Jumat, 17 Desember 2010

Jayapura, Kota Teluk Berkilau

>Bepergian ke ujung timur Indonesia, sudah pernah saya tempuh. Saya ingat saat itu, kami harus tidur selama dua hari dua malam lebih dalam bus melewati Semarang, Yogyakarta dan Surabaya, demi sebuah tujuan akhir, Bali. Itu dahulu, ketika kuliah sejak tahun 2001 lalu.

Namun saya tak pernah membayangkan untuk pergi ke Papua, sebuah pulau eksotis di daerah paling timur dari sebuah Negara, bernama Indonesia. Untuk jenis manusia seperti saya, yang manusia biasa, cuma berkutat dari kantor ke rumah, bepergian ke Papua adalah hal yang luar biasa dan tergolong langka.



Syukur kesempatan itu datang, pada 20 November kemarin. Sehubungan dengan acara penandatanganan prasasti UBB bersama empat PT lainnya yang dinegerikan. Dari Bangka Belitung, ada lima orang termasuk dua orang mahasiswa yang terlebih dahulu berangkat. Mereka menggunakan Hercules, terbang dari Jakarta ke Papua sekali jalan.


Sedangkan tiga orang lagi menggunakan pesawat komersil biasa. Rektor UBB, Prof. Bustami Rahman, M.Sc, Wakil Rektor II, A. Fauzi Amiruddin, S.H.,M.M, dan saya sendiri. Terlebih dahulu ke Jakarta. Lalu dengan Garuda terbang melintasi pulau-pulau Indonesia, transit dua kali, di Denpasar dan Timika.

Momen sakral, penegerian UBB memang telah lama ditunggu masyarakat Bangka Belitung. Sebagai sebuah provinsi baru. Bangka Belitung mendambakan punya universitas Negeri. Sebelumnya sudah ada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, STAIN Syaikh Abdurahhman Siddik. Tentu saja momen sakral harus didokumentasikan. Peristiwa sekali seumur hidup, seperti wisuda dan kawinan. Perlu di abadikan paling tidak dalam sebuah foto.



Tugas sebagai tukang foto itulah yang saya emban. Kalau tidak, tak ada kesempatan berangkat. Selain tentu saja, job desk saya yang berhubungan dengan kehumasan. Perlu mencapai lingkar sumber informasi pertama agar data dan informasi valid. Ini bahan untuk publikasi nantinya.

Sebelumnya berangkat dengan bus, kini delapan jam dengan Garuda. Berangkat malam dari Soekarno Hatta. Saya awalnya membayangkan perjalanan bakal membosankan. Jangankan delapan jam, satu setengah jam saja bikin kaki dan bokong penat. Namun bayangan itu sirna.

Pesawat yang kami tumpangi benar-benar full entertainment. Ada layar LCD pada tiap kursi. Bebas memilih model hiburan, ada film, music, foto, berita. Saya memilih mendengarkan musik dangdut, raja Dangdut, Rhoma Irama. Rupanya maskapai ini sangat jeli membaca karakter penumpang. Untuk rute lokal, mereka sediakan lagu-lagu akar rumput. Termasuk saya yang lalu tidur pulas.

Transit pertama kami ke Denpasar. Pagi sekitar jam tiga. Lima belas menit kemudian, pesawat lanjut. Transit kedua ke Mozes Kilangin, Timika. Sebuah bandara internasional. Daerah yang dikenal sebagai tempat dimana perusahaan raksasa Amerika Serikat beroperasi. Menambang tembaga, yang gosipnya juga menambang emas. Wallahu Allam. Bandara Timika juga dibuat oleh Freeport. Layanan jemput dan antar menggunakan Shuttel Bus.

Akhirnya kami sampai ke Papua, sebuah daerah yang berbukit-bukit dan bergunung. Bandaranya Sentani. Mungkin karena dekat dengan danau Sentani dinamakan sama. Termasuk salah satu danau yang terbesar di Indonesia. Hari minggu, 21 November saya benar-benar menjejakkan kaki ke Papua. Sebuah daerah yang cuma saya lihat di tivi. Khas dengan koteka dan perang antar suku. Papua juga adalah provinsi terluas di Indonesia.

Namun saya tidak menemukan itu. Masyarakat di sini, sama seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Kotanya besar, jalan aspal dan berliku. Ini karena kontur tipografi perbukitan. Rumah-rumah banyak yang tinggi. Karena dibangun diatas bukit, bukan karena bertingkat. Kotanya ada Sentani, Abepura, lalu Jayapura. Jayapura adalah ibukota provinsi Papua. Rupanya Papua dibagi dua provinsi. Provinsi Papua dan Papua Barat beribukota di Wanokwari.

JAYAPURA CITY, Kota Berkilau

Jayapura, tempat kami menginap. Adalah sebuah kota teluk dikelilingi perbukitan menjulang tinggi. Teluk ini dangat dalam, sehingga kapal-kapal berbobot besar dapat langsung berlabuh. Sebuah daerah yang sangat-sangat strategis. Untuk mencapainya, diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Sentani. Jalanan berliku, menanjak dan turun khas Jayapura.

Oleh sebab itu, untuk bepergian antar kota, missal ke Merauke, harus menggunakan transportasi udara. Sebab jalan darat belum terhubung, mungkin karena biaya untuk itu sangat besar. Merrauke adalah tempat dimana Universitas Mussamus berada. Mereka termasuk tiga universitas yang dinegerikan bersamaan dengan UBB dan Universitas Borneo Tarakan.

Bangunan paling tinggi dan bertingkat, saya perhatikan cuma ada dua, Bank Papua dan hotel Aston. Lainnya memang tinggi, tapi itu karena dibangun di atas bukit. Melihat Jayapura akan lebih eksotis bila malam hari.

Kota ini menata kotanya dengan apik. Ada area sebagai pusat perbelanjaan. Dibangun ruko-ruko pinggir teluk. Pada malam hari, rumah makan bertebaran di pinggir teluk ini. Jika anda menyantap makanan disini, cobalah untuk makan di rumah makan yang berada di pinggir teluk.

Lampu-lampu kota, gedung dan rumah bersinar terang pada malam hari. Sinar ini menimpa lautan, menampilkan imaji tersendiri. Sebuah kota yang tenang. Berkilau-kilau seperti butiran berlian di hitam malam. Apalagi ada sebuah bukit yang dihiasi neon box raksasa bertuliskan Jayapura City

Jika ke Jayapura, jangan lupa menyantap Papeda, sebuah makanan khas dari sagu. Ini makanan pokok masyarakat pedalaman. Menggunakan sumpit, Papeda yang lembut itu dipilin-pilin. Jangan dikunyah, cukup ditelan saja. Disajikan dengan lempah ikan. Mirip di Bangka, lempah ikannya berwarna kuning. Rasanya pun tak jauh beda.
Kebiasaan orang disini mengunyah sirih. Dimana anda berjalan, di bandara apalagi di jalan. Masyarakat asli suka makan sirih. Tapi mereka tak makan daunnya, mereka langsung kunyah buah sirihnya. Saking seringnya mereka mengunyah sirih, sampai-sampai ada larangan “ Jangan Buang Sirih Sembarangan,” atau “Jangan meludah Sembarangan,”. Mungkin rambu sosial ini cuma anda temukan di Jayapura.

Sopir yang mengantar kami, adalah suku Bugis. Kebanyakan para pedagang adalah keturunan Tiong Hua. Kata nya, masyarakat asli di sini agak susah dalam berbisnis. Itulah selain orang bermata sipit, masyarakat Bugis Makassar serta Jawan mendominasi ekonomi di Jayapura.

Rupanya tiap bukit ada penguasanya. Bahkan, tiap daerah juga punya Kepala Sukunya. Ada sekitar 255 suku dengan bahasa yang berbeda-beda di Provinsi Papua. Jika ingin berbisnis tanah. Anda harus pintar-pintar. Ada cerita, ada masyarakat asli jual bukit. Ketika dibeli, bukan berarti kita membeli tanahnya. Anda cuma beli bukit. Ketika bukitnya habis dipangkas. Tidak secara otomatis anda menguasai tanahnya. Ini kasus yang pernah terjadi kata sopir tadi. Saya lupa namanya. Namun dia betah tinggal disini.

Ada lagi sebuah tempat ditengah-tengah kota, pasar tradisional khusus masyarakat asli. Dibukanya sore hari hingga malam. Ibu-ibu ini menjual aneka hasil panen. Dari mulai umbi-umbian, sayur mayur, buah-buahan, hingga tak lupa buah sirih. Ibu- ibu disini paham tentang duit. Ketika saya mencoba mengabadikannya, saya sempat dibentak.

“Hei Jangan foto, sudah Pa,”, hardik salah satu perempuan penjual.
“Mengapa bu, tidak boleh,” kata Saya
“Sudah, ini tidak boleh difoto, kalau mau foto, 200 ribu saja,” jawabnya. Saya langsung beringsut pergi. Ada was-was juga, dilanjutkan bisa-bisa didatangi para preman disini. Heeee.

Kami tak sempat bepergian melihat-lihat kota Jayapura. Keinginan untuk ke danau Sentani, menikmati nuansanya cuma sebatas lewat saja. Itupun ketika datang dan pulang dari kota Jayapura. Cuaca juga kurang bersahabat, selalu mendung dan kadang hujan. Senin, 23 November ketika SBY menandatangani prasasti lima perguruan Tinggi, esoknya kami harus pulang ke Jakarta.

Berharap membeli koteka, ternyata mahal untuk kantong saya. Itu pun saya temukan di outlet bandara ketika kami transit ke Biak,sebuah pulau di sebelah barat. Bandara terbaik di daerah timur. Bagaimanapun, perjalanan kali ini termasuk luar biasa. Kata orang tua dulu, “Kapan agik, dek sembile lah.” (Aksansanjaya)
  • i

Selasa, 09 November 2010

Terlalu banyak Bicara dan Seremoni

>Saya teringat pada lagu Harry Mukti, yang kira-kira syairnya berbunyi, “jangan banyak kata ketika karam di hati..hanya satu kata…bla- bla…”. Ini untuk menggambarkan tabiat kita di bumi Serumpun Sebalai yang suka berseminar, berkumpul berkeluh kesah. Yang dikeluh kesahkan tak lain tak bukan, kondisi alam kita yang makin hari makin trengginas.

Trengginas karena ekses dari penambangan timah. Bentuk muka pulau ini jelas berkubang-kubang, jika dari atas melihat. Persis seperti kawah-kawah kecil di permukaan bulan. Diandai-andaikan,seperti itu meski saya belum pernah pergi ke bulan.

