Langsung ke konten utama

Bukit Siam Sungailiat

Berplesir di Bukit Siam
Wisata Pinggir Kota Murah meriah




Sungailiat mungkin termasuk kota yang unik dan khas. Hal ini dikarenakan posisi kota yang terletak seolah terapit oleh lautan dan perbukitan. Yang membuat unik adalah pada jalan utamanya yang lurus saja, tanpa meliuk-liuk seperti ular. Jadi jika anda memejamkan mata sambil mengendarai kendaraan bermotor, mungkin anda akan aman saja hingga ke terminal sana.

Lautan disebelah di Selatan Sungailiat, menghampar dan meliuk-liuk sesuai kontur wilayahnya. Bersentuhan langsung dengan laut Cina Selatan, ombak di pantai Bangka tergolong tenang-tenang saja. Berbeda dengan daerah tepi Samudera, seperti Bali atau Hawai, di Bangka Belitung terutama Sungailiat, tidak ada yang namanya kegiatan surfing.
Karena ombak laut yang tergolong aman dan terkendali ini, maka daerah tepi pantai menyisakan kontur tepian dengan hamparan pasir putih. Proses abrasi menyisakan sedikit demi sedikit tanah.

Penggerusan ini kadang menimbulkan pantai dengan hamparan pasir putih yang luas, seperti Matras. Namun kasus yang berbeda jika daerah tersebut dipenuhi bebatuan granit. Pantai dengan pasir putih tidak terlalu luas. Sebab granit sebesar mobil atau rumah senantiasa menjadi pelindung dari abrasi yang makin hari makin ganas.

Namun kali ini, saya tidak akan berpanjang lebar mengenai laut terutama pantai. Pada tulisan saya sebelumnya. Ada banyak cerita tentang pantai-pantai yang ada di Bangka Belitung, khususnya Sungailiat. Saya akan bercerita mengenai bukit yang membidangi kota Sungailiat.






Sungailiat menjadi khas, karena adanya perbukitan di sebelah utaranya. Ini menurut saya unik dan khas, karena berbeda dengan kota-kota lain di Bangka Belitung. Sebelumnya saya bercerita mengenai bukit Fa Thin San yang berada di Lubuk Kelik. Bukit yang kemudian terkenal karena menjadi pusat ibadah/ ritual umat Budha di Sungailiat.

Jika anda pernah mendengar kata Siam, atau bertanya pada masyarakat Sungailiat dimana bukit Siam. Saya yakin akan banyak yang tahu. Bukit Siam, masyarakat sering menyebutnya merupakan bagian dari perbukitan yang terletak paling ujung kea rah Barat.

Kini menjadi tempat stasiun relay milik Pemkab Bangka. Berkat bukit ini sejumlah stasiun tivi swasta bisa diakses oleh sebagian besar masyarakat kota Sungailiat. Tingginya diperkirakan sekitar 100 meter. Untuk mencapai lokasi ini telah tersedia jalan masuk yang berkelok-kelok, dengan tanjakan paling tinggi sekitar 70 derajat. Jalan mencapai puncak telah di-paving blok dengan lebar sekitar dua meter. Tak heran, jika sejumlah masyarakat memanfaatkannya untuk berplesir sambil jogging atau tracking. Untuk keatas, bila berjalan kaki lumayan berkeringat.

Bila sampai ke atas, anda akan menemui dataran seluas 10 meter persegi. Disinilah tempat makam atok Siam. Dulunya terdapat rumah pelindung untuk makam tersebut. Dari sini pula penamaan bukit Siam. Luas dataran ini berbagi dengan rumah penjaga tower relay dan tower itu sendiri.

Pepohonan masih tumbuh dengan subur dan rimbun. Ketika sampai diatas, hawa dingin menerpa anda meski itu cuma rasa-rasa. Pun bila dirasa-rasa, memang ada benarnya. Karena adanya pepohonan nan rimbun itulah. Seluruh sungailiat bisa anda pantau dari ketinggian ini.

