Senin, 10 Mei 2010

Mencari air terjun Sadap

>Letaknya tersembunyi di sela perbukitan Pading, desa Perlang kecamatan Koba, Bangka Tengah. Jauhnya sekitar 7 km dari ibu kota Kabupaten. Untuk mencapainya harus melalui jalan bermedan off road, maklum ia masih termasuk kategori rimba. Sebelumnya jalan berliku berjarak 1500 meter melalui kebun dan pondok petani mesti dilalui. Ketika sampai, air terjun yang disebut Sadap ini memang eksotik dan mengundang decak kagum.

Cuaca cerah Sabtu pagi dari Pangkalpinang, menambah semangat untuk berplesir ke Sadap. Air terjun yang sering disebut dan membuat penasaran akan bentuk dan rupanya. Menginjak siang, hujan lokal menjelang keberangkatan. Namun perjalanan dilanjutkan. Menyusuri jalan raya Penyak, langit kembali mencurahkan bulir-bulir air. Memaksa untuk berhenti sejenak.

Melalui resto pinggir laut, awan gelap tampak menutupi arah pandang ke Koba. Setengah berputus asa. Ini lah resikonya bepergian dengan roda dua. Namun asa telah terkembang, tak baik perahu balik kandang. Mencoba meyakinkan diri bahwa ini cuma hujan lokal saja. Rintik-rintik ini akan berlalu selepas kilometer ke depan. Selain itu, Koba memang sudah hampir sampai. Jadi kepalang tanggung. Lanjutkan perjalanan.
Sampai ke Koba, mencari arah ke Perlang. Ashar telah lewat. Penduduk tunjuk arah ke depan, lalu belok kiri terus saja nanti akan bisa mencapai Perlang. Desa dimana check poin penanda, Sadap telah dekat. Perjalanan kembali dilanjutkan. Selepas sejumlah kilometer, benarlah kami menjumpai Perlang, ketika sampai pada ujung jalan yang bersimpang. Dibingungkan lagi dengan kiri apa kanan. Rute yang digambar dalam kertas, kadang tak menunjukkan sejatinya. Jadi jangan terlalu dipegang teguh. Benar lah kata pepatah, banyak-banyak bertanya agar cepat sampai tujuan.



Rute lurus kemudian berbelok kanan, di papan tertulis dusun Sadap. Bertekstur kerikil merah. Jalanan ini tampaknya menjadi jalan umum, meski belum teraspal. Jejak roda empat, membuat garis setengah mengkilat Sepanjang perjalanan akan tampak pepohonan hasil penghijauan, Akasia. Maklum dilihat dari sekilas, daerah ini merupakan sisa pertambangan tahunan lalu. Daerah berpasir. Kolong kadang muncul disamping, menyembul dari celah-celah akasia.

Hingga sampai diujung jalan, menemui simpang dua lagi. Pertanyaannya lagi-lagi, belok kanan apa belok kiri. Feeling lebih memilih ke kanan. Karena kalau dipikir-pikir, di depan arah pandang jalan tampak menuju perbukitan. Analoginya, air terjun pasti berada di daerah pegunungan atau perbukitan. Kejelasan lokasi akhirnya terjawab ketika bertemu dengan pejalan kaki. Kami memang berada di jalur yang benar.
Lambat namun pasti, laju kendaraan akhirnya bertemu dengan jalan aspal. Ini kejutan, sebab sebelumnya jalanan bermedan pasir kerikil merah. Tapi ini tiba-tiba menemukan jalan beraspal. Roda ban kembali mulus meluncur. Ketika lepas beberapa meter, tampak bukit kecil dan makin mulai membesar dan menjulang. Menginjak jalanan mendaki, saat sampai pada perbukitan kecil, benarlah betapa megah perbukitan ini. Besar dan memanjang. Masyarakat sebut ini bukit Pading.

Kami memutuskan berhenti untuk rehat sejenak. Luar biasa megah. Tempat yang lapang di daerah ini membuat suasana pemandangan ke depan begitu besar. Yang menjadi berbeda adalah, disisi kiri jalan, terdapat areal persawahan. Ada beberapa teras tanah yang sedang diolah. Sedangan beberapa lagi, tampak baru ditanam bibit padi panjang setengah lengan orang dewasa. Ini menjadi daya tarik tersendiri. Bisa dibayangkan, bagaimana tempat ini jadinya, ketika padi itu mulai tumbuh menghijau, lalu areal ini tampak dibidangi perbukitan megah nan hijau di depan sana. Mirip foto pemandangan di tanah Jawa.

Hari telah mulai sore, tujuan utama janganlah dilupa. Tak berapa lama, perjalanan kembali dilanjutkan menyusuri jalanan beraspal hingga sampai pada sebuah dusun. Dusun yang bernama Sadap. Tak sulit menemukan lokasi air terjun. Penduduk akan senang hati menunjuk. Bahkan plang sederhana sengaja dipasang di simpang menuju lokasi wisata.