Saya juga tak harus berilustrasi seperti apa muka pulau ini, sebab deskripsi mengenai hal ini centang perenang diantara kita.

Persis seperti Harry Mukti tadi, gara-gara kondisi ini kita seperti orang panik, yang berteriak-teriak. Namun tak mengejar jambret yang kadung menghilang di balik gang sana. Kita lebih suka bernostalgia mengenai kelekak. Namun tak berniat mencangkul tanah.
Orang-orang pintar, tentu tahu bagaimana menata kondisi ini, teori-teori ekonomi, sosiologi atau pertanian mengalir deras dari mulut-mulut mereka. Derasnya ini ada di dalam sebuah ruang ber AC. Yang sekitar dua jam kemudian, akan senyap seiring bubarnya seminar.

Atau paling banter, seuntung-untungnya, ditinggalkan sebait rekomendasi. Atau notulen. Dari acara bernada seremonial seperti ini. Yang dibawa oleh bapak-bapak dari Jakarta sana. Sudah dan selesai.

Kita kerap, ini karena saya sendiri bagian dari seremoni ini, berhiruk pikuk dengan bencana, masalah pasca timah, ketergantungan, dan perihal negative lainnya.
Ada lagi yang kerap petenteng-tenteng di media, berselebrasi sebagai penyelamat lingkungan. Yang baru sehari dua hari saja. Yang baru membuka sekedar miniature. Yang Cuma menggebrak meja pertama saja, tidak selanjutnya. Yang ini karena kekuatan media.
Menggangungkannya sebagai tokoh lingkungan. Saya tidak akan menyebut nama. Namun ini seperti kontes Indonesian Idol, atau yang terakhir Indonesia Mencari Bakat. Populer mendadak karena tenar, dibikin heboh dan massif.

Komitmen yang seupil, kalau diteriak-teriakin juga bakal heboh. Lantas karena ini orang besar, dalam arti punya akses ke segala arah, maka bisa ditebak, teriakan ini bakal menggema dan membesar.

Yang terjadi, orang yang tulus di pulau Bangka ini seakan sama dengan mereka yang saban hari menggaruk tanah dan laut. Mereka yang iklas lahir batin seakan tak ada lagi dan hilang ditelan alam. Tapi sudahlah, saya tidak akan menuntut atau bercoleteh mengenai keberuntungan orang lain.

Kita dan saya sendiri perlu untuk menginjak tanah dan bermain lumpur. Mencintai setiap tetes embun di pagi hari. Belajar menina bobokan alam dengan syahdu. Kita perlu berkotor-kotor ria. Sebab makin sedikit tipe orang seperti ini. Kita semakin menjauh dari keringat. Kita seolah takut dan paranoid mendengar kata lapangan.
Ia yang berlawanan dengan kantor serta AC tampak menyeramkan. Seolah menyeringai setiap menyebut kata itu.

Harus ada sebuah gerakan nyata, real program. Bukan sebatas meja dan mike atau tertulis saja. Bumi ini butuh lebih dari itu. Bukan sekedar foya-foya. Bukan komoditas politik atau nama baik. Namun sebuah gerakan murni tanpa motif tersebut.

Mulai dengan membuang sampah pada tempatnya. Menanam satu pohon di depan rumah untuk tahun ini. Menciptakan kelekak baru. Tak perlu banyak kata untuk program ini, dan tidak identik juga dengan modal besar. Ia Cuma perlu kerja dan kerja. Apakah anda siap?. (Aksansanjaya).
  • i

Jumat, 29 Oktober 2010

Pantai Tanjung Asmara

>Ini adalah kolase foto pantai tanjung Asmara, sebuah titik pantai di sekitaran kawasan pantai Rebo dan Tikus di Sungailiat Bangka. Dipenuhi dengan kelompok bebatuan granit yang sebagian besar memenuhi bibir pantai ini. Anda juga bisa menemukan pasir putih seperti terlihat di foto tersebut.

Bila suasana cerah, ditandai dengan langit biru dan awan putih, pemandangannya akan begitu amazing. Coba saja anda datang, letaknya tak jauh selepas dari vihara Budha Mahayana dari perjalanan arah Sungailiat. Melewati jalur tikus, terletak di hutan akasia.
Pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan domestic dari Bangka Belitung. Selain berplesir menikmati keindahan alam, para pelancong juga kadang menghabiskan waktu dengan memancing.
Anda boleh datang berkunjung ke lokasi ini. Dijamin pasti menarik dan menyenangkan. Jangan lupa juga bawa perlengkapan dan bekal makan dan minum. Sebab di daerah ini belum tersedia, fasilitas kantin atau toko. (aksansanjaya)
  • i

Senin, 25 Oktober 2010

Adat Budaya Cong Rebut di Bangka Belitung

>Adat kepercayaan warga Tionghoa mempercayai bahwa pada tanggal 15 bulan 7 tahun imlek (Chit Ngiat Pan), pintu akherat terbuka lebar dimana arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar dan bergentayangan. Arwah-arwah tersebut turun ke dunia dengan keadaan terlantar dan tidak terawat, sehingga para manusia akan menyiapkan ritual khusus untuk diberikan kepada mereka berupa pemberian bekal, seperti makanan, minuman dan buah-buahan. Selain itu juga disediakan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, uang dari kertas dan baju-baju dari kertas pula yang memang diperuntukkan bagi para arwah.

Oleh sebab itu setiap tanggal 15 bulan 7 tahun imlek (Chiat Ngiat Pan), warga Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung selalu mengadakan ritual sembayang rebut atau yang sering disebut Chiong Si Ku di setiap kuil dan kelenteng dimana puluhan umat memberikan penghormatan yang diiringi dengan panjatan doa keselamatan dan keberkahannya.

Selain dikunjungi oleh warga Tionghoa yang memang ingin mengikuti ritual sembayang, juga datang warga lainnya yang memang sekedar ingin menyaksikan ritual yang dipenuhi dengan nuansa mistis ini dengan berbagai keunikan lainnya.
Pada ritual acara ini, disediakan berbagai jamuan sesaji yang tersusun rapi. Biasanya diletakkan diatas bangunan khusus yang terbuat dari kayu dan papan. Terkadang dibuat dalam 2 tingkat (bersusun dua lantai tempat sesajian). Terdapat juga patung Dewa Akherat - Thai Se Ja yang dibuat dalam ukuran besar, berbagai patung lain yang terbuat dari kertas seperti patung berbentuk binatang, pesawat, kapal, gedung dan bermacam bentuk lainnya.

Menjelang tengah malam, jamuan-jamuan yang dihidangkan sudah dirasa cukup dinikmati oleh para arwah, sehingga prosesi ritual dilanjutkan dengan upacara rebutan sesaji yang berada di atas altar persembahan. Acara sembayang rebut ini dapat diikuti oleh seluruh pengunjung yang sebelumnya diberikan aba-aba terlebih dahulu sebagai tanda saling rebutan sesaji dimulai. Ada kepercayaan bahwa para peserta yang ikut prosesi rebutan akan mendapatkan bala (musibah) apabila tidak mendapatkan apa-apa saat rebutan. Maka dari itu, biasanya peserta akan mengambil apapun yang masih ada agar tehindar dari bala, disinilah keunikan yang utama dari ritual ini.

Acara puncak dilakukan dengan pembakaran patung Thai Se Ja (sosok raksasa yang sedang duduk dengan mata melotot dimana di tangan kanan Thai Se Ja memegang alat tulis dan tangan kiri memegang buku). Thai Se Ja merupakan Dewa Akherat yang akan membawa para arwah kembali ke dunia Akherat yang disimbolkan dengan patung yang terbuat dari kertas. Pada saat pembakaran patung Thai Se Ja, uang-uang kertas, baju-baju dari kertas dan miniatur rumah dari kertas juga ikut dibakar bersamaan dengan patung Thai Se ja.

Acara puncak ini juga menandakan bahwa arwah-arwah telah dibawa kembali oleh Thai Se Ja kembali ke dunia akherat, sehingga para manusia dapat melanjutkan kembali aktivitas mereka seperti biasa tanpa harus takut diganggu oleh para arwah gentayangan.

Biasanya sebelum acara puncak dilakukan, di sekitar kuil atau kelenteng tempat prosesi ritual diadakan hiburan seperti pertunjukan barongsai dll. Bahkan dibeberapa tempat (Koba, Kabupaten Bangka Tengah) diadakan lelang dadakan sebelum acara puncak dilakukan. Berbagai barang yang dilelang sangat beragam seperti bahan makanan (beras, minyak kelapa,dll), alat elektronik (kulkas, TV, radio,dll), Sepeda dan barang-barang lainnya.

Proses lelang ini di koordinasikan oleh pihak Kuil/Kelenteng setempat. Adapun barang lelang terkadang merupakan sumbangan dari pihak donatur pengusaha Tionghoa setempat. Dalam lelang ini, yang sangat menarik adalah harga barang sangat menarik dan bergerak tak terduga. Dan cara pembayaran juga sangat mudah, setoran awal keikutsertaan yang murah dan jangka waktu pembayaran yang dapat dicicil dalam 1 (satu) tahun. Seluruh dana yang diterima menurut informasi teman Didi (warga Tionghoa), ternyata sepenuhnya untuk kuil / kelenteng setempat. Dan acara lelang adalah salah satu acara yang paling dinanti-nanti banyak orang, terutama warga Tionghoa.

Di kabupaten Bangka, biasanya kuil yang paling ramai dikunjungi oleh warga adalah Kuil Thai Pak Kung yang berlokasi di Merawang (jalan raya antara Kota Pangkalpinang dan Kota Sungailiat).

Pada hakekatnya, ritual acara sembahyang rebut ini menurut adat kepercayaan warga Tionghoa bertujuan untuk saling membantu. Dengan memberikan sedikit dari apa yang dimilikinya untuk ritual ini berarti manusia telah mencerminkan sikap saling membantu dan mengasihi kepada makhluk Tuhan apapun wujudnya. Untuk selanjutnya manusia hanya dapat mengharapkan berkah dan keselamatan bagi hidupnya di dunia dengan memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. (Aksan/ http://www.dukonbesar.com)
  • i

Rabu, 29 September 2010

Jakarta Kota Berpunya

>Pada 2014 nanti, Jakarta diperkirakan lumpuh. Ini seperti anti klimaks dari ego manusia. Ketika materialism adalah ruh dari segalanya. Bahwa bahagia diukur dari seberapa punya. Bagaimana deretan kendaraan ini cuma seroda berjarak, mengular dari ujung ke ujung. Dan seperti pohon tua, ia tampak limbung dimakan asap polutan yang tak pernah henti.



