Senin, 14 Juni 2010

Jazz on the Beach

>Jazz on the Beach pada 12 Juni 2010 bertempat di Parai Beach Resort & Spa, Bangka. Acara yang merupakan bagian dari Visit Bangka Belitung 2010 akan dimeriahkan oleh Fariz RM, Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge, sepeninggalnya Tompi, lalu Hani Firawan yang tak lain putri mantan Kapolda Metro Jaya Firman Gani. Selain itu turut hadir pula Andara Rainy, Putri Pariwisata Indonesia 2009.


Pulau Bangka sendiri merupakan salah satu destinasi atau tujuan kunjungan wisata. Sejumlah maskapai penerbangan termasuk diantaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya, Mandala, maupun Batavia Air memiliki rute tetap menuju pulau yang banyak memiliki pantai nan cantik ini. Menyebut nama Bangka tentu saja selalu terkait dengan Belitung, yang pamornya melesat setelah film Laskar Pelangi mengambil setting di pulau tersebut. Pantai Parai merupakan pantai paling indah dideretan pantai timur Pulau Bangka.

Ide penyelenggaraan Jazz on the Beach seperti dijelaskan Dwiki Dharmawan, “Idenya datang dari Pak Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementrian Budpar RI dengan pak Johny Sugiarto”. Nama yang baru disebut Dwiki tersebut tak lain merupakan bos tertinggi di El John Group.

“Melalui musik Jazz, Bangka Belitung ingin lebih dipromosikan keindahannya terutama pantai Parai di Bangka”, tambah Dwiki. Sejumlah tamu dari Jakarta maupun wisatawan mancanegara juga dipastikan akan datang menikmati keindahan pantai ditambah alunan merdu musik jazz nan rancak.


“Saya mengajak Fariz RM agar audiens bisa bernostalgia dengan nomor-nomor hits seperti Barcelona, Nada Kasih, Sakura dengan nuansa Jazzy”, jelasnya.

Sejumlah musisi diajak untuk mendukung antara lain Gerry Herb (drums), Didiet (violin), Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (gitar), Zainal Arifin (perkusi).(dikutip dari http://www.wartajazz.com/news)

Foto-foto Jazz on the beach, taken by aksansanjaya









  • i

Senin, 07 Juni 2010

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

>Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi lautan, kadang menabrak karang mengantam badai. Untuk singgah dan menetap lalu akhirnya beranak pinak.

Atau ketika bangsa Fu-Jian, didatangkan secara massal mengorek tanah, mencari timah dengan teknik yang sama persis dengan sekarang itu, pastilah manusia yang paling rajin dan peduli dengan sesama.

Lantas mengapa lalu, ungkapan itu menjadi demikian negative arahnya.

Saya yakin ini pembiasan makna, atau pemakaian ungkapan yang salah dari mereka yang belum paham.


Ketika, ada teman mengajak bersosialisasi dengan ikut kegiatan kelompok, dijawab dengan, “da kawah nyusah,”, ketika ada teman mengajak kursus atau belajar kelompok, dijawab, “ da peti renyek, da kawah nyusah..e,”

Ini lah pembiasan makna. Pemakaian ungkapan yang kurang mengena. Ketika kerap dipakai dalam masyarakat, kata ini lalu melekat pada sesuatu hal yang malas, tak suka pada hal yang baik., ia menyebar dan menjadi kalimat umum.

Ungkapan ini selayaknya, untuk sesuatu yang negative. Missal, ketika ada teman mengajak nongkrong atau hura-hura tanpa maksud jelas, tak ada salah kita bilang, “ da kawah nyusah,”, kemudian ada yang mengajak bergabung di organisasi tanpa identitas dan bervisi nda jelas, seperti teroris, boleh lah kita dengan sekeras dan selantang berkata, “ da kawah nyusah,”

Untuk hal-hal yang baik, ungkapan dimaksud, hendak nya tidak dipergunakan. Namun untuk sesuatu yang merugikan diri atau orang lain, kalimat “ da kawah nyusah,” boleh kita suarakan sekeras-kerasnya.

Kesalahan kita adalah belum memahami dengan patut, dalam mempergunakan bahasa tertentu.

Bagi orang Bangka, “ da kawah nyusah,” sejatinya untuk penegasan bahwa kita menolak baik lahir atau batin untuk hal-hal yang merugikan diri atau orang lain.


Bahasa pada dasarnya tidak bersalah, ia bagian dari produk budaya. Kata- kata itu merupakan peradaban lokal sekaligus kearifan lokal.

Sekali lagi bahasa tidak salah….
  • i

Selasa, 01 Juni 2010

Ketika Kulong itu Jernih

>
One Day at '80 in Bangka

Pulau Bangka, saya menjadi teringat pada masa silam. Ketika kolong masih jernih, dan kami bersuka memancing ikan atau bermain perang-perangan lumpur. Meski lahir di tahun 80-an, namun masa itu, tambang tak bisa ditemukan di mana-mana. Alhasil, alam masih menyimpan wujud nya yang alami. Air masih jernih mengalir, dari tumbik-tumbik di ujung atau tengah hutan. Pohon Gabus, masih menyimpan tawanya pada malam hari, wewangian khas bunga nya susah sekarang untuk ditemui.’

