Jumat, 24 Juli 2009

Mas Nadir, Office Boy...Berkebun Yuuuk!!

>Perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi sebab di bawah seratus enam puluh sentimeter. Berkulit gelap dan berjenggot. Suka membaca apa saja dari tema politik hingga pertanian. Mungkin karena sering membaca ini yang bikin Nadir tergerak hatinya memanfaatkan lahan kosong di belakang kantor Rektorat UBB. Terlebih motto hidupnya itu, “Kerjakanlah selagi ada waktu, Jangan ditunda-tunda”.

Minggu lalu, ladang sawi nya dipanen beramai-ramai. Ada sekitar sepuluh petak tanah yang diuruk memanjang sekitar satu hingga dua meter. Petak inilah yang menghasilkan sawi siap panen dengan panjang rata-rata tiga puluh centimeter.

“ Kira-kira hampir enam minggu lah,” ujarnya. Enam minggu itu lama masa semai hingga panen. Mengaku membeli bibit dari eceran tak sampai lima ribu rupiah. Bibit tersebut ia semai di sebuah petak di sudut lahan. Jelang beberapa hari, tunas muda tumbuh. Berikutnya, semaian tadi menetap di sejumlah petak tanah yang telah siap.



“Perawatannya tidak terlalu rumit, asal rajin menyiram pagi dan sore,” lanjutnya lagi. Selama masa itu, kendala terbesar adalah jamur dan dahan daun yang kering. Solusinya sederhana pula, yakni cukup dipotong bagian yang bermasalah tersebut. Selebihnya, perawatan bersifat umum dari mencabut rumput liar hingga “memetik” ulat pemakan daun.

Mengenai pupuk, pria yang bernama asli M.Mukhlis Nadir ini cuma memanfaatkan pupuk dari kotoran kelelawar. Tak sulit mendapatkannya, binatang bersayap ini memang bersarang di sekitaran gedung rektorat. Tak banyak, ia taburkan di tiga petak lahan saja. Pengalaman yang lalu, bikin Nadir mengerti kotoran kelelawar bisa juga untuk pupuk alami, plus abu sisa pembakaran.



Dulu lahan belakang kantor rektor ini ditumbuhi rumput liar dan ilalang. Risau dengan hal itu, Nadir berdua dengan Suhaidi gotong royong merumput di sore hari. Lahan lapang seluas 5X6 meter itu pun klimis. Kesan lenggang terasa. Namun butuh beberapa bulan kemudian, inisiatif bercocok tanam itu muncul.

Begitulah, hari demi hari, Brassica rapa itu dibesarkan dengan telaten. Pria asal Kediri 32 tahun lalu lalu ternyata jeli dalam berkreativitas. Meski hanya seorang office boy dari perusahaan rekanan, status itu bukan kendala untuk memberi. Tak perlu perintah dan administrasi surat menyurat. Nadir membuktikan, kreativitas adalah hal yang mengagumkan.

“Daripada tumbuh rumput, saya coba-coba tanam sayur,” ungkap ayah dua orang anak ini. Dari lahan seluas itu, bisa dihasilkan sekitar lima belas kilogram sawi. Lumayan banyak. Hasil panen minggu kemarin dibawa pulang. Untuk si Nadir dan sejumlah staff.
Setelah tanam Sawi, rencana selanjutnya adalah membudidayakan Kangkung. Jenis sayuran ini mudah tumbuh dan gampang perawatannya. Yang masih menjadi pemikirannya adalah penyubur tanah dan sayuran. Nadir berusaha menghindari penggunaan pestisida.

Menurutnya konsep sayuran organik membutuhkan pupuk atau pengusir hama alternatif. Yang ramah lingkungan tentu saja. ***
  • i
Posting Komentar