Ketika hujan sehari dua, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus trans, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.

Inilah Jakarta, selama lima hari. Saya membayangkan hidup bagi orang disini, seperti tak ubahnya roda-roda itu. Merangsek dan macet ketika banjir melanda, dan memenuhi badan jalan. Susah bergerak, dihimpit dan dikerdilkan oleh sebenarnya, ego sendiri. Lalu kembali kerumah, tidur lelap mencari udara di langit-langit kamar, Hidup adalah mesin itu sendiri.



Jakarta, kota tua yang dibanggakan. Namun ini seolah serasa menutup mata pada kenyataan, bahwa kota ini tua. Usia, yang bagi orang di kampong-kampung, tak pantas lagi meminggul kayu dan mendayung sampan. Bukan karena malas, namun begitulah hukum alam. Ketika usia, bukan bermakna tak produktif, namun bijaksana dan lebih arif. Ketika produktif, lebih diartikan sebagai pengayom bukan pelaku. Pendidik bukan murid.

Namun, ini masalah pengaturan saja, kata orang disini. Ketika SBY mewacanakan ibu kota pindah ke daerah lain, karenanya SBY lalu dianggap terlalu terburu-buru dan seolah berpaling dari masalah. Kata orang sini, semuanya tinggal menanti waktu, tunggu tanggal mainnya. Ketika masalah utama itu, banjir dan macet mampu diselesaikan. Semuanya akan lancar dan nyaman.

Namun, disinilah letak salahnya. Ketika bicara Indonesia, kita bukan berbicara tentang Jakarta saja, atau Jawa saja. Bukan tentang menyelesaikan banjir dan macet, selepas itu aman. Bukan mengenai itu, ini tentang menghapus ego, identitas sentralis. Bukan tentang orang sini, namun orang sana dan lainnya. Bukan berhitung berpunya dan berapa. Tapi kehendak memberi dan berbagi.

Keberpunyaan kadang melahirkan keakuan mutlak. Muaranya bisa menjadi fanatis yang tak berkesudahan. Saking berpunya itu, kadang juga bikin serakah dan tamak. Tak suka bila dipunya orang lain. Rugi bila orang lain berpunya.

Jadi pantas, bila berbondong-bondong wajah letih itu kembali di pagi hari yang basah, sedari pagi selepas Subuh. Mereka merangsek masuk, merekalah bus dan kereta api itu. Terwakilkan dengan asap dan roda-roda yang berdecit, dengan suara menderu-deru di pinggiran kota. Masuk dengan bayangan sunyi sendiri. Jakarta mengeluh, kembali memperdengarkan rintihan saban hari.

Semakin berpunya ia, maka semakin besar pula wajah-wajah semu itu mendekatkan diri. Demi Jakarta. Kota segala berpunya. Dan kami, manusia di pulau sana, beratap rumbia, masih membakar ubi jalar sambil bernyanyi riang di samar malam. Masih menatap bintang-bintang. Masih mencium wangi bunga kayu gabus belakang rumah. Kami juga tak perlu 3.500 untuk bahagia.*** (aksansanjaya)
  • i

Jumat, 10 September 2010

Selamat Berlebaran 1 Syawal 1431 H

>Saya menjadi teringat ketika lebaran bermakna ceria, yaitu bertamu atau namu dan pistol mainan berpeluru. Lebaran juga mengingatkan pada baju baru dan hari libur. Itu dua puluh tahun lalu. Ketika lebaran, Idul Fitri dimaknai secara berbeda dan berubah-ubah. Menginjak ABG, lebaran berarti safari ke rumah perempuan-perempuan cantik (versi sendiri). Masa-masa kuliah berarti tiket kapal dan tanggal keberangkatan untuk pulang kampong. Maklum, ketika itu kuliah jauh di Jawa.Sekarang lebaran bisa berarti dua hari libur saja, tanpa embel-embel baju baru dan tiket kapal muat itu. Tidak untuk merendahkan nilai dari hari kemenangan ini, namun sekali dua ia pernah bermakna seperti diatas. Jika tidak dikatakan tragis, bisa disebut ini dari hasil berpuasa yang hampa sahaja. Tak bermakna ketika Syawal menjelang.

Padahal bagi sejumlah umat Islam, Ramadhan seperti dinanti. Bulan yang dirindui untuk dicumbui. Ketika amal dihitung lebih tinggi dan doa seolah dekat kepada_Nya. Pantas bila, ada yang menangis ketika Ramadhan lepas tahun ini, sebab belum tentu tahun depan bisa berjumpa.

Ketika lebaran, bermakna seperti hari libur sahaja, tentu tak bisa dipungkiri Ramadhan sebatas ritual saban tahun. Dan tiba hari kemenangan, ia menjadi bertamu tapi hampa. Seperti hari yang kosong di bulan yang senyap.

Mengukur Iman kadang memang tak bisa tepat dan terus naik. Ia kadang terombang ambing diterpa keadaan, biasa dimaknai godaan. Benar, sebab nafsu memang menjadi pemicu dari segala hal yang buruk. Ini nafsu dalam pengertian sempit.

Mengukur kualitas pribadi memang tak mudah. Ini mengapa, ketika shalat Ied, ramai yang datang, meluap hingga ke lapangan parkir. Sedang pada sholat Jum’at, ia mengerucut ke depan. Menyepi. Kita sering terpaku pada ritual, namun kosong di hati.

Lebaran tahun ini, seperti awal yang baru. Bukan sebatas hari libur dan ritual bertamu saban tahun. Namun lebih dari itu. Sebuah hari yang memang hari kemenangan. Sebuah hari ketika kita merasa, telah melakukan yang terbaik ramadhan lalu. Ada senyum di hati kecil. Tanpa merasa kosong.

1 Syawal 1431 H. Lebaran bagi kita semua. Mudah-mudahan bisa berjumpa lagi di tahun depan. Selamat lebaran. (Aksansanjaya)
  • i

Rabu, 08 September 2010

Kundi, Potret Dusun Pesisir yang Makmur

>Sebagai desa pesisir di Utara Bangka, Kundi hanyalah sebuah daerah pesisir antara yang berada di selat Bangka. Lebih tepat disebut kelurahan, sebab ada beberapa dusun didalamnya, diantaranya air menduyung, Lambu, Mandung. Untuk menuju ke desa ini, cuma satu jalur. Letaknya jauh menembus hutan lebat. Pantas bila disebut, desa terisolasi.

Bagi orang luar, mendengar kata isolasi, maka dipikiran, mereka berada digaris kemiskinan. Makan sehari sekali kadang tidak. Bersekolah pun tidak. Apalagi mempunyai rumah yang layak, yang ada dibenak kita mereka pastilah berumah dinding kulit kayu dan beratap ijuk. Namun, imaji ini sangat kontras ketika anda berbicara tentang dusun dalam konsep masyarakat Bangka Belitung.

Dusun bagi Bangka Belitung, merupakan penyebutan tempat saja. Dan sebagian dusun ini bagian besarnya, jauh dari kesan bawah diatas. Mereka punya rumah yang layak huni, tempat tinggal yang asri. Makan nasi, berlauk enak. Akses pendidikan yang mumpuni. Yang tak mereka punya adalah akses untuk hiburan. Kembali ke soal makan, lauk bisa jadi berlimpah apalagi untuk Kundi, yang berada di daerah pesisir.

Geografi Kundi yang berada di selat Bangka. Membuat laut sedikit dangkal, dan aliran sungai Musi menyebabkan laut keruh. Ini menjadi tempat tinggal yang cocok untuk udang dan kepiting. Hasil laut ini terkenal. Udang satang dalam ragam ukuran begitu menggoda mata.

Berdasarkan pengamatan, dusun atau desa di tempat ini tidak lah miskin-miskin amat hingga harus antri beras atau sembako dalam acara tertentu. Tidak seperti yang di tivi-tivi. Masyarakat Bangka Belitung tidak terbiasa dengan acara antri hingga pingsan itu. Bukan seperti itu memang sedari dulu.

Memang tak bisa dipungkiri, ada beberapa daerah yang boleh dikata sangat miskin. Namun semiskin-miskinnya penduduk Bangka Belitung, tak ada yang sampai menjadi pengemis atau gelandangan. Kalaupun ada, itu merupakan penduduk luar daerah yang sengaja datang ke Bangka.

Patutlah kita berbangga sebab, Bangka Belitung meski dihantam pertambangan sana sini, namun rakyatnya tetap tenang dan kondusif. Meskipun begitu, peran aktif elemen masyarakat tetap diperlukan bagaimana menjadikan daerah ini maju dan semakin berkembang.(aksansanjaya)





  • i

Sabtu, 21 Agustus 2010

Bau atau Wangi ???

>Indera penciuman kita seringkali meningkahi kita pada memori-memori yang tersimpan di laci hati. Hidung dengan sejumlah syaraf di dalamnya, menegaskan sebuah perulangan dari beberapa keadaan terdahulu. Bulu halus yang bersarang di dalamnya itu, menangkap aroma tertentu yang ternyata ia adalah sebuah de javu.

Dari badan kita, yang murni itu pada dasarnya mengengeluarkan feromon yang bagi sebagian ini menarik lawan jenis. Sama halnya hewan. Barangkali, ini memang telah diskenariokan ketika minyak wangi belum ditemukan pada abad-abad ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua-gua.

Ketika manusia mengenal minyak wangi, cara konvensional dengan memajukan hidung tak lagi dilakukan. Cukup dengan berjarak saja. Maka bau kesturi atau kemenyan itu akan dengan sendirinya terbaui. Cukup lama kemudian manusia menciptakan kemasan untuk pewangi.

Kebudayaan kadang tak statis. Sebagai olah manusia, ia seiring dengan kemajuan. Meski untuk beberapa tempat, ini Cuma sebatas teori saja. Buktinya di Irian jaya atau di Afrika, pada suku pedalaman. Disangsikan mereka memakai khusus pewangi.

Berbicara minyak wangi ini kadang memberi kita sebuah penanda. Selain gambar, saya fikir bau cukup berperan dalam menyampaikan pesan. Istilahnya non verbal. Seperti tersebut diatas, wangi memberi kita semacam tanda ada sesuatu mengenai wangi ini. Wangi adalah penyebutan positif dari proses bau atau membaui

Dan pertanyaannya, pernahkah kita merasa teringat pada sebuah peristiwa atau seseorang ketika membaui wangi dari tubuh seseorang. Ini lah yang lalu wangi menjadi pengungkit akan sebuah masa lalu. Membuat kita jadi teringat-ingat kembali.

