Langsung ke konten utama

Fashion Melayu Bangka Belitung

Cual as Local Wisdom

Harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Untuk kain hasil tenun selama 3-4 bulan berbahan dasar sutra, harga itu masuk akal. Motifnya beragam, dari Bebek dan K.Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, K.Setangkai dan K.Rukem, Bebek Setaman, K.Rukem Berantai dan K.Setaman, K.Gajah besar dan K.Gajah kecil, Kucing tidur, Bebek-bebekan, Naga bertarung hingga yang terkenal motif Kembang Kenanga.

Sempat dianggap kuno selepas kemerdekaan Republik Indonesia, Cual, kain tradisional masyarakat Bangka Belitung kembali dilirik, naik pamor bahkan dibajak. Usianya tua, hampir seabad lebih. Dulunya, dipergunakan sebagai pakaian kebesaran di kalangan bangsawan, pakaian pengantin, pakaian yang dipakai pada hari kebesaran dan acara adat lainnya.

Proses tenun dan pembuatannya sangat rumit. Bahan-bahannya pun terbilang mahal, sebab ada corak benang emas seberat 18 karat yang diikatkan di kainnya. Bagi yang terampil perlu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan satu produk kain. Lain bagi pemula yang perlu satu bulan, untuk hasil tenun kain seukuran dua meter.

Bahkan untuk kualitas satu (sehelai benang pakan) berbahan baku sutra tanpa campuran dibutuhkan waktu pengerjaan satu hingga empat bulan. Selain sutra, perajin juga mempergunakan bahan dasar polyster, sutra campur katun, serta kayu dan benang emas.

Cual, warisan leluhur orang melayu pada dasarnya adalah kain tenun seperti songket, Bewarna cerah dan menyala khas kain tradisional melayu. Terkadang mirip dengan kain songket Palembang. Namun Cual lebih luwes, halus dan memiliki banyak lengkungan serta selalu dihiasi motif flora dan fauna. Warna celupan benangnya bahkan tidak akan berubah. Motif gambar bunga mawar, teratai, nanas, burung, ikan, kupu-kupu itu akan timbul dari kejauhan bila dipandang.

Seiring perkembangan teknologi, selain ditenun, ia juga dicetak. Hal ini untuk mengantisipasi permintaan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Maklum trend batik Cual, tidak saja bersenandung di lokal, namun sudah meng_internasional pula. Kini beberapa motifnya bahkan ada telah dimodifikasi dibajak oleh beberapa industri kain dan garmen. Motif-motif itu kemudian diproduksi massal melalui teknologi printing, bukan ditenun seperti aslinya.

Motif bajakan itu sempat beredar di Jakarta dan kota besar lainnya. Alhasil perajin lokal Bangka Belitung pun tak bisa berkutik. Outlet perajin pun sempat mengalami penurunan omzet. Ditambah lagi dengan tiada Hak Paten membuat persaingan makin tidak menentu. Namun trend orisinalitas, kembali pada tenun asli membuat keadaan itu tidak berlangsung lama. Orang ternyata lebih suka pada kain yang ditenun.

Untuk menghindari pencurian motif serta pembajakannya, sejumlah perajin lokal lalu mengurus hak paten. Perajin lokal seperti Koperasi Tenun Cual Maslina Yazid misalnya telah mematenkan motif Kembang Kenanga, Bebek dan K.Sumping, Ubur-ubur, Merak, Gajah Mada 2003, K.Setangkai dan K.Rukem, Bebek Setaman, K.Rukem Berantai dan K. Setaman. Berkat keindahan motif tersebut, Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono pun sempat membeli kain cual motif kuno karya perajin asal Bangka ini pada kesempatan pameran di Jakarta beberapa waktu silam.


Soal harga kain tenun cual sangat bervariatif tergantung kualitas dari kain tersebut dan jumlah benang yang digunakan. Untuk kualitas nomor satu biasanya menggunakan satu helai benang sehingga pengerjaannya lebih lama namun kualitas yang dihasilkan sangat memuaskan yaitu kain lebih halus. Untuk kualitas kain tenun nomor satu harga yang ditawarkan mulai dari Rp.7 juta hingga Rp.18 juta sedangkan kualitas nomor dua sekitar Rp.2,5 juta hingga Rp.5 juta ke atas, untuk kelas nomor tiga harga berkisar Rp.1,2 juta sampai Rp.1,8 juta.

