Rabu, 10 Juni 2009

Kisah Lelaki Sejati, Atok Salam dari Baturusa pulau Bangka

>Sejak berakar pada bumi ini, Atok Salam cuma bisa pada aktivitas “Bertahan Hidup”. Sampai sekarang, kemandiriannya tak lekang meski menginjak di umur diatas 80 tahun lebih. Tetap tampil kokoh seperti batu karang meski digerus ombak waktu. Semangatnya tetap menyala-nyala…

Wajahnya berkerut, pipi kiri seperti bekas terbakar. Ini karena penyakit kulit dahulu. Kurus tapi tak bisa menyembunyikan otot tua pada tulang. Pendek tapi gesit. Jika tak dilarang, mungkin rutinitas berperahu ke kebun tetap pagi dan sore itu. Dia penguasa kebun, setidaknya punya lahan hektar_an di “Kerakeu”. Pijatannya tetap bertenaga, masih dipesan. Jemput dan antar oleh warga sekitaran.

Dahulu Atok salam, sempat “berperang” dengan Belanda. Pernah antar makanan ke pejuang local yang sembunyi di hutan. Itu ketika masih muda. Bikin jalan rintis Sungailiat ke Pangkalpinang bersama meneer Belanda pernah dilakoni.

Era penjajahan Jepang. Lalu ikut kerja paksa di jaman Jepang. Pernah ikut membangun dermaga “Bom Baru Palembang”. Setelahnya diberi hadiah kain dan baju. Menikah lantas punya anak empat orang, dua putri dua putra.

Nafkah hidupnya adalah Kebun Lada. Untuk mencapai kebun, harus menyeberangi sungai Baturusa. Ke daerah yang disebut Kerakeu. Seminggu sekali pulang, ketika hari Kamis. Sebab masyarakat pekebun pulang untuk sholat jum’at esok hari.

Begitulah saban hari saban tahun, sungai dan ladang adalah teman bagi Atok salam. Tak mengenal rekreasi. Plesir pun bila ke pasar. Tidak sekolah ia. Tapi tahu huruf latin dan arab gundul. Mengajar ngaji pada anak-anak sekitar Baturusa. Dicap killer juga sebab keras dalam hal ini.

Harta yang dia punya adalah rumah batu bata itu, yang tak pernah diplaster semen. Lantainya semen kasar. Berdebu sebab sering ditinggalkan seminggu penuh. Atapnya genteng berlumut. Atok salam bangun rumah ini ketika musim harga tinggi. Ketika itu grafik harga lada naik di international trading. Musim yang tak tahu kapan akan datang lagi.

Tapi ia bahagia. Tak pernah ia bermusuhan dengan sesama. Keras memang keras ia. Tapi itulah karakter manusia dalam bentuknya yang orisinal. Jika bukan bernama kegetiran hidup, hidupnya adalah bentukan alami yang dipaksa alamiah.

Istrinya bernama Hamidah, wanita lembut dan ibu rumah tangga. Partner kerja suami segala aspek. Anak-anaknya bernama, Wo Ngi, Ruah Cu Mut, Nga Min, dan Ku Til. Ini panggilan. Dalam sebenanya hanya Ku Til yang ku tahu punya nama sebenar, Isnaidi.

Anak-anaknya boleh sekolah setingginya. Tapi tak ada biaya untuk itu. Jadi mereka berempat harus melakukan diantaranya berkebun, mentandi’,ngaret, nanggkol ketem, Nebeng Bakau. Untuk dapat duit sekolah. Mentandi ialah aktivitas menanggkap burung, nangkol ialah menangkap kepiting sungai. Bakau bisa dijual ke penadah. Ngaret itu hampir tiap pagi.

Ku til punya baju sekolah dasar cuma sehelai. Tiap pagi dikenakan, sorenya dicuci lagi. Pulang kerumah, masak nasi sendiri. Kalau tak ada, usahakan cari sendiri. Ia mandiri sedari kecil seperti saudaranya yang lain. Sempat melanjutkan ke SMP, namun cuma setahun. Sempat juga kursus mengetik, lulus dengan nilai memuaskan untuk sepuluh jari. Berhenti terus kerja serabutan. Hingga ketika berlabuh jadi tukang cuci timah di UPTB. Bersepeda saban pagi Baturusa ke Mapur. Pulang sore menjelang malam dengan sepeda Onta pada unit Pengeboran Darat.

Saudaranya yang lain, berkebun sama halnya dengan Atok Salam. Punya lahan hektaran dikerjakan sendiri dari kecil hingga dewasa. Beranak dan bercucu masih di Baturusa.

Atok Salam bukan tak peduli pada arti kemajuan. Namun jalan hidup terlalu keras padanya. Anehnya, Untuk ini tak ada sebersit penyesalan yang ada di kerutan wajah itu. Semangat itu masih menyala-nyala meski ditimpa remang lampu lima watt gubuk tuanya. Di pinggir sungai, pejalan yang dulu ia sahabati.

Bersahaja dalam hidup. Bahagia dengan lakon Keturon Idup Susah. Atok Salam pria sebenar-benarnya. Tak pernah ku dapatkan kata tentang keluhan hidup, menghardik nasib. Ia yang sedari kecil mencoba bangkit dan berdiri. Meski bukan pohon yang besar, namun ia rumput pada padang sahara. Menghujam dan berakar jauh.***

DD, 10 PM. June 11th 2009
  • i
Posting Komentar