Lantas inilah yang kemudian menjadi soal dari membaui ini. Sebab, masa yang terungkit itu bisa jadi sebuah mimpi buruk. Kenangan pahit yang sempat kita rasakan dan ingin kita hapus dari benak. Jika itu adalah sebuah kenangan bahagia, tak menjadi masalah.
Karena otak kita tidak serendah otak computer maka, otak kita tidak menganut prinsip hapus atau tulis ulang. Program ketikan yang salah bisa kita hapus dan hilang tak berbekas di computer pribadi. Sesimple itu kerja perangkat computer yang bekerja atas kuasa sang pemakai.

Sayangnya ini tak berlaku untuk otak manusia yang tersusun atas milyaran sel ini. Cara kerja maha canggih ini membuat manusia tidak serta merta bisa menghapus memori. Manusia cuma bisa menunggu dan menunggu ketika kenangan itu secara otomatis terhapus dalam memori otak. Ini pun jika seseorang menginjak sepuh. Otaknya telah mengalami aus yang sangat. Atau jika ia terjatuh dari ketinggian, atau sebab khusus lain yang membuat otaknya kehilangan daya ingat. Ini biasa disebut amnesia.

Kata “daya ingat” ini lah merupakan program maha canggih yang tak bisa kita temukan di perangkat supercanggih di jagad ini. Luar biasa.

Begitulah ketika saya suatu ketika berpapasan dengan seseorang dengan parfum tertentu. Dan ini ibarat Russian rollet, jika beruntung kita akan menjadi teringat pada sebuah sosok yang pernah membahagiakan kita. Namun jika sedang tak mujur, kita akan teringat-ingat pada sosok yang pernah membuat kita sakit hati.

Namun bagi saya, yang paling tak mengenakkan adalah, ketika menjadi teringat pada sosok yang membuat rasa sesal. Sebuah perasaan yang jelas sangat tak mengenakkan, jauh dari sakit hati, namun rasa sesal. Merasa bersalah yang kadang tak bisa kita tebus untuk waktu yang lama.

Atau wangi kadang tak berarti apapun,ia pengharum disebuah suasana yang sumpek. Ia menceriakan hari yang gerah. Semoga cukup seperti itu saja tak lebih.***
  • i

Jumat, 20 Agustus 2010

Bukan Elegi

>Kita berpendar suatu masa
Lepas setahun sejak pertama merona di dinding lusuh,
serta kursi lapuk hampir patah
Dunia dilingkupi awan biru bergumpal itu,
Pernah mencari pasti di debur Batu Dinding
Yah, lepas setahun ketika kita bersemu merah
Saling Berbalas…

Kita berjibaku dalam asa yang tersenggal
Seterusnya merintih dalam jarak,
Menjadi petualang di udara lembab tengah malam

Syahdan dalam drama monolog, Kita adalah aku dan bayangan
Bersemi diantara karang…jauh dari hiruk rumput laut dan tiram
Dalam diam…kita yang bersuka


Pernah kita berjarak diam, memilih rentang takdir masing
Kemudian berpura untuk acuh,
Meski kelabat bayang tetap kita nanti diwaktu yang jarang

Waktu menduakan, namun ia menyatukan
Dimana aku dan kamu menantang matahari pagi bulan ini
Untuk sesuatu yang jauh dari terma itu

Lalu kembali terdiam, mencoba meraba hati
Bicara pelan namun takut...diam yang menyakitkan...
Kita menahan rasa yang berat sambil menakar diri
Semacam perih...serasa luka sejuta kali

Tidak...bukan untuk perih atau elegi kali ini
Bukan perihal tercampakkan di jurang itu
Bukan tentang perjamuan terakhir, lepas itu mati

Ini untuk cinta yang bersarang...ia samar yang kadang memutih
Ia yang kita bela, namun dengan cara yang salah,
Seandai butir pasir laut itu, menderai halus...pelan...
Hampa ketika lewat angin laut yang bawa ia lari sedari pagi

Ini bukan sesaat, ini tentang kegelisahan masa depan,
Bukan tentang hampa terbawa angin pagi,
Aku menyayangimu, kala pertama mencari jemari di sore yang basah
Sebuah asa untuk lepas dan terbang kemana kita suka...berdua
. ***
  • i

Selasa, 10 Agustus 2010

Vertikalisasi Keyakinan

>Ini momen detoksifikasi. Penyucian diri dan juga jiwa. Setahun sekali, Ramadhan menjumpai. Satu Milyar lebih, umat akan menahan diri dari makan dan minum. Demi sebuah keyakinan. Sebuah ideologi sejak 1400 abad lampau dicetuskan. Berpantang ini bukanlah sebuah hal dibuat (tradisi atau budaya), namun karena sebuah hubungan atas dan bawah. Vertikalisasi !.

Bukan mempersoalkan tahan untuk tidak makan atau minum, namun lebih dari itu. Ada kepasrahan. Ada perlombaan. Pasrah bahwa manusia adalah sesosok makhluk. Dan ia memang diciptakan. Kepasrahan total, atau dalam nada lain ia bermakna tawakal. Sadar dan pasrah bahwa berpantang adalah penyerahan diri pada sang Khalik, pencipta dari zat yang ada di semesta. Lepas dari semua atribut sosial, dimana bulan ini, kita adalah sama di hadapannya.

Ada nuansa perlombaan. Tentang bagaimana kita bergiat memperbanyak amalan. Merajinkan diri untuk selalu tawaddu dan merunduk. Lebih dari 17 kali mencium tanah. Memberi bukan sekenanya, tapi berniat menghilangkan rasa tak nyaman, sehingga senyum itulah yang menyala ketika tangan kanan menelungkupkan kepada terkasih. Tiada sesal.

Yah, tiada sesal atau sengaja membikin kesal orang lain. Ucapan sengaja dijaga. Direndahkan sebagai sikap bersahaja. Semua yang keluar dari mulut adalah kemurnian keberagamaan. Totalitas pada sikap tawaddu' tadi.

Puasa juga seperti pohon karet belakang rumah, yang suatu ketika meranggas. Namun bukan berarti mati. Ia akan hidup pada masanya. Berdaun semakin hijau lalu rimbun. Membesar dan menaungi organisme dibawahnya. Seperti itu lah kita, semakin banyak berpuasa, semakin tua usia. Seharusnya semakin bermanfaat bagi sesama.

Puasa ibarat tes keimanan. 30 hari akan merupakan masa penggemblengan. Suka atau tidak, mau atau tidak mau, ia adalah waktu yang datang menyapa. Seberapa jauh kadar iman, akan terindikasi kurang lebih sebulan ini.***
  • i

Kamis, 08 Juli 2010

Negeri Para Karnaval Warna Warni

>Negeri Warna Warni

Kertas itu tertanda pejabat tinggi di Negeri ini. Isinya himbauan lalu dilampirkan isi dari surat itu. Penawaran partisipasi memeriahkan HUT Kota dan Kemerdekaan. Ini yang paling penting dari surat edaran ini. Selanjutnya, brosur ini akan menjelaskan angka-angka partisipasi, dari 5 juta terkecil hingga puluhan juta rupiah. Bentuk partisipasi itu ada yang sekelas banner, spanduk, baligho hingga balon udara dan Gapura.


Begini lah Negeri Serumpun Sebalai. Pulau ini suka dengan kemeriahan. Jika menginjak Ulang tahun provinsi, maka partisipasi itu akan berupa buku. Jika menempuh Ulang tahun Kemerdekaan, akan berupa Gapura dan Spanduk. Jika menyangkut program atau agenda pemerintah bertopeng pembangunan, partisipasi itu berupa yang tadi-tadi pula.
Selalu berbicara partisipasi dan angka nominal yang kadang kala jauh dari kenyataan di percetakan. Harga yang lumayan fantastis. Untuk ukuran spanduk sepanjang dua meter saja ditawarkan angka 900 ribu rupiah dari yang semula 100 ribu. Ini lah Negara warna warni.

Akibatnya di jalan-jalan utama, mereka yang bernama spanduk, umbul-umbul, baligho dan semacamnya ini bergerombol memenuhi ruang. Anda akan dipenuhi dengan kata dan gambar. Tanda-tanda ini sekali lagi bermakna sama. Ritual penghilang jemu. Tak lebih.
Kata orang Bangka, “lah bantot”, “ lah mengkual bin mantak,”

Saya kadang kala berfikir ini sarat motif. Mudah-mudahan salah, ini jelas sekali ajang mencari duit singkat dari pihak-pihak tertentu. Tanda tangan pembesar dirasa-rasa mampu dan ampuh agar “proyek” ini bisa disetujui calon partisipan. Bayangkan saja, angka 800 ribu keuntungan dikali kan dengan order enam spanduk, jumlahnya akan mencapai 2.400.000 rupiah. Ini untuk kategori order paling minimal. Kalikan saja dengan angka 10 partisipan yang mengorder. Para penikmat jalan sempit ini akan mengantongi duit segar Cuma-Cuma 24 juta rupiah. Hanya dari sepuluh partisipan untuk order paling minimal.

Anda bisa bayangkan untuk pemesan sekaliber PT.Timah atau Kobatin, atau rekanan insitusi pelat merah lainnya. Berapa angka segar yang bisa mereka dapatkan.
Praktik semacam ini telah mulai melebar dan sengaja dilebar-lebarkan. Seperti yang di awal tadi, dari mulai Ulang Tahun Provinsi, Agenda Pemerintah Daerah atau Pusat, Program dari Punggawa Daerah, Ulang Tahun Kabupaten, Penyuluhan. Pun kalau bisa, setiap bulan inginnya ada acara partisipasi seperti ini. Bahkan tak jarang, saking seringnya, kadangkala dalam suatu masa sempat terjadi bentrok order. Satu tertanda tangan dari orang nomor satu di Negeri ini, satunya orang nomor dua. Odernya serupa tapi tak sama. Mirip-mirip meski berbeda bungkus.

Saya pada dasarnya mencintai warna. Semakin banyak warna akan semakin indah hidup. Lagian memang tak ada salah merayakan even-even tertentu demi kelangsungan kesadaran (awareness continuity) bahwa kita memang hidup sebagai sesama dalam sistem. Kesadaran yang coba dipelihara melalui tanda-tanda yang sesungguhnya kurang efektif karena terlalu. Pada dasarnya terlalu mengobral.

