu menduakan, namun ia menyatukan
Dimana aku dan kamu menantang matahari pagi bulan ini
Untuk sesuatu yang jauh dari terma itu

Lalu kembali terdiam, mencoba meraba hati
Bicara pelan namun takut...diam yang menyakitkan...
Kita menahan rasa yang berat sambil menakar diri
Semacam perih...serasa luka sejuta kali

Tidak...bukan untuk perih atau elegi…

Vertikalisasi Keyakinan

Ini momen detoksifikasi. Penyucian diri dan juga jiwa. Setahun sekali, Ramadhan menjumpai. Satu Milyar lebih, umat akan menahan diri dari makan dan minum. Demi sebuah keyakinan. Sebuah ideologi sejak 1400 abad lampau dicetuskan. Berpantang ini bukanlah sebuah hal dibuat (tradisi atau budaya), namun karena sebuah hubungan atas dan bawah. Vertikalisasi !.

Bukan mempersoalkan tahan untuk tidak makan atau minum, namun lebih dari itu. Ada kepasrahan. Ada perlombaan. Pasrah bahwa manusia adalah sesosok makhluk. Dan ia memang diciptakan. Kepasrahan total, atau dalam nada lain ia bermakna tawakal. Sadar dan pasrah bahwa berpantang adalah penyerahan diri pada sang Khalik, pencipta dari zat yang ada di semesta. Lepas dari semua atribut sosial, dimana bulan ini, kita adalah sama di hadapannya.

Ada nuansa perlombaan. Tentang bagaimana kita bergiat memperbanyak amalan. Merajinkan diri untuk selalu tawaddu dan merunduk. Lebih dari 17 kali mencium tanah. Memberi bukan sekenanya, tapi berniat menghil…