Langsung ke konten utama

Ribuan Warga Pesta Durian

Acara semacam sedekah kampung, dengan mengadakan sedekah durian di desa air mesu pangkalan baru Bangka tengah, berikut foto hasil hunting bersama rekan2 FBI dan berita yang diambil (permisi) dari http://www.bangkapos.com

BELUM lama usai ditumpuk di sepanjang jalan Desa Airmesu menuju kawasan Bukit Trenggiling, belasan ribu buah durian yang dipersiapkan untuk sedekah durian habis diperebutkan, Minggu (24/1) petang.
Siapa saja, tua, muda, anak-anak, pria atau wanita boleh mengambil. Ada yang sekaligus ‘melarikan’ empat durian, malah ada yang lebih banyak lagi. Di pinggir-pinggir jalan, durian itu dibelah menggunakan parang secara bergantian, lalu disantap beramai-ramai oleh ribuan orang.

Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Bangka, utamanya Bangka Tengah dan Pangkalpinang. Ada yang sengaja datang untuk makan durian gratis yang digelar masyarakat Desa Airmesu. Banyak pula dari warga yang kebetulan sedang melintasi jalan desa itu, lalu berhenti melihat keramaian. Mereka diminta turun dari kendaraan untuk bersama-sama menikmati buah berduri yang sedang membanjiri pelosok desa di Pulau Bangka.




Dalam tempo tak lebih dari satu setengah jam mulai sekitar pukul 15.00 WIB, seluruh durian yang jumlahnya pastinya tak terhitung lagi itu tinggal biji dan kulit berserakan di sepanjang jalan dan pekarangan rumah warga.
Pesta durian di Airmesu ini terbilang unik karena baru pertamakali digelar di Pulau Bangka.

Dua hari dua malam, durian di Bukit Tenggiling, Gunung Teve -sebutan warga terhadap Gunung Mangkol- dan sekitarnya yang terkenal dengan sentra duriannya, sengaja ditahan. Durian itu tidak boleh dijual untuk mensukseskan hajatan desa. Oleh panitia acara, belasan ribu butir durian yang terkumpul dari pemilik kebun, dibeli dengan harga pada kisaran Rp 3.000 per butir.

Durian ukuran kecil hingga besar itu lalu diangkut dan ditumpuk di tengah jalan desa menuju Bukit Tenggiling sepanjang sekitar 300 meter. Satu tumpukan berisi puluhan durian. Bau khas yang keluar dari buah itu pun menyebar di sepanjang jalan desa.

Rencana semula, makan durian dilakukan bersama Bupati Bangka Tengah, H Abu Hanifah. Namun karena hujan dan banyaknya warga yang datang, makan bersama durian batal dilakukan. Saking tak sabarnya, warga langsung berebut mengambil sesukanya. Malah, hujan deras yang mengguyur Desa Airmesu sore itu, tidak dihiraukan lagi.
Di tengah riuh rendah warga berebut mengambil dan membelah buah durian, tak sadar lagi jalan desa pun macet total. Bupati yang datang beberapa saat kemudian, lalu makan di sebuah tenda yang disediakan panitia.




“Acara kita set santap duriannya dilakukan bersama Pak Bupati, tapi bagaimana lagi, orang sudah sebanyak itu. Tapi syukurlah, artinya antusias masyarakat sangat tinggi,” ujar seorang panitia sedekah durian kepada Bangka Pos Group, di Desa Airmesu.

Ketua Panitia Sedekah Durian Desa Airmesu, Elman Sugino Sastra menjelaskan, latar belakang acara ini tidak terlepas dari image Desa Airmesu sebagai penghasil durian.

“Sedekah ini salah satu wujud syukur atas melimpahnya hasil durian di desa kita tahun ini,” kata Sas, sapaan akrabnya.

Sebelas butir durian itu, hanya yang dipajang di pinggir jalan. Belum termasuk di rumah penduduk yang disiapkan khusus untuk sanak keluarga, kerabat dan teman-teman yang berkunjung pada hari itu. “Kita akan gelar acara serupa setiap musim durian. Nanti kita berencana mengundang MURI (Museum Rekor Indonesia--red) agar masuk rekor makan durian secara massal,” harap Sas.

Icon Wisata



Anggota Komisi B DPRD Bangka Tengah, Zamhari yang hadir pada kesempatan itu mendukung sepenuhnya acara makan durian bersama tersebut. Malah ia berharap dijadikan salah satu icon pariwisata Bangka Tengah, khususnya kuliner karena baru pertama kali digelar di Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

“Momen ini sangat bagus, bisa dijadikan wisata kuliner khususnya buah-buahan, apalagi Airmesu yang dekat dengan Kota Pangkalpinang, wajar kalau harus mempersiapkan diri menjadi tujuan wisata. Belum lagi, adanya tiga hotel berbintang, peluang ini harus benar-benar dipikirkan pemda,” katanya seraya mengingatkan jangan lupakan fasilitas infrastruktur yang masih kurang.

Bupati Bangka Tengah, H Abu Hanifah juga menginginkan Bangka Tengah menjadi sentra buah-buahan di Babel. Untuk mendukungnya, Pemkab Bangka Tengah memberikan bantuan bibit rambutan, duku dan mangga. Saat ini Pemkab setempat juga sedang mempersiapkan pembibitan 10 ribu batang sukun. (slm/wan/ source : www.bangkapos.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Daerah Bangka Belitung, Lima Lagu Bahasa Bangka

Ada beragam lagu daerah bangka belitung dengan kekhasan masing-masing. Lagu daerah Bangka Belitung adalah lagu-lagu yang diciptakan dari sebuah pencipta lagu sekaligus penyanyi lagu dimaksud. Lagu daerah bangka belitung ini menggambarkan sebuah suasana seperti suka duka hidup berkebun seperti tercermin dalam lirik lagu "Yok Miak", coba resapi lirik lagunya

Inilah Foto-foto Kampus dan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung di Balunijuk

Universitas Bangka Belitung (UBB) semula berstatus swasta berdiri sejak 2006 lalu kemudian resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejak 2010 adalah termasuk Perguruan Tinggi Negeri Baru yang makin menunjukkan kelasnya diantara PTN lainnya.

Penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai dan kini memasuki jalur pertama yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nanti setelahnya akan memasuki periode SBMPTN kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terakhir adalah tahapan SNMPTN.

Setelah Melihat foto-foto berikut, ternyata inilah Wajah Bangka Tempo Dulu

Kalau kini fotografer menggunakan drone untuk memotret dari ketinggian dalam angle bird eye, maka bagaimanakah fotografer dahulu berhasil mengabadikan objek-objek terutama yang berhubungan dengan era kolonial. Itulah yang membuat saya penasaran. Apakah mereka naik pohon yang tinggi?, apakah menggunakan balon udara?, atau menggunakan pesawat terbang.
Setidaknya pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan foto hotel Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing yang dijepret dari sudut mata burung atau langit pada tahun 1935 an itu. Meskipun saya tak menemukan data exif utuh, namun saya yakin tampaknya hotel Menumbing, yang merupakan tempat presiden pertama Ir.Soekarno pernah ditahan tersebut dijepret dari atas pesawat. Sebab itulah opsi yang paling masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi fotografer untuk memotret dengan perspektif mata burung adalah dengan menaiki pesawat terbang pada era sebelum drone.