Namun sekali lagi, terlalu sering kadang bikin tak kuat lagi, “lah ringem”-idiom kita. Karena media display itu tidak akan efektif dan efisien. Tujuannya terlalu dangkal dibanding dengan dana yang telah dikeluarkan. Atau ini penanda kurang kreatifnya pemegang kuasa di negeri ini, Peringatan merupakan rangkaian kegiatan serupa tahun demi tahun. Peringatan dimaknai dengan hiruk pikuk dan ritual jalan kaki dan bazaar murah.Kita, masyarakat negeri ini kasak kusuk selalu dengan tanda-tanda yang itu-itu saja.

Ada banyak ide segar sebenarnya, kasih contoh saja mengadakan pengobatan gratis, sunatan massal, operasi katarak, bedah rumah, bantuan perahu nelayan, pembuatan jamban sederhana, membersihkan saluran air, membersihkan daerah aliran sungai, dan seabrek agenda kreatif lainnya.

Bisa juga kata kreatif sengaja disimpan dan ditinggal. Ia konsep yang tak layak untuk tema-tema publik. Kreatif lebih cocok untuk kepentingan pribadi atau segelintir manusia yang dekat dengan kuasa. Kembali ke atas tadi, kreatif memanfaatkan ruang publik, kedekatan dengan penguasa disertai dengan motif. Motif yang kita semua sudah ketahui dengan jelas dan centang perenang itu.

Inilah negeri warna warni, berselimut warna-warna cerah, dan tanda kemeriahan, keagunan, keramaian. Pada ritual yang sebatas tema perulangan sejak kita kecil. Pidato dan basa-basi karnaval. Lalu kita menyibukkan diri sebagai penonton pinggir jalan. Panas lalu demam di pojok kamar papan tua. Tragis. (aksansanjaya)
  • i

Kamis, 01 Juli 2010

Bukit Siam Sungailiat

>Berplesir di Bukit Siam
Wisata Pinggir Kota Murah meriah




Sungailiat mungkin termasuk kota yang unik dan khas. Hal ini dikarenakan posisi kota yang terletak seolah terapit oleh lautan dan perbukitan. Yang membuat unik adalah pada jalan utamanya yang lurus saja, tanpa meliuk-liuk seperti ular. Jadi jika anda memejamkan mata sambil mengendarai kendaraan bermotor, mungkin anda akan aman saja hingga ke terminal sana.

Lautan disebelah di Selatan Sungailiat, menghampar dan meliuk-liuk sesuai kontur wilayahnya. Bersentuhan langsung dengan laut Cina Selatan, ombak di pantai Bangka tergolong tenang-tenang saja. Berbeda dengan daerah tepi Samudera, seperti Bali atau Hawai, di Bangka Belitung terutama Sungailiat, tidak ada yang namanya kegiatan surfing.
Karena ombak laut yang tergolong aman dan terkendali ini, maka daerah tepi pantai menyisakan kontur tepian dengan hamparan pasir putih. Proses abrasi menyisakan sedikit demi sedikit tanah.

Penggerusan ini kadang menimbulkan pantai dengan hamparan pasir putih yang luas, seperti Matras. Namun kasus yang berbeda jika daerah tersebut dipenuhi bebatuan granit. Pantai dengan pasir putih tidak terlalu luas. Sebab granit sebesar mobil atau rumah senantiasa menjadi pelindung dari abrasi yang makin hari makin ganas.

Namun kali ini, saya tidak akan berpanjang lebar mengenai laut terutama pantai. Pada tulisan saya sebelumnya. Ada banyak cerita tentang pantai-pantai yang ada di Bangka Belitung, khususnya Sungailiat. Saya akan bercerita mengenai bukit yang membidangi kota Sungailiat.






Sungailiat menjadi khas, karena adanya perbukitan di sebelah utaranya. Ini menurut saya unik dan khas, karena berbeda dengan kota-kota lain di Bangka Belitung. Sebelumnya saya bercerita mengenai bukit Fa Thin San yang berada di Lubuk Kelik. Bukit yang kemudian terkenal karena menjadi pusat ibadah/ ritual umat Budha di Sungailiat.

Jika anda pernah mendengar kata Siam, atau bertanya pada masyarakat Sungailiat dimana bukit Siam. Saya yakin akan banyak yang tahu. Bukit Siam, masyarakat sering menyebutnya merupakan bagian dari perbukitan yang terletak paling ujung kea rah Barat.

Kini menjadi tempat stasiun relay milik Pemkab Bangka. Berkat bukit ini sejumlah stasiun tivi swasta bisa diakses oleh sebagian besar masyarakat kota Sungailiat. Tingginya diperkirakan sekitar 100 meter. Untuk mencapai lokasi ini telah tersedia jalan masuk yang berkelok-kelok, dengan tanjakan paling tinggi sekitar 70 derajat. Jalan mencapai puncak telah di-paving blok dengan lebar sekitar dua meter. Tak heran, jika sejumlah masyarakat memanfaatkannya untuk berplesir sambil jogging atau tracking. Untuk keatas, bila berjalan kaki lumayan berkeringat.

Bila sampai ke atas, anda akan menemui dataran seluas 10 meter persegi. Disinilah tempat makam atok Siam. Dulunya terdapat rumah pelindung untuk makam tersebut. Dari sini pula penamaan bukit Siam. Luas dataran ini berbagi dengan rumah penjaga tower relay dan tower itu sendiri.

Pepohonan masih tumbuh dengan subur dan rimbun. Ketika sampai diatas, hawa dingin menerpa anda meski itu cuma rasa-rasa. Pun bila dirasa-rasa, memang ada benarnya. Karena adanya pepohonan nan rimbun itulah. Seluruh sungailiat bisa anda pantau dari ketinggian ini.

Pandangan seluas mata memandang akan sampai ke laut. Perumahan penduduk. Perbukitan di daerah pantai Rebo dan sekitarnya. Jalan-jalan. Perumahan Pemda. Tower-tower operator. Sungailiat memang amazing, kata Tukul Arwana.

Selain pepohonan, ada bebatuan granit juga yang memperkokoh bukit ini. Rupanya bukit di Bangka Belitung, memang didukung kontur bebatuan granit. Wisata ke atas, yang bisa anda nikmati adalah pemandangan ini saja. Namun, saya yakin sensasi memandang dari ketinggian akan berbeda dibandingkan didataran biasa.







Ada semacam kebebasan tersendiri. Ada pelepasan dan rasa senang. Harap dicatat, untuk mendapatkan pemandangan seperti ini, bukankah kita harus naik dulu. Berkeringat dulu. Sensasi ini yang mahal.


Jika suatu hari ingin ke bukit ini, jangan lupa membawa tempat sampah. Ini kalau anda membawa makanan. Sebab dikuatirkan anda akan membuang sampah sembarangan. Boleh percaya atau tidak, saya menemui bocah-bocah umur 7 tahunan sedang mengumpulkan gelas mineral plastic di ketinggian ini. saya jadi berfikir, sampai sejauh ini kah masyarakat kita membuang sampah?.

Saya pernah berandai-andai, dan ini sebenarnya bisa dilakukan. Bagaimana jika Pemerintah Kota Sungailiat, membuat tulisan di bukit itu, seperti bacaan Hollywood di Amrik sana. Kata Sungailiat yang didirikan di pinggir bukit itu saya yakin akan menjadi trade mark yang tak akan terlupakan. Selain tentu saja menyiapkan tempat sampah. Semoga. (aksansanjaya)
  • i

Senin, 14 Juni 2010

Jazz on the Beach

>Jazz on the Beach pada 12 Juni 2010 bertempat di Parai Beach Resort & Spa, Bangka. Acara yang merupakan bagian dari Visit Bangka Belitung 2010 akan dimeriahkan oleh Fariz RM, Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge, sepeninggalnya Tompi, lalu Hani Firawan yang tak lain putri mantan Kapolda Metro Jaya Firman Gani. Selain itu turut hadir pula Andara Rainy, Putri Pariwisata Indonesia 2009.


Pulau Bangka sendiri merupakan salah satu destinasi atau tujuan kunjungan wisata. Sejumlah maskapai penerbangan termasuk diantaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya, Mandala, maupun Batavia Air memiliki rute tetap menuju pulau yang banyak memiliki pantai nan cantik ini. Menyebut nama Bangka tentu saja selalu terkait dengan Belitung, yang pamornya melesat setelah film Laskar Pelangi mengambil setting di pulau tersebut. Pantai Parai merupakan pantai paling indah dideretan pantai timur Pulau Bangka.

Ide penyelenggaraan Jazz on the Beach seperti dijelaskan Dwiki Dharmawan, “Idenya datang dari Pak Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementrian Budpar RI dengan pak Johny Sugiarto”. Nama yang baru disebut Dwiki tersebut tak lain merupakan bos tertinggi di El John Group.

“Melalui musik Jazz, Bangka Belitung ingin lebih dipromosikan keindahannya terutama pantai Parai di Bangka”, tambah Dwiki. Sejumlah tamu dari Jakarta maupun wisatawan mancanegara juga dipastikan akan datang menikmati keindahan pantai ditambah alunan merdu musik jazz nan rancak.


“Saya mengajak Fariz RM agar audiens bisa bernostalgia dengan nomor-nomor hits seperti Barcelona, Nada Kasih, Sakura dengan nuansa Jazzy”, jelasnya.

Sejumlah musisi diajak untuk mendukung antara lain Gerry Herb (drums), Didiet (violin), Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (gitar), Zainal Arifin (perkusi).(dikutip dari http://www.wartajazz.com/news)

Foto-foto Jazz on the beach, taken by aksansanjaya









  • i

Senin, 07 Juni 2010

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

>Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi lautan, kadang menabrak karang mengantam badai. Untuk singgah dan menetap lalu akhirnya beranak pinak.

Atau ketika bangsa Fu-Jian, didatangkan secara massal mengorek tanah, mencari timah dengan teknik yang sama persis dengan sekarang itu, pastilah manusia yang paling rajin dan peduli dengan sesama.

Lantas mengapa lalu, ungkapan itu menjadi demikian negative arahnya.

Saya yakin ini pembiasan makna, atau pemakaian ungkapan yang salah dari mereka yang belum paham.