Tak berbeda dengan lokasi air terjun gunung Maras yang berada di kaki bukit, Sadap memang terletak di kaki perbukitan, bukit Pading. Mencapainya perlu ekstra hati-hati, sebab salah-salah bisa tergelincir, apalagi menemui jalan becek sisa hujan semalam. Satu kilo lebih perjalanan, akan berupa tanjakan maupun turunan. Selanjutnya, mulai muncul pondok-pondok petani lokal berjejeran. Ada tiga atau empat pondok di lokasi ini. Pondok kayu beratap rumbia.

Motor parkir disini, sebab katanya jalan di depan tak mempan roda dua apalagi empat. Petani tua yang kami tanya, bersedia menunjuk arah air terjun, beliau juga kami tumpangi kendaraan biar bisa parkir dengan aman. Perjalanan dengan jalan kaki, lantas belok kanan selepas dari pondok tua yang roboh. Kaki mulai berhiking ria. Ini benar-benar bukit. Berbatu dan sempit di sela-sela batu.

Dalam sore yang cerah ini dalam kungkungan pepohonan yang rindang, ketidaksabaran makin menjadi-jadi. Ingin segera menjumpai Sadap. Keringat mulai menetes, nafas memburu. Maklum jalan terjal dan mendaki ditempuh tak kurang dari sepuluh menit, lumayan menguras tenaga. Sekali lagi, perlahan namun pasti, deru aliran air mulai terdengar. Setelahnya melalui celah pepohonan, putih bergaris timbul di antara bebatuan granit.

Ketika turun menginjakkan kaki ke batu besar, air yang lewati celah bebatuan menegaskan kami telah sampai. Lalu ketika melangkah lagi ke hadapan, kami menjumpai aliran air mengalir bebas dalam sudut 45 derajat jatuh ke dasar kolam dibawah. Ini lah sadap.

Dengan lebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter, Sadap tampak perkasa. Air mengalir bebas membentuk garis melengkung kadang lurus, putihnya kontras dengan media batu granit yang berlumut bewarna coklat kehitam-hitaman itu. Ini luar biasa. Dibandingkan dengan air terjun Maras, Sadap lebih besar dan gahar.

Kawasan Wisata dan Pembangkit Listrik
Pada hari-hari libur, Sadap ramai dikunjungi pelancong lokal. Meski sarana jalan belum begitu mendukung, namun tetap saja menarik minat masyarakat sekitar. Cerita dari mulut ke mulut kadang efektif menarik minat orang. Rasa penasaran itu akhirnya membuat masyarakat ingin berkunjung.

Tujuan utama selain menikmati sorga alam ini, juga menghabiskan masa dengan mandi di kolam tempat jatuhan air terjun itu. Berdiameter enam meter, kolam ini cukup luas, kedalamannnya pun sebahu orang dewasa. Selanjutnya, air tumpahan ini mengalir melewati gugusan bebatuan, dari sela-selanya, air bergerilya turun.

Selain itu, air terjun ini juga dimanfaatkan Pemerintah Daerah sebagai pembangkit generator listrik. Pantas, diawal tampak heran juga, ketika melewati pondok dan kebun sahang tampak memanjang kabel listrik. Rupanya ada pembangkit listrik disini. Ada dua rumah generator yang dibangun. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) ini mampu mensuplai listrik ke 153 kepala keluarga (KK). Teknologi ini diarsiteki insinyur dari Bandung. Ketika masyarakat di sejumlah daerah mengeluhkan pemadaman bergilir, di dusun Sadap yang terpencil masyarakatnya terang benderang.

Bukit Pading memang telah menjadi bagian hidup masyarakat Sadap, sekitar tahun 1970 sampai dengan 1980, Perlang ini sempat menjadi daerah penghasil damar. Pohon penghasil getah damar untuk bahan membuat cat ini dulu banyak terdapat di puncak Bukit Pading. Namun era penambangan Timah membuat masyarakat beralih menjadi penambang yang menjanjikan uang yang lebih besar. Selain damar, Pading juga menghasilkan rotan pledes, bukan rotan yang besar seperti untuk anyam-anyaman itu. Sekitar tahun 1980-an banyak yang mencari rotan pledes ini di Pading dan juga sempat menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sadap.

Meski sekarang harga Damar mulai naik, namun minat warga tidak seimbang dengan ketersediaan pohon damar di bukit. Hal ini disebabkan adanya pembalakan liar yang menjadi-jadi. Pohon- pohon besar penghasil damar itu kini mulai berkurang karena ditebang.

Perbukitan Pading memanjang diantara perbatasan dua kabupaten, Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Potensi kehutanannya tidak diragukan lagi. Meski telah ditetapkan menjadi kawasan lindung namun kerap disorot lantaran disinyalir sudah lama menjadi ajang pembalakan liar oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab.
Pading menyimpan ragam pesona, khususnya Sadap. Sayang belum digarap maksimal menjadi wisata yang menawan. Keseriusan dan keaktifan pihak terkait memang sangat diperlukan. Bukit itu hijau dan menjadi magnet bagi banyak orang. Namun demikian, masyarakat Sadap sebenarnya telah menikmati pesona itu, Sadap membuat rumah-rumah berdinding kayu dan beratap seng itu terang benderang, sebuah dusun di pelosok, masih di Serumpun Sebalai. Luar biasa. (aksansanjaya/dari berbagai sumber)
  • i
Posting Komentar