Langsung ke konten utama

Negeri Para Karnaval Warna Warni

Negeri Warna Warni

Kertas itu tertanda pejabat tinggi di Negeri ini. Isinya himbauan lalu dilampirkan isi dari surat itu. Penawaran partisipasi memeriahkan HUT Kota dan Kemerdekaan. Ini yang paling penting dari surat edaran ini. Selanjutnya, brosur ini akan menjelaskan angka-angka partisipasi, dari 5 juta terkecil hingga puluhan juta rupiah. Bentuk partisipasi itu ada yang sekelas banner, spanduk, baligho hingga balon udara dan Gapura.


Begini lah Negeri Serumpun Sebalai. Pulau ini suka dengan kemeriahan. Jika menginjak Ulang tahun provinsi, maka partisipasi itu akan berupa buku. Jika menempuh Ulang tahun Kemerdekaan, akan berupa Gapura dan Spanduk. Jika menyangkut program atau agenda pemerintah bertopeng pembangunan, partisipasi itu berupa yang tadi-tadi pula.
Selalu berbicara partisipasi dan angka nominal yang kadang kala jauh dari kenyataan di percetakan. Harga yang lumayan fantastis. Untuk ukuran spanduk sepanjang dua meter saja ditawarkan angka 900 ribu rupiah dari yang semula 100 ribu. Ini lah Negara warna warni.

Akibatnya di jalan-jalan utama, mereka yang bernama spanduk, umbul-umbul, baligho dan semacamnya ini bergerombol memenuhi ruang. Anda akan dipenuhi dengan kata dan gambar. Tanda-tanda ini sekali lagi bermakna sama. Ritual penghilang jemu. Tak lebih.
Kata orang Bangka, “lah bantot”, “ lah mengkual bin mantak,”

Saya kadang kala berfikir ini sarat motif. Mudah-mudahan salah, ini jelas sekali ajang mencari duit singkat dari pihak-pihak tertentu. Tanda tangan pembesar dirasa-rasa mampu dan ampuh agar “proyek” ini bisa disetujui calon partisipan. Bayangkan saja, angka 800 ribu keuntungan dikali kan dengan order enam spanduk, jumlahnya akan mencapai 2.400.000 rupiah. Ini untuk kategori order paling minimal. Kalikan saja dengan angka 10 partisipan yang mengorder. Para penikmat jalan sempit ini akan mengantongi duit segar Cuma-Cuma 24 juta rupiah. Hanya dari sepuluh partisipan untuk order paling minimal.

Anda bisa bayangkan untuk pemesan sekaliber PT.Timah atau Kobatin, atau rekanan insitusi pelat merah lainnya. Berapa angka segar yang bisa mereka dapatkan.
Praktik semacam ini telah mulai melebar dan sengaja dilebar-lebarkan. Seperti yang di awal tadi, dari mulai Ulang Tahun Provinsi, Agenda Pemerintah Daerah atau Pusat, Program dari Punggawa Daerah, Ulang Tahun Kabupaten, Penyuluhan. Pun kalau bisa, setiap bulan inginnya ada acara partisipasi seperti ini. Bahkan tak jarang, saking seringnya, kadangkala dalam suatu masa sempat terjadi bentrok order. Satu tertanda tangan dari orang nomor satu di Negeri ini, satunya orang nomor dua. Odernya serupa tapi tak sama. Mirip-mirip meski berbeda bungkus.

Saya pada dasarnya mencintai warna. Semakin banyak warna akan semakin indah hidup. Lagian memang tak ada salah merayakan even-even tertentu demi kelangsungan kesadaran (awareness continuity) bahwa kita memang hidup sebagai sesama dalam sistem. Kesadaran yang coba dipelihara melalui tanda-tanda yang sesungguhnya kurang efektif karena terlalu. Pada dasarnya terlalu mengobral.

Namun sekali lagi, terlalu sering kadang bikin tak kuat lagi, “lah ringem”-idiom kita. Karena media display itu tidak akan efektif dan efisien. Tujuannya terlalu dangkal dibanding dengan dana yang telah dikeluarkan. Atau ini penanda kurang kreatifnya pemegang kuasa di negeri ini, Peringatan merupakan rangkaian kegiatan serupa tahun demi tahun. Peringatan dimaknai dengan hiruk pikuk dan ritual jalan kaki dan bazaar murah.Kita, masyarakat negeri ini kasak kusuk selalu dengan tanda-tanda yang itu-itu saja.

Ada banyak ide segar sebenarnya, kasih contoh saja mengadakan pengobatan gratis, sunatan massal, operasi katarak, bedah rumah, bantuan perahu nelayan, pembuatan jamban sederhana, membersihkan saluran air, membersihkan daerah aliran sungai, dan seabrek agenda kreatif lainnya.

Bisa juga kata kreatif sengaja disimpan dan ditinggal. Ia konsep yang tak layak untuk tema-tema publik. Kreatif lebih cocok untuk kepentingan pribadi atau segelintir manusia yang dekat dengan kuasa. Kembali ke atas tadi, kreatif memanfaatkan ruang publik, kedekatan dengan penguasa disertai dengan motif. Motif yang kita semua sudah ketahui dengan jelas dan centang perenang itu.

Inilah negeri warna warni, berselimut warna-warna cerah, dan tanda kemeriahan, keagunan, keramaian. Pada ritual yang sebatas tema perulangan sejak kita kecil. Pidato dan basa-basi karnaval. Lalu kita menyibukkan diri sebagai penonton pinggir jalan. Panas lalu demam di pojok kamar papan tua. Tragis. (aksansanjaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Daerah Bangka Belitung, Lima Lagu Bahasa Bangka

Ada beragam lagu daerah bangka belitung dengan kekhasan masing-masing. Lagu daerah Bangka Belitung adalah lagu-lagu yang diciptakan dari sebuah pencipta lagu sekaligus penyanyi lagu dimaksud. Lagu daerah bangka belitung ini menggambarkan sebuah suasana seperti suka duka hidup berkebun seperti tercermin dalam lirik lagu "Yok Miak", coba resapi lirik lagunya

Inilah Foto-foto Kampus dan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung di Balunijuk

Universitas Bangka Belitung (UBB) semula berstatus swasta berdiri sejak 2006 lalu kemudian resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejak 2010 adalah termasuk Perguruan Tinggi Negeri Baru yang makin menunjukkan kelasnya diantara PTN lainnya.

Penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai dan kini memasuki jalur pertama yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nanti setelahnya akan memasuki periode SBMPTN kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terakhir adalah tahapan SNMPTN.

Setelah Melihat foto-foto berikut, ternyata inilah Wajah Bangka Tempo Dulu

Kalau kini fotografer menggunakan drone untuk memotret dari ketinggian dalam angle bird eye, maka bagaimanakah fotografer dahulu berhasil mengabadikan objek-objek terutama yang berhubungan dengan era kolonial. Itulah yang membuat saya penasaran. Apakah mereka naik pohon yang tinggi?, apakah menggunakan balon udara?, atau menggunakan pesawat terbang.
Setidaknya pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan foto hotel Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing yang dijepret dari sudut mata burung atau langit pada tahun 1935 an itu. Meskipun saya tak menemukan data exif utuh, namun saya yakin tampaknya hotel Menumbing, yang merupakan tempat presiden pertama Ir.Soekarno pernah ditahan tersebut dijepret dari atas pesawat. Sebab itulah opsi yang paling masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi fotografer untuk memotret dengan perspektif mata burung adalah dengan menaiki pesawat terbang pada era sebelum drone.