Ketika, ada teman mengajak bersosialisasi dengan ikut kegiatan kelompok, dijawab dengan, “da kawah nyusah,”, ketika ada teman mengajak kursus atau belajar kelompok, dijawab, “ da peti renyek, da kawah nyusah..e,”

Ini lah pembiasan makna. Pemakaian ungkapan yang kurang mengena. Ketika kerap dipakai dalam masyarakat, kata ini lalu melekat pada sesuatu hal yang malas, tak suka pada hal yang baik., ia menyebar dan menjadi kalimat umum.

Ungkapan ini selayaknya, untuk sesuatu yang negative. Missal, ketika ada teman mengajak nongkrong atau hura-hura tanpa maksud jelas, tak ada salah kita bilang, “ da kawah nyusah,”, kemudian ada yang mengajak bergabung di organisasi tanpa identitas dan bervisi nda jelas, seperti teroris, boleh lah kita dengan sekeras dan selantang berkata, “ da kawah nyusah,”

Untuk hal-hal yang baik, ungkapan dimaksud, hendak nya tidak dipergunakan. Namun untuk sesuatu yang merugikan diri atau orang lain, kalimat “ da kawah nyusah,” boleh kita suarakan sekeras-kerasnya.

Kesalahan kita adalah belum memahami dengan patut, dalam mempergunakan bahasa tertentu.

Bagi orang Bangka, “ da kawah nyusah,” sejatinya untuk penegasan bahwa kita menolak baik lahir atau batin untuk hal-hal yang merugikan diri atau orang lain.


Bahasa pada dasarnya tidak bersalah, ia bagian dari produk budaya. Kata- kata itu merupakan peradaban lokal sekaligus kearifan lokal.

Sekali lagi bahasa tidak salah….
  • i

Selasa, 01 Juni 2010

Ketika Kulong itu Jernih

>
One Day at '80 in Bangka

Pulau Bangka, saya menjadi teringat pada masa silam. Ketika kolong masih jernih, dan kami bersuka memancing ikan atau bermain perang-perangan lumpur. Meski lahir di tahun 80-an, namun masa itu, tambang tak bisa ditemukan di mana-mana. Alhasil, alam masih menyimpan wujud nya yang alami. Air masih jernih mengalir, dari tumbik-tumbik di ujung atau tengah hutan. Pohon Gabus, masih menyimpan tawanya pada malam hari, wewangian khas bunga nya susah sekarang untuk ditemui.’

Pada bulan-bulan penghujan, langit menumpahkan airnya ke bumi. Dan aliran kolong menjadi keruh. Namun itu tak lama kadang tak lebih dari sehari, ketika langit mulai cerah, air yang meluap itu akan kembali jernih. Sebelumnya, beberapa orang telah memasang jaring atau tebak untuk menjebak ikan. Ikan seluang, ikan tanah, ikan baung itu akan terperangkap di tebak masih dalam keadaan hidup.

Gelombang air yang massif itu juga berkah bagi kami, anak kecil yang baru belajar berenang atau cuma ikut-ikutan meski tak bisa berenang. Gabus itu lah pelampung. Memanfaatkan aliran derasnya, mengapung sambil berenang bebas dari hulu ke hilir menjadi amat mengasikkan. Ketika ke hilir, akan bertemu induk kolong. Lalu bersusah-susah kembali ke Hulu. Begitu seterusnya.


Gabus yang kami naiki semacam kendaraan yang mesti dijaga, sebab kayu gelondongan yang kami tebang susah-susah itu bisa berpindah tangan karena dicuri anak lain. Semakin besar gabus, maka akan semakin beharga ia.

Hujan yang mengguyur desa, membuat sebagian kolong meluap, namun rumput dan tumbuhan air yang menjadi penghalang agar air tak bisa meluap ke segala arah. Ketika surut, aliran air akan membekas dalam rebahan rumput dan tumbuhan air yang berkelok-kelok.
Tak ada yang meringis ketika penghujan. Namun suka itu lah.

Ketika musim kemarau melanda, pada bulan-bulan agustus, menjelang dan mendekati puasa Ramadhan. Sungai kecil kami akan surut bahkan kering. Tinggal kolong diujung sana yang makin menipis. Namun ini juga berkah bagi kami.

Sebelum benar-benar kering pun, kami sudah mencari akar tuba. Tumbuhan ini ampuh sebagai racun alam bagi ikan-ikan di lubuk-lubuk. Ada sejumlah kolong sebagai tempat pavorit dalam menuba, kolong Mus atau kolong Kaffa. Kolong ini terkenal akan ikan-ikannya yang super besar, ada ikan gabus, kiung, kepuyu, ikan tanah, ikan kelik, belido, baung, ikan seluang. Yang paling khas rasa dagingnya adalah ikan Kiung. Rasanya khas dan special.

Tuba menjadi barang mahal ketika kemarau tiba. Saya masih mengingatnya, ketika perasaaan untuk Menuba itu muncul di ubun-ubun, pernah suatu ketika bersama teman kami nekad menggali tuba di halaman belakang rumah tetangga. Sampai diancam dengan parang. Saking nekadnya, kami mencari dan menggali tumbuhan yang dirasa-rasa mirip tuba itu. Digali, ditumbuk-tumbuk lalu dibaui. Bau tuba yang khas semacam narkotika. Menjadi sensasi tersendiri.

Kami anak kecil sekecil itu sebenarnya perusak alam juga, namun pada dasarnya tidak demikian. Kalau dipikir-pikir, Tuba tak masuk golongan unsur berbahaya kimia. Racunnya alami, Cuma bisa bikin pusing ikan-ikan. Lagian tak ada yang benar-benar mati.

Kemarau tiba adalah masanya bersuka-suka di kolong. Di sekitar desa Kenanga, ada beragam kolong yang menawarkan wahana bermain. Ketika sore menjelang, selepas bermain laying-layang di daratan pasir dan kenyang akan buah kerakmunting. Kami bergegas menceburkan diri ke kolong. Mau kolong mana, tinggal pilih saja, ada kolong Sa’I, kolong Mau, Kolong Temper, yang paling pavorit adalah kulong Temper.

Luas kolong yang lima kali lapangan bola itu, menjadi wahana berenang. Gerombolan anak-anak dari daerah seberang, atau kelompok lain akan beradu berenang dari ujung ke ujung. Beramai-ramai, menggunakan gabus atau jerigen air minum besar itu. Ramai, belum lagi masa bermain perang-perang kariamon atau tanah liat (tanah licek), air mendadak kotor dan keruh.

Inilah lalu mengundang kemarahan ibu-ibu yang asik mencuci di pinggiran. Ocehan mereka tetap saja tak mempan di telinga anak-anak. Hingga suatu ketika, ada yang berteriak, buaya atau buyut, makhluk halus penunggu kolong. Kalimatnya, “ Hoi buaye, buyut ni ade ayem !”. Bergegaslah gerombolan anak-anak secepat kilat berangkat dari kolong dan mulai membersihkan diri. Untuk bergegas pulang.

Masa-masa ini, banyak dari mereka yang akan sakit mata. Ketika bangun tidur, mata akan susah dibuka karena tertutup kotoran. Namun anehnya tak menyurutkan niat. Obatnya sederhana, katanya…ini katanya, diusap saja dengan air seni atau tai idung. Hee. Ada-ada saja.(aksansanjaya)
  • i

Senin, 31 Mei 2010

Plesir ke Pulau Nangka

>aN aDVENtuRE to NANGKA

Pulau ini dibandingkan dengan pulau lain yang ada di Kabupaten Bangka Tengah lebih panjang enam kilometer, terletak di Kecamatan Sungai Selan antara pulau Bangka dan Pulau Sumatera. Pulau Nangka ini dihuni oleh 70 kepala Keluarga, dengan panorama pasir putih dan bebatuan yang indah juga banyaknya burung- burung yang beraneka ragam, bagi yang ingin berkunjung bisa mengunakan perahu atau spetboat dari desa Sungai Selan 2,5 jam atau lewat Dusun Tanjung Tedung Kecamatan Sungai Selan 20 Menit mengunakan perahu atau spetboat. Selain Nangka, ada dua pulau lagi, yakni pulau Gadung dan pulau Lampu

Bisa dibayangkan, bagaimana perahu adalah sarana transportasi yang sangat krusial untuk penduduk ini. Beberapa tahun lalu, masyarakat Nangka sudah bisa menikmati energy listrik karena dibantu solar cell dari pemprov. Umumnya penduduk bermatapencaharian nelayan. Pada tiap rumah berdinding papan, akan ditemui jaring dan bubung nelayan yang digantung di depan teras-teras. Beberapa penduduk juga ketika ditemui, sedang merangkai nilon menjadi jaring atau pukat.





Selepas Nangka, perjalanan kami lanjutkan namun mendung telah menggelayuti perjalanan. Untuk mencapai pulau selanjutnya, kelompok kecil sebanyak 30 orang ini berperahu memakan waktu sekitar 20 menit. Ketika jarak makin mendekat, gerimis yang tadi kini berubah hujan. Perlengkapan kamera menjadi target penyelamatan. Bagi yang mempunyai tas anti air, hal ini tak jadi masalah. Namun bagi yang ala kadarnya, kardus dan plastik kresek menjadi sambaran.

Mencapai Gadung, kami berleha sejenak melepas lelah selepas berlari dari beting. Perahu tak mampu mencapai darat, terpaksa berlari diatas pasir beting, sebelumnya menerjang ketinggian air selutut dalam jarak 100 meter. Gadung ini tidak didiami oleh penduduk. Pulaunya kecil, sekitar seluas dua kali lapangan bola.


Pulau ini menawarkan ragam landscape yang menawan. Ada semacam teluk kecil yang terletak di sebelah pulau kecil ini. Dengan pasir putih, dan dedaunan hijau, akan menambah pesona bagi pengunjung. Belum lagi beting, yang terhampar luas memanjang hingga menjorok sekitar 25 meter ke laut lepas. Beting, untuk menyebut pasir laut yang membentuk daratan sementara. Kalau untuk saat ini, bisa jadi akan terbentuk formasi lain. Hal ini mungkin disebabkan pengaruh gelombang laut.





