Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Jayapura, Kota Teluk Berkilau

Bepergian ke ujung timur Indonesia, sudah pernah saya tempuh. Saya ingat saat itu, kami harus tidur selama dua hari dua malam lebih dalam bus melewati Semarang, Yogyakarta dan Surabaya, demi sebuah tujuan akhir, Bali. Itu dahulu, ketika kuliah sejak tahun 2001 lalu.

Namun saya tak pernah membayangkan untuk pergi ke Papua, sebuah pulau eksotis di daerah paling timur dari sebuah Negara, bernama Indonesia. Untuk jenis manusia seperti saya, yang manusia biasa, cuma berkutat dari kantor ke rumah, bepergian ke Papua adalah hal yang luar biasa dan tergolong langka.



Syukur kesempatan itu datang, pada 20 November kemarin. Sehubungan dengan acara penandatanganan prasasti UBB bersama empat PT lainnya yang dinegerikan. Dari Bangka Belitung, ada lima orang termasuk dua orang mahasiswa yang terlebih dahulu berangkat. Mereka menggunakan Hercules, terbang dari Jakarta ke Papua sekali jalan.


Sedangkan tiga orang lagi menggunakan pesawat komersil biasa. Rektor UBB, Prof. Bustami Rahman, M.Sc, Wakil Rekto…

Terlalu banyak Bicara dan Seremoni

Saya teringat pada lagu Harry Mukti, yang kira-kira syairnya berbunyi, “jangan banyak kata ketika karam di hati..hanya satu kata…bla- bla…”. Ini untuk menggambarkan tabiat kita di bumi Serumpun Sebalai yang suka berseminar, berkumpul berkeluh kesah. Yang dikeluh kesahkan tak lain tak bukan, kondisi alam kita yang makin hari makin trengginas.

Trengginas karena ekses dari penambangan timah. Bentuk muka pulau ini jelas berkubang-kubang, jika dari atas melihat. Persis seperti kawah-kawah kecil di permukaan bulan. Diandai-andaikan,seperti itu meski saya belum pernah pergi ke bulan.

Saya juga tak harus berilustrasi seperti apa muka pulau ini, sebab deskripsi mengenai hal ini centang perenang diantara kita.

Persis seperti Harry Mukti tadi, gara-gara kondisi ini kita seperti orang panik, yang berteriak-teriak. Namun tak mengejar jambret yang kadung menghilang di balik gang sana. Kita lebih suka bernostalgia mengenai kelekak. Namun tak berniat mencangkul tanah.
Orang-orang pintar, tentu tahu baga…

Pantai Tanjung Asmara

Ini adalah kolase foto pantai tanjung Asmara, sebuah titik pantai di sekitaran kawasan pantai Rebo dan Tikus di Sungailiat Bangka. Dipenuhi dengan kelompok bebatuan granit yang sebagian besar memenuhi bibir pantai ini. Anda juga bisa menemukan pasir putih seperti terlihat di foto tersebut.

Bila suasana cerah, ditandai dengan langit biru dan awan putih, pemandangannya akan begitu amazing. Coba saja anda datang, letaknya tak jauh selepas dari vihara Budha Mahayana dari perjalanan arah Sungailiat. Melewati jalur tikus, terletak di hutan akasia.
Pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan domestic dari Bangka Belitung. Selain berplesir menikmati keindahan alam, para pelancong juga kadang menghabiskan waktu dengan memancing.
Anda boleh datang berkunjung ke lokasi ini. Dijamin pasti menarik dan menyenangkan. Jangan lupa juga bawa perlengkapan dan bekal makan dan minum. Sebab di daerah ini belum tersedia, fasilitas kantin atau toko. (aksansanjaya)

Adat Budaya Cong Rebut di Bangka Belitung

Adat kepercayaan warga Tionghoa mempercayai bahwa pada tanggal 15 bulan 7 tahun imlek (Chit Ngiat Pan), pintu akherat terbuka lebar dimana arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar dan bergentayangan. Arwah-arwah tersebut turun ke dunia dengan keadaan terlantar dan tidak terawat, sehingga para manusia akan menyiapkan ritual khusus untuk diberikan kepada mereka berupa pemberian bekal, seperti makanan, minuman dan buah-buahan. Selain itu juga disediakan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, uang dari kertas dan baju-baju dari kertas pula yang memang diperuntukkan bagi para arwah.

