Senin, 07 Juni 2010

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

>Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi lautan, kadang menabrak karang mengantam badai. Untuk singgah dan menetap lalu akhirnya beranak pinak.

Atau ketika bangsa Fu-Jian, didatangkan secara massal mengorek tanah, mencari timah dengan teknik yang sama persis dengan sekarang itu, pastilah manusia yang paling rajin dan peduli dengan sesama.

Lantas mengapa lalu, ungkapan itu menjadi demikian negative arahnya.

Saya yakin ini pembiasan makna, atau pemakaian ungkapan yang salah dari mereka yang belum paham.


Ketika, ada teman mengajak bersosialisasi dengan ikut kegiatan kelompok, dijawab dengan, “da kawah nyusah,”, ketika ada teman mengajak kursus atau belajar kelompok, dijawab, “ da peti renyek, da kawah nyusah..e,”

Ini lah pembiasan makna. Pemakaian ungkapan yang kurang mengena. Ketika kerap dipakai dalam masyarakat, kata ini lalu melekat pada sesuatu hal yang malas, tak suka pada hal yang baik., ia menyebar dan menjadi kalimat umum.

Ungkapan ini selayaknya, untuk sesuatu yang negative. Missal, ketika ada teman mengajak nongkrong atau hura-hura tanpa maksud jelas, tak ada salah kita bilang, “ da kawah nyusah,”, kemudian ada yang mengajak bergabung di organisasi tanpa identitas dan bervisi nda jelas, seperti teroris, boleh lah kita dengan sekeras dan selantang berkata, “ da kawah nyusah,”

Untuk hal-hal yang baik, ungkapan dimaksud, hendak nya tidak dipergunakan. Namun untuk sesuatu yang merugikan diri atau orang lain, kalimat “ da kawah nyusah,” boleh kita suarakan sekeras-kerasnya.

Kesalahan kita adalah belum memahami dengan patut, dalam mempergunakan bahasa tertentu.

Bagi orang Bangka, “ da kawah nyusah,” sejatinya untuk penegasan bahwa kita menolak baik lahir atau batin untuk hal-hal yang merugikan diri atau orang lain.


Bahasa pada dasarnya tidak bersalah, ia bagian dari produk budaya. Kata- kata itu merupakan peradaban lokal sekaligus kearifan lokal.

Sekali lagi bahasa tidak salah….
  • i
Posting Komentar