Menginjak sore hari, kami bergegas ke pulau Lampu. Dalam cuaca mendung, selepas hujan, matahari sore tampak sekilas dibalik awan hitan. Ini menjadi background pulau Lampu, dan membentuk imaji tersendiri. Lampu disebut karena ada mercu suar. Merupakan peninggalan zaman Belanda. Ada beberapa rumah penjaga didirikan. Sebagian besi penopang atap atau terali, tampak berkarat, dan rumah papan beberapa tak bergenteng lagi. Menandakan jejak masa silam ini tidak berfungsi lagi. Untuk menuju ke lokasi, pengunjung harus naik bukit terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat, cukup menguras energy namun memberikan sensasi yang asik. (aksansanjaya)
  • i

Rabu, 19 Mei 2010

Pics of Penyusuk Belinyu

>aNOTHEr Pics OF PenYUSUK





  • i

Senin, 10 Mei 2010

Mencari air terjun Sadap

>Letaknya tersembunyi di sela perbukitan Pading, desa Perlang kecamatan Koba, Bangka Tengah. Jauhnya sekitar 7 km dari ibu kota Kabupaten. Untuk mencapainya harus melalui jalan bermedan off road, maklum ia masih termasuk kategori rimba. Sebelumnya jalan berliku berjarak 1500 meter melalui kebun dan pondok petani mesti dilalui. Ketika sampai, air terjun yang disebut Sadap ini memang eksotik dan mengundang decak kagum.

Cuaca cerah Sabtu pagi dari Pangkalpinang, menambah semangat untuk berplesir ke Sadap. Air terjun yang sering disebut dan membuat penasaran akan bentuk dan rupanya. Menginjak siang, hujan lokal menjelang keberangkatan. Namun perjalanan dilanjutkan. Menyusuri jalan raya Penyak, langit kembali mencurahkan bulir-bulir air. Memaksa untuk berhenti sejenak.

Melalui resto pinggir laut, awan gelap tampak menutupi arah pandang ke Koba. Setengah berputus asa. Ini lah resikonya bepergian dengan roda dua. Namun asa telah terkembang, tak baik perahu balik kandang. Mencoba meyakinkan diri bahwa ini cuma hujan lokal saja. Rintik-rintik ini akan berlalu selepas kilometer ke depan. Selain itu, Koba memang sudah hampir sampai. Jadi kepalang tanggung. Lanjutkan perjalanan.
Sampai ke Koba, mencari arah ke Perlang. Ashar telah lewat. Penduduk tunjuk arah ke depan, lalu belok kiri terus saja nanti akan bisa mencapai Perlang. Desa dimana check poin penanda, Sadap telah dekat. Perjalanan kembali dilanjutkan. Selepas sejumlah kilometer, benarlah kami menjumpai Perlang, ketika sampai pada ujung jalan yang bersimpang. Dibingungkan lagi dengan kiri apa kanan. Rute yang digambar dalam kertas, kadang tak menunjukkan sejatinya. Jadi jangan terlalu dipegang teguh. Benar lah kata pepatah, banyak-banyak bertanya agar cepat sampai tujuan.



Rute lurus kemudian berbelok kanan, di papan tertulis dusun Sadap. Bertekstur kerikil merah. Jalanan ini tampaknya menjadi jalan umum, meski belum teraspal. Jejak roda empat, membuat garis setengah mengkilat Sepanjang perjalanan akan tampak pepohonan hasil penghijauan, Akasia. Maklum dilihat dari sekilas, daerah ini merupakan sisa pertambangan tahunan lalu. Daerah berpasir. Kolong kadang muncul disamping, menyembul dari celah-celah akasia.

Hingga sampai diujung jalan, menemui simpang dua lagi. Pertanyaannya lagi-lagi, belok kanan apa belok kiri. Feeling lebih memilih ke kanan. Karena kalau dipikir-pikir, di depan arah pandang jalan tampak menuju perbukitan. Analoginya, air terjun pasti berada di daerah pegunungan atau perbukitan. Kejelasan lokasi akhirnya terjawab ketika bertemu dengan pejalan kaki. Kami memang berada di jalur yang benar.
Lambat namun pasti, laju kendaraan akhirnya bertemu dengan jalan aspal. Ini kejutan, sebab sebelumnya jalanan bermedan pasir kerikil merah. Tapi ini tiba-tiba menemukan jalan beraspal. Roda ban kembali mulus meluncur. Ketika lepas beberapa meter, tampak bukit kecil dan makin mulai membesar dan menjulang. Menginjak jalanan mendaki, saat sampai pada perbukitan kecil, benarlah betapa megah perbukitan ini. Besar dan memanjang. Masyarakat sebut ini bukit Pading.

Kami memutuskan berhenti untuk rehat sejenak. Luar biasa megah. Tempat yang lapang di daerah ini membuat suasana pemandangan ke depan begitu besar. Yang menjadi berbeda adalah, disisi kiri jalan, terdapat areal persawahan. Ada beberapa teras tanah yang sedang diolah. Sedangan beberapa lagi, tampak baru ditanam bibit padi panjang setengah lengan orang dewasa. Ini menjadi daya tarik tersendiri. Bisa dibayangkan, bagaimana tempat ini jadinya, ketika padi itu mulai tumbuh menghijau, lalu areal ini tampak dibidangi perbukitan megah nan hijau di depan sana. Mirip foto pemandangan di tanah Jawa.

Hari telah mulai sore, tujuan utama janganlah dilupa. Tak berapa lama, perjalanan kembali dilanjutkan menyusuri jalanan beraspal hingga sampai pada sebuah dusun. Dusun yang bernama Sadap. Tak sulit menemukan lokasi air terjun. Penduduk akan senang hati menunjuk. Bahkan plang sederhana sengaja dipasang di simpang menuju lokasi wisata.



Tak berbeda dengan lokasi air terjun gunung Maras yang berada di kaki bukit, Sadap memang terletak di kaki perbukitan, bukit Pading. Mencapainya perlu ekstra hati-hati, sebab salah-salah bisa tergelincir, apalagi menemui jalan becek sisa hujan semalam. Satu kilo lebih perjalanan, akan berupa tanjakan maupun turunan. Selanjutnya, mulai muncul pondok-pondok petani lokal berjejeran. Ada tiga atau empat pondok di lokasi ini. Pondok kayu beratap rumbia.

Motor parkir disini, sebab katanya jalan di depan tak mempan roda dua apalagi empat. Petani tua yang kami tanya, bersedia menunjuk arah air terjun, beliau juga kami tumpangi kendaraan biar bisa parkir dengan aman. Perjalanan dengan jalan kaki, lantas belok kanan selepas dari pondok tua yang roboh. Kaki mulai berhiking ria. Ini benar-benar bukit. Berbatu dan sempit di sela-sela batu.

Dalam sore yang cerah ini dalam kungkungan pepohonan yang rindang, ketidaksabaran makin menjadi-jadi. Ingin segera menjumpai Sadap. Keringat mulai menetes, nafas memburu. Maklum jalan terjal dan mendaki ditempuh tak kurang dari sepuluh menit, lumayan menguras tenaga. Sekali lagi, perlahan namun pasti, deru aliran air mulai terdengar. Setelahnya melalui celah pepohonan, putih bergaris timbul di antara bebatuan granit.

Ketika turun menginjakkan kaki ke batu besar, air yang lewati celah bebatuan menegaskan kami telah sampai. Lalu ketika melangkah lagi ke hadapan, kami menjumpai aliran air mengalir bebas dalam sudut 45 derajat jatuh ke dasar kolam dibawah. Ini lah sadap.

Dengan lebar sekitar tiga meter dan panjang enam meter, Sadap tampak perkasa. Air mengalir bebas membentuk garis melengkung kadang lurus, putihnya kontras dengan media batu granit yang berlumut bewarna coklat kehitam-hitaman itu. Ini luar biasa. Dibandingkan dengan air terjun Maras, Sadap lebih besar dan gahar.

Kawasan Wisata dan Pembangkit Listrik
Pada hari-hari libur, Sadap ramai dikunjungi pelancong lokal. Meski sarana jalan belum begitu mendukung, namun tetap saja menarik minat masyarakat sekitar. Cerita dari mulut ke mulut kadang efektif menarik minat orang. Rasa penasaran itu akhirnya membuat masyarakat ingin berkunjung.

Tujuan utama selain menikmati sorga alam ini, juga menghabiskan masa dengan mandi di kolam tempat jatuhan air terjun itu. Berdiameter enam meter, kolam ini cukup luas, kedalamannnya pun sebahu orang dewasa. Selanjutnya, air tumpahan ini mengalir melewati gugusan bebatuan, dari sela-selanya, air bergerilya turun.

Selain itu, air terjun ini juga dimanfaatkan Pemerintah Daerah sebagai pembangkit generator listrik. Pantas, diawal tampak heran juga, ketika melewati pondok dan kebun sahang tampak memanjang kabel listrik. Rupanya ada pembangkit listrik disini. Ada dua rumah generator yang dibangun. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) ini mampu mensuplai listrik ke 153 kepala keluarga (KK). Teknologi ini diarsiteki insinyur dari Bandung. Ketika masyarakat di sejumlah daerah mengeluhkan pemadaman bergilir, di dusun Sadap yang terpencil masyarakatnya terang benderang.

Bukit Pading memang telah menjadi bagian hidup masyarakat Sadap, sekitar tahun 1970 sampai dengan 1980, Perlang ini sempat menjadi daerah penghasil damar. Pohon penghasil getah damar untuk bahan membuat cat ini dulu banyak terdapat di puncak Bukit Pading. Namun era penambangan Timah membuat masyarakat beralih menjadi penambang yang menjanjikan uang yang lebih besar. Selain damar, Pading juga menghasilkan rotan pledes, bukan rotan yang besar seperti untuk anyam-anyaman itu. Sekitar tahun 1980-an banyak yang mencari rotan pledes ini di Pading dan juga sempat menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sadap.

Meski sekarang harga Damar mulai naik, namun minat warga tidak seimbang dengan ketersediaan pohon damar di bukit. Hal ini disebabkan adanya pembalakan liar yang menjadi-jadi. Pohon- pohon besar penghasil damar itu kini mulai berkurang karena ditebang.

Perbukitan Pading memanjang diantara perbatasan dua kabupaten, Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Potensi kehutanannya tidak diragukan lagi. Meski telah ditetapkan menjadi kawasan lindung namun kerap disorot lantaran disinyalir sudah lama menjadi ajang pembalakan liar oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab.
Pading menyimpan ragam pesona, khususnya Sadap. Sayang belum digarap maksimal menjadi wisata yang menawan. Keseriusan dan keaktifan pihak terkait memang sangat diperlukan. Bukit itu hijau dan menjadi magnet bagi banyak orang. Namun demikian, masyarakat Sadap sebenarnya telah menikmati pesona itu, Sadap membuat rumah-rumah berdinding kayu dan beratap seng itu terang benderang, sebuah dusun di pelosok, masih di Serumpun Sebalai. Luar biasa. (aksansanjaya/dari berbagai sumber)
  • i

Minggu, 28 Maret 2010

Festival Ceria Imlek

>Berikut kutipan berita dari Bangka Pos. Mengenai festival ceria imlek yang baru diadakan kemarin. sumber foto dari aksansanjaya.