Orang Bangka kini tampaknya mulai sadar akan warisan budaya ini. Menurut Gubernur, Kerajinan kain cual merupakan simbol kebudayaan Melayu di Provinsi Bangka Belitung (Babel) yang harus tetap dilestarikan dan dikembangkan. "Kerajinan kain cual ini adalah kebudayaan lama yang merupakan simbol Melayu yang harus dilestarikan menjadi kerajinan khas masyarakat `Serumpun sebalai ini`," kata Gubernur Babel, Eko Maulana Ali suatu ketika.

Harus ada kesadaran yang tinggi dalam melestarikan budaya, adat melayu dan simbolnya. Menurutnya, kerajinan khas Babel seperti kerajinan kain cual saat ini sudah dikenal masyarakat baik secara nasional dan internasional sehingga pengembangan kerajinan cual harus mendapat perhatian bersama. "Kerajinan kain cual ini perlu dilestarikan sebagai kerajinan rakyat yang sudah membudaya secara temurun di Babel," ujarnya.

"Kain cual Babel telah dikenal dan digunakan desainer-desainer ternama nasional bahkan wisatawan luar negeri pecinta kain pun tidak sedikit menyatakan ketertarikan kain cual Babel sehingga kerajinan kain cual Babel harus terus di dukung agar dapat semakin maju dan berkembang," katanya lagi.

Untuk itulah tak heran bila pada Oktober 2008 silam, desainer ternama Oscar Lawalata bersedia membantu dalam pembuatan desain baru bernuansa moderen pada kain cual khas Bangka Belitung. menurut Oscar, desain kain cual hasil peninggalan nenek moyang dulu sudah sangat bagus, namun seiring perjalanan waktu perlu ada kreasi-kreasi baru sesuai selera orang sekarang. (Iksan/ UP/ANT/ KL/BPos)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Daerah Bangka Belitung, Lima Lagu Bahasa Bangka

Ada beragam lagu daerah bangka belitung dengan kekhasan masing-masing. Lagu daerah Bangka Belitung adalah lagu-lagu yang diciptakan dari sebuah pencipta lagu sekaligus penyanyi lagu dimaksud. Lagu daerah bangka belitung ini menggambarkan sebuah suasana seperti suka duka hidup berkebun seperti tercermin dalam lirik lagu "Yok Miak", coba resapi lirik lagunya

Inilah Foto-foto Kampus dan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung di Balunijuk

Universitas Bangka Belitung (UBB) semula berstatus swasta berdiri sejak 2006 lalu kemudian resmi menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sejak 2010 adalah termasuk Perguruan Tinggi Negeri Baru yang makin menunjukkan kelasnya diantara PTN lainnya.

Penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai dan kini memasuki jalur pertama yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Nanti setelahnya akan memasuki periode SBMPTN kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terakhir adalah tahapan SNMPTN.

Setelah Melihat foto-foto berikut, ternyata inilah Wajah Bangka Tempo Dulu

Kalau kini fotografer menggunakan drone untuk memotret dari ketinggian dalam angle bird eye, maka bagaimanakah fotografer dahulu berhasil mengabadikan objek-objek terutama yang berhubungan dengan era kolonial. Itulah yang membuat saya penasaran. Apakah mereka naik pohon yang tinggi?, apakah menggunakan balon udara?, atau menggunakan pesawat terbang.
Setidaknya pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan foto hotel Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing yang dijepret dari sudut mata burung atau langit pada tahun 1935 an itu. Meskipun saya tak menemukan data exif utuh, namun saya yakin tampaknya hotel Menumbing, yang merupakan tempat presiden pertama Ir.Soekarno pernah ditahan tersebut dijepret dari atas pesawat. Sebab itulah opsi yang paling masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi fotografer untuk memotret dengan perspektif mata burung adalah dengan menaiki pesawat terbang pada era sebelum drone.