Pandangan seluas mata memandang akan sampai ke laut. Perumahan penduduk. Perbukitan di daerah pantai Rebo dan sekitarnya. Jalan-jalan. Perumahan Pemda. Tower-tower operator. Sungailiat memang amazing, kata Tukul Arwana.

Selain pepohonan, ada bebatuan granit juga yang memperkokoh bukit ini. Rupanya bukit di Bangka Belitung, memang didukung kontur bebatuan granit. Wisata ke atas, yang bisa anda nikmati adalah pemandangan ini saja. Namun, saya yakin sensasi memandang dari ketinggian akan berbeda dibandingkan didataran biasa.







Ada semacam kebebasan tersendiri. Ada pelepasan dan rasa senang. Harap dicatat, untuk mendapatkan pemandangan seperti ini, bukankah kita harus naik dulu. Berkeringat dulu. Sensasi ini yang mahal.


Jika suatu hari ingin ke bukit ini, jangan lupa membawa tempat sampah. Ini kalau anda membawa makanan. Sebab dikuatirkan anda akan membuang sampah sembarangan. Boleh percaya atau tidak, saya menemui bocah-bocah umur 7 tahunan sedang mengumpulkan gelas mineral plastic di ketinggian ini. saya jadi berfikir, sampai sejauh ini kah masyarakat kita membuang sampah?.

Saya pernah berandai-andai, dan ini sebenarnya bisa dilakukan. Bagaimana jika Pemerintah Kota Sungailiat, membuat tulisan di bukit itu, seperti bacaan Hollywood di Amrik sana. Kata Sungailiat yang didirikan di pinggir bukit itu saya yakin akan menjadi trade mark yang tak akan terlupakan. Selain tentu saja menyiapkan tempat sampah. Semoga. (aksansanjaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Daerah Bangka Belitung, Lima Lagu Bahasa Bangka

Ada beragam lagu daerah bangka belitung dengan kekhasan masing-masing. Lagu daerah Bangka Belitung adalah lagu-lagu yang diciptakan dari sebuah pencipta lagu sekaligus penyanyi lagu dimaksud. Lagu daerah bangka belitung ini menggambarkan sebuah suasana seperti suka duka hidup berkebun seperti tercermin dalam lirik lagu "Yok Miak", coba resapi lirik lagunya

Inilah Foto-foto Kampus dan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung di Balunijuk

Universitas Bangka Belitung (UBB) semula berstatus swasta berdiri sejak 2006 lalu kemudian resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejak 2010 adalah termasuk Perguruan Tinggi Negeri Baru yang makin menunjukkan kelasnya diantara PTN lainnya.

Penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai dan kini memasuki jalur pertama yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nanti setelahnya akan memasuki periode SBMPTN kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terakhir adalah tahapan SNMPTN.

Setelah Melihat foto-foto berikut, ternyata inilah Wajah Bangka Tempo Dulu

Kalau kini fotografer menggunakan drone untuk memotret dari ketinggian dalam angle bird eye, maka bagaimanakah fotografer dahulu berhasil mengabadikan objek-objek terutama yang berhubungan dengan era kolonial. Itulah yang membuat saya penasaran. Apakah mereka naik pohon yang tinggi?, apakah menggunakan balon udara?, atau menggunakan pesawat terbang.
Setidaknya pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan foto hotel Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing yang dijepret dari sudut mata burung atau langit pada tahun 1935 an itu. Meskipun saya tak menemukan data exif utuh, namun saya yakin tampaknya hotel Menumbing, yang merupakan tempat presiden pertama Ir.Soekarno pernah ditahan tersebut dijepret dari atas pesawat. Sebab itulah opsi yang paling masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi fotografer untuk memotret dengan perspektif mata burung adalah dengan menaiki pesawat terbang pada era sebelum drone.