Langsung ke konten utama

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi lautan, kadang menabrak karang mengantam badai. Untuk singgah dan menetap lalu akhirnya beranak pinak.

Atau ketika bangsa Fu-Jian, didatangkan secara massal mengorek tanah, mencari timah dengan teknik yang sama persis dengan sekarang itu, pastilah manusia yang paling rajin dan peduli dengan sesama.

Lantas mengapa lalu, ungkapan itu menjadi demikian negative arahnya.

Saya yakin ini pembiasan makna, atau pemakaian ungkapan yang salah dari mereka yang belum paham.


Ketika, ada teman mengajak bersosialisasi dengan ikut kegiatan kelompok, dijawab dengan, “da kawah nyusah,”, ketika ada teman mengajak kursus atau belajar kelompok, dijawab, “ da peti renyek, da kawah nyusah..e,”

Ini lah pembiasan makna. Pemakaian ungkapan yang kurang mengena. Ketika kerap dipakai dalam masyarakat, kata ini lalu melekat pada sesuatu hal yang malas, tak suka pada hal yang baik., ia menyebar dan menjadi kalimat umum.

Ungkapan ini selayaknya, untuk sesuatu yang negative. Missal, ketika ada teman mengajak nongkrong atau hura-hura tanpa maksud jelas, tak ada salah kita bilang, “ da kawah nyusah,”, kemudian ada yang mengajak bergabung di organisasi tanpa identitas dan bervisi nda jelas, seperti teroris, boleh lah kita dengan sekeras dan selantang berkata, “ da kawah nyusah,”

Untuk hal-hal yang baik, ungkapan dimaksud, hendak nya tidak dipergunakan. Namun untuk sesuatu yang merugikan diri atau orang lain, kalimat “ da kawah nyusah,” boleh kita suarakan sekeras-kerasnya.

Kesalahan kita adalah belum memahami dengan patut, dalam mempergunakan bahasa tertentu.

Bagi orang Bangka, “ da kawah nyusah,” sejatinya untuk penegasan bahwa kita menolak baik lahir atau batin untuk hal-hal yang merugikan diri atau orang lain.


Bahasa pada dasarnya tidak bersalah, ia bagian dari produk budaya. Kata- kata itu merupakan peradaban lokal sekaligus kearifan lokal.

Sekali lagi bahasa tidak salah….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Daerah Bangka Belitung, Lima Lagu Bahasa Bangka

Ada beragam lagu daerah bangka belitung dengan kekhasan masing-masing. Lagu daerah Bangka Belitung adalah lagu-lagu yang diciptakan dari sebuah pencipta lagu sekaligus penyanyi lagu dimaksud. Lagu daerah bangka belitung ini menggambarkan sebuah suasana seperti suka duka hidup berkebun seperti tercermin dalam lirik lagu "Yok Miak", coba resapi lirik lagunya

Inilah Foto-foto Kampus dan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung di Balunijuk

Universitas Bangka Belitung (UBB) semula berstatus swasta berdiri sejak 2006 lalu kemudian resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejak 2010 adalah termasuk Perguruan Tinggi Negeri Baru yang makin menunjukkan kelasnya diantara PTN lainnya.

Penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai dan kini memasuki jalur pertama yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nanti setelahnya akan memasuki periode SBMPTN kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terakhir adalah tahapan SNMPTN.

Setelah Melihat foto-foto berikut, ternyata inilah Wajah Bangka Tempo Dulu

Kalau kini fotografer menggunakan drone untuk memotret dari ketinggian dalam angle bird eye, maka bagaimanakah fotografer dahulu berhasil mengabadikan objek-objek terutama yang berhubungan dengan era kolonial. Itulah yang membuat saya penasaran. Apakah mereka naik pohon yang tinggi?, apakah menggunakan balon udara?, atau menggunakan pesawat terbang.
Setidaknya pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan foto hotel Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing yang dijepret dari sudut mata burung atau langit pada tahun 1935 an itu. Meskipun saya tak menemukan data exif utuh, namun saya yakin tampaknya hotel Menumbing, yang merupakan tempat presiden pertama Ir.Soekarno pernah ditahan tersebut dijepret dari atas pesawat. Sebab itulah opsi yang paling masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi fotografer untuk memotret dengan perspektif mata burung adalah dengan menaiki pesawat terbang pada era sebelum drone.