Oleh sebab itu setiap tanggal 15 bulan 7 tahun imlek (Chiat Ngiat Pan), warga Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung selalu mengadakan ritual sembayang rebut atau yang sering disebut Chiong Si Ku di setiap kuil dan kelenteng dimana puluhan umat memberikan penghormatan yang diiringi dengan panjatan doa keselamatan dan keberkahannya.

Selain dikunjungi oleh warga Tionghoa yang memang ingin mengikuti ritual semb…

Jakarta Kota Berpunya

Pada 2014 nanti, Jakarta diperkirakan lumpuh. Ini seperti anti klimaks dari ego manusia. Ketika materialism adalah ruh dari segalanya. Bahwa bahagia diukur dari seberapa punya. Bagaimana deretan kendaraan ini cuma seroda berjarak, mengular dari ujung ke ujung. Dan seperti pohon tua, ia tampak limbung dimakan asap polutan yang tak pernah henti.



Ketika hujan sehari dua, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus trans, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.

Inilah Jakarta, selama lima hari. Saya membayangkan hidup bagi orang disini, seperti tak ubahnya roda-roda itu. Merangsek dan macet ketika banjir melanda, dan memenuhi badan jalan. Susah bergerak, dihimpit dan dikerdilkan ole…

Selamat Berlebaran 1 Syawal 1431 H

Saya menjadi teringat ketika lebaran bermakna ceria, yaitu bertamu atau namu dan pistol mainan berpeluru. Lebaran juga mengingatkan pada baju baru dan hari libur. Itu dua puluh tahun lalu. Ketika lebaran, Idul Fitri dimaknai secara berbeda dan berubah-ubah. Menginjak ABG, lebaran berarti safari ke rumah perempuan-perempuan cantik (versi sendiri). Masa-masa kuliah berarti tiket kapal dan tanggal keberangkatan untuk pulang kampong. Maklum, ketika itu kuliah jauh di Jawa.Sekarang lebaran bisa berarti dua hari libur saja, tanpa embel-embel baju baru dan tiket kapal muat itu. Tidak untuk merendahkan nilai dari hari kemenangan ini, namun sekali dua ia pernah bermakna seperti diatas. Jika tidak dikatakan tragis, bisa disebut ini dari hasil berpuasa yang hampa sahaja. Tak bermakna ketika Syawal menjelang.

Padahal bagi sejumlah umat Islam, Ramadhan seperti dinanti. Bulan yang dirindui untuk dicumbui. Ketika amal dihitung lebih tinggi dan doa seolah dekat kepada_Nya. Pantas bila, ada yang menang…

Kundi, Potret Dusun Pesisir yang Makmur

Sebagai desa pesisir di Utara Bangka, Kundi hanyalah sebuah daerah pesisir antara yang berada di selat Bangka. Lebih tepat disebut kelurahan, sebab ada beberapa dusun didalamnya, diantaranya air menduyung, Lambu, Mandung. Untuk menuju ke desa ini, cuma satu jalur. Letaknya jauh menembus hutan lebat. Pantas bila disebut, desa terisolasi.

Bagi orang luar, mendengar kata isolasi, maka dipikiran, mereka berada digaris kemiskinan. Makan sehari sekali kadang tidak. Bersekolah pun tidak. Apalagi mempunyai rumah yang layak, yang ada dibenak kita mereka pastilah berumah dinding kulit kayu dan beratap ijuk. Namun, imaji ini sangat kontras ketika anda berbicara tentang dusun dalam konsep masyarakat Bangka Belitung.

Dusun bagi Bangka Belitung, merupakan penyebutan tempat saja. Dan sebagian dusun ini bagian besarnya, jauh dari kesan bawah diatas. Mereka punya rumah yang layak huni, tempat tinggal yang asri. Makan nasi, berlauk enak. Akses pendidikan yang mumpuni. Yang tak mereka punya adalah akses u…

Bau atau Wangi ???

Indera penciuman kita seringkali meningkahi kita pada memori-memori yang tersimpan di laci hati. Hidung dengan sejumlah syaraf di dalamnya, menegaskan sebuah perulangan dari beberapa keadaan terdahulu. Bulu halus yang bersarang di dalamnya itu, menangkap aroma tertentu yang ternyata ia adalah sebuah de javu.

