Rabu, 11 November 2009

Part of My "Work"

>
...Mengkirai ternyata tak tidur, ia beranjak keluar. Decit kayu alas pondok berbunyi kecil namun lembut. Langkah kakinya menjauh lima meter dari pondok. Selinting rokok dibakar dengan korek api yang tinggal sebatang itu. Dalam gelap, bara rokonya seperti Medi. Hantu bola Cina yang terbang kesana-kemari. Namun ini tak terbang dan berukuran kecil. Warna nyalanya kontras dengan hitam.

Wajahnya ditengadahkan ke atas. Tampak memandang bintang dalam ragam formasi itu. Rasi bintang yang berupa itu seakan magnit tersendiri bagi Mengkirai. Kalau boleh disebut, ia adalah astronom atau astrolog senior sejak masa yang lalu.

Pengamatannya terhadap bintang entah mengapa memang sejak masih kanak. Ia sejak berumur 10 tahun memang betah berlama-lama memandang langit malam. Kesukaannya tak diherankan urang kampong. Mereka tahu hal itu, meski kadang tak mengerti apa maksud dari semuanya. Ia bukan nelayan samudera sana, namun petani.

Menguap untuk beberapa kali, matanya mulai menutup dengan sendirinya. Ketidak sinkronan ini adalah tanda untuk tidur kawan. Yang diberi tanda, tetap tak beranjak, membelakangi pondok, ia malah menggerakkan kaki kanan ke depan, lalu kiri, lalu bergantian dalam kecepatan setengah berlari menuju bukit depan, dimana garis-garis hitam meluas sepandangan mata. Ladang sawah menguning ketika ditimpa sinar malam seperti itu...
  • i
Posting Komentar