Sabtu, 21 Agustus 2010

Bau atau Wangi ???

>Indera penciuman kita seringkali meningkahi kita pada memori-memori yang tersimpan di laci hati. Hidung dengan sejumlah syaraf di dalamnya, menegaskan sebuah perulangan dari beberapa keadaan terdahulu. Bulu halus yang bersarang di dalamnya itu, menangkap aroma tertentu yang ternyata ia adalah sebuah de javu.

Dari badan kita, yang murni itu pada dasarnya mengengeluarkan feromon yang bagi sebagian ini menarik lawan jenis. Sama halnya hewan. Barangkali, ini memang telah diskenariokan ketika minyak wangi belum ditemukan pada abad-abad ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua-gua.

Ketika manusia mengenal minyak wangi, cara konvensional dengan memajukan hidung tak lagi dilakukan. Cukup dengan berjarak saja. Maka bau kesturi atau kemenyan itu akan dengan sendirinya terbaui. Cukup lama kemudian manusia menciptakan kemasan untuk pewangi.

Kebudayaan kadang tak statis. Sebagai olah manusia, ia seiring dengan kemajuan. Meski untuk beberapa tempat, ini Cuma sebatas teori saja. Buktinya di Irian jaya atau di Afrika, pada suku pedalaman. Disangsikan mereka memakai khusus pewangi.

Berbicara minyak wangi ini kadang memberi kita sebuah penanda. Selain gambar, saya fikir bau cukup berperan dalam menyampaikan pesan. Istilahnya non verbal. Seperti tersebut diatas, wangi memberi kita semacam tanda ada sesuatu mengenai wangi ini. Wangi adalah penyebutan positif dari proses bau atau membaui

Dan pertanyaannya, pernahkah kita merasa teringat pada sebuah peristiwa atau seseorang ketika membaui wangi dari tubuh seseorang. Ini lah yang lalu wangi menjadi pengungkit akan sebuah masa lalu. Membuat kita jadi teringat-ingat kembali.

Lantas inilah yang kemudian menjadi soal dari membaui ini. Sebab, masa yang terungkit itu bisa jadi sebuah mimpi buruk. Kenangan pahit yang sempat kita rasakan dan ingin kita hapus dari benak. Jika itu adalah sebuah kenangan bahagia, tak menjadi masalah.
Karena otak kita tidak serendah otak computer maka, otak kita tidak menganut prinsip hapus atau tulis ulang. Program ketikan yang salah bisa kita hapus dan hilang tak berbekas di computer pribadi. Sesimple itu kerja perangkat computer yang bekerja atas kuasa sang pemakai.

Sayangnya ini tak berlaku untuk otak manusia yang tersusun atas milyaran sel ini. Cara kerja maha canggih ini membuat manusia tidak serta merta bisa menghapus memori. Manusia cuma bisa menunggu dan menunggu ketika kenangan itu secara otomatis terhapus dalam memori otak. Ini pun jika seseorang menginjak sepuh. Otaknya telah mengalami aus yang sangat. Atau jika ia terjatuh dari ketinggian, atau sebab khusus lain yang membuat otaknya kehilangan daya ingat. Ini biasa disebut amnesia.

Kata “daya ingat” ini lah merupakan program maha canggih yang tak bisa kita temukan di perangkat supercanggih di jagad ini. Luar biasa.

Begitulah ketika saya suatu ketika berpapasan dengan seseorang dengan parfum tertentu. Dan ini ibarat Russian rollet, jika beruntung kita akan menjadi teringat pada sebuah sosok yang pernah membahagiakan kita. Namun jika sedang tak mujur, kita akan teringat-ingat pada sosok yang pernah membuat kita sakit hati.

Namun bagi saya, yang paling tak mengenakkan adalah, ketika menjadi teringat pada sosok yang membuat rasa sesal. Sebuah perasaan yang jelas sangat tak mengenakkan, jauh dari sakit hati, namun rasa sesal. Merasa bersalah yang kadang tak bisa kita tebus untuk waktu yang lama.