Dari badan kita, yang murni itu pada dasarnya mengengeluarkan feromon yang bagi sebagian ini menarik lawan jenis. Sama halnya hewan. Barangkali, ini memang telah diskenariokan ketika minyak wangi belum ditemukan pada abad-abad ketika manusia masih berburu dan tinggal di gua-gua.

Ketika manusia mengenal minyak wangi, cara konvensional dengan memajukan hidung tak lagi dilakukan. Cukup dengan berjarak saja. Maka bau kesturi atau kemenyan itu akan dengan sendirinya terbaui. Cukup lama kemudian manusia menciptakan kemasan untuk pewangi.

Kebudayaan kadang tak statis. Sebagai olah manusia, ia seiring dengan kemajuan. Meski untuk beberapa tempat, ini Cuma sebatas teori saja. Buktinya di Iri…

Bukan Elegi

Kita berpendar suatu masa
Lepas setahun sejak pertama merona di dinding lusuh,
serta kursi lapuk hampir patah
Dunia dilingkupi awan biru bergumpal itu,
Pernah mencari pasti di debur Batu Dinding
Yah, lepas setahun ketika kita bersemu merah
Saling Berbalas…

Kita berjibaku dalam asa yang tersenggal
Seterusnya merintih dalam jarak,
Menjadi petualang di udara lembab tengah malam

Syahdan dalam drama monolog, Kita adalah aku dan bayangan
Bersemi diantara karang…jauh dari hiruk rumput laut dan tiram
Dalam diam…kita yang bersuka

Pernah kita berjarak diam, memilih rentang takdir masing
Kemudian berpura untuk acuh,
Meski kelabat bayang tetap kita nanti diwaktu yang jarang

Waktu menduakan, namun ia menyatukan
Dimana aku dan kamu menantang matahari pagi bulan ini
Untuk sesuatu yang jauh dari terma itu

Lalu kembali terdiam, mencoba meraba hati
Bicara pelan namun takut...diam yang menyakitkan...
Kita menahan rasa yang berat sambil menakar diri
Semacam perih...serasa luka sejuta kali

Tidak...bukan untuk perih atau elegi…

Vertikalisasi Keyakinan

Ini momen detoksifikasi. Penyucian diri dan juga jiwa. Setahun sekali, Ramadhan menjumpai. Satu Milyar lebih, umat akan menahan diri dari makan dan minum. Demi sebuah keyakinan. Sebuah ideologi sejak 1400 abad lampau dicetuskan. Berpantang ini bukanlah sebuah hal dibuat (tradisi atau budaya), namun karena sebuah hubungan atas dan bawah. Vertikalisasi !.

Bukan mempersoalkan tahan untuk tidak makan atau minum, namun lebih dari itu. Ada kepasrahan. Ada perlombaan. Pasrah bahwa manusia adalah sesosok makhluk. Dan ia memang diciptakan. Kepasrahan total, atau dalam nada lain ia bermakna tawakal. Sadar dan pasrah bahwa berpantang adalah penyerahan diri pada sang Khalik, pencipta dari zat yang ada di semesta. Lepas dari semua atribut sosial, dimana bulan ini, kita adalah sama di hadapannya.

Ada nuansa perlombaan. Tentang bagaimana kita bergiat memperbanyak amalan. Merajinkan diri untuk selalu tawaddu dan merunduk. Lebih dari 17 kali mencium tanah. Memberi bukan sekenanya, tapi berniat menghil…

Negeri Para Karnaval Warna Warni

Negeri Warna Warni

Kertas itu tertanda pejabat tinggi di Negeri ini. Isinya himbauan lalu dilampirkan isi dari surat itu. Penawaran partisipasi memeriahkan HUT Kota dan Kemerdekaan. Ini yang paling penting dari surat edaran ini. Selanjutnya, brosur ini akan menjelaskan angka-angka partisipasi, dari 5 juta terkecil hingga puluhan juta rupiah. Bentuk partisipasi itu ada yang sekelas banner, spanduk, baligho hingga balon udara dan Gapura.