Festival Ceria Imlek Ceria 2010, hari ini (Sabtu, 27/2) malam, digelar di Air Kenanga, Sungailiat.Perayaaan Festival Ceria Imlek Ceria 2010 ini akan digelar di antaranya berupa replika naga sepanjang 300 meter, dengan kulit yang ditutupi 20 ribu kue keranjang.



“Kegiatan dalam rangka Imlek ini merupakan agenda pariwisata yang ada di Kabupaten Bangka,” ujar Asep Setiawan, Kabag Humas dan Protokol Setda Bangka kepada Bangka Pos Group, kemarin.

Asep mengatakan, festival Ceria Imlek ini, rencananya akan dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik. Selain itu, kegiatan Festival Ceria Imlek ini akan dilakukan pencatatan rekor MURI terhadap replika naga sepanjang 300 meter, dimana terdapat 20 ribu kue keranjang, yang akan menjadi bagian dari kulit naga.

“Pembuatan replika naga dengan diameter 1,7 dan 2 meter serta kue keranjang ini menghabiskan dana sekitar Rp 149 juta,” ujarnya.Dilaksanakannya kegiatan ini, kata Asep, tentunya untuk melestarikan budaya yang ada di Bangka, sehingga antara pemerintah dan masyarakat harus saling mendukung dalam pelestarian budaya.
“Kue ini akan dibagikan langsung kepada masyarakat selesai pencatatan rekor MURI itu. Kita berharap agenda ini akan meningkatkan daya tarik pariwisata di Kabupaten Bangka,” ucapnya.





Ia menambahkan, sebelum dilasanakannya pembukaan fastival Ceria Imlek, Sabtu (27/2) sore, akan dilakukan peresmian kelenteng Dharma Bakti yang ada di depan Bioskap Fajar Sungailiat.“Kelenteng tertua ini akan menjadi cagar budaya di Kabupaten Bangka,” ungkap Asep.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga akan ada parade seni budaya yang disuguhkan khusus untuk bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dengan mengkolaborasikan sanggar seni budaya yang ada di Kabupaten Bangka dan juga grup-grup barongsai.



“Ada juga nyayian mandarin dan melayu, yang dikolaborasikan dalam satu paket, yakni pagelaran seni budaya daerah. Acara ini juga akan dimeriahkan dengan pesta kembang api dan penampilan artis ibukota,” tutur Asep, sembari menyatakan antusias dan dukungan masyarakat dalam mendukung kegiatan Ceria Imlek ini sangatlah besar.
“Sementara support dari Kabupaten dan provinsi hanya sekitar 30 persenan,” ujarnya. (sas)
  • i

Selasa, 23 Maret 2010

Ribuan Warga Pesta Durian

>Acara semacam sedekah kampung, dengan mengadakan sedekah durian di desa air mesu pangkalan baru Bangka tengah, berikut foto hasil hunting bersama rekan2 FBI dan berita yang diambil (permisi) dari http://www.bangkapos.com

BELUM lama usai ditumpuk di sepanjang jalan Desa Airmesu menuju kawasan Bukit Trenggiling, belasan ribu buah durian yang dipersiapkan untuk sedekah durian habis diperebutkan, Minggu (24/1) petang.
Siapa saja, tua, muda, anak-anak, pria atau wanita boleh mengambil. Ada yang sekaligus ‘melarikan’ empat durian, malah ada yang lebih banyak lagi. Di pinggir-pinggir jalan, durian itu dibelah menggunakan parang secara bergantian, lalu disantap beramai-ramai oleh ribuan orang.

Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Bangka, utamanya Bangka Tengah dan Pangkalpinang. Ada yang sengaja datang untuk makan durian gratis yang digelar masyarakat Desa Airmesu. Banyak pula dari warga yang kebetulan sedang melintasi jalan desa itu, lalu berhenti melihat keramaian. Mereka diminta turun dari kendaraan untuk bersama-sama menikmati buah berduri yang sedang membanjiri pelosok desa di Pulau Bangka.




Dalam tempo tak lebih dari satu setengah jam mulai sekitar pukul 15.00 WIB, seluruh durian yang jumlahnya pastinya tak terhitung lagi itu tinggal biji dan kulit berserakan di sepanjang jalan dan pekarangan rumah warga.
Pesta durian di Airmesu ini terbilang unik karena baru pertamakali digelar di Pulau Bangka.

Dua hari dua malam, durian di Bukit Tenggiling, Gunung Teve -sebutan warga terhadap Gunung Mangkol- dan sekitarnya yang terkenal dengan sentra duriannya, sengaja ditahan. Durian itu tidak boleh dijual untuk mensukseskan hajatan desa. Oleh panitia acara, belasan ribu butir durian yang terkumpul dari pemilik kebun, dibeli dengan harga pada kisaran Rp 3.000 per butir.

Durian ukuran kecil hingga besar itu lalu diangkut dan ditumpuk di tengah jalan desa menuju Bukit Tenggiling sepanjang sekitar 300 meter. Satu tumpukan berisi puluhan durian. Bau khas yang keluar dari buah itu pun menyebar di sepanjang jalan desa.

Rencana semula, makan durian dilakukan bersama Bupati Bangka Tengah, H Abu Hanifah. Namun karena hujan dan banyaknya warga yang datang, makan bersama durian batal dilakukan. Saking tak sabarnya, warga langsung berebut mengambil sesukanya. Malah, hujan deras yang mengguyur Desa Airmesu sore itu, tidak dihiraukan lagi.
Di tengah riuh rendah warga berebut mengambil dan membelah buah durian, tak sadar lagi jalan desa pun macet total. Bupati yang datang beberapa saat kemudian, lalu makan di sebuah tenda yang disediakan panitia.




“Acara kita set santap duriannya dilakukan bersama Pak Bupati, tapi bagaimana lagi, orang sudah sebanyak itu. Tapi syukurlah, artinya antusias masyarakat sangat tinggi,” ujar seorang panitia sedekah durian kepada Bangka Pos Group, di Desa Airmesu.

Ketua Panitia Sedekah Durian Desa Airmesu, Elman Sugino Sastra menjelaskan, latar belakang acara ini tidak terlepas dari image Desa Airmesu sebagai penghasil durian.

“Sedekah ini salah satu wujud syukur atas melimpahnya hasil durian di desa kita tahun ini,” kata Sas, sapaan akrabnya.

Sebelas butir durian itu, hanya yang dipajang di pinggir jalan. Belum termasuk di rumah penduduk yang disiapkan khusus untuk sanak keluarga, kerabat dan teman-teman yang berkunjung pada hari itu. “Kita akan gelar acara serupa setiap musim durian. Nanti kita berencana mengundang MURI (Museum Rekor Indonesia--red) agar masuk rekor makan durian secara massal,” harap Sas.

Icon Wisata



Anggota Komisi B DPRD Bangka Tengah, Zamhari yang hadir pada kesempatan itu mendukung sepenuhnya acara makan durian bersama tersebut. Malah ia berharap dijadikan salah satu icon pariwisata Bangka Tengah, khususnya kuliner karena baru pertama kali digelar di Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

“Momen ini sangat bagus, bisa dijadikan wisata kuliner khususnya buah-buahan, apalagi Airmesu yang dekat dengan Kota Pangkalpinang, wajar kalau harus mempersiapkan diri menjadi tujuan wisata. Belum lagi, adanya tiga hotel berbintang, peluang ini harus benar-benar dipikirkan pemda,” katanya seraya mengingatkan jangan lupakan fasilitas infrastruktur yang masih kurang.

Bupati Bangka Tengah, H Abu Hanifah juga menginginkan Bangka Tengah menjadi sentra buah-buahan di Babel. Untuk mendukungnya, Pemkab Bangka Tengah memberikan bantuan bibit rambutan, duku dan mangga. Saat ini Pemkab setempat juga sedang mempersiapkan pembibitan 10 ribu batang sukun. (slm/wan/ source : www.bangkapos.com)
  • i

Minggu, 21 Maret 2010

Low Light

>Malam2, mencoba melukis malam dengan low light...ini di depan rumah semoga bisa menjadi penghibur mata..







  • i

Kamis, 18 Maret 2010

Teluk Uber, Pantai Indah Sungailiat

>Seperti pantai-pantai lainnya di sepanjang pantai timur pulau Bangka, Pantai Teluk Uber ang terletak lebih kurang 17 km dari Kota Sungailiat dan memiliki luas 25 Ha, berbentuk teluk yang dibatasi oleh gugusan batu-batuan di sebelah kanan dan kiri. Bebatuan ini mengapit lebih kurang 300 m pasir putih yang empuk dengan riak gelombang yang lembut.
Di Pantai Teluk Uber ini juga sudah berdiri sebuah hotel dengan 10 kamar yang merupakan satu-satunya fasilitas yang terdapat di kawasan ini.

Dikala hari libur,pengunjung dari berbagai macam daerah yang ada di Bangka Belitung ramai menikmati keindahan alam di teluk ini. airnya jernih sangat cocok untuk mandi dan berenang. Pantai ini bisa menjadi alternatif tujuan wisata yang menyegarkan.







  • i

Kamis, 25 Februari 2010

Teluk Limau

>Pagi di Teluk Limau

Teluk ini menyimpan pesona yang syahdu, seperti lagu rhoma, heee...bukan mendramatisir tapi ini fakta. ini lah hasilnya. Merupakan tempat yang terpadu dengan kawasan wisata pantai matras, dan parai tenggiri.

Teluk ini menyimpan pesona yang menggoda.anda boleh datang ke tempat ini. sekedar memancing atau melepas lelah bersama orang-orang sekitar anda.









  • i

Sabtu, 20 Februari 2010

Yuk bekebon Sahang

>kini saat nya pemerintah bangka belitung, menghijaukan kembali tanah di bangka ini dengan lada, bukan sawit. sebab jika dinilai dari segi ekonomi, sahang memang terbukti mensejahterahkan sebenarnya, bukan beramai-ramai menamam sawit.Awak setuju dengan adanya program revitalisasi lada, white pepper muntok itu begitu terkenal..mengapa kita harus melenyapkannya dengan tanaman yang tidak ekonomis...










  • i