Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Jazz on the Beach

Jazz on the Beach pada 12 Juni 2010 bertempat di Parai Beach Resort & Spa, Bangka. Acara yang merupakan bagian dari Visit Bangka Belitung 2010 akan dimeriahkan oleh Fariz RM, Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge, sepeninggalnya Tompi, lalu Hani Firawan yang tak lain putri mantan Kapolda Metro Jaya Firman Gani. Selain itu turut hadir pula Andara Rainy, Putri Pariwisata Indonesia 2009.


Pulau Bangka sendiri merupakan salah satu destinasi atau tujuan kunjungan wisata. Sejumlah maskapai penerbangan termasuk diantaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya, Mandala, maupun Batavia Air memiliki rute tetap menuju pulau yang banyak memiliki pantai nan cantik ini. Menyebut nama Bangka tentu saja selalu terkait dengan Belitung, yang pamornya melesat setelah film Laskar Pelangi mengambil setting di pulau tersebut. Pantai Parai merupakan pantai paling indah dideretan pantai timur Pulau Bangka.

Ide penyelenggaraan Jazz on the Beach seperti dijelaskan Dwiki Dharmawan, “Idenya datang dari Pak Sapta Ni…

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi l…

Ketika Kulong itu Jernih

One Day at '80 in Bangka

Pulau Bangka, saya menjadi teringat pada masa silam. Ketika kolong masih jernih, dan kami bersuka memancing ikan atau bermain perang-perangan lumpur. Meski lahir di tahun 80-an, namun masa itu, tambang tak bisa ditemukan di mana-mana. Alhasil, alam masih menyimpan wujud nya yang alami. Air masih jernih mengalir, dari tumbik-tumbik di ujung atau tengah hutan. Pohon Gabus, masih menyimpan tawanya pada malam hari, wewangian khas bunga nya susah sekarang untuk ditemui.’

Pada bulan-bulan penghujan, langit menumpahkan airnya ke bumi. Dan aliran kolong menjadi keruh. Namun itu tak lama kadang tak lebih dari sehari, ketika langit mulai cerah, air yang meluap itu akan kembali jernih. Sebelumnya, beberapa orang telah memasang jaring atau tebak untuk menjebak ikan. Ikan seluang, ikan tanah, ikan baung itu akan terperangkap di tebak masih dalam keadaan hidup.

Gelombang air yang massif itu juga berkah bagi kami, anak kecil yang baru belajar berenang atau cuma ikut-ikuta…