Begini lah Negeri Serumpun Sebalai. Pulau ini suka dengan kemeriahan. Jika menginjak Ulang tahun provinsi, maka partisipasi itu akan berupa buku. Jika menempuh Ulang tahun Kemerdekaan, akan berupa Gapura dan Spanduk. Jika menyangkut program atau agenda pemerintah bertopeng pembangunan, partisipasi itu berupa yang tadi-tadi pula.
Selalu berbicara partisipasi dan angka nominal yang kadang kala jauh dari kenyataan di percetakan. Harga yang lumayan fantastis. Untuk ukuran spanduk sepanjang dua meter saja ditawarkan angka 900 ribu rupiah dari yang semula 100 r…

Bukit Siam Sungailiat

Berplesir di Bukit Siam
Wisata Pinggir Kota Murah meriah




Sungailiat mungkin termasuk kota yang unik dan khas. Hal ini dikarenakan posisi kota yang terletak seolah terapit oleh lautan dan perbukitan. Yang membuat unik adalah pada jalan utamanya yang lurus saja, tanpa meliuk-liuk seperti ular. Jadi jika anda memejamkan mata sambil mengendarai kendaraan bermotor, mungkin anda akan aman saja hingga ke terminal sana.

Lautan disebelah di Selatan Sungailiat, menghampar dan meliuk-liuk sesuai kontur wilayahnya. Bersentuhan langsung dengan laut Cina Selatan, ombak di pantai Bangka tergolong tenang-tenang saja. Berbeda dengan daerah tepi Samudera, seperti Bali atau Hawai, di Bangka Belitung terutama Sungailiat, tidak ada yang namanya kegiatan surfing.
Karena ombak laut yang tergolong aman dan terkendali ini, maka daerah tepi pantai menyisakan kontur tepian dengan hamparan pasir putih. Proses abrasi menyisakan sedikit demi sedikit tanah.

Penggerusan ini kadang menimbulkan pantai dengan hamparan pa…

Jazz on the Beach

Jazz on the Beach pada 12 Juni 2010 bertempat di Parai Beach Resort & Spa, Bangka. Acara yang merupakan bagian dari Visit Bangka Belitung 2010 akan dimeriahkan oleh Fariz RM, Iwan Abdie – vokalis Bali Lounge, sepeninggalnya Tompi, lalu Hani Firawan yang tak lain putri mantan Kapolda Metro Jaya Firman Gani. Selain itu turut hadir pula Andara Rainy, Putri Pariwisata Indonesia 2009.


Pulau Bangka sendiri merupakan salah satu destinasi atau tujuan kunjungan wisata. Sejumlah maskapai penerbangan termasuk diantaranya Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya, Mandala, maupun Batavia Air memiliki rute tetap menuju pulau yang banyak memiliki pantai nan cantik ini. Menyebut nama Bangka tentu saja selalu terkait dengan Belitung, yang pamornya melesat setelah film Laskar Pelangi mengambil setting di pulau tersebut. Pantai Parai merupakan pantai paling indah dideretan pantai timur Pulau Bangka.

Ide penyelenggaraan Jazz on the Beach seperti dijelaskan Dwiki Dharmawan, “Idenya datang dari Pak Sapta Ni…

Membicarakan “Da Kawah Nyusah”

Da Kawah Nyusah..Pembiasan Makna...

Membicarakan ucapan atau ungkapan, dengan kalimat, “da kawah nyusah”, seringkali menghubung-hubungkan dengan makna yang negative. Sesuatu yang berhubungan dengan kemalasan dan menolak perubahan.

Saya termasuk orang yakin seyakin-yakinnya, bahwa ucapan itu bukan sebenarnya bermakna demikian peruntukannya. Tetua kita zaman dahulu pastilah bukan orang yang malas, bermalas-malasan. Bukan golongan manusia yang duduk-duduk santai di teras pondok.

Para leluhur itu, yang hidup di hutan-hutan, tepi sungai atau pinggir laut pastilah pekerja keras dan rajin berusaha. Ungkapan itu turun temurun, ini saya yakin pastilah bermakna secara positif untuk anak cicit.