Atau wangi kadang tak berarti apapun,ia pengharum disebuah suasana yang sumpek. Ia menceriakan hari yang gerah. Semoga cukup seperti itu saja tak lebih.***
  • i

Jumat, 20 Agustus 2010

Bukan Elegi

>Kita berpendar suatu masa
Lepas setahun sejak pertama merona di dinding lusuh,
serta kursi lapuk hampir patah
Dunia dilingkupi awan biru bergumpal itu,
Pernah mencari pasti di debur Batu Dinding
Yah, lepas setahun ketika kita bersemu merah
Saling Berbalas…

Kita berjibaku dalam asa yang tersenggal
Seterusnya merintih dalam jarak,
Menjadi petualang di udara lembab tengah malam

Syahdan dalam drama monolog, Kita adalah aku dan bayangan
Bersemi diantara karang…jauh dari hiruk rumput laut dan tiram
Dalam diam…kita yang bersuka


Pernah kita berjarak diam, memilih rentang takdir masing
Kemudian berpura untuk acuh,
Meski kelabat bayang tetap kita nanti diwaktu yang jarang

Waktu menduakan, namun ia menyatukan
Dimana aku dan kamu menantang matahari pagi bulan ini
Untuk sesuatu yang jauh dari terma itu

Lalu kembali terdiam, mencoba meraba hati
Bicara pelan namun takut...diam yang menyakitkan...
Kita menahan rasa yang berat sambil menakar diri
Semacam perih...serasa luka sejuta kali

Tidak...bukan untuk perih atau elegi kali ini
Bukan perihal tercampakkan di jurang itu
Bukan tentang perjamuan terakhir, lepas itu mati

Ini untuk cinta yang bersarang...ia samar yang kadang memutih
Ia yang kita bela, namun dengan cara yang salah,
Seandai butir pasir laut itu, menderai halus...pelan...
Hampa ketika lewat angin laut yang bawa ia lari sedari pagi

Ini bukan sesaat, ini tentang kegelisahan masa depan,
Bukan tentang hampa terbawa angin pagi,
Aku menyayangimu, kala pertama mencari jemari di sore yang basah
Sebuah asa untuk lepas dan terbang kemana kita suka...berdua
. ***
  • i

Selasa, 10 Agustus 2010

Vertikalisasi Keyakinan

>Ini momen detoksifikasi. Penyucian diri dan juga jiwa. Setahun sekali, Ramadhan menjumpai. Satu Milyar lebih, umat akan menahan diri dari makan dan minum. Demi sebuah keyakinan. Sebuah ideologi sejak 1400 abad lampau dicetuskan. Berpantang ini bukanlah sebuah hal dibuat (tradisi atau budaya), namun karena sebuah hubungan atas dan bawah. Vertikalisasi !.

Bukan mempersoalkan tahan untuk tidak makan atau minum, namun lebih dari itu. Ada kepasrahan. Ada perlombaan. Pasrah bahwa manusia adalah sesosok makhluk. Dan ia memang diciptakan. Kepasrahan total, atau dalam nada lain ia bermakna tawakal. Sadar dan pasrah bahwa berpantang adalah penyerahan diri pada sang Khalik, pencipta dari zat yang ada di semesta. Lepas dari semua atribut sosial, dimana bulan ini, kita adalah sama di hadapannya.

Ada nuansa perlombaan. Tentang bagaimana kita bergiat memperbanyak amalan. Merajinkan diri untuk selalu tawaddu dan merunduk. Lebih dari 17 kali mencium tanah. Memberi bukan sekenanya, tapi berniat menghilangkan rasa tak nyaman, sehingga senyum itulah yang menyala ketika tangan kanan menelungkupkan kepada terkasih. Tiada sesal.

Yah, tiada sesal atau sengaja membikin kesal orang lain. Ucapan sengaja dijaga. Direndahkan sebagai sikap bersahaja. Semua yang keluar dari mulut adalah kemurnian keberagamaan. Totalitas pada sikap tawaddu' tadi.

Puasa juga seperti pohon karet belakang rumah, yang suatu ketika meranggas. Namun bukan berarti mati. Ia akan hidup pada masanya. Berdaun semakin hijau lalu rimbun. Membesar dan menaungi organisme dibawahnya. Seperti itu lah kita, semakin banyak berpuasa, semakin tua usia. Seharusnya semakin bermanfaat bagi sesama.

Puasa ibarat tes keimanan. 30 hari akan merupakan masa penggemblengan. Suka atau tidak, mau atau tidak mau, ia adalah waktu yang datang menyapa. Seberapa jauh kadar iman, akan terindikasi kurang lebih sebulan ini.***
  • i