Kamis, 08 Juli 2010

Negeri Para Karnaval Warna Warni

>Negeri Warna Warni

Kertas itu tertanda pejabat tinggi di Negeri ini. Isinya himbauan lalu dilampirkan isi dari surat itu. Penawaran partisipasi memeriahkan HUT Kota dan Kemerdekaan. Ini yang paling penting dari surat edaran ini. Selanjutnya, brosur ini akan menjelaskan angka-angka partisipasi, dari 5 juta terkecil hingga puluhan juta rupiah. Bentuk partisipasi itu ada yang sekelas banner, spanduk, baligho hingga balon udara dan Gapura.


Begini lah Negeri Serumpun Sebalai. Pulau ini suka dengan kemeriahan. Jika menginjak Ulang tahun provinsi, maka partisipasi itu akan berupa buku. Jika menempuh Ulang tahun Kemerdekaan, akan berupa Gapura dan Spanduk. Jika menyangkut program atau agenda pemerintah bertopeng pembangunan, partisipasi itu berupa yang tadi-tadi pula.
Selalu berbicara partisipasi dan angka nominal yang kadang kala jauh dari kenyataan di percetakan. Harga yang lumayan fantastis. Untuk ukuran spanduk sepanjang dua meter saja ditawarkan angka 900 ribu rupiah dari yang semula 100 ribu. Ini lah Negara warna warni.

Akibatnya di jalan-jalan utama, mereka yang bernama spanduk, umbul-umbul, baligho dan semacamnya ini bergerombol memenuhi ruang. Anda akan dipenuhi dengan kata dan gambar. Tanda-tanda ini sekali lagi bermakna sama. Ritual penghilang jemu. Tak lebih.
Kata orang Bangka, “lah bantot”, “ lah mengkual bin mantak,”

Saya kadang kala berfikir ini sarat motif. Mudah-mudahan salah, ini jelas sekali ajang mencari duit singkat dari pihak-pihak tertentu. Tanda tangan pembesar dirasa-rasa mampu dan ampuh agar “proyek” ini bisa disetujui calon partisipan. Bayangkan saja, angka 800 ribu keuntungan dikali kan dengan order enam spanduk, jumlahnya akan mencapai 2.400.000 rupiah. Ini untuk kategori order paling minimal. Kalikan saja dengan angka 10 partisipan yang mengorder. Para penikmat jalan sempit ini akan mengantongi duit segar Cuma-Cuma 24 juta rupiah. Hanya dari sepuluh partisipan untuk order paling minimal.

Anda bisa bayangkan untuk pemesan sekaliber PT.Timah atau Kobatin, atau rekanan insitusi pelat merah lainnya. Berapa angka segar yang bisa mereka dapatkan.
Praktik semacam ini telah mulai melebar dan sengaja dilebar-lebarkan. Seperti yang di awal tadi, dari mulai Ulang Tahun Provinsi, Agenda Pemerintah Daerah atau Pusat, Program dari Punggawa Daerah, Ulang Tahun Kabupaten, Penyuluhan. Pun kalau bisa, setiap bulan inginnya ada acara partisipasi seperti ini. Bahkan tak jarang, saking seringnya, kadangkala dalam suatu masa sempat terjadi bentrok order. Satu tertanda tangan dari orang nomor satu di Negeri ini, satunya orang nomor dua. Odernya serupa tapi tak sama. Mirip-mirip meski berbeda bungkus.

Saya pada dasarnya mencintai warna. Semakin banyak warna akan semakin indah hidup. Lagian memang tak ada salah merayakan even-even tertentu demi kelangsungan kesadaran (awareness continuity) bahwa kita memang hidup sebagai sesama dalam sistem. Kesadaran yang coba dipelihara melalui tanda-tanda yang sesungguhnya kurang efektif karena terlalu. Pada dasarnya terlalu mengobral.

Namun sekali lagi, terlalu sering kadang bikin tak kuat lagi, “lah ringem”-idiom kita. Karena media display itu tidak akan efektif dan efisien. Tujuannya terlalu dangkal dibanding dengan dana yang telah dikeluarkan. Atau ini penanda kurang kreatifnya pemegang kuasa di negeri ini, Peringatan merupakan rangkaian kegiatan serupa tahun demi tahun. Peringatan dimaknai dengan hiruk pikuk dan ritual jalan kaki dan bazaar murah.Kita, masyarakat negeri ini kasak kusuk selalu dengan tanda-tanda yang itu-itu saja.

Ada banyak ide segar sebenarnya, kasih contoh saja mengadakan pengobatan gratis, sunatan massal, operasi katarak, bedah rumah, bantuan perahu nelayan, pembuatan jamban sederhana, membersihkan saluran air, membersihkan daerah aliran sungai, dan seabrek agenda kreatif lainnya.

Bisa juga kata kreatif sengaja disimpan dan ditinggal. Ia konsep yang tak layak untuk tema-tema publik. Kreatif lebih cocok untuk kepentingan pribadi atau segelintir manusia yang dekat dengan kuasa. Kembali ke atas tadi, kreatif memanfaatkan ruang publik, kedekatan dengan penguasa disertai dengan motif. Motif yang kita semua sudah ketahui dengan jelas dan centang perenang itu.