Ketika bangsa Lom berdiam di pulau ini, sebagai makhluk pertama mendiami tanah ini, atau suatu masa kemudian, bangsa melayu dari dataran Vietnam atau Kalimantan sana berbondong ke Bangka. Mereka asal usulnya bangsa yang rajin. Bayangkan saja, nenek moyang kita itu datang dari jarak yang jauh. Menyeberangi l…

Ketika Kulong itu Jernih

One Day at '80 in Bangka

Pulau Bangka, saya menjadi teringat pada masa silam. Ketika kolong masih jernih, dan kami bersuka memancing ikan atau bermain perang-perangan lumpur. Meski lahir di tahun 80-an, namun masa itu, tambang tak bisa ditemukan di mana-mana. Alhasil, alam masih menyimpan wujud nya yang alami. Air masih jernih mengalir, dari tumbik-tumbik di ujung atau tengah hutan. Pohon Gabus, masih menyimpan tawanya pada malam hari, wewangian khas bunga nya susah sekarang untuk ditemui.’

Pada bulan-bulan penghujan, langit menumpahkan airnya ke bumi. Dan aliran kolong menjadi keruh. Namun itu tak lama kadang tak lebih dari sehari, ketika langit mulai cerah, air yang meluap itu akan kembali jernih. Sebelumnya, beberapa orang telah memasang jaring atau tebak untuk menjebak ikan. Ikan seluang, ikan tanah, ikan baung itu akan terperangkap di tebak masih dalam keadaan hidup.

Gelombang air yang massif itu juga berkah bagi kami, anak kecil yang baru belajar berenang atau cuma ikut-ikuta…

Plesir ke Pulau Nangka

aN aDVENtuRE to NANGKA

Pulau ini dibandingkan dengan pulau lain yang ada di Kabupaten Bangka Tengah lebih panjang enam kilometer, terletak di Kecamatan Sungai Selan antara pulau Bangka dan Pulau Sumatera. Pulau Nangka ini dihuni oleh 70 kepala Keluarga, dengan panorama pasir putih dan bebatuan yang indah juga banyaknya burung- burung yang beraneka ragam, bagi yang ingin berkunjung bisa mengunakan perahu atau spetboat dari desa Sungai Selan 2,5 jam atau lewat Dusun Tanjung Tedung Kecamatan Sungai Selan 20 Menit mengunakan perahu atau spetboat. Selain Nangka, ada dua pulau lagi, yakni pulau Gadung dan pulau Lampu

Bisa dibayangkan, bagaimana perahu adalah sarana transportasi yang sangat krusial untuk penduduk ini. Beberapa tahun lalu, masyarakat Nangka sudah bisa menikmati energy listrik karena dibantu solar cell dari pemprov. Umumnya penduduk bermatapencaharian nelayan. Pada tiap rumah berdinding papan, akan ditemui jaring dan bubung nelayan yang digantung di depan teras-teras. Beberapa p…

Pics of Penyusuk Belinyu

aNOTHEr Pics OF PenYUSUK





Mencari air terjun Sadap

Letaknya tersembunyi di sela perbukitan Pading, desa Perlang kecamatan Koba, Bangka Tengah. Jauhnya sekitar 7 km dari ibu kota Kabupaten. Untuk mencapainya harus melalui jalan bermedan off road, maklum ia masih termasuk kategori rimba. Sebelumnya jalan berliku berjarak 1500 meter melalui kebun dan pondok petani mesti dilalui. Ketika sampai, air terjun yang disebut Sadap ini memang eksotik dan mengundang decak kagum.

Cuaca cerah Sabtu pagi dari Pangkalpinang, menambah semangat untuk berplesir ke Sadap. Air terjun yang sering disebut dan membuat penasaran akan bentuk dan rupanya. Menginjak siang, hujan lokal menjelang keberangkatan. Namun perjalanan dilanjutkan. Menyusuri jalan raya Penyak, langit kembali mencurahkan bulir-bulir air. Memaksa untuk berhenti sejenak.

Melalui resto pinggir laut, awan gelap tampak menutupi arah pandang ke Koba. Setengah berputus asa. Ini lah resikonya bepergian dengan roda dua. Namun asa telah terkembang, tak baik perahu balik kandang. Mencoba meyakinkan dir…

Festival Ceria Imlek

Berikut kutipan berita dari Bangka Pos. Mengenai festival ceria imlek yang baru diadakan kemarin. sumber foto dari aksansanjaya.