Pada bulan-bulan penghujan, langit menumpahkan airnya ke bumi. Dan aliran kolong menjadi keruh. Namun itu tak lama kadang tak lebih dari sehari, ketika langit mulai cerah, air yang meluap itu akan kembali jernih. Sebelumnya, beberapa orang telah memasang jaring atau tebak untuk menjebak ikan. Ikan seluang, ikan tanah, ikan baung itu akan terperangkap di tebak masih dalam keadaan hidup.

Gelombang air yang massif itu juga berkah bagi kami, anak kecil yang baru belajar berenang atau cuma ikut-ikutan meski tak bisa berenang. Gabus itu lah pelampung. Memanfaatkan aliran derasnya, mengapung sambil berenang bebas dari hulu ke hilir menjadi amat mengasikkan. Ketika ke hilir, akan bertemu induk kolong. Lalu bersusah-susah kembali ke Hulu. Begitu seterusnya.


Gabus yang kami naiki semacam kendaraan yang mesti dijaga, sebab kayu gelondongan yang kami tebang susah-susah itu bisa berpindah tangan karena dicuri anak lain. Semakin besar gabus, maka akan semakin beharga ia.

Hujan yang mengguyur desa, membuat sebagian kolong meluap, namun rumput dan tumbuhan air yang menjadi penghalang agar air tak bisa meluap ke segala arah. Ketika surut, aliran air akan membekas dalam rebahan rumput dan tumbuhan air yang berkelok-kelok.
Tak ada yang meringis ketika penghujan. Namun suka itu lah.

Ketika musim kemarau melanda, pada bulan-bulan agustus, menjelang dan mendekati puasa Ramadhan. Sungai kecil kami akan surut bahkan kering. Tinggal kolong diujung sana yang makin menipis. Namun ini juga berkah bagi kami.

Sebelum benar-benar kering pun, kami sudah mencari akar tuba. Tumbuhan ini ampuh sebagai racun alam bagi ikan-ikan di lubuk-lubuk. Ada sejumlah kolong sebagai tempat pavorit dalam menuba, kolong Mus atau kolong Kaffa. Kolong ini terkenal akan ikan-ikannya yang super besar, ada ikan gabus, kiung, kepuyu, ikan tanah, ikan kelik, belido, baung, ikan seluang. Yang paling khas rasa dagingnya adalah ikan Kiung. Rasanya khas dan special.

Tuba menjadi barang mahal ketika kemarau tiba. Saya masih mengingatnya, ketika perasaaan untuk Menuba itu muncul di ubun-ubun, pernah suatu ketika bersama teman kami nekad menggali tuba di halaman belakang rumah tetangga. Sampai diancam dengan parang. Saking nekadnya, kami mencari dan menggali tumbuhan yang dirasa-rasa mirip tuba itu. Digali, ditumbuk-tumbuk lalu dibaui. Bau tuba yang khas semacam narkotika. Menjadi sensasi tersendiri.

Kami anak kecil sekecil itu sebenarnya perusak alam juga, namun pada dasarnya tidak demikian. Kalau dipikir-pikir, Tuba tak masuk golongan unsur berbahaya kimia. Racunnya alami, Cuma bisa bikin pusing ikan-ikan. Lagian tak ada yang benar-benar mati.

Kemarau tiba adalah masanya bersuka-suka di kolong. Di sekitar desa Kenanga, ada beragam kolong yang menawarkan wahana bermain. Ketika sore menjelang, selepas bermain laying-layang di daratan pasir dan kenyang akan buah kerakmunting. Kami bergegas menceburkan diri ke kolong. Mau kolong mana, tinggal pilih saja, ada kolong Sa’I, kolong Mau, Kolong Temper, yang paling pavorit adalah kulong Temper.

Luas kolong yang lima kali lapangan bola itu, menjadi wahana berenang. Gerombolan anak-anak dari daerah seberang, atau kelompok lain akan beradu berenang dari ujung ke ujung. Beramai-ramai, menggunakan gabus atau jerigen air minum besar itu. Ramai, belum lagi masa bermain perang-perang kariamon atau tanah liat (tanah licek), air mendadak kotor dan keruh.

Inilah lalu mengundang kemarahan ibu-ibu yang asik mencuci di pinggiran. Ocehan mereka tetap saja tak mempan di telinga anak-anak. Hingga suatu ketika, ada yang berteriak, buaya atau buyut, makhluk halus penunggu kolong. Kalimatnya, “ Hoi buaye, buyut ni ade ayem !”. Bergegaslah gerombolan anak-anak secepat kilat berangkat dari kolong dan mulai membersihkan diri. Untuk bergegas pulang.

Masa-masa ini, banyak dari mereka yang akan sakit mata. Ketika bangun tidur, mata akan susah dibuka karena tertutup kotoran. Namun anehnya tak menyurutkan niat. Obatnya sederhana, katanya…ini katanya, diusap saja dengan air seni atau tai idung. Hee. Ada-ada saja.(aksansanjaya)
  • i