Inilah negeri warna warni, berselimut warna-warna cerah, dan tanda kemeriahan, keagunan, keramaian. Pada ritual yang sebatas tema perulangan sejak kita kecil. Pidato dan basa-basi karnaval. Lalu kita menyibukkan diri sebagai penonton pinggir jalan. Panas lalu demam di pojok kamar papan tua. Tragis. (aksansanjaya)
  • i

Kamis, 01 Juli 2010

Bukit Siam Sungailiat

>Berplesir di Bukit Siam
Wisata Pinggir Kota Murah meriah




Sungailiat mungkin termasuk kota yang unik dan khas. Hal ini dikarenakan posisi kota yang terletak seolah terapit oleh lautan dan perbukitan. Yang membuat unik adalah pada jalan utamanya yang lurus saja, tanpa meliuk-liuk seperti ular. Jadi jika anda memejamkan mata sambil mengendarai kendaraan bermotor, mungkin anda akan aman saja hingga ke terminal sana.

Lautan disebelah di Selatan Sungailiat, menghampar dan meliuk-liuk sesuai kontur wilayahnya. Bersentuhan langsung dengan laut Cina Selatan, ombak di pantai Bangka tergolong tenang-tenang saja. Berbeda dengan daerah tepi Samudera, seperti Bali atau Hawai, di Bangka Belitung terutama Sungailiat, tidak ada yang namanya kegiatan surfing.
Karena ombak laut yang tergolong aman dan terkendali ini, maka daerah tepi pantai menyisakan kontur tepian dengan hamparan pasir putih. Proses abrasi menyisakan sedikit demi sedikit tanah.

Penggerusan ini kadang menimbulkan pantai dengan hamparan pasir putih yang luas, seperti Matras. Namun kasus yang berbeda jika daerah tersebut dipenuhi bebatuan granit. Pantai dengan pasir putih tidak terlalu luas. Sebab granit sebesar mobil atau rumah senantiasa menjadi pelindung dari abrasi yang makin hari makin ganas.

Namun kali ini, saya tidak akan berpanjang lebar mengenai laut terutama pantai. Pada tulisan saya sebelumnya. Ada banyak cerita tentang pantai-pantai yang ada di Bangka Belitung, khususnya Sungailiat. Saya akan bercerita mengenai bukit yang membidangi kota Sungailiat.






Sungailiat menjadi khas, karena adanya perbukitan di sebelah utaranya. Ini menurut saya unik dan khas, karena berbeda dengan kota-kota lain di Bangka Belitung. Sebelumnya saya bercerita mengenai bukit Fa Thin San yang berada di Lubuk Kelik. Bukit yang kemudian terkenal karena menjadi pusat ibadah/ ritual umat Budha di Sungailiat.

Jika anda pernah mendengar kata Siam, atau bertanya pada masyarakat Sungailiat dimana bukit Siam. Saya yakin akan banyak yang tahu. Bukit Siam, masyarakat sering menyebutnya merupakan bagian dari perbukitan yang terletak paling ujung kea rah Barat.

Kini menjadi tempat stasiun relay milik Pemkab Bangka. Berkat bukit ini sejumlah stasiun tivi swasta bisa diakses oleh sebagian besar masyarakat kota Sungailiat. Tingginya diperkirakan sekitar 100 meter. Untuk mencapai lokasi ini telah tersedia jalan masuk yang berkelok-kelok, dengan tanjakan paling tinggi sekitar 70 derajat. Jalan mencapai puncak telah di-paving blok dengan lebar sekitar dua meter. Tak heran, jika sejumlah masyarakat memanfaatkannya untuk berplesir sambil jogging atau tracking. Untuk keatas, bila berjalan kaki lumayan berkeringat.

Bila sampai ke atas, anda akan menemui dataran seluas 10 meter persegi. Disinilah tempat makam atok Siam. Dulunya terdapat rumah pelindung untuk makam tersebut. Dari sini pula penamaan bukit Siam. Luas dataran ini berbagi dengan rumah penjaga tower relay dan tower itu sendiri.

Pepohonan masih tumbuh dengan subur dan rimbun. Ketika sampai diatas, hawa dingin menerpa anda meski itu cuma rasa-rasa. Pun bila dirasa-rasa, memang ada benarnya. Karena adanya pepohonan nan rimbun itulah. Seluruh sungailiat bisa anda pantau dari ketinggian ini.

Pandangan seluas mata memandang akan sampai ke laut. Perumahan penduduk. Perbukitan di daerah pantai Rebo dan sekitarnya. Jalan-jalan. Perumahan Pemda. Tower-tower operator. Sungailiat memang amazing, kata Tukul Arwana.

Selain pepohonan, ada bebatuan granit juga yang memperkokoh bukit ini. Rupanya bukit di Bangka Belitung, memang didukung kontur bebatuan granit. Wisata ke atas, yang bisa anda nikmati adalah pemandangan ini saja. Namun, saya yakin sensasi memandang dari ketinggian akan berbeda dibandingkan didataran biasa.







Ada semacam kebebasan tersendiri. Ada pelepasan dan rasa senang. Harap dicatat, untuk mendapatkan pemandangan seperti ini, bukankah kita harus naik dulu. Berkeringat dulu. Sensasi ini yang mahal.


Jika suatu hari ingin ke bukit ini, jangan lupa membawa tempat sampah. Ini kalau anda membawa makanan. Sebab dikuatirkan anda akan membuang sampah sembarangan. Boleh percaya atau tidak, saya menemui bocah-bocah umur 7 tahunan sedang mengumpulkan gelas mineral plastic di ketinggian ini. saya jadi berfikir, sampai sejauh ini kah masyarakat kita membuang sampah?.

Saya pernah berandai-andai, dan ini sebenarnya bisa dilakukan. Bagaimana jika Pemerintah Kota Sungailiat, membuat tulisan di bukit itu, seperti bacaan Hollywood di Amrik sana. Kata Sungailiat yang didirikan di pinggir bukit itu saya yakin akan menjadi trade mark yang tak akan terlupakan. Selain tentu saja menyiapkan tempat sampah. Semoga. (aksansanjaya)
  • i