Festival Ceria Imlek Ceria 2010, hari ini (Sabtu, 27/2) malam, digelar di Air Kenanga, Sungailiat.Perayaaan Festival Ceria Imlek Ceria 2010 ini akan digelar di antaranya berupa replika naga sepanjang 300 meter, dengan kulit yang ditutupi 20 ribu kue keranjang.



“Kegiatan dalam rangka Imlek ini merupakan agenda pariwisata yang ada di Kabupaten Bangka,” ujar Asep Setiawan, Kabag Humas dan Protokol Setda Bangka kepada Bangka Pos Group, kemarin.

Asep mengatakan, festival Ceria Imlek ini, rencananya akan dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik. Selain itu, kegiatan Festival Ceria Imlek ini akan dilakukan pencatatan rekor MURI terhadap replika naga sepanjang 300 meter, dimana terdapat 20 ribu kue keranjang, yang akan menjadi bagian dari kulit naga.

“Pembuatan replika naga dengan diameter 1,7 dan 2 meter serta kue keranjang ini menghabiskan …

Ribuan Warga Pesta Durian

Acara semacam sedekah kampung, dengan mengadakan sedekah durian di desa air mesu pangkalan baru Bangka tengah, berikut foto hasil hunting bersama rekan2 FBI dan berita yang diambil (permisi) dari http://www.bangkapos.com

BELUM lama usai ditumpuk di sepanjang jalan Desa Airmesu menuju kawasan Bukit Trenggiling, belasan ribu buah durian yang dipersiapkan untuk sedekah durian habis diperebutkan, Minggu (24/1) petang.
Siapa saja, tua, muda, anak-anak, pria atau wanita boleh mengambil. Ada yang sekaligus ‘melarikan’ empat durian, malah ada yang lebih banyak lagi. Di pinggir-pinggir jalan, durian itu dibelah menggunakan parang secara bergantian, lalu disantap beramai-ramai oleh ribuan orang.

Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Bangka, utamanya Bangka Tengah dan Pangkalpinang. Ada yang sengaja datang untuk makan durian gratis yang digelar masyarakat Desa Airmesu. Banyak pula dari warga yang kebetulan sedang melintasi jalan desa itu, lalu berhenti melihat keramaian. Mereka diminta turun …

Low Light

Malam2, mencoba melukis malam dengan low light...ini di depan rumah semoga bisa menjadi penghibur mata..







Teluk Uber, Pantai Indah Sungailiat

Seperti pantai-pantai lainnya di sepanjang pantai timur pulau Bangka, Pantai Teluk Uber ang terletak lebih kurang 17 km dari Kota Sungailiat dan memiliki luas 25 Ha, berbentuk teluk yang dibatasi oleh gugusan batu-batuan di sebelah kanan dan kiri. Bebatuan ini mengapit lebih kurang 300 m pasir putih yang empuk dengan riak gelombang yang lembut.
Di Pantai Teluk Uber ini juga sudah berdiri sebuah hotel dengan 10 kamar yang merupakan satu-satunya fasilitas yang terdapat di kawasan ini.

Dikala hari libur,pengunjung dari berbagai macam daerah yang ada di Bangka Belitung ramai menikmati keindahan alam di teluk ini. airnya jernih sangat cocok untuk mandi dan berenang. Pantai ini bisa menjadi alternatif tujuan wisata yang menyegarkan.







Teluk Limau

Pagi di Teluk Limau

Teluk ini menyimpan pesona yang syahdu, seperti lagu rhoma, heee...bukan mendramatisir tapi ini fakta. ini lah hasilnya. Merupakan tempat yang terpadu dengan kawasan wisata pantai matras, dan parai tenggiri.

Teluk ini menyimpan pesona yang menggoda.anda boleh datang ke tempat ini. sekedar memancing atau melepas lelah bersama orang-orang sekitar anda.









Yuk bekebon Sahang

kini saat nya pemerintah bangka belitung, menghijaukan kembali tanah di bangka ini dengan lada, bukan sawit. sebab jika dinilai dari segi ekonomi, sahang memang terbukti mensejahterahkan sebenarnya, bukan beramai-ramai menamam sawit.Awak setuju dengan adanya program revitalisasi lada, white pepper muntok itu begitu terkenal..mengapa kita harus melenyapkannya dengan tanaman yang tidak ekonomis...